Saturday, 31 July 2010

Nasib Pendidikan Indonesia, 12 Tahun Reformasi

DENGAN penuh semangat si bapak mengayuh becaknya. Dia seakan tak peduli betapa panasnya sengatan Mentari siang itu. Ketika tidak ada penumpang, si bapak biasa mangkal bersama dengan para tukang becak lainnya. Jika diamati sepintas, kehidupan yang dijalani bapak yang sudah berkeluarga ini, tidak beda jauh dengan sesama tukang becak yang lainnya.

Setiap pagi, si bapak ini terlihat menenteng setumpuk buku dan beberapa alat tulis. Pakaiannya juga kelihatan berbeda. Tiba disebuah ruangan, beliau menyapa dengan ucapan “Selamat Pagi Anak-Anak?” yang disambut dengan ucapan serupa dari anak-anak. Kita tidak akan menyangka kalau si tukang becak yang tampak di siang hari, adalah salah seorang staff pengajar alias guru di sebuah Sekolah Dasar (SD).

Di tempat lain, seorang wanita tengah tengkurap di atas tikar pandan, di sebuah rumah yang terbilang cukup sederhana. Tubuhnya hanya berbalutkan selembar kain “jarik”. Wanita paruh baya tersebut, sebut saja Sri sedang menggosok punggung wanita itu, dengan berbekal se-"lepek" minyak goreng. Apabila dilihat sepintas, Sri tampak seperti wanita biasa. Akan tetapi kita tak akan pernah mengira bahwa Sri punya profesi yang sungguh mulia. Ya, wanita ini biasa dipanggil Bu Guru, di sebuah SD di daerahnya.

Reformasi yang disuarakan dua belas tahun yang lalu, belum membawa perubahan yang signifikan, situasi pendidikan di Indonesia sepertinya masih berjalan di tempat. Bagi bapak si tukang becak dan Sri tak ada pilihan lain selain mencari penghasilan tambahan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. “Yang penting halal,” itulah prinsip yang tertancap kuat di benaknya dalam melakukan pekerjaan.

Dalam hati, saya merasa tidak rela. Alangkah malangnya nasib para pendidik generasi penerus bangsa ini. Orang-orang yang diserahi tugas berat dalam mencerdasakan, mempersiapkan para pemimpin masa depan. Ini membuktikan bahwa perhatian pemerintah dan upaya perbaikan kesejahteraan guru belum muncukupi dan merata. Kalau sampai seorang guru harus “nyambi”, sudah jelas bahwa gaji yang mereka terima belum bisa mensejahterakan. Disamping itu masih banyak potret kehidupan dunia pendidikan yang mencerminkan belum adanya perubahan meskipun sudah sekian tahun paska reformasi.

Pelecehan seksual oleh guru terhadap anak didiknya. Guru yang bingung menutupi wajahnya ketika digiring pihak berwajib, karena ketahuan melakukan kekerasan pada muridnya. Tingginya angka anak-anak yang putus sekolah, atau bahkan tidak bisa bersekolah sejak dini. Biaya sekolah yang semakin mahal, bangunan sekolah yang hampir roboh, murid dan sekolah yang ditinggal pergi guru-gurunya untuk berdemonstrasi, perkelahian antar pelajar, dan masih banyak lagi.

Lalu apakah kita semua, terutama pemerintah akan tetap menutup mata hati terhadap permasalahan tersebut. Siapa lagi yang akan memberi lecutan reformasi untuk membangkitkan semangat, menciptakan perubahan signifikan pada sendi-sendi pendidikan di Negeri ini?

Artikel ini, bentuk komitmen Pelangi Anak mendukung gagasan TRIMATRA, posting kolaborasi “DIBAWAH BEDERA REFORMASI”

Sunday, 25 July 2010

PERCAKAPAN DI BUS

HANDPHONE saya berkedip-kedip sambil bernyanyi, tanda ada sebuah panggilan baru saja terdaftar masuk. Sejumlah nomor tertera di layar monitor. Setelah berhalo ria, ternyata suara diseberang adalah suara kakak, yang mengumumkan bahwa pada tanggal 16 Juli, saya akan resmi mempunyai kakak ipar, he…

Singkat cerita sehari sebelum hari H, tanggal 15 Juli saya dan suami berangkat dengan bus antar kota. Kami sengaja memilih bus ber-AC dengan alasan kenyamanan. Perjalanan dari rumah ke terminal kami tempuh dengan mengendarai sepeda motor. Bus Patas yang melaju dengan jurusan Yogya-Solo-Madiun-Surabaya ini, tidak bebeda jauh dengan bus-bus pada umumnya. Yakni kerap disambangi para pedagang asongan, setiap bus singgah di terminal pada tiap kota. Ya, maklumlah, namanya juga orang cari rejeki. Bukankah jaman sekarang rejeki itu susah dicari…?

Yang menarik perhatian saya dari perjalanan mudik kali ini, adalah dapat mendengar langsung suara hati orang-orang yang berjualan alias grup pedagang asongan di dalam bus yang kami tumpangi, halah….

Pra percakapan diwarnai dengan kegiatan mereka yang beramai-ramai menyerbu bus dan menawarkan dagangan pada para penumpang. Suara-suara mereka berdengung seperti lebah. “Mase, mbak’e, bapak, ibu, sprite, fanta, lontong. Kacang, mete, tahu goreng, aqua, bakpau-bakpau,” begitulah suara mereka. Sebagian besar dari mereka berusia ibu-ibu paruh baya dan bapak-bapak berumur sekitar 45-55 tahunan. Menatap mereka, dalam hati terbersit juga perasaan iba. Karena hanya beberapa penumpang saja dalam bis itu yang berhasrat untuk membeli dagangan mereka. Di jaman yang serba susah seperti ini, mereka tetap giat mencari uang. Berlomba dengan usia yang hampir melewati setengah abad.

“Enting-enting mbak, buat oleh-oleh, ayolah,” bujuk seorang dari mereka. Setelah selesai menawarkan mereka duduk-duduk di kursi bagian belakang. Mulailah terdengar percakapan mereka. “Walah, sirahku mumet, dek mau tak templek’i koyok. Ket mau durung enek sing payu,” ucap seorang ibu paruh baya. “Mengko nek aku muleh, mak’e lak ngomel terus, tambah cekot-cekot sirahku,” lanjutnya. Dari kata-kata si ibu saya menangkap, mungkin dia akan dimarahi ibunya yang disebut “mak’e” tadi, apabila tidak mendapat hasil penjualan karena tak laku. “Lha iki lho thekku yo sek akeh,” timpal seorang ibu pedagang asongan yang lain. Lalu tawa keduanya terbahak bersamaan. Mereka mengungkapkan dialog-dialog dalam bahasa mereka yang membuat mereka tertawa terpingkal-pingkal, yang kami tak tahu artinya. Kemudian pembicaraan mereka beralih kepada hal lain. Kali ini seorang bapak-bapak terlibat serius dalam pembicaraan tersebut. “Jarene sekolah gratis, tapi sek kon mbayar seragam,” keluh si bapak dengan jengkel. “Lha iki dagangan urung payu, anakku wes njaluk duwit,” lanjutnya. “Mosok toh?” tanya seorang ibu. “Rasah tuku seragam,” sergah yang lain. “Lha nek ra tuku seragam anakku arep sekolah nggae opo? Budal sekolah ra sragaman, arep udo?” si bapak kembali bertanya dengan nada agak tinggi. Sedangkan yang lain hanya menyimak, sambil sesekali tertawa terkekeh. “Saiki ora enek sekolah gratis,” lanjut si bapak dengan berteriak marah. Tapi anehnya yang lain tetap menanggapinya dengan enteng, seakan biasa saja, seperti tidak terjadi apa-apa. “Wes…wes urip digae santai wae,” timpal yang lain. Kemudian mereka tertawa terkikik sambil turun dari bis.

Tidak hanya itu, pemandangan di bus juga dihiasi kehadiran para pengamen dengan gaya yang bervariasi. Sebagian besar didominasi oleh anak-anak usia sekolah, baik laki-laki maupun perempuan. Tubuh mereka hitam, dekil, kurus dan tidak terurus, belum lagi baju mereka yang kelihatan kumal. Yang laki-laki tampil dengan anting yang hanya sebelah, kaus oblong, rambut bercat pirang dan berjambul mirip artis. Lengan dan lehernya penuh dengan tato. Kadang-kadang gaya bicaranya juga disertai dengan umpatan dan kalimat-kalimat kotor. Seusai mengamen mereka akan menyodorkan kantung kemasan permen kepada para penumpang, berharap untuk diisi dengan uang receh. Mereka akan bilang terimakasih, ketika diberi, dan akan mengeluh ketika tidak diberi. ”Ya Alloooh,” keluh seorang anak perempuan ketika mendapat isyarat tangan menolak dari seorang penumpang.

Dari sekelumit cerita tersebut kita bisa melihat betapa susahnya mereka, orang-orang kecil, bergulat dengan ketidak pastian, himpitan kemiskinan, ditengah semakin melonjaknya harga-harga kebutuhan pokok. Hal tersebut mewakili banyak bukti tentang kegagalan negara dalam memenuhi dan menjamin hak-hak dasar warganya, hak akan pendidikan, kesejahteraan, kesehatan, dan seterusnya. Melihat itu semua hati ini terasa teriris. Rasa prihatin, kasihan, tidak tega, dan lainnya, berbaur jadi satu dan menimbulkan rasa haru di ulu hati. Itulah potret kehidupan orang-orang yang serba kekurangan. Saya hanya mampu tertegun ketika mendengar percakapan mereka. Hati ini kemudian berdoa, semoga masih ada kebahagian yang bisa mereka nikmati manakala mereka bercengkrama kembali dengan keluarga dan sanak saudaranya yang sedang menunggu di rumah...

Saturday, 10 July 2010

07 09 14 (Juli)

ADA apa dengan bulan Juli? Juli adalah salah satu bulan yang bersejarah bagi dua orang ini. Bulan yang diperingati dengan perayaan tertentu. Jadi kira-kira beginilah ceritanya:

Alkisah di sebuah desa yang indah nan asri lahirlah seorang bayi cowok dari pasangan ayah yang seorang guru dan ibu yang seorang ibu rumah tangga, dengan nomor akte 3326/1985. Bayi montok berkulit hitam itu lahir pada tanggal 07, bulan Juli, tahun 1977, tepatnya pukul berapa, tidak tercatat dalam kertas sejarah, yang pasti malam hari, dan menempati posisi sebagai anak ke-2. Akan tetapi bayi montok yang sudah tumbuh dewasa ini, jika ditanya selalu berharap dan menjawab pukul 07.00.

Tujuh hari kemudian, pada tanggal 14 Juli, sekitar pukul 10.00 malam, terdengar tangis seorang bayi perempuan, menyusul kelahiran bayi cowok tadi, di sebuah Rumah Sakit di kota. Hanya saja kelahiran bayi perempuan itu terjadi 10 tahun kemudian, yaitu pada tahun 1987. Bayi perempuan itu adalah buah cinta dari pasangan suami yang berwiraswasta dan seorang istri yang sebagai ibu rumah tangga, dan menduduki tempat sebagai anak bungsu dari 2 bersaudara.

Bayi cowok yang sekarang sudah menjadi pria dewasa itu, kini sudah bekerja pada suatu lembaga non-profit di kota Pelajar. Sedangkan bayi perempuan yang kini sudah menjelma menjadi wanita itu, tengah mengabdi pada pada sebuah lembaga pendidikan prasekolah, sambil menuntut ilmu pada Perguruan Tinggi Negeri, di Kota yang populer dengan Gudegnya.

Suatu hari, tampak seorang gadis usia SMA sedang menuju sebuah toko di perempatan jalan. Dia bermaksud membeli sesuatu. Seorang pria melangkah ke depan rumah untuk melayaninya. “Mau beli ini, harganya berapa?” tanya si gadis sambil menunjuk sebungkus larutan minuman ringan. “Oh ya sebentar saya tanyakan ke bapak dulu, tunggu,” jawabnya sambil berlalu memasuki rumah. Secara, karena dia bukan pemilik warung itu. Laki-laki tadi kembali sambil menyebutkan harganya. Tak lupa sepotong pertanyaan juga sudah dilantunkannya kepada si pembeli. “Sekarang kelas berapa?” tanya si pria yang tak lain adalah si penjual. “Sudah lulus SMA,” jawab si gadis singkat. Si gadis melangkah pergi setelah membayar, menjauh meninggalkan toko. Dia sempat menoleh, laki-laki itu masih di sana. Memandanginya pergi, sambil tersenyum simpul penuh arti. Ketika hampir membelok ke tikungan si gadis merasa, tatapan mata itu masih di sana, ada di belakang punggungnya.

Melalui perkenalan yang terbilang cukup singkat, si pria memutuskan untuk melamar si gadis pembeli tersebut. Setelah menjalani serangkaian proses ini dan itu, jadilah mereka berdua bertunangan. Sebagai tambahan cerita ini, si gadis dulunya pernah menjadi murid si ayah mertua, ketika duduk di bangku SD. Dan lelaki itu sudah sempat mengenal si wanita, ketika masih kecil. Mengamati gadis kecil itu ketika sedang bersepeda di jalanan dekat rumahnya.

24 minggu semenjak perkenalan itu, tepatnya pada tanggal 09 Juli 2006 ikatan kasih keduanya diresmikan dengan ucapan ijab kabul, yang dipandu oleh penghulu dari KUA, dan masing-masing berhasil mengantongi buku nikah. Ikatan cinta keduanya yang telah membentuk rumah tangga itu, telah bertahan selama 4 tahun, terhitung sejak tanggal 09 Juli 2006 hingga 09 Juli 2010, yang baru saja diperingati oleh mereka berdua, sebagai hari ultah perkawinan.

Tahukan para pembaca sekalian. Bayi laki-laki yang telah tumbuh menjadi pria dewasa tadi, baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-33. Pria itu bernama Sg. Yulianto. Sedangkan si gadis yang berkembang menjadi wanita dewasa dan berstatus istri ini, akan memperingati hari lahirnya pada tanggal 14 Juli 2010. Usianya akan memasuki angka 23. Wanita itu oleh orangtuanya diberi nama Yulinda RY.

Zodiak yang menaungi pasangan ini juga sama yaitu CANCER. Nama mereka berdua juga sesuai dengan bulan dimana mereka lahir, Yulianto dan Yulinda. Teman-teman dekat mereka juga banyak yang mengatakan bahwa wajah mereka ada kemiripan. Dan pernah ada yang sempat mengira bahwa mereka bersaudara. Jodoh memang misteri. Saat keduanya masih dalam kandungan dan terlahir, Allah mempertautkan tali jodoh keduanya, dengan jarak rumah mereka yang hanya 300 meter saja.

Sunday, 4 July 2010

Mendekat Gunung Merapi

Sabtu, 3 Juli 2010. Holiday atau yang biasa kita sebut hari libur, bukan hanya milik anak-anak dan remaja, tapi juga milik kita orang dewasa, termasuk saya. Ini merupakan liburan pasca ujian semester 4 yang baru saja kelar. Pilihan saya jatuh pada sebuah gundukan menjulang yang tak lain adalah gunung, tepatnya Sanng Merapi di mana Mbah Marijan tinggal. Tapi saya tidak sowan alias bertandang ke kediaman beliau. Secara, Mbah Marijan juga sudah turun gunung untuk memenuhi panggilan jadi bintang iklan ROSSA ROSSA (EXTRA JOSS).

Kedua jarum pada jam dinding menunjuk dua angka. Yang pendek menatap angka 11, sedangkan yang panjang menuding angka 12. Bersama suami, kami memacu motor ke kawasan wisata Kaliurang. Jalanan yang kami lalui berkelok-kelok, seperti jalan ular. Semakin mendekati lokasi, jalanan terus menanjak, udara semakin sejuk, sehingga menggodaku untuk melingkarkan tangan di pinggang suami. Tiba-tiba saja lagu “Naik-naik ke Puncak Gunung” singgah di benak saya.

Seperti yang pernah saya alami sebelumnya jika naik ke tempat tinggi. Pada ketinggian tertentu, mendadak kuping kiri saya tersumbat, seperti budeg, tapi tidak 100%, karena saya masih bisa mendengar. Telinga kanan saya menyusul kembarannya, menjadi buntu juga ketika mencapai ketinggian tertentu untuk kedua kalinya. Tapi ini bukan penyakit kronis. Ini sudah biasa terjadi karena perubahan tekanan udara. Udara yang sudah tidak bisa dibilang dingin ini tetap terasa menyergap tubuh dan menyejukkan hati, halah….

Kami berdua tiba di gerbang masuk lokasi, yang mirip dengan pintu masuk jalan tol. Berlakulah hukum jual beli disini, tanpa transaksi. Beli karcis bayar dan masuk. Tarif yang dikenakan berlaku untuk jenis kendaraan, jumlah pengunjung, dan ukuran orang—maksudnya tarif untuk anak-anak dan orang dewasa. Motor membawa kami melewati jalanan yang kembali berliku. Sepanjang jalan berderet wisma, hotel, motel dan segala bentuk penginapan dengan berbagai nama. Selain itu penjual berbagai jenis makanan tampak berbaris di sisi jalan. Hingga akhirnya motor membelok ke taman tempat santai. Setelah memarkir motor pada tempat yang seadanya, kami naik. Pandangan mataku tertumbuk pada menara pandang 3 lantai yang berfungsi sebagai tempat untuk memantau aktivitas merapi. Lantai pertama biasa saja, naik ke lantai 2 dipajang foto-foto pada dinding atas, pada lantai ketiga yang merupakan puncak menara tersedia beberapa kursi panjang. Di lantai inilah para pengunjung sibuk mengambil gambar, mengamati pemandangan dengan binokuler atau keker. Dari lantai atas menara ini disamping tampak pemandangan indah tampak juga sekelompok anak muda yang berkemah. Tapi sayangnya gunung merapi tak bisa diamati karena tertutup awan. Nah, ini dia fotonya:

Setelah dirasa cukup, saya dan suami turun, berjalan-jalan mengitari tempat itu. Meskipun bukan hari libur, tapi para pengunjung yang notabene wisatawan domestik, memenuhi kawasan wisata ini. Banyak tempat duduk yang dibuat di berbagai tempat dengan jarak tertentu, untuk para pengunjung beristirahat. Tempat duduk tersebut terbuat dari semen. Kalau diperhatikan sekilas seperti bentuk nisan, osram….

Kami memilih tempat dan duduk sejenak, melepas lelah dengan mengamati sekitar sambil membaca majalah yang sengaja kami bawa. Taman santai itu banyak ditumbuhi pohon-pohon kecil tapi rindang, dengan ditemani rumput berwarna hijau terang. Sejumlah penjual dapat ditemui setelah menuruni anak tangga dari taman santai. Hanya saja yang sangat menganggu kenyamanan adalah banyaknya sampah yang bertebaran di sana sini. Padahal di karcis sudah tertera himbauan untuk menjaga kebersihan tempat wisata. Bahkan saya sempat menangkap pemandangan yang berupa tumpukan sampah, yang letaknya tak jauh dari tempat sampah yang telah disediakan. Ironis bukan?

Kawasan wisata kaliurang, juga menyediakan layanan tour keliling dengan kendaraan seperti kereta uap. Beberapa kendaraan tersebut melintas sambil membawa sejumlah penumpang dengan suara yang meraung-raung. Asap hitamnya mengepul, menambah pencemaran lingkungan yang seharusnya dijaga keasrian dan kesegaran udaranya.

Langkah kaki kami terus terayun. Mumpung masih di lokasi, waktu kami manfaatkan untuk menjelajah. Tempat selanjutnya yang kami tuju adalah gardu pandang. Fungsinya hampir sama dengan menara pandang, letaknya juga tak jauh dari menara. Kami memanjat pagar gardu pandang dan bergaya bebas dengan beberapa kali jepretan kamera dengan meminta tolong salah satu pengunjung untuk mendokumentasikan aksi kami.

Turun dari pagar, kami mengelilingi taman disekitarnya yang cukup rimbun. Beberapa tulisan di papan kecil yang diberi tiang bertutur “Sayangilah tanaman”. Kembali kami berpose ria dengan sejumlah pohon dan tanaman hijau lainnya. Hari itu kami serasa jadi foto model, dasar narsis,,,, Eh sebentar, syut…mampir dulu ke ayunan ah, sambil mengingat kembali masa-masa TK yang telah lewat.

Ekspedisi kami berlanjut ke Bunker perlindungan darurat yang dibangun untuk tempat bersembunyi dari segala kemungkinan (gunung merapi bisa njeblug sewaktu-waktu). Semoga saja tidak.

Acara liburan itu kami akhiri dengan melewati jalan memutar sebelum turun gunung. Apalagi suamiku melihat perubahan cuaca yang mulai mendung. Sebelum benar-benar meninggalkan kawasan kaliurang kami disapa dengan udang raksasa yang sedang bertengger di atas batu. Udang tersebut tak lain adalah simbol kawasan itu yang berupa bundaran dengan kolam kecil yang dihuni ikan-ikan yang kecil pula. Patung itu menarik perhatian kami untuk berfoto bergantian.

Motor yang membawa kami, turun perlahan, keluar dari pintu gerbang dan melesat terbang ke bawah. Dalam perjalanan pulang, perut kami memberikan sinyal yang kuat, bahwa di pinggir jalan ada jadah dan tempe bacem Mbak Carik dan kopi anget yang perlu dicicipi kelezatannya. Beberapa menit berlalu. Hidangan yang sudah tandas itupun kami tinggalkan dengan membayar harganya. Motor merayap turun dengan pasti. Pukul 14.24 sampailah kami di rumah dengan selamat, sehat wal afiat, tak kekurangan suatu apapun dan yang penting lambung telah terisi makanan dan otak mengalami penyegaran serasa direfresh oleh pengalaman serta sejuknya udara di kaliurang.

Tik…tik…tik…klothak…klothak…bress…. Suara apa itu? Hujan mulai mengguyur, tepat setelah kami masuk rumah. Suamiku tengkyu, berkat instingmu yang kuat, kita tak perlu berbasah ria.

Thursday, 1 July 2010

ORANGTUA VERSUS BADAI INFORMASI

Kon ojok kenthu ndik pos lho yo, timbangane tak bedhil”. “Ampun Boss... ampun Boss”... “Ampun ampun maaatamu!” umpat Sandy pada si Keceng yang ketahuan main esek-esek di Pos Jaga setempat. Itulah sepenggal acting menggemaskan yang ditampilkan seorang anak di bawah umur, dimana dia berperan ganda baik sebagai si Boss dan si Keceng.

Kita tentu masih ingat dengan berita dan video yang sempat beredar di internet beberapa waktu yang lalu. Kita tidak akan mengira kalau kata-kata kasar itu meluncur dari mulut seorang balita berusia 4 tahun, yang tinggal di sebuah kota di Jawa Timur. Bahkan si anak ini mampu memperagakan adegan seks dan hafal nama beberapa tempat pelacuran setempat. Tidak hanya itu. Dia juga bisa memberikan penilaian terhadap 'kelas' dari pelacuran tersebut. Lebih jauh lagi, si anak juga telah fasih mengucapkan sejumlah kata-kata kotor, dan umpatan-umpatan khas Jawa Timur. Lihat saja bagaimana si anak tersebut mampu bertingkah dan berkata-kata layaknya orang dewasa, seperti caranya memegang, menghisap dan menghembuskan rokok. Konyolnya, adegan si anak dianggap sebagai hiburan oleh orang dewasa.
***
Seorang teman pernah bercerita kepada saya mengenai tetangganya, berikut petikan kisahnya:

Rudi adalah seorang bocah yang baru saja berusia 4 tahun dan duduk di bangku TK. Dia tinggal bersama ayah dan ibunya. Ibunya yang bekerja sebagai karyawan di sebuah pusat perbelanjaan, sering meninggalkan Rudi bersama ayahnya, karena jam kerjanya berlangsung dari pagi hingga sore hari. Kebetulan sang ayah juga tak bekerja, sehingga praktis ibunyalah yang akhirnya menjadi tulang punggung keluarga. Kehidupan Rudi sehari-harinya berlangsung biasa saja. Dia termasuk anak yang lucu dan periang.

Setiap pagi, sambil berangkat ke tempat kerja, ibunya mengantar Rudi ke sekolah. Siangnya giliran sang ayah yang menjemput. Setelah pulang dari sekolah, kegiatan Rudi biasanya bermain di rumah, kadang juga bermain bersama dengan tetangganya. Sebagian besar waktunya dihabiskan bersama ayah daripada ibunya.

Sampai pada suatu hari, si anak tersebut memergoki sang ayah yang sedang menonton film biru alias film porno. Melihat ayahnya yang keasyikan menonton, membuat Rudi menjadi penasaran dan ikut menyaksikan adegan dalam film itu. Sang ayah tak tahu kalau kegiatan tersebut dapat berpengaruh buruk terhadap Rudi. Yang dia tahu adalah yang penting si kecil diam, menurut, dan tidak rewel. Kegiatan tersebut berlangsung hampir beberapa minggu.

Tidak seperti biasanya, sepulang sekolah Rudi menangis, merengek kepada sang ayah. Ternyata permintaan anak tidak bisa dibilang sepele. Tanpa disangka si anak minta diputarkan film biru yang biasa dia tonton bersama si ayah. Kontan saja hal ini mengundang keterkejutan ayahnya. Hasil akhirnya sungguh mencengangkan. Apabila dalam satu hari saja si Rudi tidak menonton film tersebut, dia akan menangis dan merengek-rengek. Sungguh kasihan sekali. Entah apa yang dirasakan Rudi dengan melihat film porno tersebut.
***
Cerita lain yang menghebohkan, saya dapat ketika saya di SMA. Begini kisahnya:

Saat jam istirahat berlangsung sejumlah teman saya perempuan dan laki-laki tampak bergerombol di salah satu tempat duduk barisan depan di ruang kelas. Beberapa dari mereka tampak meringsek maju. “Eh aku mau lihat, eh aku minta gambarnya dikirim ke hpku”, kata salah seorang dari mereka. Seusainya mereka menonton video tersebut seorang teman perempuan saya mengaku, bahwa dia menjadi terobsesi dan ingin sekali mencobanya. Ternyata yang ingin dia coba praktekkan adalah, adegan hubungan seksual yang baru saja dia lihat beramai-ramai.
***
Dari cuplikan kisah nyata yang ada di atas tadi, meskipun belum tentu mewakili keseluruhan situasi yang sesungguhnya, kita jadi lebih tahu seperti apa perkembangan moral generasi kita.

Moral sendiri tidak hanya mengacu pada hal yang berhubungan dengan pornografi saja, akan tetapi juga mencakup tentang etika, etiket dan budaya. Etika adalah pemikiran kritis terhadap ajaran-ajaran moral. Etiket adalah sopan santun. Budaya bisa diartikan sebagai kebiasaan hidup.

Tayangan pornografi, menyebabkan remaja terdorong untuk mencoba karena ingin tahu rasanya, sedangkan anak-anak akan berkesplorasi karena rasa ingin tahunya yang begitu besar.

Lantas, siapa yang bertanggung jawab terhadap pembentukan moral mereka dan usaha apa yang perlu dilakukan? Disini jelas sekali bahwa teknologi dan lingkungan keluarga sangat besar pengaruhnya. Teknologi tidak dapat dilawan, dicegah, dan ditolak. Karena, dia juga anak kandung peradaban, yang juga bermanfaat. Dalam hal ini orangtua perlu membekali anak dengan menanamkan pendidikan moral dan seks sejak dini kepada anak. Pendidikan moral dapat diberikan melalui dongeng dan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari. Melalui proses pembiasaan untuk bersikap dan bertindak sesuai dengan norma dan budaya. Orang-tua dan mereka yang lebih dewasa harus menjadi teladan yang baik bagi anak. Karena moral merupakan pedoman untuk mengikat perilaku manusia agar tetap berada dalam koridor norma susila dan kesantunan yang disepakati.

Sedangkan untuk pendidikan seks, dapat diberikan sesuai dengan usia dan tingkat pemahaman anak. Untuk anak usia dini misalnya, pendidikan seks dapat dilakukan dengan memperkenalkan ciri-ciri fisik antara laki-laki dan perempuan. Mengenalkan toilet training, seperti buang air pada tempatnya dan cara membersihkan alat vital sendiri, agar tidak sembarang orang membersihkannya. Untuk anak remaja pendidikan seks yang dapat diberikan adalah tentang kesehatan organ reproduksi. Tak ada salahnya disertai dengan dampak yang dapat ditimbulkan apabila melakukan pelanggaran terhadap kaidah norma, misalnya, berpacaran tidak sehat, dan melakukan hubungan intim pranikah. Lalu bagaimana menurut pendapat teman-teman?

Note: Cerita ini dalam rangka partisipasi untuk meramaikan kolaborasi postingan tentang "Moralitas dan Budaya", yang dipelopori oleh blog "TRIMATRA"