Sunday, 25 July 2010

PERCAKAPAN DI BUS

HANDPHONE saya berkedip-kedip sambil bernyanyi, tanda ada sebuah panggilan baru saja terdaftar masuk. Sejumlah nomor tertera di layar monitor. Setelah berhalo ria, ternyata suara diseberang adalah suara kakak, yang mengumumkan bahwa pada tanggal 16 Juli, saya akan resmi mempunyai kakak ipar, he…

Singkat cerita sehari sebelum hari H, tanggal 15 Juli saya dan suami berangkat dengan bus antar kota. Kami sengaja memilih bus ber-AC dengan alasan kenyamanan. Perjalanan dari rumah ke terminal kami tempuh dengan mengendarai sepeda motor. Bus Patas yang melaju dengan jurusan Yogya-Solo-Madiun-Surabaya ini, tidak bebeda jauh dengan bus-bus pada umumnya. Yakni kerap disambangi para pedagang asongan, setiap bus singgah di terminal pada tiap kota. Ya, maklumlah, namanya juga orang cari rejeki. Bukankah jaman sekarang rejeki itu susah dicari…?

Yang menarik perhatian saya dari perjalanan mudik kali ini, adalah dapat mendengar langsung suara hati orang-orang yang berjualan alias grup pedagang asongan di dalam bus yang kami tumpangi, halah….

Pra percakapan diwarnai dengan kegiatan mereka yang beramai-ramai menyerbu bus dan menawarkan dagangan pada para penumpang. Suara-suara mereka berdengung seperti lebah. “Mase, mbak’e, bapak, ibu, sprite, fanta, lontong. Kacang, mete, tahu goreng, aqua, bakpau-bakpau,” begitulah suara mereka. Sebagian besar dari mereka berusia ibu-ibu paruh baya dan bapak-bapak berumur sekitar 45-55 tahunan. Menatap mereka, dalam hati terbersit juga perasaan iba. Karena hanya beberapa penumpang saja dalam bis itu yang berhasrat untuk membeli dagangan mereka. Di jaman yang serba susah seperti ini, mereka tetap giat mencari uang. Berlomba dengan usia yang hampir melewati setengah abad.

“Enting-enting mbak, buat oleh-oleh, ayolah,” bujuk seorang dari mereka. Setelah selesai menawarkan mereka duduk-duduk di kursi bagian belakang. Mulailah terdengar percakapan mereka. “Walah, sirahku mumet, dek mau tak templek’i koyok. Ket mau durung enek sing payu,” ucap seorang ibu paruh baya. “Mengko nek aku muleh, mak’e lak ngomel terus, tambah cekot-cekot sirahku,” lanjutnya. Dari kata-kata si ibu saya menangkap, mungkin dia akan dimarahi ibunya yang disebut “mak’e” tadi, apabila tidak mendapat hasil penjualan karena tak laku. “Lha iki lho thekku yo sek akeh,” timpal seorang ibu pedagang asongan yang lain. Lalu tawa keduanya terbahak bersamaan. Mereka mengungkapkan dialog-dialog dalam bahasa mereka yang membuat mereka tertawa terpingkal-pingkal, yang kami tak tahu artinya. Kemudian pembicaraan mereka beralih kepada hal lain. Kali ini seorang bapak-bapak terlibat serius dalam pembicaraan tersebut. “Jarene sekolah gratis, tapi sek kon mbayar seragam,” keluh si bapak dengan jengkel. “Lha iki dagangan urung payu, anakku wes njaluk duwit,” lanjutnya. “Mosok toh?” tanya seorang ibu. “Rasah tuku seragam,” sergah yang lain. “Lha nek ra tuku seragam anakku arep sekolah nggae opo? Budal sekolah ra sragaman, arep udo?” si bapak kembali bertanya dengan nada agak tinggi. Sedangkan yang lain hanya menyimak, sambil sesekali tertawa terkekeh. “Saiki ora enek sekolah gratis,” lanjut si bapak dengan berteriak marah. Tapi anehnya yang lain tetap menanggapinya dengan enteng, seakan biasa saja, seperti tidak terjadi apa-apa. “Wes…wes urip digae santai wae,” timpal yang lain. Kemudian mereka tertawa terkikik sambil turun dari bis.

Tidak hanya itu, pemandangan di bus juga dihiasi kehadiran para pengamen dengan gaya yang bervariasi. Sebagian besar didominasi oleh anak-anak usia sekolah, baik laki-laki maupun perempuan. Tubuh mereka hitam, dekil, kurus dan tidak terurus, belum lagi baju mereka yang kelihatan kumal. Yang laki-laki tampil dengan anting yang hanya sebelah, kaus oblong, rambut bercat pirang dan berjambul mirip artis. Lengan dan lehernya penuh dengan tato. Kadang-kadang gaya bicaranya juga disertai dengan umpatan dan kalimat-kalimat kotor. Seusai mengamen mereka akan menyodorkan kantung kemasan permen kepada para penumpang, berharap untuk diisi dengan uang receh. Mereka akan bilang terimakasih, ketika diberi, dan akan mengeluh ketika tidak diberi. ”Ya Alloooh,” keluh seorang anak perempuan ketika mendapat isyarat tangan menolak dari seorang penumpang.

Dari sekelumit cerita tersebut kita bisa melihat betapa susahnya mereka, orang-orang kecil, bergulat dengan ketidak pastian, himpitan kemiskinan, ditengah semakin melonjaknya harga-harga kebutuhan pokok. Hal tersebut mewakili banyak bukti tentang kegagalan negara dalam memenuhi dan menjamin hak-hak dasar warganya, hak akan pendidikan, kesejahteraan, kesehatan, dan seterusnya. Melihat itu semua hati ini terasa teriris. Rasa prihatin, kasihan, tidak tega, dan lainnya, berbaur jadi satu dan menimbulkan rasa haru di ulu hati. Itulah potret kehidupan orang-orang yang serba kekurangan. Saya hanya mampu tertegun ketika mendengar percakapan mereka. Hati ini kemudian berdoa, semoga masih ada kebahagian yang bisa mereka nikmati manakala mereka bercengkrama kembali dengan keluarga dan sanak saudaranya yang sedang menunggu di rumah...

39 comments:

  1. Menyentuh sekali tulisannya...!!!
    Memang fenomena seperti itu kerap terjadi di sekitar kita....!!! Bukti dari kegagalan pemerintah untuk mensejahterakan dan memberikan hak yang pantas di dapatkan untuk warganya...

    Goo blog and good post.

    ReplyDelete
  2. andai orang2 diatas tahu apa yang terjadi dibawah seperti ini, tentu mereka akan mendapatkan sesuatu yang layak bagi mereka.
    Inilah negeri yang hanya sebuah negri-negri, Indonesia memang kaya raya akan penghasilan alam tapi miskin akan SDM, ada yang pinter dikit buat cari sampingan (KKN), kita hanya mampu berharap semoga orang2 diatas lebih mengerti keadaan orang2 bawah, mereka bukan siapa2 tanpa kita, dan kita akan bertindak semaunya tanpa susunan mereka, good post mbak

    ReplyDelete
  3. harusnya para pejabat pemerintah itu naik bus ya, biar tau apa yg diomongin oleh masyarakat kebanyakan

    ReplyDelete
  4. hhmm....hal speerti itulah yang aku sukai jika aku melakukan sebuah perjalanan. Sebuah dunia yang terkadang tak pernah kita sadari. Sebuah dunia nyata tapi yang terlupakan......Semoga! mereka bahaga

    ReplyDelete
  5. memang kita bisa belajar banyak ketika numpang kendaraan rakyat yang ga nyaman...

    ReplyDelete
  6. Mbak, pasang "Javanese gugle translation" donk.. biar apik mbacane.. aku bingung maneh. :)

    ReplyDelete
  7. bersyukur kita dianugerahi mata dan hati..

    melihat ke bawah, supaya mensyukuri nikmat.
    melihat ke atas, supaya termotivasi.

    dan melihat ke kiri dan kanan.....kalau mau nyeberang. :)

    ReplyDelete
  8. HA HA HA TERIMAKASIH BUAT SEMUANNYA YANG TELAH MENINGGALKAN JEJAK KUNJUNGAN YANG MENGESANKAN. SEMOGA KITA SEMAKIN RAJIN SALING BERKUNJUNG DAN SALING MEMBERI PENCERAHAN...

    ReplyDelete
  9. tapi mbak, terkadang rasa iba itu hilang sekejap pas dapetin pengemis ato pengamen yg kasar, ga tau sopan santun, maen paksa aja :(

    ReplyDelete
  10. assalamualaikum..
    sy sering naik bis, dan sering juga ketemu pengamen seperti yang dideskripsikan diatas. Ya, cukup mengganggu juga, apalagi jika kita lagi ngantuk.
    mestinya bis yang ber AC ga di amsukin para pengamen ya?
    salam

    ReplyDelete
  11. mreka mberi kt mnfaat hikmah jk mlihat dr sudut pndang yg bnar :)

    bajuqueen.blogspot.com

    bkunjung ksini y :)

    mksih

    ReplyDelete
  12. sejauh ini orang kecil kemampuannya baru mengeluh dan mengeluh, dan pemerintah sepertinya tidak peduli dengan kepahitan mereka,...tapi nanti kalau mereka sudah tak mampu lagi menahan siksaan tersebut, akan menghasilkan kekuatan dasyat yang bisa menjungkirbalikkan kekuasaan yang membuatnya menderita...seperti yang sering terjadi di masa lalu, juga di negara lain...

    ReplyDelete
  13. kehidupan negeri ini butuh suntiken reformasi kembali mbak, makanya don't miss it posting kolaborasi tgl 1 agustus nanti. keep spirit with in...

    ReplyDelete
  14. sejujurnya saya lebih suka ngasih apa2 ke mereka2 ini mbak ketimbang pengemis.. apalagi pengemis yang langganan selalu ada di daerah kos saya... dan selalu dengan nada maksa 'mbak nyuwun mbak.." udah agak tua sih... tapi kalo setiap hari sementara ngga ada cacat rasanya ngga rela gitu bersedekah soalnya ngga tau larinya kemana

    ReplyDelete
  15. oya salam hangat dari FOUR DREAMS sob :)
    aku akhirnya login dan blogwalking juga nih, setelah kemarin menghilang :)

    ReplyDelete
  16. naik bis yang AC aja mbak :) kalo enggak busway, enggak ada pengamen pasti :)

    ReplyDelete
  17. Bekunjung kembali Mba..sambil baca baca artikel menarik lainnya di blog ini...!! Trimakasih selamat braktivitas.

    ReplyDelete
  18. TERIMAKASIH BUAT KAWAN-KAWAN SEMUA YANG TELAH BERKUNJUNG DAN MENINGGALKAN JEJAK INDAH UNTUK POSTINGAN KALI INI.

    SELAMAT MENIKMATI AKHIR PEKAN YANG 'DASYAT'...

    ReplyDelete
  19. itulah kehidupan..orang berjuang utk cari nafkah

    ReplyDelete
  20. saya juga senang menikmati nuansa bis kota yang kadang mengesalkan, tetapi memberikan banyak pelajaran...

    Salam kenal mba...

    Indira Danti

    bersyukurdanbersabar.blogspot.com

    ReplyDelete
  21. neng bagus banget artikelnya menarik banget..

    ReplyDelete
  22. makasih atas artikel yang kerennya yah

    ReplyDelete
  23. luar biasa sekali non... hebat banget tulisannya.. sungguh luar biasa

    ReplyDelete
  24. terimakasih atas postingannya ane baca ampe tamat tuh... seru banget motivasi nya tinggi

    ReplyDelete
  25. terimakasih atas info yang luar biasa nya gan, bermanfaat bagi ane

    ReplyDelete
  26. wihh,,mantap amat ni artikelnya,,?makasi yah.

    ReplyDelete
  27. makasih yah atas artikelnya yang bermanfaat ini semoga aja artikel ini juga menjadi insiprasi dari para blogger lainnya. makasih skali lagi... salam blogger

    ReplyDelete
  28. perjalanan yang sangat menarik sekali ba..

    ReplyDelete
  29. suxa kasihan klo ngelihat pengamen :)

    ReplyDelete
  30. makasih atas infonya sangat meanrik dan artikelnya keren banget
    obat lemah syahwat
    obat asam urat

    ReplyDelete