Saturday, 30 January 2010

KISAH ANAK-ANAK DARI SLB (BAGIAN-1)

Kisah ini bermula dari kegiatan bakti sosial yang dilakukan sekolah, dimana saya mengajar. Kami berkunjung ke sebuah panti asuhan, barangkali tepatnya Sekolah Luar Biasa (SLB), yang ada di daerah Sleman Yogyakarta. Bila baru melihat dari tampilan fisik luarnya, barangkali siapapun tak akan mengira kalau sekolah ini diperuntukan bagi anak-anak berkebutuhan khusus—kurang beruntung dari sisi perkembangan mental.

Profile depannya seperti sekolah taman kanak-kanak kebanyakan, walau bangunan dan halamannya hanya ala kadarnya. Fasilitas permainan yang tersedia, waktu itu, hanyalah prosotan atau papan luncur sederhana yang terbuat dari semen, juga sebuah bola dunia kerangka pipa besi. Gedungnya terdiri dari tiga ruang utama, ditambah sebuah ruang guru atau kantor dan dua ruang kelas. Di setiap ruang kelas berjajar sejumlah bangku dan kursi. Bangunan itu memang sudah agak tua.

Yang lebih memprihatinkan adalah keadaan anak-anak didiknya. Salah seorang pengajar menuturkan bahwa beberapa kali, di pagi hari ada beberapa orangtua yang mengantarkan anaknya datang ke sekolah tersebut. Namun, ketika tiba waktu pulang, si orangtua yang bersangkutan tak kunjung datang untuk menjemputnya, hingga sekarang. Sehingga menjadi tanggungan pihak sekolah 100%. Dari situ dapat diambil kesimpulan bahwa anak itu memang tidak diharapkan kehadirannya dengan kelainan yang dideritanya.

* * *
Ini merupakan kunjungan pertama kami. Beberapa diantara mereka kelihatan asyik dan gembira, karena kami berkunjung bersama anak-anak. Mungkin mereka merasa senang mendapatkan teman baru. Ada yang bersikap biasa-biasa saja, seperti tak terjadi apa-apa. Yang merasa takut justru adalah beberapa anak didik kami. Ada yang minta gendong, menagis dan tidak mau masuk ke ruangan. Bahkan ada yang sudah sampai di dalam tidak mau melepaskan pegangan pada baju bu guru, merengek-rengek dan minta pulang.

Diantara anak-anak penghuni sekolah itu hanya beberapa saja yang sekolah sampai tengah hari. Sebagian besar dari mereka sekolah asrama, karena mereka tidak punya orangtua, dan ada yang memang sengaja ditinggalkan orangtuanya disitu. Menurut keterang seorang staf, lembaga sosial tersebut menangani anak autis, mentally retarded, dan penderita kelainan lainnya.

Memandangi mereka sungguh mengiris hati. Seorang anak bertubuh besar sedang menghadap jendela, dengan aktivitas menampar mulutnya sendiri. Hal itu dilakukan berulang-ulang. Ada yang duduk diam dengan melipat kaki sambil memandang tak mengerti ke arah kami. Ada yang memegang-megang salah seorang anak didik kami, sambil tersenyum. Dan bila dilarang dengan diangkat gurunya maka akan berteriak-teriak. Si anak tadi bahkan ikut berbaur bersama dengan duduk di barisan kami. Mungkin saja dia bermaksud menyapa anak-anak kami. Tapi murid-murid saya malah ketakutan. Kepada mereka saya katakana tidak apa-apa mereka juga temannya anak-anak, sambil saya minta untuk berjabat tangan.

Kegiatan yang diawali dengan salam perkenalan dan sambutan dari masing-masing perwakilan kepala sekolah, diakhiri dengan memberikan bantuan yang bersifat simbolis dari kepala sekolah kami ke kepala sekolah yang bersangkutan. Sedangkan anak-anak memberikan bingkisan kepada setiap murid sekolah tersebut.

Inti tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memberikan pemahaman kepada anak-anak tentang pentingnya berbagi, kepada siapa berbagi, mengapa harus berbagi, dan seterusnya, yang telah disampaikan guru kelas pada anak sebelumnya. Dengan demikian diharapkan tingkat kepedulian anak-anak terhadap sesamanya akan terasah.

Anak-anak adalah titipan Tuhan yang harus dijaga dan dirawat dengan sebaik-baiknya. Saya pribadi tidak habis pikir bagaimana bisa ada orangtua yang tega meninggalkan anak-anaknya dengan kondisi demikian. Padahal Tuhan tak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan umatnya. Dan setiap cobaan yang diujikan Tuhan pasti ada hikmahnya. Merawat anak-anak terlantar dengan kelainan yang mereka derita sungguh membutuhkan kesabaran dan ketekunan yang luar biasa, serta tingkat keikhlasan yang tinggi dari para pendidik. Tidak semua pendidik dan tidak semua orang mau dan mampu merawat anak berkebutuhan khusus demikian. Saya pribadi salut dengan para pendidik yang ada di sekolah tersebut yang telah dengan tulus mendedikasikan seluruh kemampuannya dalam merawat anak-anak tersebut. Tuhan pasti melipatgandakan kebaikan untuk mereka semua, amen.

48 comments:

  1. perghhh ... tak patut tinggalkan anak camtu. cikgu x buat police report ke? parents yg tak bertanggung jawab.

    ReplyDelete
  2. semoga tidak ada lagi orang tua yg menelantarkan anaknya, baik anaknya normal atau cacat

    ReplyDelete
  3. amieeen..
    duh, trenyuh bangedh baca critanya mbak..
    semoga mereka semua diberi kekuatan utk menjalani sgala fitrah di dunia..

    ReplyDelete
  4. dunia kita dikepung dengan materialisme semu. Lihat saja suguhan di layar TV dan majalah/koran. Jadilah manusia2 bangsa ini dibesarkan dengan pemikiran spt itu. Ketika mereka dapati anak2 mereka dlm kondisi "memalukan" dan "memilukan" mereka tdak siap menerima

    -salam kenal

    ReplyDelete
  5. seharusnya jangan seperti itu, anak itu kan tanggung jawab orang tua

    ReplyDelete
  6. Saya pernah berkesempatan mengunjungi SLB di sebuah kota kecil di Jepang. Waktu itu, kami disambut meriah. Saya sempat bermain game bersama dengan anak-anak luar biasa ini.
    Pengalaman bermain bersama mereka memang tidak akan pernah terlupakan. Bagusnya lagi, di Jepang fasilitas untuk orang cacat serta sekolah sekolah luar biasa sangat diperhatikan oleh pemerintah.

    ReplyDelete
  7. Pendidikan agama harus meliputi semua segi kehidupan, termasuk menghargai anak2 dan tidak hanya tertumpu pada soal akhirat sahaja...kasihan anak2 kecil yang tidak dipeduli ibubapa..

    ReplyDelete
  8. memiliki anak berkebutuhan khusus memang berat. Selain perlu biaya lebih juga butuh kesabaran ekstra. Dalam hal ini orangtua yang meninggalkan anaknya begitu saja, bisa jadi tak siap untuk bertanggung jawab pada anaknya.

    ReplyDelete
  9. Kita yang dilahirkan dalam keadaan normal patut bersyukur dan tidak boleh merendahkan mereka yang terbelakang.. Semoga anak-2 SLB itu bisa menjalani hidup yang bahagia disana, meski orangtua mereka meninggalkan mereka

    ReplyDelete
  10. memang banyak hal yg bisa diajarkan ke anak dgn kunjungan tadi, tapi ya namanya anak2 ya, mesti reaksi tiap anak berbeda2.
    dulu ada tetangga dgn kekurangan seperti itu, tapi berbaur di masyarakat seperti biasa, rajin mengaji, menikah juga pakai pesta layaknya orang normal. yg pasti dukungan keluarga sangat diperlukan, bukan malah sengaja ditinggalkan di sekolah seperti itu.

    ReplyDelete
  11. jadi makin mensyukuri nikmat dan anugerah-Nya pada kami dan keluarga.
    banyak nilai yang bisa dipetik dari cerita di atas.

    ReplyDelete
  12. seru buangets mbak.. mantab...

    ReplyDelete
  13. Kayaknya kita memang belum serius menangani anak - anak berkebutuhan khusus seperti mereka. Ya apa mau dikata, anak - anak yang normal saja masih dirasa kurang penanganannya.

    ReplyDelete
  14. kenapa ya masih ada manusia yang kayak gitu, ninggalin anak karena dia cacat,... astaga... bener2 deh....

    ReplyDelete
  15. semoga tak banyak sifat sedemikian y kawan
    salam hangat dari blue

    ReplyDelete
  16. Itulah yg menyedihkan! Padahal setiap manusia punya keunikannya masing2. Yang sama hanyalah mereka semua membutuhkan kasih sayang. Hanya dengan kasih sayang dan perhatian ortu, maka mereka bisa tumbuh dengan baik. Toh setiap manusia pasti punya kelemahan masing2 kan. sayangnya banyak ortu yang tak memahami ini. Aku heran, apa mereka tak mencintai anaknya sendiri ya?

    ReplyDelete
  17. Berarti orang tua yang butuh panduan bagaimana memelihara dan menyangi anak dengan benar ya sis.

    ReplyDelete
  18. entah dengan orang-orang...
    saya pernah sebentar berinteraksi dengan anak" dari SLB.. waktu itu kami hanya membagikan supenir supenir dan makanan kecil...


    most of them... tetap memiliki senyum yang ceria...

    ReplyDelete
  19. mbak yulinda cantik ya hehehehe...

    ReplyDelete
  20. subhanallah bgt mbak^^
    eh, ngomong2 aku dulu sempat kul di jogja, di uin sblm ke mesir. trus aku mondok di wahid hasyim sleman^^

    ReplyDelete
  21. ortu spt itu harus belajar pada ortuku krn aku punya adik yg otaknya tidak secerdas org normal. tapi ortuku tetap menyayanginya.

    ReplyDelete
  22. benar benar suatu perjuangan yang tak terbalaskan untuk guru guru disana mudah mudahaan banya k sekolah sekolah yang serupa di daerah daerah yang lain dengan tampa biaya atau biyaya yang ringan supaya anak anak yang kekurangan ini dapat lebih baik lagi atau bisa menempuh hidupnya tampa beban orang lain ketika kelak dewasa

    ReplyDelete
  23. salam ziarah, terima kasih bertandang ke teratak saya semoga hubungan persaudaraan islam kita sentiasa berkekalan biar berjauhan dibatasi lautan dan sempadan negara

    ReplyDelete
  24. ibu-bapa tinggalkan anak-anak di rumah pengasuh...anak-anak tinggalkan ibu-bapa di rumah org tua...ironik

    ReplyDelete
  25. NIce blog! aku juga suka anak2. tp ngomong2, akan lebih bagus lagi kalo template blognya diganti sama template yang bernuansa anak2 juga. biar match gitu... gimana? Bagus kan ide ku? hehe

    ReplyDelete
  26. semoga tuklisan ini dibaca oleh ortu2 yg punya anak menderita kelainan, biar mereka tetap menyayangi anak2 mereka

    ReplyDelete
  27. Anak-anak yang luar biasa adalah anugerah yang luar biasa. Mereka butuh kasih sayang dan bimbingan yang luar biasa pula.
    -JBS-

    ReplyDelete
  28. bu guru hbat deh... aku sayang bgt sama buguru... hehehehehe...

    ReplyDelete
  29. ikut mengamini... apa kabar mbak? :)

    ReplyDelete
  30. Mana ini, kok lanjutannya belum muncul-muncul, jangan-jangan lupa Nik?

    ReplyDelete
  31. dibalik kekurangan pasti ada suatu kelebihan...

    ReplyDelete
  32. perjuangan guru yang patut diacungi jempol!!!

    ReplyDelete
  33. guru juga sebagai pahlawan tanpa tanda jasa dan ibu kedua ....

    ReplyDelete
  34. informasi yang sangat menarik sekali...

    ReplyDelete
  35. semua sudah di takdirkan,,setiap kekurangan pasti akan di beri kelebihan..

    ReplyDelete
  36. untungnya masih ada yang peduli dengan nasib mereka...........

    ReplyDelete
  37. kasian sekali yah nasib mereka.. mudah mudahan banyak orang yang mw mngulurkan tangan untuk mereka..

    ReplyDelete
  38. ya tuhan mudah mudahan merek di berikan kesabaran dan kasih sayang..aminn

    ReplyDelete
  39. makasi buat artikel nya,,ini buat sya tersentuh banget..

    ReplyDelete
  40. permisi, saya ingin bertanya, apakah kisah ini nyata dengan orang tua yang menelantarkan anaknya di sebuah sekolah SLB?? jika bisa, saya ingin menggunakan kisah anda sebagai referensi untuk tugas saya, apakah bisa?? mohon dibalas.. terima kasih

    ReplyDelete