Sunday, 3 October 2010

Menjelajah Ruangan Internal Tuhan (Pose Doa ala Layar Kaca)

“Ya Allah, aku mohon padamu, tunjukkan dan kembalikanlah anakku padaku Ya Allah, Amin” ucapnya sambil menengadahkan tangan dan disertai dengan linangan air mata. Mukena masih membalut tubuhnya. Penggalan doa tersebut dipanjatkan oleh seorang wanita seusai melaksanakan Sholat.

Awalnya kita akan merasa trenyuh dengan permintaan wanita itu pada Yang Maha Kuasa. Lantunan doanya sungguh menyentuh, dan kita akan dibawa terbang pada pikiran yang menyatakan, betapa malangnya wanita itu yang telah kehilangan anaknya.

Berdoa dengan bersuara, sah-sah saja dilakukan. Apalagi kalau itu dilakukan di rumah atau ruangan tersendiri. Tapi apa jadinya kalau kegiatan itu disorot kamera dengan bumbu yang terkesan diskenario, salah satunya seperti di sinetron.

Seperti yang kita tahu, berdoa adalah suatu aktivitas yang sifatnya rahasia. Bisa dibilang rahasia kita dengan Tuhan. Beberapa orang merasa nyaman ketika berdoa. Seperti meminta sesuatu yang diinginkan pada Tuhan. Berdoa bagi saya pribadi tidak hanya sebatas pada meminta tetapi juga menumpahkan segala keluh kesah pada Sang Maha Pencipta. Dengan kata lain, seperti curhat kepada Tuhan. Dengan curhat kepada Tuhan, saya merasa aman dan nyaman karena rahasia saya tidak akan pernah terbongkar. Walaupun saya tahu, tanpa kita curhat pun Tuhan sudah menyandang predikat sebagai Maha Tahu apa yang dirasakan dan terjadi pada umatnya. Berdoa adalah urusan pribadi kita dengan Tuhan. Ibadah Sholat dengan doa sebagai rangkaiannya, merupakan hubungan pribadi kita yang bersifat internal dengan Tuhan. Seperti halnya urusan privasi kita, isi doa dan keluh kesah tidak perlu disampaikan dalam bentuk orasi. Kita juga tidak ingin khan kalau sisi privasi kita mengundang campur tangan dan tontonan orang lain. Begitu juga dengan doa kita, yang sekali lagi itu masuk dalam ranah internal kita dengan Tuhan. Tentunya kita tidak mau kalau urusan kita bermutasi menjadi santapan dan bancakan publik.

Saya pribadi sebenarnya merasa risih, ketika menyaksikan tayangan sinetron di Televisi. Para aktor atau aktris yang tengah berperan itu berdoa dengan suara yang terkesan dikoar-koarkan. Apa tujuannya saya pun juga tidak tahu. Masih mending kalau yang melakukannya adalah anak-anak, ketika mereka masih bisa dibilang belajar berdoa. Akan tetapi kalau orang dewasa….. Kalau gaya berdoa di sinetron itu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari misalnya di masjid, kita bisa mengundang tolehan dan jadi tontonan orang-orang. Atau bahkan jadi guyonan dengan sejumlah tanda tanya yang menaungi kepala mereka. Berdoa dengan suara yang terdengar, khususnya di masjid, sama halnya dengan mengumumkan pada orang-orang keinginan yang kita minta pada Tuhan. Padahal Tuhan itu Maha Mendengar. Apa yang kita katakan dalam hati Tuhan mengetahuinya. Berbeda halnya ketika doa dibaca dengan suara jelas oleh imam ketika selesai sholat. Hal itu karena doa yang diucapkan bersifat umum untuk semua jamaah dan disampaikan dalam bahasa lain, yakni Arab. Saya jarang menjumpai peristiwa model berdoa ala sinetron dalam kehidupan sehari-hari. Kebanyakan mereka yang khususnya muslim, menyampaikan doa dengan gaya tekanan low voice atau komat-kamit.

Akan lebih bersahaja ketika doa diucapkan dengan volume yang pelan atau mengaktifkan getar seperti komat-kamit. Atau bisa juga dengan mode silent seperti berdoa dalam hati. Tidak harus dengan suara lantang yang menggelegar seperti petir, yang mengejutkan. Ucapan doa juga lain halnya ketika disampaikan dalam bentuk lagu atau puisi. Sebab, menyanyi dan membaca puisi adalah kegiatan yang mengeluarkan suara dengan volume yang lebih jelas.

Sekali lagi, yang saya sampaikan disini hanyalah sekedar pendapat, bukan isi Undang-Undang baru tentang peraturan dan ketentuan berdoa. Semua kembali pada setiap individu. Nah, bagaimana menurut teman-teman?