Sunday, 17 July 2011

Sosok Wanita dan Kakek Misterius di Pondok Melati Putri

(Ini kisah nyata, yang dialami temen dekat saya, pada Sabtu, 9 Juli 2011 kemarin)

Sepintas pondok ini tak ada bedanya dengan pondok-pondok yang lain. Tapi pondok ini bukan tempat menuntut ilmu agama
, dan penghuninya bukan para santri. Pondok ini tak lain adalah sebuah tempat kost-kost-an. Tak sembarang pondok, untuk menempatinya ada syarat yang wajib dipenuhi oleh si penyewa kamar. Salah satunya adalah harus berjilbab.

Pondok yang berlokasi di pinggir jalan raya, tepatnya di JL. Kompol B Soeprapto ini memiliki empat kamar tidur di lantai bawah, sebuah ruangan dapur, dua kamar mandi, dan sebuah WC, di lantai yang sama. Ruangan yang ada di lantai bawah juga langsung berbatasan dengan lorong, karena kamar-kamar tersebut letaknya berjajar.

Di ujung lorong yang mengarah ke timur, ada tangga yang mengarah ke atas, dimana juga terdapat kamar-kamar yang dua diantaranya sudah berpenghuni. Seorang gadis yang bekerja di lembaga swasta dan seorang ibu dosen muda di sebuah perguruan tinggi di Yogyakarta.

Sepintas dari luar pondok ini tampak biasa saja. Pondok ini sejatinya sudah lama tidak berpenghuni. Baru-baru ini kamar bawah sudah disewa 4 orang mahasiswi. Menurut seorang teman yang pernah bertandang ke sana, saat memasuki pondok ini suasananya singup, apalagi kalau waktu sudah menginjak maghrib. Ada yang bilang memasuki pintu pondok ini seperti memasuki sebuah gang. Selain itu kost-kost-an ini terkesan dan terasa dingin.

Empat mahasiswa yang menyewa kamar di lantai bawah, sudah memutuskan untuk tidur dalam satu kamar, sementara kamar yang satunya yang harusnya dihuni 2 orang, dipergunakan untuk menyimpan barang-barang dan perlengkapan kuliah. Apalagi kamar yang mereka pakai sebagai tempat menyimpan barang, pada salah satu dindingnya tergantung dua lukisan kuno, dengan gambar dua pasang suami istri. Itulah yang membuat dua orang diantara mereka enggan menempati kamar tersebut. Mereka memilih tidur dalam satu ruangan. Keempat mahasiswi tersebut adalah Rima, Lila, Chia, dan Uni.

Awalnya semua berjalan seperti biasa, walaupun dengan suasana agak sedikit mencekam. Menurut mereka mulai pukul 20.30 WIB, menjelang waktu tidur, mereka sering mendengar suara srek-srek-srek, seperti suara orang berjalan. Dan itu berlangsung hampir setiap hari. Selain itu telinga mereka juga sempat menangkap bunyi berdebam lembut yang berasal dari lantai atas, dimana seorang gadis dan ibu dosen berada.

Sampai suatu hari, ketika akhir pekan tiba, tepatnya Sabtu Malam, waktu maghrib, mereka berempat memutuskan untuk mudik. Tiga diantaranya sudah berangkat sedari sore. Rima, Lila dan Chia. Sementara tinggal Uni seorang diri karena menunggu jemputan.

Setelah ketiga temannya berangkat, Uni memutuskan untuk mandi. Saat mandi Uni juga mendengar suara orang yang juga sedang mandi. Dia merasa senang dan berpikir bahwa dia tidak sendirian. Dia mengira mbak-mbak atau si-ibu dosen sudah pulang, padahal saban hari mereka berdua selalu pulang larut malam.

Selesai mandi, Uni duduk di kursi di ruang makan yang berada di lorong. Untuk beberapa saat dia sempat tertidur sejenak. Uni terjaga ketika hari sudah memasuki waktu maghrib. Setelah itu Uni asyik ber-sms-an dengan sang pacar yang tak kunjung tiba untuk menjemputnya. Ketika tengah asyik berkirim pesan dengan hpnya, dia mendengar suara langkah. Dia melongok ke tangga yang menuju lantai atas, menengok ke parkir samping yang terbuka, tapi tak ada siapapun. Uni mengira itu langkah sang pacar, akan tetapi dia baru sadar sang pacar belum tahu tempat kost itu. Suara langkah itu semakin jelas dan terasa dekat. Tiba-tiba seorang kakek yang memakai blangkon melintas di dekat Uni dengan cepat seperti tak menginjak tanah. Uni yang terkejut sempat memandang kakek tersebut berbelok ke tikungan yang menuju ruang tamu. Sontak saja dia langsung mengucap “ Ya Allah ya Allah.” Uni memang tipe orang yang tidak bisa berteriak ketika ketakutan. Dia mulai merasa ada yang tidak beres. Uni memutuskan untuk meninggalkan tempat itu. Dengan hanya menggenggam hp, Uni bermaksud melangkah ke luar dengan terburu-buru dan setengah berlari. Napasnya menjadi cepat berlomba dengan degup jantungnya yang berpacu cepat. Ketika melewati kamar tempat barang-barang yang pintunya terbuka, Uni mendapati seorang wanita berpakaian serba putih sedang menyisir rambutnya menghadap cermin. Sekali lagi dia menyebut “Astagfirullah, Astagfirullah.”

Uni membelok ke arah ruang tamu, membuka pintu, kemudian membuka gerbang, dan secepat kilat langsung berlari menjauh dari pondok tersebut. Dia menyeberang, berlari menuju tikungan lampu merah dan berbelok ke kiri. Melewati markas brimob dan terus berlari ke arah utara. Selanjutnya Uni menyeberang rel kereta api. Saat bertemu seorang bapak di tengah jalan, dia sempat ditanyai, ada apa, kok pucat, sakit atau kenapa? Akan tetapi Uni hanya menjawab tak ada apa-apa. Uni memutuskan memasuki sebuah warnet dan menghubungi si cowok untuk segera menjemputnya.

Beberapa saat kemudian, si pacar sudah menjemput Uni di warnet. Setelah si pacar membayar uang warnet, dia bermaksud mengantar Uni untuk mengambil helm di kost. Namun Uni bersikeras untuk membeli helm dan langsung minta diantar pulang. Uni menceritakan semuanya pada si cowok apa yang baru saja dia alami. Awalnya si cowok tidak percaya dan tetap menuju kost untuk mengambil helm.

Uni dan pacarnya memasuki kost yang sepi. Seluruh pintu kamar, ruang tamu, gerbang masih terbuka. Uni memegang erat lengan pacarnya. Sementara wajahnya dia sembunyikan di belakang punggung si cowok. Mereka berdua memasuki lorong, melewati ruang makan, masuk ke kamar yang biasa dipakai tidur dan mengambil helm. Setelah mereka menutup pintu kamar, pintu ruang tamu, pintu gerbang, dan menguncinya, keduanya langsung meluncur pulang ke Klaten, tempat dimana Uni tinggal. Tiba di Klaten si pacar baru percaya pada cerita Uni. Sang pacar berterus terang, ketika melewati kamar tengah yang tidak dihuni, dia sempat melihat sekilas, kakek yang memakai blangkon sedang duduk di dalam kamar. Dia melihatnya melalui kaca saat melintasi kamar tengah.

Sejak saat itu Uni tidak berani menginjakkan kakinya di pondok itu lagi. Dia minta tolong pada salah satu temannya yang masih tinggal di kost untuk mengemas barang-barangnya, dan meminta sang pacar untuk mengambilnya, sedangkan dia menunggu di rumahnya, di Klaten.

Sementara itu ketiga teman Uni, yang sudah mendengar cerita itu, memutuskan mengemasi barang-banrang yang ada di kamar, dimana Uni pernah melihat seorang wanita menyisir rambutnya di depan cermin. Lalu memindahkannya ke kamar yang biasa dipakai tidur. Kamar itu ditutup dan hingga saat ini tak ada yang berani membukanya.

Sampai sekarang, kadangkala suara langkah dan tawa lirih masih sering terdengar oleh Rima, Lila, dan Chia. Suasana mencekam masih mereka bertiga rasakan, terutama saat menjelang manghrib tiba.***

Wednesday, 30 March 2011

Pelajaran dari Kesalahan

Oleh Yulinda Rohedy Yoshoawini

Rianti terlihat cemas di tempat tidurnya. Dia melirik jam waker di meja belajarnya. Waktu sudah menunjukkan puku 23.15, tapi matanya belum juga dapat dipejamkan. Rianti bangkit dan menuju ke meja belajarnya. Dibukanya laci meja itu dengan perlahan, seakan takut menimbulkan suara. Barang-barang itu masih ada disana, di dalam laci itu. Teringat kembali percakapannya dengan teman sebangkunya, Nani, beberapa hari yang lalu.


“Barangmu bagus-bagus?” Rianti mengamati barang Nani. Padahal setahu Rianti, ayah Nani bekerja sebagai seorang petani, sedangkan ibunya hanya ibu rumah tangga. Barang-barang itu terdiri dari pernak-pernik aksesoris dan alat tulis beraneka bentuk.


“Pasti kamu dibelikan orangtuamu ya?” tanya Rianti. Nani menggeleng. “Aku membelinya sendiri,” jawab Nani singkat. “Dari mana kau dapatkan uang hingga bisa membeli barang-barang sebagus ini?” buru Rianti semakin penasaran.


“Ya gampang, aku tinggal ambil sisa kembalian uang pembayaran sekolah,” jawab Nani enteng. Untuk sesaat Rianti terkesiap. “Ayahmu tak pernah menanyakan uang kembaliannya?” Rianti kembali bertanya. “Untuk apa?” balas Nani. “Aku kan juga butuh barang-barang ini. Kalaupun ayahku bertanya, aku bisa jawab uang itu sudah habis untuk membayar uang sekolah.

***

Rianti terbangun ketika pintu kamarnya diketuk. Dengan terburu-buru sambil mengucek matanya, dia membuka pintu. “Kenapa pakai dikunci segala?” tanya Ibunya. “Selama ini Ibu selalu ketuk pintu walaupun kamarmu tidak terkunci,” lanjut Ibunya. “Oh ya, sekarang sudah jam berapa? Bukankah kamu harus pergi ke sekolah?” Rianti hanya menjawab dengan anggukan kepala sambil berlalu ke kamar mandi.


“Oh ya, ini untuk bayar uang sekolah Rianti bulan ini,” ibunya memberikan dua lembar uang lima puluh ribuan pada putri semata wayangnya yang duduk di kelas 4 SD itu.


“Kartunya ada sama Rianti khan?” Ibunya memastikan. “Ya Bu,” jawab Rianti singkat. “Oh ya, Rianti bilang uang sekolah naik sejak dua bulan yang lalu ya?” ibunya memandangi wajah Rianti. “Iya, memang kenapa bu?” Rianti balik bertanya dengan suara gugup. “Nggak papa, ibu cuma tanya saja, ibu percaya kok sama Rianti”.


Pagi itu Rianti berangkat ke sekolah dengan lesu. Di tangannya tertenteng kartu pembayaran sekolah beserta uangnya. Rianti membayangkan ibunya mengecek ke sekolah. Dua kali sudah dia membohongi ibunya. Rianti menuju ke kantor guru bermaksud membayar uang sekolah.

***

Selama perjalanan pulang Rianti memandangi kartu pembayaran dan uang dalam plastik pembungkusnya. Sebelum pulang ke rumah, dia memutuskan berhenti untuk membeli air mineral, karena haus dan kepanasan.


Di kamarnya Rianti memandangi kembali barang-barang yang ada dalam lacinya. Pensil bermotif gambar barbie itu dia beli ketika lewat toko warna-warni sepulang sekolah dengan uang kembalian pembayaran SPP. Begitupun pena dengan tutup yang berbentuk kepala lumba-lumba. Diraihnya pita rambut warna merah yang masih baru. Pita yang sudah lama diidam-idamkannya.


Dulu ibunya belum mau membelikannya karena pita rambutnya masih banyak dan masih bagus-bagus. “Tidak semua barang bisa kita beli, kita harus memilihnya sesuai kebutuhan, bukan kemauan,” tutur ibunya waktu itu.


Rianti menyiapkan buku-buku pelajarannya untuk esok hari. Semua isi tas ia keluarkan untuk ditata kembali. Rianti tersentak sekaligus panik tidak mendapati kartu pembayaran sekolah miliknya. Padahal ada uang di dalam kartunya. Dia mulai mengingat-ingat dimana terakhir meletakkannya. “Jangan-jangan tertinggal di tempat mamang penjual air mineral tadi,” gumamnya.

***

Wah, mamang tidak menemukan yang dicari neng, kemarin rasanya tidak ada yang ketinggalan disini,“ jelas si mamang saat Rianti menanyakannya. “Tolong Mang dicari lagi, saya tidak sengaja meninggalkannya disini,” kata Rianti. “Atau mungkin ada yang mengambilnya,” kata Rianti lagi. “Benar nak, kalaupun ada yang mengambilnya, mamang juga tak tahu. Yang beli makanan disini kan tidak hanya satu dua orang saja,” mamang berusaha meyakinkan.

***

Tanpa terasa jatuh tempo tanggal pembayaran tinggal 2 hari lagi. Rianti tak tahu apa yang harus dilakukannya. Setelah termenung sejenak Rianti mengambil sebuah keputusan. Rianti menghampiri ibunya yang sedang duduk di ruang keluarga. “Ibu, ada yang ingin Rianti sampaikan”.


“Ya sayang, duduk dekat ibu sini,” ibunya memberi isyarat untuk menyuruh anaknya duduk di sebelahnya. “Tapi janji yah, ibu nggak akan marah,” Rianti berkata lirih. “Ya masalahnya apa dulu!” sahut ibunya. “Ibu harus janji dulu, baru Rianti cerita,” sergah Rianti.


Akhirnya sang ibu mengangguk setuju. Rianti menceritakan semuanya. “Maaf ya bu, Rianti telah mengecewakan ibu, padahal ibu sudah begitu percaya pada Rianti,” ucapnya sambil berkaca-kaca. “Rianti minta maaf karena tidak menjalankan pesan ibu, sehingga uang dan kartu SPP itu hilang, karena Rianti tidak jadi membayarkannya.


Dan Sisa uang pembayaran sekolah yang harusnya Rianti kembalikan ke ibu, malah kugunakan untuk membeli pernak-pernik dan aksesoris, tanpa sepengetahuan ibu,” suaranya bergetar. Untuk sesaat wanita itu memandangi anaknya tak percaya. Akan tetapi setelah itu jawaban dan sikap yang ditunjukkan ibunya, sungguh di luar dugaan. Ibunya tersenyum bijak dan berucap, “Ibu senang dan bangga padamu nak”.


Rianti memandangi ibunya dengan keheranan sambil mengusap airmatanya. “Kok ibu?” Rianti terbata-bata. “Ibu bangga, karena Rianti sudah mau mengakui kesalahan, walaupun ibu agak kecewa, tapi ibu senang anak ibu sudah berjiwa besar,” ucap ibunya.


Rianti sadar hilangnya uang dan kartu pembayarannya adalah pelajaran untuk kesalahannya. Dia berjanji dalam hati tidak mengulangi perbuatannya dan tidak mau mencontoh seperti seperti yang dilakukan temannya, Nani.

Cernak ini dimuat Harian SUARA MERDEKA, edisi Minggu 20 Maret 2011. Ilustrasi: SUARA MERDEKA

Saturday, 8 January 2011

KIDUNG ANAK, KEMANA PERGINYA?

“Kawin...kawin...minggu depan bakal kawin”...

“Kawin...kawin...tidur ada yang nemenin”...


Atau lagu berikut,


“Ku mencintaimu lebih dari apapun, meskipun tiada satu orangpun yang tahu”...

“Ku mencintamu sedalam-dalam hatiku, meskipun engkau hanya kekasih gelapku”...


Sebagian besar dari kita mungkin sudah tidak asing lagi, ketika syair-syair tersebut singgah menyapa gendang telinga kita. Tak hanya kita sebagai orang dewasa saja yang tersihir oleh syair tersebut, anak-anak pun juga mengalami hal serupa. Mereka seolah terbawa arus oleh derasnya kata-kata manis syair lagu tersebut.


Menurut pengakuan seorang dosen di sebuah PTN, di sekitar tempat tinggalnya, beliau kerap mendengar lagu semacam “Batal Kawin” didendangkan oleh anak-anak yang terbilang masih dini. Atau coba kita pikirkan, anak-anak belajar tentang makna dari kata “Kekasih Gelapku”. Saya hanya bisa geleng-geleng kepala, ketika membayangkannya.


Beberapa pihak yang terkait dengan dunia anak dan pemerhati anak, mungkin saja hanya bisa mengurut dada dengan kondisi anak-anak, yang dibombardir dengan lagu-lagu orang dewasa. Seperti yang kita tahu, lagu orang dewasa yang berisi tentang cerita cinta dan bumbu asmara beserta adegan mesra sebagai pelengkapnya disajikan sebagai menu yang setiap harinya hampir disantap oleh sebagian besar anak-anak.


Padahal isi dari lagu-lagu tersebut, hanyalah fantasi, rekaan, dan bersifat sebagai hiburan semata. Ibarat baju, lagu-lagu tersebut sungguh tak pas dipakaikan pada anak-anak. Tentu saja kelonggaran, karena lagu-lagu tersebut memang selain tidak cocok untuk anak, lagu itu juga tidak diperuntukkan untuk usia dini.


Tapi kenyataanya sungguh mencenggangkan. Tengok saja ajang pencarian bakat menyanyi seperti "IDOLA CILIK". Saya juga heran, peserta idola cilik adalah anak-anak usia sekitar 7-11 tahun, dimana pada usia itu anak masih dalam masa perkembangan yang butuh asupan pendidikan moral dan budi pekerti, tapi sudah dicekoki dengan lagu-lagu orang dewasa. Lucunya saat pentas di panggung mereka juga menyanyikan lagu orang dewasa dengan gaya orang dewasa juga, sehingga gaya asli anak-anaknya hilang. Gaya mereka seolah sudah disetel dan diarahkan oleh koreografi, tidak ada kebebasan dan kreativitas untuk menciptakan gaya mereka sendiri yang khas anak-anak. Atau coba tengok acara "Happy Song Holiday", dimana pesertanya yang anak-anak juga fasih menyanyikan lagu-lagu orang dewasa ketimbang lagu anak anak. Mereka bahkan hapal di luar kepala, ketika menebak judul lagu yang diputarkan. Bagaimana tidak, hampir semua stasiun televisi setiap waktu menghidangkan acara pemutaran klip lagu orang dewasa.


Dewasa ini jarang bahkan nyaris tak ada lagi penyanyi lagu anak-anak yang menggantikan penyanyi yang telah pensiun karena telah beranjak remaja. Saat ini pun jarang terdengar lagu anak-anak, demikian juga penyanyinya, bisa dikatakan amat minim. Pencipta lagu anak-anak juga tidak sebanyak dulu. Mungkin pasar industri hanya sedikit tertarik untuk memasarkan lagu anak-anak. Karena disamping sepi pendengar, juga takut tak laku dijual. Sebab anak-anak sekarang lebih tertarik mendengar lagu dewasa ketimbang lagu yang sesuai dengan umurnya. Kalau begini terus lama-kelamaan anak-anak akan menganggap lagu anak-anak itu kampungan dan kuno. Padahal lagu anak-anak dirancang khusus dan diciptakan untuk anak-anak yang sesuai dengan perkembangannya. Selain itu mengandung pesan yang berisi tentang ajaran moral dan budi pekerti.


Bukan salah bunda mengandung. Kira-kita itulah ungkapan yang tepat, bahwa sejatinya memang orangtua tidak bisa disalahkan 100%, ketika mereka sudah berusaha membatasi atau menyeleksi tontonan dan lagu-lagu orang dewasa, apabila lingkungan sekitar tidak berperan serta dalam mendukung. Bisa jadi mereka bergaul dengan anak-anak yang sudah terkontaminasi dengan tontonan dan lagu-lagu orang gede. Lantas kalau sudah begini, mau dikemanakan generasi penerus bangsa kita? Apakah mereka akan melenggang dengan fantasi cinta-cintaan ditengah makin ketatnya persaingan prestasi yang membutuhkan keunggulan tinggi? Yang bukan hanya sekedar cinta-cintaan belaka.