Thursday, 1 July 2010

ORANGTUA VERSUS BADAI INFORMASI

Kon ojok kenthu ndik pos lho yo, timbangane tak bedhil”. “Ampun Boss... ampun Boss”... “Ampun ampun maaatamu!” umpat Sandy pada si Keceng yang ketahuan main esek-esek di Pos Jaga setempat. Itulah sepenggal acting menggemaskan yang ditampilkan seorang anak di bawah umur, dimana dia berperan ganda baik sebagai si Boss dan si Keceng.

Kita tentu masih ingat dengan berita dan video yang sempat beredar di internet beberapa waktu yang lalu. Kita tidak akan mengira kalau kata-kata kasar itu meluncur dari mulut seorang balita berusia 4 tahun, yang tinggal di sebuah kota di Jawa Timur. Bahkan si anak ini mampu memperagakan adegan seks dan hafal nama beberapa tempat pelacuran setempat. Tidak hanya itu. Dia juga bisa memberikan penilaian terhadap 'kelas' dari pelacuran tersebut. Lebih jauh lagi, si anak juga telah fasih mengucapkan sejumlah kata-kata kotor, dan umpatan-umpatan khas Jawa Timur. Lihat saja bagaimana si anak tersebut mampu bertingkah dan berkata-kata layaknya orang dewasa, seperti caranya memegang, menghisap dan menghembuskan rokok. Konyolnya, adegan si anak dianggap sebagai hiburan oleh orang dewasa.
***
Seorang teman pernah bercerita kepada saya mengenai tetangganya, berikut petikan kisahnya:

Rudi adalah seorang bocah yang baru saja berusia 4 tahun dan duduk di bangku TK. Dia tinggal bersama ayah dan ibunya. Ibunya yang bekerja sebagai karyawan di sebuah pusat perbelanjaan, sering meninggalkan Rudi bersama ayahnya, karena jam kerjanya berlangsung dari pagi hingga sore hari. Kebetulan sang ayah juga tak bekerja, sehingga praktis ibunyalah yang akhirnya menjadi tulang punggung keluarga. Kehidupan Rudi sehari-harinya berlangsung biasa saja. Dia termasuk anak yang lucu dan periang.

Setiap pagi, sambil berangkat ke tempat kerja, ibunya mengantar Rudi ke sekolah. Siangnya giliran sang ayah yang menjemput. Setelah pulang dari sekolah, kegiatan Rudi biasanya bermain di rumah, kadang juga bermain bersama dengan tetangganya. Sebagian besar waktunya dihabiskan bersama ayah daripada ibunya.

Sampai pada suatu hari, si anak tersebut memergoki sang ayah yang sedang menonton film biru alias film porno. Melihat ayahnya yang keasyikan menonton, membuat Rudi menjadi penasaran dan ikut menyaksikan adegan dalam film itu. Sang ayah tak tahu kalau kegiatan tersebut dapat berpengaruh buruk terhadap Rudi. Yang dia tahu adalah yang penting si kecil diam, menurut, dan tidak rewel. Kegiatan tersebut berlangsung hampir beberapa minggu.

Tidak seperti biasanya, sepulang sekolah Rudi menangis, merengek kepada sang ayah. Ternyata permintaan anak tidak bisa dibilang sepele. Tanpa disangka si anak minta diputarkan film biru yang biasa dia tonton bersama si ayah. Kontan saja hal ini mengundang keterkejutan ayahnya. Hasil akhirnya sungguh mencengangkan. Apabila dalam satu hari saja si Rudi tidak menonton film tersebut, dia akan menangis dan merengek-rengek. Sungguh kasihan sekali. Entah apa yang dirasakan Rudi dengan melihat film porno tersebut.
***
Cerita lain yang menghebohkan, saya dapat ketika saya di SMA. Begini kisahnya:

Saat jam istirahat berlangsung sejumlah teman saya perempuan dan laki-laki tampak bergerombol di salah satu tempat duduk barisan depan di ruang kelas. Beberapa dari mereka tampak meringsek maju. “Eh aku mau lihat, eh aku minta gambarnya dikirim ke hpku”, kata salah seorang dari mereka. Seusainya mereka menonton video tersebut seorang teman perempuan saya mengaku, bahwa dia menjadi terobsesi dan ingin sekali mencobanya. Ternyata yang ingin dia coba praktekkan adalah, adegan hubungan seksual yang baru saja dia lihat beramai-ramai.
***
Dari cuplikan kisah nyata yang ada di atas tadi, meskipun belum tentu mewakili keseluruhan situasi yang sesungguhnya, kita jadi lebih tahu seperti apa perkembangan moral generasi kita.

Moral sendiri tidak hanya mengacu pada hal yang berhubungan dengan pornografi saja, akan tetapi juga mencakup tentang etika, etiket dan budaya. Etika adalah pemikiran kritis terhadap ajaran-ajaran moral. Etiket adalah sopan santun. Budaya bisa diartikan sebagai kebiasaan hidup.

Tayangan pornografi, menyebabkan remaja terdorong untuk mencoba karena ingin tahu rasanya, sedangkan anak-anak akan berkesplorasi karena rasa ingin tahunya yang begitu besar.

Lantas, siapa yang bertanggung jawab terhadap pembentukan moral mereka dan usaha apa yang perlu dilakukan? Disini jelas sekali bahwa teknologi dan lingkungan keluarga sangat besar pengaruhnya. Teknologi tidak dapat dilawan, dicegah, dan ditolak. Karena, dia juga anak kandung peradaban, yang juga bermanfaat. Dalam hal ini orangtua perlu membekali anak dengan menanamkan pendidikan moral dan seks sejak dini kepada anak. Pendidikan moral dapat diberikan melalui dongeng dan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari. Melalui proses pembiasaan untuk bersikap dan bertindak sesuai dengan norma dan budaya. Orang-tua dan mereka yang lebih dewasa harus menjadi teladan yang baik bagi anak. Karena moral merupakan pedoman untuk mengikat perilaku manusia agar tetap berada dalam koridor norma susila dan kesantunan yang disepakati.

Sedangkan untuk pendidikan seks, dapat diberikan sesuai dengan usia dan tingkat pemahaman anak. Untuk anak usia dini misalnya, pendidikan seks dapat dilakukan dengan memperkenalkan ciri-ciri fisik antara laki-laki dan perempuan. Mengenalkan toilet training, seperti buang air pada tempatnya dan cara membersihkan alat vital sendiri, agar tidak sembarang orang membersihkannya. Untuk anak remaja pendidikan seks yang dapat diberikan adalah tentang kesehatan organ reproduksi. Tak ada salahnya disertai dengan dampak yang dapat ditimbulkan apabila melakukan pelanggaran terhadap kaidah norma, misalnya, berpacaran tidak sehat, dan melakukan hubungan intim pranikah. Lalu bagaimana menurut pendapat teman-teman?

Note: Cerita ini dalam rangka partisipasi untuk meramaikan kolaborasi postingan tentang "Moralitas dan Budaya", yang dipelopori oleh blog "TRIMATRA"

50 comments:

  1. dunia yang semakin tua dan rosak kerana dirosakkan oleh tangan-tangan manusia

    daripada manusia yang rosak inilah membenih perlakuan yang semakin buruk sehingga anak-anak turut menjadi mangsa

    ReplyDelete
  2. wew..
    koreksi buat orang tua n guru..
    jangan sampe kalah sama media...

    ReplyDelete
  3. untuk anak setingkat SD mendidik dengan cara berdongeng paling bagus hasilnya. Tapi yang terpenting bentuk karakter anak sejak usia dini dengan segala cara, solnya klo dah gede/dewasa susahnya minta ampun,

    terima kasih partisipasinya,langsung di masukkan list kontributor ;)

    ReplyDelete
  4. memang susah ya jadi orang tua, bebannya berat banget

    ReplyDelete
  5. Membaca kisah anak di alinea2 awal, semakin yakin kiamat sudah dekat. Kebobrokan moral yg dilakukan anak seusianya yg seharusnya msh polos malah dianggap hal lucu. Innalillah...

    ReplyDelete
  6. apalagi yang bisa kita lakukan kecuali membekali anak dengan pengetahuan agama sejak dini karena untuk terus mengawasi anak juga adalah hal yang mustahil

    ReplyDelete
  7. Ya anak memang harus dibekali dengan pewarnaan sikap dan ahlak yang cukup dari orang tua. Juga harus didampingi. Selamat pagi mbak.

    ReplyDelete
  8. zaman sekarang dimana teknologi semakin maju..mendidik anak memang harus sangat hati-2...

    ReplyDelete
  9. ya.. orang tua dan guru juga beperan dalam hal ini,., ^^

    ReplyDelete
  10. Waduh2......orang tuanya pada kemana toh??? makin ra beres ae iki.....

    ReplyDelete
  11. Wah,kisah ini,anak merokok,baru beberapa hari saya lihat di CNN sist.Sungguh tega orangtuanya ya?Sama aja membunuh anak secara pelan2.Astagfirllah...

    ReplyDelete
  12. speechless.. sy bner2 shock ketika pertama kali tau ttg crita2 diatas. sgt miris sekali. perlahan2 kehancuran generus mulai terlihat

    ReplyDelete
  13. Untuk memperbaikinya, mari kita awali dengan mengadakan gerakan bersama untuk berbenah diri sendiri dan keluarga kita serta lingkungan! Semoga Allah memberi kemudahan langkah kita membentuk lingkungan yang berbudaya timur dan agamis! Amin!

    ReplyDelete
  14. halo...maaf baru mampir. akku baru pulang kemarin

    ReplyDelete
  15. sebuah ironi kehidupan dengan Latar beLakang menurunnya pencitraan diri sosiaL seseorang sehingga akhirnya menuLar kepada generasi seLanjutnya.

    saLam kenaL mbak, sekaLigus ijin untuk menjadi foLLower di bLog yang keren ini.

    ReplyDelete
  16. saat hal yang pantas dilakukan orang dewasa dilakukan oleh anak kecil, sialnya justri sikap anak kecil tersebut menjadi hiburan, ini dengan tidak langsung sama saja menghancurkan masa depan anak tersebut....

    ReplyDelete
  17. filter.. filter.. orang tua adalah filter terbaik

    ReplyDelete
  18. Hari ini sudah 3 artikel tentang moral saya baca. Semoga ini berkesinambungan ya..

    ReplyDelete
  19. dunia semakin mudah untuk mengakses apa saja baik atau jelek,
    benteng utama adalah pembelajaran moral kayak artikel ini, juga tentang iman dan taqwa.

    ReplyDelete
  20. saya terkadang sempat berpikir bahwa memang sudah hukum alamnya bahwa moral penghuni bumi ini makin lama makin buruk. sehingga kekuatan apapun yang membendungnya hukum alam tersebut tidak akan sanggup.
    tapi saya yakin, bahwa persoalan moral ini adalah tanggung jawab manusia itu secara bersama.

    ReplyDelete
  21. memperihatinkan banget emang mbak :(

    ReplyDelete
  22. apa yang disuguhkasn lingkungan pada seorang anak,maka itulah makanan kegemaran anak dikedepannya....peringatan bagi para orang tua untuk lebih berhati-hati dalam mengawasi pergaulan sang anak, imunitas anak sangat tergantung pada usia dan tingkat kedewasaannya....
    ps: artikel yg siip.....

    ReplyDelete
  23. tapi banyak juga anak yang jadi korban kekerasan

    ReplyDelete
  24. gua setuju. kids are fast learners

    ReplyDelete
  25. Sempat kaget membaca kata2 pertama, ^^,

    ReplyDelete
  26. tak sanggup kubayangkan kemana arah perkembangan budaya kita nantinya..

    ReplyDelete
  27. Moga aja moral anak bangsa gak makin bobrok aja.
    Tragis memang, banyak anak kecil yang udah salah jalan seperti itu.

    ReplyDelete
  28. jangan bugil depan kamera
    jangan bugil depan umum

    ReplyDelete
  29. biasanya anak ngikutin apa yang ia lihat,,,

    ReplyDelete
  30. sebagai orang tua kita haruslah benar2 bisa mendidik dan berbuat yang baik2, apalagi kalo di depan anak2 jangan sampai yang negative yang sering kita kerjakan di ikutin sama anak2 dan satu lagi yang palin penting dan terpenting kepada anak2 kita didiklah ilmu agama dan tanamkan rasa cintanya pada Allah SWT & Rasulnya.
    trims atas infonya, sukses selalu n tetap semangat

    ReplyDelete
  31. terkadang beberapa tayangan di media hanya sekedar memperhatikan unsur komersiLnya saja tanpa memperhatikan unsur pendidikannya.

    seLamat berakhir pekan aja mbak, saLam hangat untuk keLuarga di rumah.

    ReplyDelete
  32. saya udah liat linknya di TRIMANTRA dan mengunjungi tiap blognya sampai saya disini. Nice post. moga moral negeri ini gag kian bobrok

    ReplyDelete
  33. semoga antara munculnya kebiasaan yg mengarah ke hal buruk ada hukum alamnya tersendiri munculnya hal kebiasaan yg baik.agar keseimbangan tetap terjaga.

    ReplyDelete
  34. ditunggu update-an terbarunya,,,,, ^^

    ReplyDelete
  35. - menanamkan pendidikan moral dan seks sejak dini kepada anak
    - Orang-tua dan mereka yang lebih dewasa harus menjadi teladan yang baik bagi anak.

    Pencerahannya luar biasa Mbak. Thanks, aq banyak belajar dari blog ini. Izin follow blonya ya :)

    Dzadjakillah khairan katsira :)

    ReplyDelete
  36. keluarga adalah pembentuk budaya terdekat bagi anak, sip dah :)


    salam :)

    ReplyDelete
  37. wah... prihatin sekali mbak melihat kenyataan tersebut... maaf baru berkunjung lagi...

    ReplyDelete
  38. Susah emang kalo harus memerangi kerasnya badai informasi

    ReplyDelete
  39. aku tunggu follow baliknya yaaa :)

    ReplyDelete
  40. zaman sekarang orang tua harusnya lebih protect lagi sama anak2nya...

    ReplyDelete
  41. Artikel yang amat menarik. Sebuah gambaran nyata kehidupan dengan problematikanya pada saat ini. Orang tua utamanya yang mempunyai anak menginjak remaja tentunya was-was dengan pola kehidupan remaja masa kini. Artikel ini memberikan suatu solusi yang menarik untuk kita simak bersama. Trims sharingnya sobat. Salam sukses.

    ReplyDelete
  42. aneh udah nonton video rekaman anak itu ... miris rasanya punya anak kayak gtu ... apa orang tuanya ga mikir yah ... atau gimana lagi ... ukh bingung ungkapin rasa kekecewaan
    masa anak kecil udah diajari mengumpat dan berlagak seperti halnya preman yang ada di pinggiran jalan :(

    ReplyDelete
  43. Terimakasih buat kawan bloggers yang telah meluangkan waktu mampir dan meninggalkan jejak impresive untuk blog sederhana ini, semoga pertautan kita lewat dunia maya ini akan terus terjalin dan semakin memberikan manfaat untuk kita semua, amin!

    ReplyDelete
  44. wah luar biasa banget yah pendidikan tentang sex untuk anak2

    ReplyDelete
  45. saya sangat tertarik sekali dan memberi perhatian penuh pada artikel yang anda buat ini. Saya sungguh sangat beruntung dapat mengunjungi blog anda ini. nice post...

    ReplyDelete
  46. wah kapan atuh bangsa ini akan maju kalau anak2 nya kaya gitu

    ReplyDelete
  47. waduh anak kecil udah bandel ya.. teke gera :D

    ReplyDelete
  48. Setuju banget orang-tua dan mereka yang lebih dewasa harus menjadi teladan yang baik bagi anak.

    ReplyDelete