Sunday, 28 March 2010

IMPIAN SEORANG ANAK JALANAN

Oleh Yulinda Rohedy Yoshoawini

Sudah dua minggu swalayan itu mulai beroperasi. Swalayan yang mewah itu, berdiri strategis di ujung perempatan jalan. Tak sembarang orang bisa memasukinya, hanya yang berduitlah yang bisa leluasa keluar masuk. Ditambah dengan adanya satpam yang berwajah kaku, berkumis tebal bertampang galak. Apalagi bagi Danang, itu hanya akan jadi angan-angan.

Danang, salah satu anak yang mengalami putus sekolah. Usianya baru sepuluh tahun. Di daerah itu banyak anak-anak yang tak bisa mengenyam bangku pendidikan karena latar belakang ekonomi orang tua yang semakin memburuk. Sebagian besar dari mereka bekerja sebagai pengojek payung, ada juga yang jadi pemulung, pengamen jalanan, bahkan pedagang asongan. Sekadar untuk membantu orang tua mencari sesuap nasi.

“Nang, karena sekarang lagi musim hujan bagaimana kalau kita mencoba mengojek payung untuk pengunjung swalayan,” ajak Bakri teman sekampungnya.

“Aku tidak yakin bisa laku, karena parkir mobil mereka terletak berdekatan dengan swalayan. Apalagi sekarang sudah banyak orang yang sedia payung sebelum hujan,” jawab Danang. “Tapi kita masih bisa menawarkannya pada pejalan kaki yang tak bawa paying,” kata Bakri tetap penuh semangat. Akhirnya Danang setuju untuk menjalankan usulan Bakri. Tapi ternyata kurang membawa hasil. Para pengunjung kadang menolak untuk dipayungi menuju ke mobilnya.

***

“Kamu coba untuk berjualan rokok dan makanan kecil di teras swalayan, pasti laku keras karena swalayan itu tempat dimana orang-orang bermobil datang,” kata Ibu memberi masukan. “Tapi Danang takut bu, sama Satpam yang jaga pintu masuk,” sergah Danang. “Tak apa-apa kalau kamu sudah meminta ijin terlebih dahulu”, bujuk sang ibu. “Kalau tidak diijinkan bagaimana?” tanya Danang. “Ya sudah, kamu bisa berjualan di tempat lain,” tutur ibunya. “Besok ibu buatkan penganan dan makanan kecil lain untuk kau jual,” kata ibu.

Dua hari kemudian, Danang dengan ditemani Bakri, sudah menggelar dan menata barang dagangan di teras toko. Tak lama kemudian Satpam yang biasa bertugas datang. “Maaf adik-adik, dilarang untuk berjualan di sini, karena bisa mengganggu kenyamanan pengunjung,” jelas Pak Satpam. “Tapi pak, kami hanya ijin memakai teras ini untuk berjualan,” sahut Bakri dengan memelas. “Dik teras ini merupakan jalan untuk lalu lalang orang-orang,” kata Si Satpam lagi. Akhirnya mereka mengalah dan membereskan barang dagangan, untuk mencari tempat yang baru. Sambil membereskan barang dagangan, secara tak sengaja Danang melirik ke arah dalam ruangan swalayan yang dibatasi kaca itu. Dalam hati ia merasa takjub dengan isi yang ada di dalamnya, yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Lantai yang putih bersih, barang dagangan, beberapa makanan pokok yang dijual tertata rapi di atas rak, dan…

“Bakri, tahu nggak saat di swalayan tadi aku sempat melihat kedalam, ternyata bagus dan kelihatan nyaman,” cerita Danang pada Bakri. “Sudah ah sekarang yang terpenting kita cari tempat lain untuk berjualan,” jawab Bakri. Dalam hati timbul keinginan Danang untuk bisa masuk ke dalam swalayan tersebut. Danang terus memutar otak untuk mencari cara. Tapi dia tak kunjung menemukannya.

Siang itu, tanpa disadari entah bagaimana caranya tiba-tiba saja Danang sudah berada di antara orang-orang yang sedang berbelanja di Swalayan elit itu. “Kenapa aku bisa berada disini,” gumam Danang. Dia mulai menjelajah setiap lorong demi lorong yang disekat oleh rak setinggi atap. Di bagian makanan ada mi instan, gula, kecap, minyak goreng , tepung terigu, garam dan masih banyak lagi kebutuhan dapur yang lain.

“Ibu pasti senang, kalau kubawakan sedikit,” ucap Danang dengan mata berbinar. “Tapi mana mungkin, aku tak punya cukup uang,” kata Danang sesaat kemudian dengan raut muka sedih. Di bagian rak lain ada baju dan sepatu cantik yang dipajang satu-satu. Danang teringat akan adiknya di rumah, namun ketika melihat harga yang tertera dia hanya bisa menelan ludah. Tak ada habisnya Danang mengagumi bangunan megah itu. Apapun yang ada di dalamnya selalu dia raba dan diamatinya. Karena terlalu gembira dan sibuk memegangi benda-benda sekaligus bercampur heran, Danang kurang hati-hati dan tiba-tiba saja, “Bruk! Aduuh!,” keduanya mengaduh. Ternyata dia bertabrakan dengan seorang ibu paruh baya. “Maaf bu, saya tidak sengaja,” ucap Danang sambil membantu memunguti belanjaan ibu itu yang jatuh dari keranjang. “Nggak apa-apa kok dik,” jawab Si ibu. Kemudian Si Ibu-pun berlalu. Puas berjalan-jalan, Danang merasa ingin segera pulang. Dia tidak ingin membuat ibunya di rumah merasa cemas. Danang kebingungan mencari pintu keluar. Ia lalu bertanya pada petugas yang ada disitu. “Oh adik lewat kasir aja, yang sebelah sana,” kata Si Petugas menerangkan. Danang berjalan kearah yang dimaksud. Saat itu di kasir tengah terjadi keributan.

“Dompet saya hilang pak,” kata seorang perempuan yang tak lain adalah Ibu yang tadi bertabrakan dengan Danang. Ketika Si Ibu menoleh dan melihat Danang, dia langsung berseru, “Itu pak Satpam anaknya, tidak salah lagi dia yang menabrak saya sambil mencuri. Saya yakin, bawa saja dia, pencuri sekarang memang pintar! Strateginya sambil menubruk orang”. Danang yang tidak mengerti apa-apa hanya melongo ketika dibawa Satpam untuk diinterogasi. “Kamu yang mencuri dompet ibu itu, sekarang kembalikan, atau saya laporkan ke Polisi,” ancam Si Satpam. “Lho Pak saya tidak salah, saya bukan pencuri,” kata Danang membela diri. “Kalau tidak mau mengaku, baiklah ayo ikut Bapak ke kantor Polisi,” kata Satpam sambil menggandeng paksa Danang. “Jangan pak, saya tidak mencuri, sungguh,” kata Danang terus meronta berusaha melepaskan diri. Tiba-tiba, “Pak lepaskan dia, dompet saya sudah ketemu,” seru Si Ibu.

Akhirnya Si Ibu dan Pak Satpam langsung meminta maaf telah menuduh Danang. Dompet itu ditemukan petugas terjatuh di bawah rak makanan. “Untuk menebus kesalahan, terimalah ini,” kata Si Ibu sambil memberikan selembar uang pecahan Lima Puluh Ribuan pada Danang. Danang hanya bisa menatap tak percaya pada uang yang disodorkan padanya. “Tidak usah ragu, kau harus mau menerimanya,” lanjut Si Ibu itu. Danang menerima uang itu dengan tangan gemetar. Tiba-tiba dia merasa pipinya sedikit sakit.

“Lima Puluh Ribuuuu,” sebut Danang hingga ia terbangun. Ketika dia membuka mata dia mendapati adiknya, Dodik mencubit pipinya yang sedang tertidur pulas, sambil beseru, “Kak ayo cepat bangun. Kakak mengigau ya, memangnya mimpi apa?” tanya Dodik. Danang hanya menggeleng pelan. Lambat-lambat baru disadarinya, dia sedang bermimpi.

Cernak ini dimuat Harian SUARA MERDEKA, edisi Minggu 28 Maret 2010. Ilustrasi: Kakjo, SUARA MERDEKA