Wednesday, 6 January 2010

Berbagi Demi Kemajuan

Selama ini yang kita tahu, kita belajar pada orang yang dianggap mampu dan bisa. Dalam hal ini adalah orang yang diidentikkan dengan individu yang berusia lebih tua dari kita, dan yang lebih pintar, yang bergelar, yang kaya dan sebagainya. Bila ditinjau dari segi umur, gelar, dan tingkat pengetahuan, bisa kita contohkan, seorang murid yang belajar pada guru di sebuah sekolah. Hal yang diajarkan adalah seputar pengetahuan yang harus dimengerti dan dipahami oleh anak, yang disertai dengan proses transfer ilmu. Selain itu tuntutan yang diharapkan guru adalah target nilai yang harus dicapai anak untuk semua mata pelajaran. Sehingga menjadikan anak tidak profesional di bidang yang sesuai dengan minatnya. Itulah yang menyebabkan potensi anak tidak tergali secara maksimal, dan sayang karena kesempatan itu telah terlewatkan. Dan target nilai tersebut dijadikan tolok ukur tingkat kecerdasan anak. Padahal anak yang mendapat nilai jelek di mata pelajaran tertentu belum tentu bodoh dan jelek di mata pelajaran lain. Karena setiap orang mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing yang perlu untuk dipahami, diterima, dan dihargai.

Hal lain yang kadang terjadi dalam dunia persekolahan adalah pengekangan yang tercermin dalam aturan-aturan yang membatasi kreatifitas siswa dalam mengekspresikan dirinya. Hubungannya dengan belajar adalah proses pembelajaran yang berlangsung secara “Teacher Centered”, dimana guru bertindak sebagai pusat kegiatan belajar mengajar atau dengan kata lain pembelajaran yang terpusat pada guru. Model seperti ini yang menyebabkan anak atau siswa menjadi pasif, karena hanya berperan sebagai pendengar, mungkin hal itu pula yang menyebabkan orang Indonesia tidak pintar berdebat, dan hanya orang-orang tertentu yang bisa melakukannya.

Untuk mencetak generasi yang cakap dalam berbicara, pembelajaran yang perlu diterapkan adalah “Student Centered”, pembelajaran yang terpusat pada siswa atau model pembelajaran yang merupakan perpaduan antara keduanya, yakni “Teacher Centered” dengan “Student Centered”, sehingga guru dan siswa mempunyai porsi yang seimbang dalam mengembangkan dirinya. Yang dimaksudkan dengan pembelajaran yang terpusat pada siswa adalah siswa yang berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran, selebihnya guru hanya bertindak sebagai fasilitator.

Pernahkah kita merasa bahwa kita masih perlu belajar? Khususnya belajar pada orang yang lebih muda dari kita. Seperti kejadian yang pernah saya alami, sebagai seorang pendidik. Peristiwa ini seolah membuka mata hati saya. Kalau selama ini siswa yang belajar pada guru, bagaimana kalau guru yang belajar pada siswa? Apabila kita tidak mengkaji kalimat ini, pertanyaan yang akan terlontar dapat diperkirakan akan berbunyi “Bagaimana bisa guru belajar pada muridnya?”

Peristiwa itu saya alami ketika proses pembelajaran berlangsung. Saat itu salah seorang murid perempuan yang masih berusia 3 tahun dan duduk di tingkat Kelompok Bermain, bermain maze bersama teman sekelasnya. Maze adalah jenis permainan mencari jejak dengan jalan yang telah tersedia. Biasanya kami para guru, telah menyiapkan lembar kerja yang berisi gambar permainan maze. Atau membuat jalan dari tali, atau membuat jalan dengan menempel kertas dengan bentuk dan warna yang bervariasi pada lantai untuk dilewati anak. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk melatih dan megasah kemampuan kognitif (daya pikir/daya nalar) anak dalam menghadapi dan memecahkan suatu persoalan. Tapi yang terjadi dalam pengamatan saya berbeda. Murid perempuan saya ini tadi, menata dan mengatur kursi dengan arah secara acak. Hasilnya sungguh mengagumkan yaitu sebuah maze atau jalan berliku dengan bentuk tiga dimensi yang lebih terlihat nyata. Dia mampu membuat maze dengan kreasinya sendiri tanpa bantuan dari guru dan teman-temannya.

Padahal salah satu aturan yang ada di sekolah tempat saya bekerja adalah anak didik dilarang menaiki atau memanjat apapun dengan alasan keselamatan anak. Saat saya mengetahui anak tersebut menaiki dan berjalan di maze hasil buatannya, saya sengaja tidak melarangnya. Dan betul saja, teman sebayanya yang lain ikut naik dan gembira dengan permainan model baru hasil temuan teman mereka. Dari hal itu saya baru percaya dan menyadari bahwa larangan adalah salah satu penyebab atau penghambat kreativitas anak. Seandainya saya telah melarang murid saya menggeser untuk merubah letak kursi-kursi tersebut, mungkin maze model baru itu tidak akan pernah tercipta. Dan kalau saya melarang anak menaiki kursi, maka dia tidak akan pernah mendapatkan kesempatan untuk mencoba. Dan dari peristiwa itu pula saya memahami bahwa anak perlu diberi kebebasan maksimal untuk bereksplorasi dan berkarya, tetapi sesuai batas-batas tertentu. Selain itu saya pribadi merasa mendapatkan pembelajaran dan belajar dari anak didik saya, untuk mengembangkan permainan yang lebih bervariasi, walaupun secara tidak langsung dan anak tidak bermaksud mengajari saya.

Itulah perbedaan pembelajaran dan belajar dari guru dan dari anak. Bisa dikatakan, anak tidak menuntut apapun dari kita atas pembelajaran yang telah kita dapatkan dari mereka. Yang mereka minta bukan nilai kita, seperti yang diminta para guru kita terdahulu, tapi pengetian kita terhadap mereka akan kebebasan dalam berkreasi dan bereksplorasi. Dan yang paling penting, proses belajar dan pembelajaran tidak harus selalu dari seorang guru, tetapi bisa dari banyak hal. Hal-hal tersebut antara lain, belajar dari pengalaman, karena pengalaman adalah guru terbaik kita. Belajar dari alam melalui pengamatan kita, agar kita lebih peka akan keadaan lingkungan. Belajar dari orangtua karena orangtua adalah guru pertama kita. Belajar dari orang lain, misal melalui diskusi yang dapat mengasah kemampuan berbicara. Belajar dari buku yang merupakan jendela dunia yang dapat membuka dan memperluas wawasan kita. Juga belajar dari anak dan belajar dari diri kita dalam rangka untuk mengerti dan memahami diri kita sendiri, serta masih banyak lagi.

Dengan begitu selain anak melakukan praktek langsung, saya pribadi menjadi mengerti bahwa belajar itu bisa dari berbagai sumber. Bahkan apa yang ada pada diri kita pun dapat kita pelajari. Dengan demikian, saya pribadi dapat berkaca bahwa sebagai seorang pendidik tidak bijak menganggap diri kita tahu segala hal dibanding orang lain dan merasa lebih pintar dibanding yang lainnya. Karena di atas pintar masih ada yang lebih pintar yaitu Sang Pencipta. Kemudian, yang perlu saya cermati secara pribadi adalah bahwa pembelajaran dan belajar antara guru dan anak berlangsung secara take and give, saling memberi dan menerima. Dan tidak ada yang lebih indah selain kesadaran kita untuk saling berbagi dalam kebersamaan.

Note: Foto dimodifikasi dari La Canada Child.

45 comments:

  1. belajarlah sampai keliang lahat dan belajarlah kepada siapapun karena hidup itu penuh akan pelajaran

    ReplyDelete
  2. pelangi anak
    cikgu ke?
    gud luck dan selamat mendidik anak bangsa

    ReplyDelete
  3. yub sis,belajarlah dari siapapun di apa yang kita tidak ketahui.

    ReplyDelete
  4. Semakin banyak yang kita tahu maka akan semakin banyak pula yang tidak kita ketahui.

    ReplyDelete
  5. Artikel bagus dan luar biasa. Yang punya blog pasti seorang pendidik ya.

    ReplyDelete
  6. tulisannya sangat cantik seperti yang menulis...salam KBm

    ReplyDelete
  7. hmmmmm...pinter banget si bu guru yang satu ini...setujuuuhhh bukkk...tak selama pendidik tu lebih mamahami dari pada yang di didik
    pisss akh

    ReplyDelete
  8. Anak memang tidak boleh dibatasi arena explorasi dan experimentasinya, sehingga mereka terdorong dan terfasilitasi untuk menjadi sang inventors dan creators!
    Salut buat bu guru yang cantik dan cerdas!

    ReplyDelete
  9. Nampaknya kita semua perlu membaca buku Totto Chan Gadis Cilik di Jendela karangan Tetsuko Kuroyanagi, terbitan Gramedia. Buku itu senada dengan tulisan di atas. Buku itu membuat kita malu dan sadar bahwa sebenarnya kita tertinggal sekian puluh tahun dari Jepang mengenai pendidikan anak. terima kasih

    ReplyDelete
  10. perkongsian ilmu tak perlu ada batasan usia kerana sifat manusia yang tidak sempurna dan saling memerlukan...

    ReplyDelete
  11. setuju, kita memang harus belajar dari siapa aja. tak mengenal usia, gelar, atau kedudukan.
    setuju lagi, bahwa larangan kadang menghambat kreativitas anak. tapi larangan yang sifatnya demi kebaikan anak toh tetap harus diberlakukan ya...

    terus semangat ya bu guru....

    ReplyDelete
  12. kereennnn.... aku adalah anak Indigo, bahkan sampai setua ini aku harus belajar dengan cara anak kelas 4 sd belajar... hehehehehe.... jadi harus belajar dari siapaupun disekitar aku....

    ReplyDelete
  13. sekarang kan udah pake sistem KBK mbak. bukannya itu yang jadi visi dan misi depdiknas ngeluarin sistem pembelajaran seperti itu?

    ReplyDelete
  14. Setuju mba..anak2 memang harus dibiasakan untuk bebas berkreasi & berbicara, barangkali dengan begitu potensi dalam dirinya akan tergali dengan sendirinya...

    ReplyDelete
  15. Kenapa yah guru TK ku dulu gak membebaskan seperti ini? Seandainya gak dikekang dari kecil, mungkin saya bisa lebih kreatif dari sekarang :D

    ReplyDelete
  16. belajar di mana saja..
    anak2 kecilpun klo di suruh diem mulu nanti lama2 anak tersebut jadi pendiem..

    ReplyDelete
  17. Coba kalau guru tk-ku dulu juga memberikan kebebasan kepada kami, pasti kami bisa jauh-jauh lebih pintar dan kreatif dari sekarang ini he he he ....

    ReplyDelete
  18. dunia anak adalah dunia yg plg indah,hehe,...menurutku usia TK adalah usia bermain. jadi jgn terlalu ketat dalam pendidikan,perbanyak belajar melalui permainan.

    ReplyDelete
  19. aku sependapat sama mbak senja, aku juga suka kesal kalo orangtua sering ngotot ngelesin anaknya yg masih kecil.. ini.. itu..

    ReplyDelete
  20. rasullullah nasihat kita tuntut ilmu sehingga ke negara china...tapi kenapa ramai lanjutkan pelajaran ke UK?

    ReplyDelete
  21. salut untuk bu guru...artikelnya bagus, kebetulan saya lagi bingung memikirkan perkembangan pendidikan anak-anak saya.

    ReplyDelete
  22. sampe kapanpun kita harus tetep belajar.
    bahkan juga belajar dari orang yg mungkin secara akademis jauh dibawah kita.
    ya ngga mba?
    hehehehhe

    ibu saya juga guru loh *info ngga penting*

    ReplyDelete
  23. belajar dan belajar kepada siapapun karena harta yang paling berharga adalah ilmu sampai kapan pun manusia tak akan bisa hidup tanpa belajar.

    ReplyDelete
  24. bu guru muda satu ini ratikelnya bagus2 dan membangun.. kreativitas emang bermula dari kebebasan.. keponakan2 saya rasanya hasilnya beda banget dg saya dulu.. nyesel? dikit.., hihihihi..

    ReplyDelete
  25. Maaf sobat kalo comment disini,

    Salam kenal dari blog milomen, mampir balik ya sekalian follow di blogku ^_^

    Blog site: www.milomenz.blogspot.com

    ReplyDelete
  26. salam sobat
    siip banget mba,,sebagai Guru pastinya mendukung sekali untuk berbagi demi kemajuan,,terutama kemajuan pendidikan .
    sukses selalu mba,,,
    trims kunjungannya.

    ReplyDelete
  27. s7 bu guruuuu :)

    bu guru aku da awod tuk ibu, diambil y bu' :)

    http://ayastasliwiguna.blogspot.com/2010/01/blog-ayas-1st-anniversary.html

    ReplyDelete
  28. Yup pendidikan anak memang tak seharusnya dibatasi, biarkan anak menemukan sendiri cara belajarnya yg dirasa nyaman.

    Ayo semua belajar, karna sesungguhnya ilmu itu lebih mulia daripada harta

    ReplyDelete
  29. pendidikan bagi anak memang seharusnya tidak hanya mengandalkan sekolah model pembelajaran umum di sekolah2 tidak memberdayakan nalar dan potensi anak.....makasih artikelnya nih..

    ReplyDelete
  30. jika semua guru-guru di sekolah indonesia memahami dan menerapkan metode ini...maka pendidikan dan anak indonesia akan jauh lebih baik......

    ReplyDelete
  31. Ya sih, larangan bisa menghambat kreatifitas. Tapi seorang yang kreatif, akan teruji daya kreatifitasnya mana kala ia berhadapan dengan larangan2. Larangan2 itu sejatinya adalah tantangan bagi dia untuk mengeluarkan daya kreatifitas yang lebih. Allahu a'lam :)

    Nice sharing :)

    ReplyDelete
  32. blogwalking...
    thankz ea jeng dah mampir di rumah hehehe...
    wah ketemu ma guru PAUD nich xixixi...pasti orange super sabar :) coz hadapane tiap hari anak kecil sich huehehehehe...

    btw, lam kenal ea jeng..
    mg gud luck sll buat smuanya ^^


    salam sayank

    ReplyDelete
  33. mantabh.. kalo kesini pasti disuguhi artikel yg sangadh2 berguna.. hehe..
    semoga sukses ya.. :)

    ReplyDelete
  34. Salam sobat, datang mempererat silaturahmi... maaf baru mampir lagi... kesehatan memburuk baru membaik... Semoga selalu dalam kebahagiaan...

    Ninneta

    ReplyDelete
  35. mantap banget...
    Sangat berguna bagi saya sebagai seorang Guru.
    makasih banyak.

    ReplyDelete
  36. artikel yang bagus dan bermanfaat bagi semua

    ReplyDelete
  37. alhamdulillah apabila seorang pendidik berpikir seperti bu guru, saya sangat berharap demikian pula para pendidik yang lain.

    semoga sukses :)

    ReplyDelete
  38. Artikel yang luar biasa. Izin dicopas untuk dimanfaatkan di dunia nyata.

    ReplyDelete
  39. informasi yang anda sajikan dalam blog ini begitu bermanfaat bagi saya. Ini menjadi pelajaran yang baik bagi saya dan saya sangat senang dapat menyempatkan diri saya untuk mengunjungi blog anda. semoga blog ini menjadi inspirator yang kuat bagi para blogger lainnya

    ReplyDelete