Saturday, 4 September 2010

Bu, Maaf ...

SAYA terkejut mendapati keranjang tempat kotak makan berantakan. Sebuah sendok terlihat seperti habis dilempar kedalamnya. Padahal kami para guru, selalu membiasakan anak-anak untuk memasukkan sendok ke dalam kotak makan, supaya terlihat rapi dan tidak memakan tempat dalam keranjang. Belum lagi nasi dan sayur yang tercecer, karena kotak makan tak ditutup dengan rapat, sehingga sisa makanan tumpah.

Melihat itu semua, saya menjadi jengkel dan agak stress. Wajarlah...apalagi hari itu anak-anak aktifnya sungguh minta ampun. Berlarian kesana kemari, kejar-kejaran, dan berteriak. Padahal aturan di kelas sudah menyebutkan, semua itu tidak diperbolehkan di dalam kelas. Bahkan kami para guru juga berusaha berperilaku untuk konsisten ketika memanggil anak dengan suara pelan. Tapi namanya juga dunia anak. Bukan anak dan dunianya kalau mereka tidak berbuat seperti itu. Sungguh butuh kesabaran ekstra menghadapi mereka.

Dengan nada suara agak tinggi, saya bertanya “Sendok ini milik siapa?” sambil mengangkat sendok tersebut tinggi-tinggi. Serentak semua kepala menoleh ke arah saya. Tiba-tiba seorang murid bernama Arfa mendekat dan berkata “Saya bu, maaf.” “Ini milik Arfa?” ulang saya. Dia hanya mengangguk. Dengan ketus saya menyuruh dia mengulangi perbuatannya. “Coba lempar lagi seperti tadi, bu guru ingin tahu seperti apa Arfa melempar sendok,”perintah saya dengan sorot mata tajam kearahnya. “Nggak bu,” tolaknya. “Nggak papa silahkan dilempar lagi,”kata saya masih dengan pandangan mata tajam. Dia hanya menggeleng. Saya letakkan sendok dengan kasar ke dalam keranjang dan beranjak keluar kelas menuju ke kamar mandi.

Di dalam kamar mandi saya mencoba menenangkan diri dengan mengambil napas dalam-dalam. Tiba-tiba saya tersentak dan merasa betapa gegabahnya saya dengan marah-marah, ketus, serta kasar pada Arfa tadi. Saya merenung sejenak dan berpikir, “bukannya sudah bagus dia berani mengakui kesalahannya di usianya yang masih 3 tahun?” batin saya. Saya sungguh melakukan kesalahan dengan berbuat seperti tadi. Ditambah dengan pandangan mata saya yang menyiratkan kemarahan. Kenapa saya tidak melihat dari segi positifnya? Saya baru tersadar. Luluh juga hati saya mengingat kata maafnya.

Segera saya kembali ke kelas. Setibanya di dalam, saya lihat Arfa tampak murung dan diam. Tidak berlarian seperti tadi. Dia hanya melihat teman-temannya berkejaran. Pelan tapi pasti saya panggil dia. Saya dudukkan dia di kursi dengan tenang. Saya duduk dihadapannya. “Bu Guru mau ngomong sebentar sama Arfa, boleh khan?” pinta saya. Dia menganngguk. Saya semakin merasa bersalah dengan anggukan kepala yang menunjukkan penerimaannya terhadap saya untuk ngobrol dengannya. Saya katakan padanya dengan suara yang mulai melunak dalam posisi sejajar dengan pandangan mata segaris. Ini teori dari pakar anak, supaya anak tidak merasa digurui dan merasa guru sebagai temannya.

Saya: “Hari ini bu guru senang sekali dan bangga.”
Dia masih memandangi saya dengan seksama, seakan mencoba mencerna kata-kata saya.
Saya: “Tahu nggak kenapa?”
Dia menggeleng.
Saya: “Karena Arfa hebat dan pintar sudah berani dan mau mengakui kesalahan. Mau bilang kalau itu sendok Arfa. Bu Guru senang Arfa ngomong jujur.”
Saya mengacungkan dua jempol untuknya dan mengajaknya tos. Dia tersenyum lebar dan menyambut tos saya.
Saya: “Tapi lain kali, tolong sendoknya di taruh di tempatnya ya, biar sayur dan nasinya nggak ikut tumpah, diletakkan pelan-pelan.”(sambil memegang tangannya)
Arfa: “Ya bu.”
Saya: “Bu Guru minta maaf ya.”
Dia mengangguk.
Setelah itu saya meminta dia untuk meletakkan sendok ke dalam tempat makannya.

Sejak itu saya belajar untuk berusaha menahan diri. Tidak masalah bagi saya dan tidak ada kata gengsi untuk meminta maaf pada yang lebih muda, seperti apa yang saya lakukan pada Arfa, murid saya yang duduk di tingkat Kelompok Bermain. Saya juga tak lupa melantunkan sepotong kata pujian untuk mengapresiasi tindakannya yang berjiwa besar, mau mengakui kesalahan dan minta maaf. Sebaris penjelasan juga sudah saya sertakan. Sungguh luar biasa, Arfa, seorang bocah polos, di usianya yang masih sangat belia, telah mengajarkan pada saya tentang makna dan pentingnya untuk berani mengakui kesalahan dan minta maaf, sekalipun pada yang lebih muda tanpa embel-embel gengsi. Sekali lagi saya belajar hal bermakna dari seorang murid saya.

51 comments:

  1. wah.. Arfa hebat. Sebetulnya saya juga bekerja bersentuhan langsung dgn dunia anak-anak, saya juga banyak belajar teori2 psikologis dalam menghadapi anak kecil... satu prinsip yang dianut dalam pekerjaan saya adalah : anak nggak pernah salah. jika dia berlaku buruk, jahat, maka sebetulnya itu karena peran orang tua, cara didik, dan lingkungan... dua jempol deh untuk ibu guru!

    ReplyDelete
  2. wow.. hebat, aku sampe pengen nangis bacanya, aku bayangin jadi Arfa dan Bu Guru marah-marah, ini memang pelajaran, anak balita saja sudah mengerti salah dan minta maaf, subhanallah..

    ReplyDelete
  3. @ Gaphe: Anda bentul sekali Mas Gaphe, dan terimakasih atas kunjungannya...

    @ Nyun-nyuN: Iya Mbak Nyun-nyun, semua anak memang hebat, kalau ada yang 'kurang' itu karena kekurangan kita, orang yang sudah dewasa!

    ReplyDelete
  4. jarang nulis, tapi sekalinya nulis malah bikin ketagihan. Kalau semua pendidik anak2 bisa melakukan refleksi diri seperti ini, alangkah indahnya bersekolah di TK yah :D

    ReplyDelete
  5. Saya jadi terharu saat bu guru mau minta maaf kepada Arfa. Mmg mnjadi pendidik itu beratnya di main perasaan. Saat perasaan sedang tdk enak tp harus bersikap bijak, menyadari kesalahan adalah harta berharga untuk seorang pendidik

    ReplyDelete
  6. wah bu guru iso nesu juga ki..?
    aku ga nakal lagi bu guru...

    ReplyDelete
  7. Salut gw ama elo, biarpun masih kecil kita tidak boleh gengsi untuk meminta maaf biar nanti mereka bisa mencontohnya

    ReplyDelete
  8. untung bu gurunya cepet sadar juga ya karena sudah membentak anak

    ReplyDelete
  9. saya terenyuh membaca cerita ini
    karena hampir aku tak pernah menjumpai kejadian itu
    pernah aku melihat seorang ibu yang semena-mena membentak anaknya di depan umum ketika di pasar
    aku hanya bisa menghela napas, kasihan sekali anak itu
    memang anak itu salah, tapi perlakuan ibu yang membentak di depan umum kayaknya kurang cocok

    saya suka sekali dunia anak2
    pernah dulu saya menjadi guru mengaji anak2 yang masih TK
    terkadang stress di sekolah (waktu SMA dulu) hilang karena melihat senyum dan tingkah anak2
    aku merindukan saat2 itu

    kayaknya mustahil kembali ke keadaan itu, karena kesibukan kuliah yang menggila :D

    maap kalo aku curhat di sini :-)

    ReplyDelete
  10. huwaaa... anaknya hebat... Arfa bikin bangga orang tua dan orang sekitarnya...
    btw, mbak guru yg hebat... seriously.

    ReplyDelete
  11. Waaah... kadang sy secara td sadar jg sering bentak2 ank2 kcil.. hihihi...
    Salam kenal mbak.. :)

    ReplyDelete
  12. hiks, terharuuuuuuuu baca cerita ini. aku bayangin ekspresi arfa kyk gemana...hiks

    ReplyDelete
  13. @ cipu: Saya juga berharap demikian, refleksi diri tidak hanya dilakukan oleh pendidik di TK, tapi disemua jenjang seperti SMA, SMP, dan SD.

    @ Winny Widyawati:Iya betul sekali mbak, main hati banget, mendidik mereka juga harus dari hati.

    @ taufikdisc: for your dropping here.

    @ Rawins: he..,,he,,..hehe,.,. tapi sebenarnya saya bukan tipe orang galak lho. Namanya marah khan karena situasi dan kondisi yang berpengaruh. Kalau sikonnya bagus, mood juga bagus, apalagi ketika anak-anak bersikap manis.

    @ exort: Permintaan maaf tidak akan terwujud, tanpa mengesampingkan rasa gengsi.

    @ Sang Cerpenis: Ya mbak, untung juga suasana hati saya yang lagi suntuk dan hati anak yang kecewa sudah cair.

    @ John Terro: Saya sependapat, karena saya pernah mengalaminya. Anak-anak memang pelipur lara di saat kita sedih.

    @ ferdivolutions: Betul, saya juga tidak menyangka dengan sikap Arfa

    @ PointBlank: Iya mbak, kadang pas kita lagi bad mood karena banyak masalah secara tidak sadar anak menjadi sasarannya. Tapi harus tetep menjaga kesabaran...

    @ Mayyadah Or Maya: Saya sempat menyesal ketika air muka Arfa berubah karena saya.

    ReplyDelete
  14. Kisah yang mengharukan teman.
    SAlah satu serunya menjadi guru adalah banyak pembelajaran yang kita peroleh dari anak didik. Berapa pun usia mereka. Kebetulan saya sehari berinteraksi dengan usia SD sampai SMA. Bahkan kadang S1 dan S2... Seru lo.
    Makanya kita sebenarnya bukan PENGAJAR, tetapi PEMBELAJAR.

    Salam Pendidikan

    ReplyDelete
  15. Wah.. hebat..
    anak berumur 3 tahun berani mengakui kesalahan..

    padahal orang dewasa saja belum tentu berani untuk mengakui kesalahan.. bahkan cenderung tidak jujur..

    Salut saya..!! ^^

    btw, Salam kenal ya bu..
    ini kedatangan pertama saya di blog ini..

    ReplyDelete
  16. Saya Yakin, Arfa sehebat itu karena didikan ibu gurunya. Salute buat bu gurunya.
    Semoga mengajar dan mendidik dengan hati penuh cinta tetap menjadi parameter dlm menilai anak baik dari ranah afektif, kognitif maupun psiko motoriknya.
    Selamat menyambut Idul Fitri 1431 H, maaf lahir bathin. Semoga Allah memberi kita kesempatan ntuk bersua dg Ramadhan tahun depan, amiiin...

    ReplyDelete
  17. @ Sriayu: Ya mbak memang betul, hal yang perlu kita sadari yaitu posisi kita sebagai pembelajar. Bukankah proses belajar itu berlangsung sepanjang hayat.

    @ Lee Coo: Ya kita memang perlu terbuka dan belajar pada anak yang bagai kertas putih.

    @ gaelby: Saya juga belajar dan berusaha menilai seseorang khususnya anak dari segi tertentu. Dari kejadian ini saya juga belajar untuk tidak terburu-buru dalam memberikan penilaian terhadap orang lain dengan mengabaikan sisi lainnya.

    ReplyDelete
  18. wah, bu guru yang hebat, sampai kegiatan di kamar mandi diceritain segala. selamat kalo begitu, semoga anak-anak itu lebih bernilai nantinya.

    ReplyDelete
  19. Waah, benar2 menyentuh. Afra memang hebat sudah berani mengakui kesalahannya itu. memang anak yang pintar. saya kagum membaca ini.

    ReplyDelete
  20. Iya, saya juga tidak akan tega menampakkan kemarahan pada anak umur 3 tahun. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa kita sbg orang dewasa kadang gagal meredam emosi takkala disekeliling kita penuh dengan ketidakberesan. Tetapi bagaimanapun, sebagaimana mbak bilang dlm dunia psikologi anak, bahwa jika anak terbiasa diajar dengan kekerasan,maka akan keraslah ia. Dan kita sepertinya wajib untuk mampu meredam emosi agar tidak menjadikan marah berkepanjangan.

    ReplyDelete
  21. salam ramadhan di penghujung usianya dan selamat menyambut syawal yang bakal berkunjung

    ReplyDelete
  22. melakukan yang terbaik untuk anak itu mudah diteorikan, semudah di ucapkan tapi sulit banget untuk bisa melakukannya.

    masih banyak yang mesti kita perbaiki dalam cara mendidik anak yang baik. nice post

    ReplyDelete
  23. Menghadapi balita memang sangat menguji kesabaran dan membutuhkan banyak pertimbangan sebelum bertindak/berkata, padahal mereka seringkali 'menuntut' reaksi cepat kita..

    Alhamdulillah sekarang semakin banyak guru yang benar-benar belajar dan berjuang untuk mendidik dengan baik.. :-)

    Saya sendiri jadi banyak belajar tentang mendidik anak setelah sering berdiskusi (dan curhat) dengan guru-guru anak-anak saya di sekolah..

    Sekarang, saya bisa belajar juga dari Mba Yulinda.. :-)

    ReplyDelete
  24. lama sudah tidak pernah berkunjung kesini ...
    kunjungan kali ini sekalian mo ngucapkan ...

    Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1431 H
    Minal Aidzin Walfaizin Mohon Ma'af Lahir dan Batin.

    ReplyDelete
  25. met berlebaran esok..!
    mari berlebaran bersama dengan rasa kemenangan bersama :)

    ReplyDelete
  26. berkunjung untuk mengucapkan, seLamat hari raya iduL fitri 1431 H.

    biLa sekiranya seLama ini saya daLam perkataan maupun priLaku ada yang kurang berkenan di hati, mohon maaf Lahir dan batin. begitupun sebaLiknya. trims.

    ReplyDelete
  27. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H, mohon maaf lahir batin. Taqobalallaahu minna wa minkum minal 'aidin wal faidzin...

    ReplyDelete
  28. Selamat Idul Fitri

    Mohon maaf lahir dan batin

    ReplyDelete
  29. Tante Nonik, ini Ecca sudah menemukan Pelangi Anak. Ternyata memang butuh waktu untuk belajar ngeblog yah....

    ReplyDelete
  30. Selamat hari raya idul fitri 1431 H ya mbak...

    Mbak itu kuliah di UNY jg yakk?
    sama dong
    hehe

    ReplyDelete
  31. saya bukan guru yang berhadapan dengan anak-anak, tapi karena saya sendiri punya anak, kayaknya harus hati-hati banget dalam mendidik anak :)


    Shin Nippon Trial Frame TF-3 Universal Trial Frame, Adjustable, Japan

    ReplyDelete
  32. "SELAMAT IDUL FITRI 1431 H"..,,
    "Mohon Maaf Lahir dan Batin"..,,
    Untuk teman-teman semuanya. Terimakasih atas kunjungan dan komentarnya di blog yang sederhana ini.

    ReplyDelete
  33. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  34. cerita tentang kepolosan seorang anak kecil yang penuh makana
    Mohon Maaf Lahir dan Batin sobat

    ReplyDelete
  35. assalamualaikum..
    senang sekali bisa bersilaturhami kesini.
    menghormati yang lebih muda adalah sikap yang bijaksana, apalagi sebagai guru sudah sepatututnya memberi contoh yang baik. Saya melihat ini sebuah pembelajaran yang tidak langsung bagi anak didik kita.
    maju terus pendidikan indonesia.
    salam

    ReplyDelete
  36. terkadang memang susah menahan emosi, tapi kita sebagai orang dewasa juga harus belajar minta maaf seperti halnya kita mengajarkan pada junior minta maaf pada kita..

    Seandainya "orang-orang dewasa" dalam hidup saya membaca tulisan ini..

    ReplyDelete
  37. pasti banyak pelajaran yang didapat ketika berhadapan dengan kepolosan anak-anak...

    ReplyDelete
  38. nice blog..
    konten yg yang penuh makna..
    cuma sayang memanjang kebawah..
    dikasi readmore--> mbak biar tambah indah ngeliatnya..
    visit me..

    ReplyDelete
  39. @ Muhammad A Vip: Kegiatan yang di kamar mandi itu merenungi perbuatan dan menenangkan diri, he..he..hehe,,,,
    @ Renaldy: Saya sendiri tersentuh dengan sikap Arfa.
    @ CORETAN HIDUPKU: Memang butuh kesabaran ekstra dalam menghadapi anak-anak...
    @ TRIMATRA: Bener banget, mempraktekkan teori tidak semudah mebalikkan telapak tangan,,,
    @ orcalion: Berinteraksi dengan anak bagi saya pribadi menjadi tantangan tersendiri untuk lebih bisa mengendalikan diri.
    @ Ecca: tetep semangat ngeblog ya...ditunggu komentar berikutnya lho..,,
    @ Sebuah Blog Sebuah Cerita: Kalau mbak kuliah di fakultas dan prodi apa?
    @ Tentang alat kesehatan: Mendidik murid yang saya lakukan saat ini juga sebagai bekal mendidik anak saya kelak.
    @ neng rara: Saya belajar banyak hal dari anak didik saya.
    @ Gek: Teladan memang memainkan peran dalam pendidikan anak usia dini.
    @ Berry Devanda: Secara tidak langsung saya banyak menemukan sesuatu yang unik dan berharga dari anak didik saya dengan kepolosannya.
    @ rasqzone: Trims atas kunjungan dan komentarnya. Insyaallah akan saya coba saran darimu, hanya saja belum tahu caranya, he,,he,,hehe....

    ReplyDelete
  40. Nice Article, inspiring. Aku juga suka nulis artikel bidang bisnis di blogku : http://www.TahitianNoniAsia.net, silahkan kunjungi, mudah-mudahan bermanfaat. thx

    ReplyDelete
  41. sungguh guru TK yang baik.. duh pengen deh punya istri seorang guru,, atau polwan juga boleh... heheh

    ReplyDelete
  42. sangat menakjubkan sekali gan isi artikel blog ini. aku suka karya karya agan. semoga blogger lainnya juga dapat mencurahkan isi hatinya pada blog mereka.

    ReplyDelete
  43. luar biasa sekali postingan demi postingan di blog ini, ane yakin blog ini dapat menjadi inspirasi bagi para blogger lainnya. Thank for all, nicepost..

    ReplyDelete
  44. makasih atas infonya sangat meanrik dan artikelnya keren banget
    obat lemah syahwat
    obat asam urat

    ReplyDelete
  45. Salam kenal sukses selalu, di tunggu update yang terbarunya, jangan lupa kunjungi balik ya :D

    ReplyDelete