Wednesday, 30 March 2011

Pelajaran dari Kesalahan

Oleh Yulinda Rohedy Yoshoawini

Rianti terlihat cemas di tempat tidurnya. Dia melirik jam waker di meja belajarnya. Waktu sudah menunjukkan puku 23.15, tapi matanya belum juga dapat dipejamkan. Rianti bangkit dan menuju ke meja belajarnya. Dibukanya laci meja itu dengan perlahan, seakan takut menimbulkan suara. Barang-barang itu masih ada disana, di dalam laci itu. Teringat kembali percakapannya dengan teman sebangkunya, Nani, beberapa hari yang lalu.


“Barangmu bagus-bagus?” Rianti mengamati barang Nani. Padahal setahu Rianti, ayah Nani bekerja sebagai seorang petani, sedangkan ibunya hanya ibu rumah tangga. Barang-barang itu terdiri dari pernak-pernik aksesoris dan alat tulis beraneka bentuk.


“Pasti kamu dibelikan orangtuamu ya?” tanya Rianti. Nani menggeleng. “Aku membelinya sendiri,” jawab Nani singkat. “Dari mana kau dapatkan uang hingga bisa membeli barang-barang sebagus ini?” buru Rianti semakin penasaran.


“Ya gampang, aku tinggal ambil sisa kembalian uang pembayaran sekolah,” jawab Nani enteng. Untuk sesaat Rianti terkesiap. “Ayahmu tak pernah menanyakan uang kembaliannya?” Rianti kembali bertanya. “Untuk apa?” balas Nani. “Aku kan juga butuh barang-barang ini. Kalaupun ayahku bertanya, aku bisa jawab uang itu sudah habis untuk membayar uang sekolah.

***

Rianti terbangun ketika pintu kamarnya diketuk. Dengan terburu-buru sambil mengucek matanya, dia membuka pintu. “Kenapa pakai dikunci segala?” tanya Ibunya. “Selama ini Ibu selalu ketuk pintu walaupun kamarmu tidak terkunci,” lanjut Ibunya. “Oh ya, sekarang sudah jam berapa? Bukankah kamu harus pergi ke sekolah?” Rianti hanya menjawab dengan anggukan kepala sambil berlalu ke kamar mandi.


“Oh ya, ini untuk bayar uang sekolah Rianti bulan ini,” ibunya memberikan dua lembar uang lima puluh ribuan pada putri semata wayangnya yang duduk di kelas 4 SD itu.


“Kartunya ada sama Rianti khan?” Ibunya memastikan. “Ya Bu,” jawab Rianti singkat. “Oh ya, Rianti bilang uang sekolah naik sejak dua bulan yang lalu ya?” ibunya memandangi wajah Rianti. “Iya, memang kenapa bu?” Rianti balik bertanya dengan suara gugup. “Nggak papa, ibu cuma tanya saja, ibu percaya kok sama Rianti”.


Pagi itu Rianti berangkat ke sekolah dengan lesu. Di tangannya tertenteng kartu pembayaran sekolah beserta uangnya. Rianti membayangkan ibunya mengecek ke sekolah. Dua kali sudah dia membohongi ibunya. Rianti menuju ke kantor guru bermaksud membayar uang sekolah.

***

Selama perjalanan pulang Rianti memandangi kartu pembayaran dan uang dalam plastik pembungkusnya. Sebelum pulang ke rumah, dia memutuskan berhenti untuk membeli air mineral, karena haus dan kepanasan.


Di kamarnya Rianti memandangi kembali barang-barang yang ada dalam lacinya. Pensil bermotif gambar barbie itu dia beli ketika lewat toko warna-warni sepulang sekolah dengan uang kembalian pembayaran SPP. Begitupun pena dengan tutup yang berbentuk kepala lumba-lumba. Diraihnya pita rambut warna merah yang masih baru. Pita yang sudah lama diidam-idamkannya.


Dulu ibunya belum mau membelikannya karena pita rambutnya masih banyak dan masih bagus-bagus. “Tidak semua barang bisa kita beli, kita harus memilihnya sesuai kebutuhan, bukan kemauan,” tutur ibunya waktu itu.


Rianti menyiapkan buku-buku pelajarannya untuk esok hari. Semua isi tas ia keluarkan untuk ditata kembali. Rianti tersentak sekaligus panik tidak mendapati kartu pembayaran sekolah miliknya. Padahal ada uang di dalam kartunya. Dia mulai mengingat-ingat dimana terakhir meletakkannya. “Jangan-jangan tertinggal di tempat mamang penjual air mineral tadi,” gumamnya.

***

Wah, mamang tidak menemukan yang dicari neng, kemarin rasanya tidak ada yang ketinggalan disini,“ jelas si mamang saat Rianti menanyakannya. “Tolong Mang dicari lagi, saya tidak sengaja meninggalkannya disini,” kata Rianti. “Atau mungkin ada yang mengambilnya,” kata Rianti lagi. “Benar nak, kalaupun ada yang mengambilnya, mamang juga tak tahu. Yang beli makanan disini kan tidak hanya satu dua orang saja,” mamang berusaha meyakinkan.

***

Tanpa terasa jatuh tempo tanggal pembayaran tinggal 2 hari lagi. Rianti tak tahu apa yang harus dilakukannya. Setelah termenung sejenak Rianti mengambil sebuah keputusan. Rianti menghampiri ibunya yang sedang duduk di ruang keluarga. “Ibu, ada yang ingin Rianti sampaikan”.


“Ya sayang, duduk dekat ibu sini,” ibunya memberi isyarat untuk menyuruh anaknya duduk di sebelahnya. “Tapi janji yah, ibu nggak akan marah,” Rianti berkata lirih. “Ya masalahnya apa dulu!” sahut ibunya. “Ibu harus janji dulu, baru Rianti cerita,” sergah Rianti.


Akhirnya sang ibu mengangguk setuju. Rianti menceritakan semuanya. “Maaf ya bu, Rianti telah mengecewakan ibu, padahal ibu sudah begitu percaya pada Rianti,” ucapnya sambil berkaca-kaca. “Rianti minta maaf karena tidak menjalankan pesan ibu, sehingga uang dan kartu SPP itu hilang, karena Rianti tidak jadi membayarkannya.


Dan Sisa uang pembayaran sekolah yang harusnya Rianti kembalikan ke ibu, malah kugunakan untuk membeli pernak-pernik dan aksesoris, tanpa sepengetahuan ibu,” suaranya bergetar. Untuk sesaat wanita itu memandangi anaknya tak percaya. Akan tetapi setelah itu jawaban dan sikap yang ditunjukkan ibunya, sungguh di luar dugaan. Ibunya tersenyum bijak dan berucap, “Ibu senang dan bangga padamu nak”.


Rianti memandangi ibunya dengan keheranan sambil mengusap airmatanya. “Kok ibu?” Rianti terbata-bata. “Ibu bangga, karena Rianti sudah mau mengakui kesalahan, walaupun ibu agak kecewa, tapi ibu senang anak ibu sudah berjiwa besar,” ucap ibunya.


Rianti sadar hilangnya uang dan kartu pembayarannya adalah pelajaran untuk kesalahannya. Dia berjanji dalam hati tidak mengulangi perbuatannya dan tidak mau mencontoh seperti seperti yang dilakukan temannya, Nani.

Cernak ini dimuat Harian SUARA MERDEKA, edisi Minggu 20 Maret 2011. Ilustrasi: SUARA MERDEKA