Saturday, 25 September 2010

Dokter dan Giginya

SEORANG dokter gigi tengah menjelaskan cara perawatan gigi dalam menyikat gigi yang benar. Para wali murid terlihat antusias mengikuti penyuluhan tentang kesehatan gigi tersebut. Sesekali mereka tampak manggut-manggut menanggapi penjelasan dokter, layaknya seorang siswa yang menyimak pelajaran dari Sang Guru.

Tak salah lagi, kegiatan tersebut merupakan program sekolah dalam pelayanan kesehatan gigi bagi murid-murid Taman Kanak-Kanak. Pihak sekolah secara khusus mengundang sejumlah dokter gigi, untuk menjadi pembicara dalam penyuluhan gigi sehat tersebut. Pengadaan penyuluhan dilatarbelakangi oleh kondisi anak-anak yang rentan terjangkiti penyakit gigi.

Sesi diskusi mulai dibuka. Beberapa orangtua murid beraksi, menyambutnya dengan tunjuk jari untuk melontarkan sejumlah pertanyaan, seputar problem gigi dan mulut anaknya. Selanjutnya sesi diskusi diarahkan pada konsultasi per individu (satu-persatu). Ada juga yang sambil memeriksakan kondisi gigi anaknya.

Dio seorang anak berusia 5 tahun, yang masih kelas TK A, duduk di samping ibunya yang sedang berkonsultasi dengan salah seorang dokter. Di atas meja kecil yang menjadi sekat antara bu dokter dan ibunya, tersedia bermacam-macam peralatan gigi. Mulai dari kaca bulat dengan gagang panjang yang mirip spion, alat pembersih karang gigi, alat pencabut gigi, sikat gigi, penampang gigi dan lainnya.

Rupanya alat-alat yang tersaji di atas meja itu menarik perhatian Dio. Lantas dengan kepolosannya dan wajah datarnya dia mengajukan transaksi pada bu dokter. Transaksi yang mampu membuat orang ternganga sekaligus mengundang tawa.

Dio: “Bu dokter saya mau beli gigi.”
Dokter: “Oh…ibu nggak jual gigi.” (sambil menahan tawa)
Dio: “Lha itu?” (sambil menunjuk penampang gigi yang ada)
Dokter: “Oh gigi ini tidak dijual, karena ini gigi palsu, bukan gigi asli. Memangnya kenapa kok pengen beli gigi?”

Dio hanya meringis mempertontonkan gigi atasnya yang sudah pada keropos. “Dio mau beli gigi untuk dipasang disini,” ungkapnya sambil menunjuk gusinya yang mulai tak berpenghuni gigi itu. “Oh…mas Dio, nggak perlu beli gigi, nanti kalau gigi keroposnya tanggal, bisa tumbuh gigi baru, ketika mas Dio sudah masuk SD,” jelas Dokter. Rupanya Dio berpikir bahwa untuk memiliki gigi baru tinggal dipasang saja.

Anak-anak memang unik. Kita tidak akan pernah tahu dan memahami apa yang ada dalam pikiran mereka. Jaman memang sudah berubah. Perubahan yang ditandai dengan munculnya generasi baru yang sangat cerdas dan kritis, salah satunya adalah Dio.

Note: Cerita ini dirangkai bersamaan dengan tiupan angin ribut yang melanda kawasan Sleman, dimana penulis bermarkas. Setegang suasana hati dalam keributan komat kamit doa pada Ilahi. Penulis sempat meninggalkan persemayaman untuk keluar ruangan demi keselamatan untuk menyaksikan kejadian yang menegangkan. Si Bambu sempat terlihat meliukkan badannya seperti penari ular.

Saturday, 4 September 2010

Bu, Maaf ...

SAYA terkejut mendapati keranjang tempat kotak makan berantakan. Sebuah sendok terlihat seperti habis dilempar kedalamnya. Padahal kami para guru, selalu membiasakan anak-anak untuk memasukkan sendok ke dalam kotak makan, supaya terlihat rapi dan tidak memakan tempat dalam keranjang. Belum lagi nasi dan sayur yang tercecer, karena kotak makan tak ditutup dengan rapat, sehingga sisa makanan tumpah.

Melihat itu semua, saya menjadi jengkel dan agak stress. Wajarlah...apalagi hari itu anak-anak aktifnya sungguh minta ampun. Berlarian kesana kemari, kejar-kejaran, dan berteriak. Padahal aturan di kelas sudah menyebutkan, semua itu tidak diperbolehkan di dalam kelas. Bahkan kami para guru juga berusaha berperilaku untuk konsisten ketika memanggil anak dengan suara pelan. Tapi namanya juga dunia anak. Bukan anak dan dunianya kalau mereka tidak berbuat seperti itu. Sungguh butuh kesabaran ekstra menghadapi mereka.

Dengan nada suara agak tinggi, saya bertanya “Sendok ini milik siapa?” sambil mengangkat sendok tersebut tinggi-tinggi. Serentak semua kepala menoleh ke arah saya. Tiba-tiba seorang murid bernama Arfa mendekat dan berkata “Saya bu, maaf.” “Ini milik Arfa?” ulang saya. Dia hanya mengangguk. Dengan ketus saya menyuruh dia mengulangi perbuatannya. “Coba lempar lagi seperti tadi, bu guru ingin tahu seperti apa Arfa melempar sendok,”perintah saya dengan sorot mata tajam kearahnya. “Nggak bu,” tolaknya. “Nggak papa silahkan dilempar lagi,”kata saya masih dengan pandangan mata tajam. Dia hanya menggeleng. Saya letakkan sendok dengan kasar ke dalam keranjang dan beranjak keluar kelas menuju ke kamar mandi.

Di dalam kamar mandi saya mencoba menenangkan diri dengan mengambil napas dalam-dalam. Tiba-tiba saya tersentak dan merasa betapa gegabahnya saya dengan marah-marah, ketus, serta kasar pada Arfa tadi. Saya merenung sejenak dan berpikir, “bukannya sudah bagus dia berani mengakui kesalahannya di usianya yang masih 3 tahun?” batin saya. Saya sungguh melakukan kesalahan dengan berbuat seperti tadi. Ditambah dengan pandangan mata saya yang menyiratkan kemarahan. Kenapa saya tidak melihat dari segi positifnya? Saya baru tersadar. Luluh juga hati saya mengingat kata maafnya.

Segera saya kembali ke kelas. Setibanya di dalam, saya lihat Arfa tampak murung dan diam. Tidak berlarian seperti tadi. Dia hanya melihat teman-temannya berkejaran. Pelan tapi pasti saya panggil dia. Saya dudukkan dia di kursi dengan tenang. Saya duduk dihadapannya. “Bu Guru mau ngomong sebentar sama Arfa, boleh khan?” pinta saya. Dia menganngguk. Saya semakin merasa bersalah dengan anggukan kepala yang menunjukkan penerimaannya terhadap saya untuk ngobrol dengannya. Saya katakan padanya dengan suara yang mulai melunak dalam posisi sejajar dengan pandangan mata segaris. Ini teori dari pakar anak, supaya anak tidak merasa digurui dan merasa guru sebagai temannya.

Saya: “Hari ini bu guru senang sekali dan bangga.”
Dia masih memandangi saya dengan seksama, seakan mencoba mencerna kata-kata saya.
Saya: “Tahu nggak kenapa?”
Dia menggeleng.
Saya: “Karena Arfa hebat dan pintar sudah berani dan mau mengakui kesalahan. Mau bilang kalau itu sendok Arfa. Bu Guru senang Arfa ngomong jujur.”
Saya mengacungkan dua jempol untuknya dan mengajaknya tos. Dia tersenyum lebar dan menyambut tos saya.
Saya: “Tapi lain kali, tolong sendoknya di taruh di tempatnya ya, biar sayur dan nasinya nggak ikut tumpah, diletakkan pelan-pelan.”(sambil memegang tangannya)
Arfa: “Ya bu.”
Saya: “Bu Guru minta maaf ya.”
Dia mengangguk.
Setelah itu saya meminta dia untuk meletakkan sendok ke dalam tempat makannya.

Sejak itu saya belajar untuk berusaha menahan diri. Tidak masalah bagi saya dan tidak ada kata gengsi untuk meminta maaf pada yang lebih muda, seperti apa yang saya lakukan pada Arfa, murid saya yang duduk di tingkat Kelompok Bermain. Saya juga tak lupa melantunkan sepotong kata pujian untuk mengapresiasi tindakannya yang berjiwa besar, mau mengakui kesalahan dan minta maaf. Sebaris penjelasan juga sudah saya sertakan. Sungguh luar biasa, Arfa, seorang bocah polos, di usianya yang masih sangat belia, telah mengajarkan pada saya tentang makna dan pentingnya untuk berani mengakui kesalahan dan minta maaf, sekalipun pada yang lebih muda tanpa embel-embel gengsi. Sekali lagi saya belajar hal bermakna dari seorang murid saya.