Saturday, 12 June 2010

KETIKA ANAK BERCITA-CITA (BAGIAN 2)

“Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa,” itulah sebutan orang untuk profesi ini. Akan tetapi ternyata tak semua orang bermimpi untuk jadi guru. Profesi ini bisa disebut sebagai sebuah panggilan hati, itu juga kata orang. Banyak orang bercita-cita ingin jadi seorang insinyur, dokter, tentara, pilot dan masih banyak lagi. Begitupun dengan anak-anak, seperti yang sudah saya ceritakan di episode sebelumnya. Sebagian besar profesi yang dipilih anak-anak merupakan fotokopi dari orangtua. Ada yang ingin menjadi polwan seperti ibunya. Ada yang bercita-cita menjadi pegawai bank, karena ayah dan ibunya bekerja bank. Bahkan ada yang ingin sekali menjadi dokter anak, karena ayahnya juga seorang dokter spesialis anak. Namun tidak semuanya sama. Ada anak yang cita-citanya ingin sekali jadi nahkoda karena obsesinya yang begitu besar pada kapal laut. Ada yang ingin jadi pilot karena mainan kesukaannya adalah pesawat.

Berdasarkan pengalaman saya selama 2 tahun menjadi guru di kelas Kelompok Bermain, bersama dengan 2 rekan saya, kami bertiga telah mensurvei, atau lebih tepatnya dikatakan menanyai anak-anak didik kami satu persatu tentang cita-cita mereka. Hasil yang kami dapat agak sedikit mencengangkan, dari 58 murid (2 kali tahun ajaran baru), tidak ada satupun yang ingin jadi guru. Sungguh agak sedikit memprihatinkan, karena profesi ini kurang diminati anak-anak. Kalaupun ada hanya 4- 5 orang saja dari 5 kelas dengan jumlah total anak 150 orang (mencakup kelas TK). Dari 150 murid kelas Kelompok Bermain dan TK hanya 5 orang yang bercita-cita jadi guru. Itupun semuanya dari kelas TK, yang dari Kelompok Bermain tidak ada.

Menjelang berakhirnya perang dunia ke-II, waktu itu kota Hirosima dan Nagasaki luluh lantah dihantam bom atom Pasukan Sekutu. Lalu apa hubungannya antara perang dengan cita-cita menjadi guru? Saat kejadian tersebut dilaporkan pada pimpinan Jepang, sang pimpinan bertanya “Berapa orang guru yang tersisa?” Kenapa yang ditanyakan bukan jumlah tentara yang berperang?

Kalau menurut saya, jawabannya adalah karena pendidikan merupakan tonggak untuk membangun bangsa, dalam artian mencerdaskan kehidupan bangsa. Karena maju tidaknya suatu bangsa itu dilihat dari segi pendidikannya. Kalau dirunut lebih dalam, semuanya memang berasal dari guru. Pilot, dokter, tentara, polisi, insinyur dan lain sebagainya semuanya dididik oleh guru. Bisa dikatakan semua profesi yang ada, dilahirkan oleh guru.

Setelah semua anak ditanyai satu persatu, teman saya berkata, “Nak nggak ada yang mau menjadi guru?” Akan tetapi jawaban yang didapat teman saya hanya tatapan anak-anak yang melongo memandangi teman saya. Mungkin saja, orangtua juga tidak ada yang mengarahkan anaknya jadi guru. Barangkali mereka juga berpikir, gaji seorang guru tidaklah besar, sehingga mereka mengharapkan anaknya untuk memilih profesi yang bergaji tinggi.

Oleh karena itulah menjadi seorang guru kalau dikatakan orang sebagai panggilan hati memang benar adanya. Karena butuh keikhlasan yang sangat tinggi untuk menjadi seorang pendidik. Selain itu tanggung jawab yang dipikul juga berat, yakni harus mampu melahirkan generasi penerus bangsa yang handal. Dulu awalnya saya sendiri tidak bercita-cita menjadi guru. Tapi begitu saya menginjak kelas 2 SMP hingga kelas 2 SMA saya berniat jadi guru. Bagi saya pribadi guru ibarat orangtua kedua bagi peserta didik. Guru juga bisa jadi sahabat anak didiknya. Yang saya rasakan selama menjadi guru adalah adanya ikatan batin antara saya dengan anak-anak.

Foto: www.geogaul.wordpress.com