Tuesday, 9 February 2010

ADA APA DENGAN KUPU-KUPU SURGA?

ANAK-anak dijuluki dengan sebutan kupu-kupu surga karena kelucuan dan kepolosan mereka. Suatu hari di dalam kelas, saat pembelajaran berlangsung, salah seorang murid bernama Arif sedang berbagi cerita dengan teman sekelasnya dan bu guru. Setelah berdiri, memberi salam dan dipersilahkan, si anak mulai bercerita. Berikut cuplikannya.

Bu guru : “Arif mau bercerita apa?”

Arif : “Mau cerita kereta”.

Bu guru : “Ada apa dengan kereta?”

Arif : “Kemarin aku naik kereta api”.

Bu guru : “Ooo…naik kereta api. Memangnya pergi kemana kok naik kereta api?”

Arif : “Ke stasiun”.

Serentak kami bertiga langsung tertawa. Padahal maksud pertanyaan Bu guru adalah kota tempat tujuan. Tapi jawaban si anak memang tidak bisa disalahkan 100%. Karena ada benarnya juga kalau naik kereta api ya pergi ke stasiun, hehe….

Masih tentang Arif dan juga ceritanya. Berikut petikan kisahnya.
Arif : “Mau cerita Thomas”. (tokoh kartun yang diperankan oleh sebuah kereta bernama Thomas)

Bu Guru : “Thomasnya lagi ngapain?”

Arif : “Thomasnya lagi jalan”.

Bu Guru : “Lihat Kereta Thomas dimana?”

Arif : “Di TV”.

Bu Guru : “Di TV pas jalan Thomasnya lihat apa saja?”

Arif : “Di TV”.

Bu Guru : “Iya Thomasnya lihat apa saja pas jalan?”

Beberapa kali teman saya menanyakan apa saja yang dilihat Thomas selama perjalanannya, tetapi Arif tetap menjawab di TV. Sampai akhirnya dia berkata begini.

Arif : “Wong aku lihat Thomasnya di TV kok…”

Disini tampak telah terjadi miss komunikasi antara Guru dengan anak. Mungkin saja Arif juga merasa jengkel, kenapa bu Guru tak juga mengerti isi ceritanya. Padahal dia yang belum paham pertanyaan yang diberikan oleh guru. Kejadian itu selalu menyisakan senyum.

Kali ini ketika berdoa. Saat sedang berdoa bersama sambil mengangkat kedua tangan, Arif menatap tangan saya tepatnya kuku saya yang memang berwarna merah, karena saya beri daun pacar sebagai pemerah kuku alami. Karena melihat kuku saya, konsentrasi berdoanya pun buyar. Buru-buru dengan gerakan sigap saya melipat atau menekuk jari sehingga kuku saya tak terlihat. Tapi tanpa diduga dengan gerakan sigap pula dia ikut-ikutan melakukan hal serupa. Saya hanya bisa menahan tawa. Dia pikir gerakan saya adalah contoh yang harus diikuti.

Maka, tak heran bila mereka dijuluki kupu-kupu surga, karena segala yang ada pada mereka dan semua yang mereka lakukan tetap terlihat lucu dan menggelikan. Baik ketika mereka tertawa, maupun saat menangis. Baik ketika mereka ramah maupun saat marah. Baik ketika mereka terjaga, maupun saat tertidur lelap. Baik ketika mereka sedih, maupun saat senang atau gembira. Dan masih banyak lagi. Sebagian besar tak ada yang menjengkelkan. Karena itulah kehadiran mereka sangat dinanti orangtua. Tanpa adanya anak-anak, maka kehidupan ini akan terasa hambar. Dan anak tidak hanya membawa keriangan yang penuh warna, tapi juga membawa berkah sejak dia dilahirkan ke dunia. Dunia anak, dunia yang kaya akan warna ceria, dimana orang akan selalu merasa bersukaria. Bisa dikatakan anak adalah pelipur lara bagi rasa duka.

Ilustrasi: DevianArt.

50 comments:

  1. assalamualaikum..
    halo mbak, sehat.gmana studinya? di Jawa Barat, anak kecil di peribahasakan "kembang buruan" (bunga halaman) saking lucu dan uniknya.
    btw jika ada waktu dan tidak keberatan minta input ttg perkembangan anak mbak dan filosofi PAUD.trims
    salam

    ReplyDelete
  2. Kok jadi ingin punya anak.. :)
    Hayo Mbak, ingat potong kuku ya...
    Very inspiring...

    ReplyDelete
  3. begitulah anak-anak :)
    apa pun yang mereka lakukan itu lucu dan bikin orang ketawa..

    ohya, saya pernah bilang nggak ya kalo kakak perempuan dan ibu saya juga guru TK?

    ReplyDelete
  4. anak2 memang lucu, sedang bertengkarpun mereka juga juga lucu. Karena mereka kalau bertengkar gak pernah lama dan tak sampai dendam

    ReplyDelete
  5. analogi anak dan kupu2nya tepat ya mbak :D

    ReplyDelete
  6. Pasti hati senang terus ya sis,tinggal bersama anak-anak.duh,hati ini terasa pilu tanpa seorang anak.

    ReplyDelete
  7. Berdoa sambil ikut menekuk kuku kedalam hehehe seperti empunya blog :p

    ReplyDelete
  8. Selalu ada cerita menarik yang akan disampaikan oleh mereka yang mencintai pekerjaannya, termasuk cerita ini tentunya

    ReplyDelete
  9. anak-anak...membuat kita terjaga sebagai manusia yang manusiawi...

    ReplyDelete
  10. heheehehehe...memang harus lebih sabar dalam memahami dunia anak...hehehe

    ReplyDelete
  11. saya teringat perkataan seorang ulama yang mengatakan bahwa ia mengetahui kondisi keimanan dirinya dengan bercermin pada tingkah anak2nya

    ReplyDelete
  12. makasih banget mbak masukannya....

    iya saya juga dah bersikap no comment (*mirip artis aja pake no comment)...hehehe...

    ReplyDelete
  13. assalamualaikum...
    salam kenal dulu ajah saya...
    hihi...

    ReplyDelete
  14. murid: bugru aku pengan dibuatin kupu kupu... kalo buguru gak mau buatin tak cium lho hehehehe

    ReplyDelete
  15. Kejenakanan anak membuat kita selalu merindukannya!

    ReplyDelete
  16. salam hangat bu...
    wah sama2 dari jogja nih..:)

    ReplyDelete
  17. pesan pak hamka, anak cerminan bangsa pada masa depan, didiklah anak untuk menghadapi zamannya bukan zaman yang sedang kita lalui kini

    ReplyDelete
  18. Hai,

    datang mau ngucapin

    happy lunar
    happy valentine's day
    happy ash wednesday

    buat yang merayakan, yang nggak merayakan semoga bulan penuh cinta ini selalu membawa kebahagiaan dan kedamaian...

    Ninneta

    ReplyDelete
  19. aiiihhh senangnya...dari dulu aku bermimpi buat jadi guru TK atau SD kelas 1-2 :)

    ReplyDelete
  20. neng sorga enek kupu barang to?akau kok gak ngeri yo?

    ReplyDelete
  21. aku juga suka anak - anak, tapi bandelnya itu lho, minta ampun! he he he!

    ReplyDelete
  22. Anak (kecil) itu ajaib. Yang lebih ajaib lagi adalah gurunya loh. Subhanallah :)

    ReplyDelete
  23. Terima kasih atas kunjungan ke PAUD Cahaya Ilmu Semarang.
    Didiklah anak2 kita dengan cinta

    ReplyDelete
  24. salam..itulah orang tua harus memberikan teladan yang baik buat anak-anak berhati polos dan mudah mengikuti orang lain. Thks mbak..

    ReplyDelete
  25. anak2 memang polos ya. tanpa mereka hidup akan jadi hampa.

    ReplyDelete
  26. tanpa kehadiran anak, kehidupan ini terasa hambar. betul...betu...betul

    ReplyDelete
  27. Piye Mbak Nonik kabare, lama saya tidak bersua ke blog panjenengan yah...tapi semakin mantap saja tulisannya. Terus berkarya nggih!

    ReplyDelete
  28. bagus sekali tulisanmu mbak.... salam ukhuwah..

    ReplyDelete
  29. Silaturahmi...Salam kenal...cerita bagus..

    ReplyDelete
  30. assalamualaikum.
    hehe...
    jadi ikut ketawa baca ceritanya,oiya mbak
    ada pepatah orang jawa bila guru digugu lan ditiru bisa jadi cermin contoh perilaku anak anak

    ReplyDelete
  31. kupu-kupu dulu kepompong sekarang kupu2 hehehe

    ReplyDelete
  32. Semua kisah Mbak ini mamang unik..dan menarik untuk direnungi. Bahkan, menurutku, pikiran Anak selalu unik.
    Namun, faktanya .. anak sering bisa memahami pikiran orang dewasa, meski ia belum pernah mengalami menjadi dewasa ...
    Sebaliknya, orang dewasa nyaris tak dapat memahami pikiran anak meskipun semua orang dewasa pernah jadi anak..
    Mungkin, Mbak bisa jelaskan fenomena ini?

    ReplyDelete
  33. Walah..pengin ngobrol lagi, deh!
    Mbak, Mama-ku mantan guru TK. Udah lama pensiun, tapi kayaknya ga mau lepas dari dunia TK. Hingga sekarang, masih membuka private-less di rumah, menyiapkan anak-anak masuk SD.
    Satu hari, lampu di rumahku mati. Ruang les jadi gelap. Tak lama kemudian, seorang anak ..sebut saja Vivi, menangis. "Mana tanganku ... tanganku hilang!", teriaknya.

    Vivi bisa menerima penjelasan Mama kalau tangannya masih ada. Tapi Mama tidak bisa paham, mengapa Vivi berpikir demikian. Pasalnya, jika Vivi belum dapat berpikir logis..bukankah perasaan Vivi (sebagaimana perasaan semua anak) sudah berkembang seiring usianya yang siap masuk SD?

    Mbak Yuli bisa bantu Mama, jelaskan hal ini? Terimakasih sebelumnya.

    ReplyDelete
  34. Hai Nonik, where have you been? It's been quite long time you never be online again! What's worong with you?

    ReplyDelete
  35. hihihi.. anak2 memang menggemaskan :D.
    maab mba, baru sempet mampir

    ReplyDelete
  36. selam kenal.....wow blognya keren buanget nih, ini kunjungan perdana saya di tempat ini........btw, boleh tukeran linknya?

    ReplyDelete
  37. begitulah anak anak...kadang jika lagi seneng mereka menggemaskan

    ReplyDelete
  38. salamat sore.....
    anak anak kadang bisa menghibur kita dikala kita lagi dirundung susyah....itulah hibuaran yang paling sederhana

    ReplyDelete
  39. Lama tak berkunjung ke sini.

    Apa kabar dengan Arif? Ada cerita lagi?

    ReplyDelete
  40. budak2 mmg cute! huhuhuhuhu


    >>____<<

    ReplyDelete
  41. hehe, ceritanya menarik sekali. setahuku orang2 yang membimbing anak2 kecil mudah stress, tapi ternyata gak juga... malah sebaliknya..

    ReplyDelete
  42. Iya, mereka yang punya aktivitas yang bersentuhan dengan pendidikan anak usia dini, sepertinya setiap hari mendapatkan bonus kegembiraan dari anak-didiknya!

    ReplyDelete
  43. datang mengunjungi sahabat ku...semoga sehat slalu...amin..

    ReplyDelete
  44. maaf ya mbak whienda, baru kasih jawaban sekarang atas pertanyaan mbak, karena saya lagi banyak tugas kuliah. Maap sebelumnya kalau jawaban saya kurang memuaskan pertanyaan mbak.
    Mengenai vivi, ketika dia menganggap mengapa tangannya hilang, pada saat mati lampu, bisa jadi dia pernah mendapat pengertian yang salah. bahwa ketika lampu padam, maka apapun tidak dapat dilihat, termasuk bagian tubuh kita, sehingga dia menganggap ada bagian tubuhnya yang hilang. kaitannya dengan usia vivi, yang menjelang masuk SD, diperkirakan pada usia 6- 7 tahun. Menurut teori Piaget anak usia 2-7 tahun masih berada pada tahap praoperasional konkret, dimana kemampuan anak masih berkisar pada hal-hal yang abstrak.

    sedangkan untuk orang dewasa yang tak dapat memahami pikiran anak, meskipun mereka pernah menjadi anak-anak, adalah karena mereka terlalu menuntut anak untuk menjadi apa yang mereka inginkan. Hal itu sendiri bisa dikarenakan orangtuanya pada masa kanak-kanak pernah mendapatkan perlakuan serupa, sehingga dia juga melakukannya pada anak-anak mereka.
    Demikian jawaban dari saya. Semoga bermanfaat bagi mbak.

    ReplyDelete
  45. 1. O, begitu, ya? Ini menyangkut daya abstraksi, yang juga merupakan bagian dari kajian Piaget. Jadi, apa yang tidak terlihat oleh mata, walaupun dapat diraba, dianggap tidak ada. Sebaliknya, yang hanya tampak secara imajinatif, walau tak dapat diraba malah dianggap nyata.

    Yups! Sekarang, saya tahu. Itulah sebabnya, adik ku punya teman imajiner yang ia beri nama Ispan. Dengan "temannya" itu ia tampak asyik bermain, bercakap-cakap dan tertawa terbahak-bahak. Tahukah Mbak, siapa teman imajinernya itu? Seekor monyet!
    Unik, ya?

    2. Pertanyaan kedua, sesungguhnya daku bermaksud bercanda. Lha wong pernah jadi anak, kok gak bisa memahami pikiran anak. Tapi, malah dapat jawaban yang serius dan memuaskan.

    Terimakasih buanyak, nyak! Diskusinya kena ... bercandanya juga kena! Success4U.

    ReplyDelete
  46. TERIMAKASIH BANYAK BUAT KAWAN-KAWAN SEMUA, YANG TELAH BERSUA KE LAMAN PELANGI ANAK, DAN MENINGGALKAN JEJAK ISTIMEWA DAN MENGESANKAN, SEMOGA DUKUNGAN KAWAN SEMUA AKAN SEMAKIN MEMOTIVASI SAYA UNTUK TERUS BLOGGING, AMIEN!

    ReplyDelete