Saturday, 6 November 2010

HUJAN ITU BUKAN AIR

DINI hari tepatnya pukul 00.05 WIB, hari Jum’at, 5 November 2010, suamiku mengguncang-guncangkan kakiku, hingga aku kaget terbangun. Suara gemuruh menyapa gendang telingaku. Aku mengira hujan akan turun. Di luar orang-orang ramai. Setiap gemuruh selesai, kaca jendela selalu bergetar. Ponsel suamiku berdering, tanda panggilan masuk. “Oh ya pak, kami segera kesana!” sahut suamiku lalu menutup pembicaraan.

Waktu menunjukkan pukul 00.30 WIB, suamiku memintaku untuk segera berkemas. “Masukkan dua stel baju dan bawa barang penting yang bisa dibawa,” perintah suamiku.

Mata yang tadinya mengantuk kini terbuka lebar dengan sendirinya. Degup jantung terus berpacu dengan waktu, kubuka lemari. Tanganku gemetar dan dengan gerakan secepat mungkin, kuraih beberapa helai pakaian. Dompet dan ponsel juga tidak ketinggalan. Di dalam tasku sudah menanti barang lainnya yang memang menjadi bawaanku sehari-hari ketika kuliah. Kartu identitas dan sekotak alat tulis, kini berbagi tempat dengan baju yang baru saja kumasukkan. Begitupun dengan suamiku yang juga terlihat sibuk berkemas, berlomba dengan waktu. Segera, suamiku mengeluarkan kendaraan, mengunci pintu rumah, dan bergegas ke arah tempatnya bekerja, yang hanya berjarak 300 meter. Beberapa pasang mata tetangga mengamati kami yang mulai meluncur meninggalkan rumah.

Tiba-tiba, di tengah perjalanan, klothak-klothak bres, turun hujan. Tapi aneh, pakaianku tidak basah. Dan ternyata, astaga... jaket coklatku dihiasi polkadot kelabu yang tak lain adalah pasir, kerikil, dan abu vulkanik. Beruntung masker telah membalut sebagian mukaku dan helm sudah bertengger di atas kepalaku. Sesampainya di kantor suamiku. Hujan pasir dan kerikil masih saja mengguyur walaupun dengan intensitas yang kecil. Beberapa waktu kemudian, giliran hujan abu menggantikan hujan sebelumnya, pasir dan kerikil. Gemuruh semakin terdengar kentara. Orang-orang yang tinggal di dekat kantor suamiku tampak keluar dari markas masing-masing.

Tak berselang lama, pet. Lampu di kantor mati. Menyusul kemudian lampu seluruh desa yang ada di daerahku serentak padam bersamaan. Teman yang tadi menelpon suamiku tak berapa lama datang dengan mengendarai mobil. Ya, kami berencana mengungsi dari amukan dahsyat merapi. Akan tetapi kami mendapat kabar, kalau jalan raya penuh sesak oleh para pengungsi lain. Kami putuskan untuk menunggu sejenak sambil menghubungi rekan yang bersedia untuk disinggahi rumahnya sebagai tempat berteduh sementara.

Namun, hingga pagi, jalanan belum juga lancar. Di ruang tamu kantor, kami masih menunggu. Mobil tetap terparkir di halaman. Hujan abu masih mengguyur. Gemuruh juga masih saja terdengar. Akhirnya, hingga pagi, kami tetap di kantor. Mobil yang terparkir di luar, kini telah berselimutkan abu. Suasana sudah agak tenang. Pukul 06.00 aku dan suami pulang. Setelah sarapan, mandi, dan membereskan barang, kami kembali ke kantor.

Pukul 08.00, kami berdua di kantor, melakukan koordinasi dengan teman-teman yang lain, untuk siap siaga, apabila sewaktu-waktu ada kejadian luar biasa, bisa mengungsi bersama-sama. Siangnya, seorang teman memberitahukan pesan singkat/SMS tentang himbauan untuk meninggalkan daerah yang radiusnya 20 kilometer dari merapi, pukul 3 sore itu juga.

Sebenarnya, daerah tempat tinggalku, bukan termasuk daerah yang direkomendasikan untuk evakuasi, karena jarak daerah tempat tinggalku dengan merapi berkisar antara 23-25 kilometer. Akan tetapi, untuk antisipasi, kami berdua memutuskan mengungsi di rumah teman. Kami kembali pulang ke rumah dan mulai menata barang-barang dan perlengkapan lainnya. Baju dan alat mandi sudah merangsek ke dalam ransel. Jas hujan juga tak lupa kusertakan.

Selama seharian itu juga ponselku sangat rewel. Mulai dari tidak bisa menerima telepon dan SMS, sampai menelpon dan juga mengirim SMS pun sulit. Tepat pukul 3 sore itu, kami berdua meninggalkan lokasi tempat tinggal menuju rumah teman. Sesampainya disana, kami membersihkan diri dan beristirahat. Demikianlah, kronolgi peristiwa yang kami alami, terkait dengan meletusnya gunung merapi. Yulinda, dari Sleman melaporkan.

Sunday, 3 October 2010

Menjelajah Ruangan Internal Tuhan (Pose Doa ala Layar Kaca)

“Ya Allah, aku mohon padamu, tunjukkan dan kembalikanlah anakku padaku Ya Allah, Amin” ucapnya sambil menengadahkan tangan dan disertai dengan linangan air mata. Mukena masih membalut tubuhnya. Penggalan doa tersebut dipanjatkan oleh seorang wanita seusai melaksanakan Sholat.

Awalnya kita akan merasa trenyuh dengan permintaan wanita itu pada Yang Maha Kuasa. Lantunan doanya sungguh menyentuh, dan kita akan dibawa terbang pada pikiran yang menyatakan, betapa malangnya wanita itu yang telah kehilangan anaknya.

Berdoa dengan bersuara, sah-sah saja dilakukan. Apalagi kalau itu dilakukan di rumah atau ruangan tersendiri. Tapi apa jadinya kalau kegiatan itu disorot kamera dengan bumbu yang terkesan diskenario, salah satunya seperti di sinetron.

Seperti yang kita tahu, berdoa adalah suatu aktivitas yang sifatnya rahasia. Bisa dibilang rahasia kita dengan Tuhan. Beberapa orang merasa nyaman ketika berdoa. Seperti meminta sesuatu yang diinginkan pada Tuhan. Berdoa bagi saya pribadi tidak hanya sebatas pada meminta tetapi juga menumpahkan segala keluh kesah pada Sang Maha Pencipta. Dengan kata lain, seperti curhat kepada Tuhan. Dengan curhat kepada Tuhan, saya merasa aman dan nyaman karena rahasia saya tidak akan pernah terbongkar. Walaupun saya tahu, tanpa kita curhat pun Tuhan sudah menyandang predikat sebagai Maha Tahu apa yang dirasakan dan terjadi pada umatnya. Berdoa adalah urusan pribadi kita dengan Tuhan. Ibadah Sholat dengan doa sebagai rangkaiannya, merupakan hubungan pribadi kita yang bersifat internal dengan Tuhan. Seperti halnya urusan privasi kita, isi doa dan keluh kesah tidak perlu disampaikan dalam bentuk orasi. Kita juga tidak ingin khan kalau sisi privasi kita mengundang campur tangan dan tontonan orang lain. Begitu juga dengan doa kita, yang sekali lagi itu masuk dalam ranah internal kita dengan Tuhan. Tentunya kita tidak mau kalau urusan kita bermutasi menjadi santapan dan bancakan publik.

Saya pribadi sebenarnya merasa risih, ketika menyaksikan tayangan sinetron di Televisi. Para aktor atau aktris yang tengah berperan itu berdoa dengan suara yang terkesan dikoar-koarkan. Apa tujuannya saya pun juga tidak tahu. Masih mending kalau yang melakukannya adalah anak-anak, ketika mereka masih bisa dibilang belajar berdoa. Akan tetapi kalau orang dewasa….. Kalau gaya berdoa di sinetron itu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari misalnya di masjid, kita bisa mengundang tolehan dan jadi tontonan orang-orang. Atau bahkan jadi guyonan dengan sejumlah tanda tanya yang menaungi kepala mereka. Berdoa dengan suara yang terdengar, khususnya di masjid, sama halnya dengan mengumumkan pada orang-orang keinginan yang kita minta pada Tuhan. Padahal Tuhan itu Maha Mendengar. Apa yang kita katakan dalam hati Tuhan mengetahuinya. Berbeda halnya ketika doa dibaca dengan suara jelas oleh imam ketika selesai sholat. Hal itu karena doa yang diucapkan bersifat umum untuk semua jamaah dan disampaikan dalam bahasa lain, yakni Arab. Saya jarang menjumpai peristiwa model berdoa ala sinetron dalam kehidupan sehari-hari. Kebanyakan mereka yang khususnya muslim, menyampaikan doa dengan gaya tekanan low voice atau komat-kamit.

Akan lebih bersahaja ketika doa diucapkan dengan volume yang pelan atau mengaktifkan getar seperti komat-kamit. Atau bisa juga dengan mode silent seperti berdoa dalam hati. Tidak harus dengan suara lantang yang menggelegar seperti petir, yang mengejutkan. Ucapan doa juga lain halnya ketika disampaikan dalam bentuk lagu atau puisi. Sebab, menyanyi dan membaca puisi adalah kegiatan yang mengeluarkan suara dengan volume yang lebih jelas.

Sekali lagi, yang saya sampaikan disini hanyalah sekedar pendapat, bukan isi Undang-Undang baru tentang peraturan dan ketentuan berdoa. Semua kembali pada setiap individu. Nah, bagaimana menurut teman-teman?

Saturday, 25 September 2010

Dokter dan Giginya

SEORANG dokter gigi tengah menjelaskan cara perawatan gigi dalam menyikat gigi yang benar. Para wali murid terlihat antusias mengikuti penyuluhan tentang kesehatan gigi tersebut. Sesekali mereka tampak manggut-manggut menanggapi penjelasan dokter, layaknya seorang siswa yang menyimak pelajaran dari Sang Guru.

Tak salah lagi, kegiatan tersebut merupakan program sekolah dalam pelayanan kesehatan gigi bagi murid-murid Taman Kanak-Kanak. Pihak sekolah secara khusus mengundang sejumlah dokter gigi, untuk menjadi pembicara dalam penyuluhan gigi sehat tersebut. Pengadaan penyuluhan dilatarbelakangi oleh kondisi anak-anak yang rentan terjangkiti penyakit gigi.

Sesi diskusi mulai dibuka. Beberapa orangtua murid beraksi, menyambutnya dengan tunjuk jari untuk melontarkan sejumlah pertanyaan, seputar problem gigi dan mulut anaknya. Selanjutnya sesi diskusi diarahkan pada konsultasi per individu (satu-persatu). Ada juga yang sambil memeriksakan kondisi gigi anaknya.

Dio seorang anak berusia 5 tahun, yang masih kelas TK A, duduk di samping ibunya yang sedang berkonsultasi dengan salah seorang dokter. Di atas meja kecil yang menjadi sekat antara bu dokter dan ibunya, tersedia bermacam-macam peralatan gigi. Mulai dari kaca bulat dengan gagang panjang yang mirip spion, alat pembersih karang gigi, alat pencabut gigi, sikat gigi, penampang gigi dan lainnya.

Rupanya alat-alat yang tersaji di atas meja itu menarik perhatian Dio. Lantas dengan kepolosannya dan wajah datarnya dia mengajukan transaksi pada bu dokter. Transaksi yang mampu membuat orang ternganga sekaligus mengundang tawa.

Dio: “Bu dokter saya mau beli gigi.”
Dokter: “Oh…ibu nggak jual gigi.” (sambil menahan tawa)
Dio: “Lha itu?” (sambil menunjuk penampang gigi yang ada)
Dokter: “Oh gigi ini tidak dijual, karena ini gigi palsu, bukan gigi asli. Memangnya kenapa kok pengen beli gigi?”

Dio hanya meringis mempertontonkan gigi atasnya yang sudah pada keropos. “Dio mau beli gigi untuk dipasang disini,” ungkapnya sambil menunjuk gusinya yang mulai tak berpenghuni gigi itu. “Oh…mas Dio, nggak perlu beli gigi, nanti kalau gigi keroposnya tanggal, bisa tumbuh gigi baru, ketika mas Dio sudah masuk SD,” jelas Dokter. Rupanya Dio berpikir bahwa untuk memiliki gigi baru tinggal dipasang saja.

Anak-anak memang unik. Kita tidak akan pernah tahu dan memahami apa yang ada dalam pikiran mereka. Jaman memang sudah berubah. Perubahan yang ditandai dengan munculnya generasi baru yang sangat cerdas dan kritis, salah satunya adalah Dio.

Note: Cerita ini dirangkai bersamaan dengan tiupan angin ribut yang melanda kawasan Sleman, dimana penulis bermarkas. Setegang suasana hati dalam keributan komat kamit doa pada Ilahi. Penulis sempat meninggalkan persemayaman untuk keluar ruangan demi keselamatan untuk menyaksikan kejadian yang menegangkan. Si Bambu sempat terlihat meliukkan badannya seperti penari ular.

Saturday, 4 September 2010

Bu, Maaf ...

SAYA terkejut mendapati keranjang tempat kotak makan berantakan. Sebuah sendok terlihat seperti habis dilempar kedalamnya. Padahal kami para guru, selalu membiasakan anak-anak untuk memasukkan sendok ke dalam kotak makan, supaya terlihat rapi dan tidak memakan tempat dalam keranjang. Belum lagi nasi dan sayur yang tercecer, karena kotak makan tak ditutup dengan rapat, sehingga sisa makanan tumpah.

Melihat itu semua, saya menjadi jengkel dan agak stress. Wajarlah...apalagi hari itu anak-anak aktifnya sungguh minta ampun. Berlarian kesana kemari, kejar-kejaran, dan berteriak. Padahal aturan di kelas sudah menyebutkan, semua itu tidak diperbolehkan di dalam kelas. Bahkan kami para guru juga berusaha berperilaku untuk konsisten ketika memanggil anak dengan suara pelan. Tapi namanya juga dunia anak. Bukan anak dan dunianya kalau mereka tidak berbuat seperti itu. Sungguh butuh kesabaran ekstra menghadapi mereka.

Dengan nada suara agak tinggi, saya bertanya “Sendok ini milik siapa?” sambil mengangkat sendok tersebut tinggi-tinggi. Serentak semua kepala menoleh ke arah saya. Tiba-tiba seorang murid bernama Arfa mendekat dan berkata “Saya bu, maaf.” “Ini milik Arfa?” ulang saya. Dia hanya mengangguk. Dengan ketus saya menyuruh dia mengulangi perbuatannya. “Coba lempar lagi seperti tadi, bu guru ingin tahu seperti apa Arfa melempar sendok,”perintah saya dengan sorot mata tajam kearahnya. “Nggak bu,” tolaknya. “Nggak papa silahkan dilempar lagi,”kata saya masih dengan pandangan mata tajam. Dia hanya menggeleng. Saya letakkan sendok dengan kasar ke dalam keranjang dan beranjak keluar kelas menuju ke kamar mandi.

Di dalam kamar mandi saya mencoba menenangkan diri dengan mengambil napas dalam-dalam. Tiba-tiba saya tersentak dan merasa betapa gegabahnya saya dengan marah-marah, ketus, serta kasar pada Arfa tadi. Saya merenung sejenak dan berpikir, “bukannya sudah bagus dia berani mengakui kesalahannya di usianya yang masih 3 tahun?” batin saya. Saya sungguh melakukan kesalahan dengan berbuat seperti tadi. Ditambah dengan pandangan mata saya yang menyiratkan kemarahan. Kenapa saya tidak melihat dari segi positifnya? Saya baru tersadar. Luluh juga hati saya mengingat kata maafnya.

Segera saya kembali ke kelas. Setibanya di dalam, saya lihat Arfa tampak murung dan diam. Tidak berlarian seperti tadi. Dia hanya melihat teman-temannya berkejaran. Pelan tapi pasti saya panggil dia. Saya dudukkan dia di kursi dengan tenang. Saya duduk dihadapannya. “Bu Guru mau ngomong sebentar sama Arfa, boleh khan?” pinta saya. Dia menganngguk. Saya semakin merasa bersalah dengan anggukan kepala yang menunjukkan penerimaannya terhadap saya untuk ngobrol dengannya. Saya katakan padanya dengan suara yang mulai melunak dalam posisi sejajar dengan pandangan mata segaris. Ini teori dari pakar anak, supaya anak tidak merasa digurui dan merasa guru sebagai temannya.

Saya: “Hari ini bu guru senang sekali dan bangga.”
Dia masih memandangi saya dengan seksama, seakan mencoba mencerna kata-kata saya.
Saya: “Tahu nggak kenapa?”
Dia menggeleng.
Saya: “Karena Arfa hebat dan pintar sudah berani dan mau mengakui kesalahan. Mau bilang kalau itu sendok Arfa. Bu Guru senang Arfa ngomong jujur.”
Saya mengacungkan dua jempol untuknya dan mengajaknya tos. Dia tersenyum lebar dan menyambut tos saya.
Saya: “Tapi lain kali, tolong sendoknya di taruh di tempatnya ya, biar sayur dan nasinya nggak ikut tumpah, diletakkan pelan-pelan.”(sambil memegang tangannya)
Arfa: “Ya bu.”
Saya: “Bu Guru minta maaf ya.”
Dia mengangguk.
Setelah itu saya meminta dia untuk meletakkan sendok ke dalam tempat makannya.

Sejak itu saya belajar untuk berusaha menahan diri. Tidak masalah bagi saya dan tidak ada kata gengsi untuk meminta maaf pada yang lebih muda, seperti apa yang saya lakukan pada Arfa, murid saya yang duduk di tingkat Kelompok Bermain. Saya juga tak lupa melantunkan sepotong kata pujian untuk mengapresiasi tindakannya yang berjiwa besar, mau mengakui kesalahan dan minta maaf. Sebaris penjelasan juga sudah saya sertakan. Sungguh luar biasa, Arfa, seorang bocah polos, di usianya yang masih sangat belia, telah mengajarkan pada saya tentang makna dan pentingnya untuk berani mengakui kesalahan dan minta maaf, sekalipun pada yang lebih muda tanpa embel-embel gengsi. Sekali lagi saya belajar hal bermakna dari seorang murid saya.

Saturday, 31 July 2010

Nasib Pendidikan Indonesia, 12 Tahun Reformasi

DENGAN penuh semangat si bapak mengayuh becaknya. Dia seakan tak peduli betapa panasnya sengatan Mentari siang itu. Ketika tidak ada penumpang, si bapak biasa mangkal bersama dengan para tukang becak lainnya. Jika diamati sepintas, kehidupan yang dijalani bapak yang sudah berkeluarga ini, tidak beda jauh dengan sesama tukang becak yang lainnya.

Setiap pagi, si bapak ini terlihat menenteng setumpuk buku dan beberapa alat tulis. Pakaiannya juga kelihatan berbeda. Tiba disebuah ruangan, beliau menyapa dengan ucapan “Selamat Pagi Anak-Anak?” yang disambut dengan ucapan serupa dari anak-anak. Kita tidak akan menyangka kalau si tukang becak yang tampak di siang hari, adalah salah seorang staff pengajar alias guru di sebuah Sekolah Dasar (SD).

Di tempat lain, seorang wanita tengah tengkurap di atas tikar pandan, di sebuah rumah yang terbilang cukup sederhana. Tubuhnya hanya berbalutkan selembar kain “jarik”. Wanita paruh baya tersebut, sebut saja Sri sedang menggosok punggung wanita itu, dengan berbekal se-"lepek" minyak goreng. Apabila dilihat sepintas, Sri tampak seperti wanita biasa. Akan tetapi kita tak akan pernah mengira bahwa Sri punya profesi yang sungguh mulia. Ya, wanita ini biasa dipanggil Bu Guru, di sebuah SD di daerahnya.

Reformasi yang disuarakan dua belas tahun yang lalu, belum membawa perubahan yang signifikan, situasi pendidikan di Indonesia sepertinya masih berjalan di tempat. Bagi bapak si tukang becak dan Sri tak ada pilihan lain selain mencari penghasilan tambahan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. “Yang penting halal,” itulah prinsip yang tertancap kuat di benaknya dalam melakukan pekerjaan.

Dalam hati, saya merasa tidak rela. Alangkah malangnya nasib para pendidik generasi penerus bangsa ini. Orang-orang yang diserahi tugas berat dalam mencerdasakan, mempersiapkan para pemimpin masa depan. Ini membuktikan bahwa perhatian pemerintah dan upaya perbaikan kesejahteraan guru belum muncukupi dan merata. Kalau sampai seorang guru harus “nyambi”, sudah jelas bahwa gaji yang mereka terima belum bisa mensejahterakan. Disamping itu masih banyak potret kehidupan dunia pendidikan yang mencerminkan belum adanya perubahan meskipun sudah sekian tahun paska reformasi.

Pelecehan seksual oleh guru terhadap anak didiknya. Guru yang bingung menutupi wajahnya ketika digiring pihak berwajib, karena ketahuan melakukan kekerasan pada muridnya. Tingginya angka anak-anak yang putus sekolah, atau bahkan tidak bisa bersekolah sejak dini. Biaya sekolah yang semakin mahal, bangunan sekolah yang hampir roboh, murid dan sekolah yang ditinggal pergi guru-gurunya untuk berdemonstrasi, perkelahian antar pelajar, dan masih banyak lagi.

Lalu apakah kita semua, terutama pemerintah akan tetap menutup mata hati terhadap permasalahan tersebut. Siapa lagi yang akan memberi lecutan reformasi untuk membangkitkan semangat, menciptakan perubahan signifikan pada sendi-sendi pendidikan di Negeri ini?

Artikel ini, bentuk komitmen Pelangi Anak mendukung gagasan TRIMATRA, posting kolaborasi “DIBAWAH BEDERA REFORMASI”

Sunday, 25 July 2010

PERCAKAPAN DI BUS

HANDPHONE saya berkedip-kedip sambil bernyanyi, tanda ada sebuah panggilan baru saja terdaftar masuk. Sejumlah nomor tertera di layar monitor. Setelah berhalo ria, ternyata suara diseberang adalah suara kakak, yang mengumumkan bahwa pada tanggal 16 Juli, saya akan resmi mempunyai kakak ipar, he…

Singkat cerita sehari sebelum hari H, tanggal 15 Juli saya dan suami berangkat dengan bus antar kota. Kami sengaja memilih bus ber-AC dengan alasan kenyamanan. Perjalanan dari rumah ke terminal kami tempuh dengan mengendarai sepeda motor. Bus Patas yang melaju dengan jurusan Yogya-Solo-Madiun-Surabaya ini, tidak bebeda jauh dengan bus-bus pada umumnya. Yakni kerap disambangi para pedagang asongan, setiap bus singgah di terminal pada tiap kota. Ya, maklumlah, namanya juga orang cari rejeki. Bukankah jaman sekarang rejeki itu susah dicari…?

Yang menarik perhatian saya dari perjalanan mudik kali ini, adalah dapat mendengar langsung suara hati orang-orang yang berjualan alias grup pedagang asongan di dalam bus yang kami tumpangi, halah….

Pra percakapan diwarnai dengan kegiatan mereka yang beramai-ramai menyerbu bus dan menawarkan dagangan pada para penumpang. Suara-suara mereka berdengung seperti lebah. “Mase, mbak’e, bapak, ibu, sprite, fanta, lontong. Kacang, mete, tahu goreng, aqua, bakpau-bakpau,” begitulah suara mereka. Sebagian besar dari mereka berusia ibu-ibu paruh baya dan bapak-bapak berumur sekitar 45-55 tahunan. Menatap mereka, dalam hati terbersit juga perasaan iba. Karena hanya beberapa penumpang saja dalam bis itu yang berhasrat untuk membeli dagangan mereka. Di jaman yang serba susah seperti ini, mereka tetap giat mencari uang. Berlomba dengan usia yang hampir melewati setengah abad.

“Enting-enting mbak, buat oleh-oleh, ayolah,” bujuk seorang dari mereka. Setelah selesai menawarkan mereka duduk-duduk di kursi bagian belakang. Mulailah terdengar percakapan mereka. “Walah, sirahku mumet, dek mau tak templek’i koyok. Ket mau durung enek sing payu,” ucap seorang ibu paruh baya. “Mengko nek aku muleh, mak’e lak ngomel terus, tambah cekot-cekot sirahku,” lanjutnya. Dari kata-kata si ibu saya menangkap, mungkin dia akan dimarahi ibunya yang disebut “mak’e” tadi, apabila tidak mendapat hasil penjualan karena tak laku. “Lha iki lho thekku yo sek akeh,” timpal seorang ibu pedagang asongan yang lain. Lalu tawa keduanya terbahak bersamaan. Mereka mengungkapkan dialog-dialog dalam bahasa mereka yang membuat mereka tertawa terpingkal-pingkal, yang kami tak tahu artinya. Kemudian pembicaraan mereka beralih kepada hal lain. Kali ini seorang bapak-bapak terlibat serius dalam pembicaraan tersebut. “Jarene sekolah gratis, tapi sek kon mbayar seragam,” keluh si bapak dengan jengkel. “Lha iki dagangan urung payu, anakku wes njaluk duwit,” lanjutnya. “Mosok toh?” tanya seorang ibu. “Rasah tuku seragam,” sergah yang lain. “Lha nek ra tuku seragam anakku arep sekolah nggae opo? Budal sekolah ra sragaman, arep udo?” si bapak kembali bertanya dengan nada agak tinggi. Sedangkan yang lain hanya menyimak, sambil sesekali tertawa terkekeh. “Saiki ora enek sekolah gratis,” lanjut si bapak dengan berteriak marah. Tapi anehnya yang lain tetap menanggapinya dengan enteng, seakan biasa saja, seperti tidak terjadi apa-apa. “Wes…wes urip digae santai wae,” timpal yang lain. Kemudian mereka tertawa terkikik sambil turun dari bis.

Tidak hanya itu, pemandangan di bus juga dihiasi kehadiran para pengamen dengan gaya yang bervariasi. Sebagian besar didominasi oleh anak-anak usia sekolah, baik laki-laki maupun perempuan. Tubuh mereka hitam, dekil, kurus dan tidak terurus, belum lagi baju mereka yang kelihatan kumal. Yang laki-laki tampil dengan anting yang hanya sebelah, kaus oblong, rambut bercat pirang dan berjambul mirip artis. Lengan dan lehernya penuh dengan tato. Kadang-kadang gaya bicaranya juga disertai dengan umpatan dan kalimat-kalimat kotor. Seusai mengamen mereka akan menyodorkan kantung kemasan permen kepada para penumpang, berharap untuk diisi dengan uang receh. Mereka akan bilang terimakasih, ketika diberi, dan akan mengeluh ketika tidak diberi. ”Ya Alloooh,” keluh seorang anak perempuan ketika mendapat isyarat tangan menolak dari seorang penumpang.

Dari sekelumit cerita tersebut kita bisa melihat betapa susahnya mereka, orang-orang kecil, bergulat dengan ketidak pastian, himpitan kemiskinan, ditengah semakin melonjaknya harga-harga kebutuhan pokok. Hal tersebut mewakili banyak bukti tentang kegagalan negara dalam memenuhi dan menjamin hak-hak dasar warganya, hak akan pendidikan, kesejahteraan, kesehatan, dan seterusnya. Melihat itu semua hati ini terasa teriris. Rasa prihatin, kasihan, tidak tega, dan lainnya, berbaur jadi satu dan menimbulkan rasa haru di ulu hati. Itulah potret kehidupan orang-orang yang serba kekurangan. Saya hanya mampu tertegun ketika mendengar percakapan mereka. Hati ini kemudian berdoa, semoga masih ada kebahagian yang bisa mereka nikmati manakala mereka bercengkrama kembali dengan keluarga dan sanak saudaranya yang sedang menunggu di rumah...

Saturday, 10 July 2010

07 09 14 (Juli)

ADA apa dengan bulan Juli? Juli adalah salah satu bulan yang bersejarah bagi dua orang ini. Bulan yang diperingati dengan perayaan tertentu. Jadi kira-kira beginilah ceritanya:

Alkisah di sebuah desa yang indah nan asri lahirlah seorang bayi cowok dari pasangan ayah yang seorang guru dan ibu yang seorang ibu rumah tangga, dengan nomor akte 3326/1985. Bayi montok berkulit hitam itu lahir pada tanggal 07, bulan Juli, tahun 1977, tepatnya pukul berapa, tidak tercatat dalam kertas sejarah, yang pasti malam hari, dan menempati posisi sebagai anak ke-2. Akan tetapi bayi montok yang sudah tumbuh dewasa ini, jika ditanya selalu berharap dan menjawab pukul 07.00.

Tujuh hari kemudian, pada tanggal 14 Juli, sekitar pukul 10.00 malam, terdengar tangis seorang bayi perempuan, menyusul kelahiran bayi cowok tadi, di sebuah Rumah Sakit di kota. Hanya saja kelahiran bayi perempuan itu terjadi 10 tahun kemudian, yaitu pada tahun 1987. Bayi perempuan itu adalah buah cinta dari pasangan suami yang berwiraswasta dan seorang istri yang sebagai ibu rumah tangga, dan menduduki tempat sebagai anak bungsu dari 2 bersaudara.

Bayi cowok yang sekarang sudah menjadi pria dewasa itu, kini sudah bekerja pada suatu lembaga non-profit di kota Pelajar. Sedangkan bayi perempuan yang kini sudah menjelma menjadi wanita itu, tengah mengabdi pada pada sebuah lembaga pendidikan prasekolah, sambil menuntut ilmu pada Perguruan Tinggi Negeri, di Kota yang populer dengan Gudegnya.

Suatu hari, tampak seorang gadis usia SMA sedang menuju sebuah toko di perempatan jalan. Dia bermaksud membeli sesuatu. Seorang pria melangkah ke depan rumah untuk melayaninya. “Mau beli ini, harganya berapa?” tanya si gadis sambil menunjuk sebungkus larutan minuman ringan. “Oh ya sebentar saya tanyakan ke bapak dulu, tunggu,” jawabnya sambil berlalu memasuki rumah. Secara, karena dia bukan pemilik warung itu. Laki-laki tadi kembali sambil menyebutkan harganya. Tak lupa sepotong pertanyaan juga sudah dilantunkannya kepada si pembeli. “Sekarang kelas berapa?” tanya si pria yang tak lain adalah si penjual. “Sudah lulus SMA,” jawab si gadis singkat. Si gadis melangkah pergi setelah membayar, menjauh meninggalkan toko. Dia sempat menoleh, laki-laki itu masih di sana. Memandanginya pergi, sambil tersenyum simpul penuh arti. Ketika hampir membelok ke tikungan si gadis merasa, tatapan mata itu masih di sana, ada di belakang punggungnya.

Melalui perkenalan yang terbilang cukup singkat, si pria memutuskan untuk melamar si gadis pembeli tersebut. Setelah menjalani serangkaian proses ini dan itu, jadilah mereka berdua bertunangan. Sebagai tambahan cerita ini, si gadis dulunya pernah menjadi murid si ayah mertua, ketika duduk di bangku SD. Dan lelaki itu sudah sempat mengenal si wanita, ketika masih kecil. Mengamati gadis kecil itu ketika sedang bersepeda di jalanan dekat rumahnya.

24 minggu semenjak perkenalan itu, tepatnya pada tanggal 09 Juli 2006 ikatan kasih keduanya diresmikan dengan ucapan ijab kabul, yang dipandu oleh penghulu dari KUA, dan masing-masing berhasil mengantongi buku nikah. Ikatan cinta keduanya yang telah membentuk rumah tangga itu, telah bertahan selama 4 tahun, terhitung sejak tanggal 09 Juli 2006 hingga 09 Juli 2010, yang baru saja diperingati oleh mereka berdua, sebagai hari ultah perkawinan.

Tahukan para pembaca sekalian. Bayi laki-laki yang telah tumbuh menjadi pria dewasa tadi, baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-33. Pria itu bernama Sg. Yulianto. Sedangkan si gadis yang berkembang menjadi wanita dewasa dan berstatus istri ini, akan memperingati hari lahirnya pada tanggal 14 Juli 2010. Usianya akan memasuki angka 23. Wanita itu oleh orangtuanya diberi nama Yulinda RY.

Zodiak yang menaungi pasangan ini juga sama yaitu CANCER. Nama mereka berdua juga sesuai dengan bulan dimana mereka lahir, Yulianto dan Yulinda. Teman-teman dekat mereka juga banyak yang mengatakan bahwa wajah mereka ada kemiripan. Dan pernah ada yang sempat mengira bahwa mereka bersaudara. Jodoh memang misteri. Saat keduanya masih dalam kandungan dan terlahir, Allah mempertautkan tali jodoh keduanya, dengan jarak rumah mereka yang hanya 300 meter saja.

Sunday, 4 July 2010

Mendekat Gunung Merapi

Sabtu, 3 Juli 2010. Holiday atau yang biasa kita sebut hari libur, bukan hanya milik anak-anak dan remaja, tapi juga milik kita orang dewasa, termasuk saya. Ini merupakan liburan pasca ujian semester 4 yang baru saja kelar. Pilihan saya jatuh pada sebuah gundukan menjulang yang tak lain adalah gunung, tepatnya Sanng Merapi di mana Mbah Marijan tinggal. Tapi saya tidak sowan alias bertandang ke kediaman beliau. Secara, Mbah Marijan juga sudah turun gunung untuk memenuhi panggilan jadi bintang iklan ROSSA ROSSA (EXTRA JOSS).

Kedua jarum pada jam dinding menunjuk dua angka. Yang pendek menatap angka 11, sedangkan yang panjang menuding angka 12. Bersama suami, kami memacu motor ke kawasan wisata Kaliurang. Jalanan yang kami lalui berkelok-kelok, seperti jalan ular. Semakin mendekati lokasi, jalanan terus menanjak, udara semakin sejuk, sehingga menggodaku untuk melingkarkan tangan di pinggang suami. Tiba-tiba saja lagu “Naik-naik ke Puncak Gunung” singgah di benak saya.

Seperti yang pernah saya alami sebelumnya jika naik ke tempat tinggi. Pada ketinggian tertentu, mendadak kuping kiri saya tersumbat, seperti budeg, tapi tidak 100%, karena saya masih bisa mendengar. Telinga kanan saya menyusul kembarannya, menjadi buntu juga ketika mencapai ketinggian tertentu untuk kedua kalinya. Tapi ini bukan penyakit kronis. Ini sudah biasa terjadi karena perubahan tekanan udara. Udara yang sudah tidak bisa dibilang dingin ini tetap terasa menyergap tubuh dan menyejukkan hati, halah….

Kami berdua tiba di gerbang masuk lokasi, yang mirip dengan pintu masuk jalan tol. Berlakulah hukum jual beli disini, tanpa transaksi. Beli karcis bayar dan masuk. Tarif yang dikenakan berlaku untuk jenis kendaraan, jumlah pengunjung, dan ukuran orang—maksudnya tarif untuk anak-anak dan orang dewasa. Motor membawa kami melewati jalanan yang kembali berliku. Sepanjang jalan berderet wisma, hotel, motel dan segala bentuk penginapan dengan berbagai nama. Selain itu penjual berbagai jenis makanan tampak berbaris di sisi jalan. Hingga akhirnya motor membelok ke taman tempat santai. Setelah memarkir motor pada tempat yang seadanya, kami naik. Pandangan mataku tertumbuk pada menara pandang 3 lantai yang berfungsi sebagai tempat untuk memantau aktivitas merapi. Lantai pertama biasa saja, naik ke lantai 2 dipajang foto-foto pada dinding atas, pada lantai ketiga yang merupakan puncak menara tersedia beberapa kursi panjang. Di lantai inilah para pengunjung sibuk mengambil gambar, mengamati pemandangan dengan binokuler atau keker. Dari lantai atas menara ini disamping tampak pemandangan indah tampak juga sekelompok anak muda yang berkemah. Tapi sayangnya gunung merapi tak bisa diamati karena tertutup awan. Nah, ini dia fotonya:

Setelah dirasa cukup, saya dan suami turun, berjalan-jalan mengitari tempat itu. Meskipun bukan hari libur, tapi para pengunjung yang notabene wisatawan domestik, memenuhi kawasan wisata ini. Banyak tempat duduk yang dibuat di berbagai tempat dengan jarak tertentu, untuk para pengunjung beristirahat. Tempat duduk tersebut terbuat dari semen. Kalau diperhatikan sekilas seperti bentuk nisan, osram….

Kami memilih tempat dan duduk sejenak, melepas lelah dengan mengamati sekitar sambil membaca majalah yang sengaja kami bawa. Taman santai itu banyak ditumbuhi pohon-pohon kecil tapi rindang, dengan ditemani rumput berwarna hijau terang. Sejumlah penjual dapat ditemui setelah menuruni anak tangga dari taman santai. Hanya saja yang sangat menganggu kenyamanan adalah banyaknya sampah yang bertebaran di sana sini. Padahal di karcis sudah tertera himbauan untuk menjaga kebersihan tempat wisata. Bahkan saya sempat menangkap pemandangan yang berupa tumpukan sampah, yang letaknya tak jauh dari tempat sampah yang telah disediakan. Ironis bukan?

Kawasan wisata kaliurang, juga menyediakan layanan tour keliling dengan kendaraan seperti kereta uap. Beberapa kendaraan tersebut melintas sambil membawa sejumlah penumpang dengan suara yang meraung-raung. Asap hitamnya mengepul, menambah pencemaran lingkungan yang seharusnya dijaga keasrian dan kesegaran udaranya.

Langkah kaki kami terus terayun. Mumpung masih di lokasi, waktu kami manfaatkan untuk menjelajah. Tempat selanjutnya yang kami tuju adalah gardu pandang. Fungsinya hampir sama dengan menara pandang, letaknya juga tak jauh dari menara. Kami memanjat pagar gardu pandang dan bergaya bebas dengan beberapa kali jepretan kamera dengan meminta tolong salah satu pengunjung untuk mendokumentasikan aksi kami.

Turun dari pagar, kami mengelilingi taman disekitarnya yang cukup rimbun. Beberapa tulisan di papan kecil yang diberi tiang bertutur “Sayangilah tanaman”. Kembali kami berpose ria dengan sejumlah pohon dan tanaman hijau lainnya. Hari itu kami serasa jadi foto model, dasar narsis,,,, Eh sebentar, syut…mampir dulu ke ayunan ah, sambil mengingat kembali masa-masa TK yang telah lewat.

Ekspedisi kami berlanjut ke Bunker perlindungan darurat yang dibangun untuk tempat bersembunyi dari segala kemungkinan (gunung merapi bisa njeblug sewaktu-waktu). Semoga saja tidak.

Acara liburan itu kami akhiri dengan melewati jalan memutar sebelum turun gunung. Apalagi suamiku melihat perubahan cuaca yang mulai mendung. Sebelum benar-benar meninggalkan kawasan kaliurang kami disapa dengan udang raksasa yang sedang bertengger di atas batu. Udang tersebut tak lain adalah simbol kawasan itu yang berupa bundaran dengan kolam kecil yang dihuni ikan-ikan yang kecil pula. Patung itu menarik perhatian kami untuk berfoto bergantian.

Motor yang membawa kami, turun perlahan, keluar dari pintu gerbang dan melesat terbang ke bawah. Dalam perjalanan pulang, perut kami memberikan sinyal yang kuat, bahwa di pinggir jalan ada jadah dan tempe bacem Mbak Carik dan kopi anget yang perlu dicicipi kelezatannya. Beberapa menit berlalu. Hidangan yang sudah tandas itupun kami tinggalkan dengan membayar harganya. Motor merayap turun dengan pasti. Pukul 14.24 sampailah kami di rumah dengan selamat, sehat wal afiat, tak kekurangan suatu apapun dan yang penting lambung telah terisi makanan dan otak mengalami penyegaran serasa direfresh oleh pengalaman serta sejuknya udara di kaliurang.

Tik…tik…tik…klothak…klothak…bress…. Suara apa itu? Hujan mulai mengguyur, tepat setelah kami masuk rumah. Suamiku tengkyu, berkat instingmu yang kuat, kita tak perlu berbasah ria.

Thursday, 1 July 2010

ORANGTUA VERSUS BADAI INFORMASI

Kon ojok kenthu ndik pos lho yo, timbangane tak bedhil”. “Ampun Boss... ampun Boss”... “Ampun ampun maaatamu!” umpat Sandy pada si Keceng yang ketahuan main esek-esek di Pos Jaga setempat. Itulah sepenggal acting menggemaskan yang ditampilkan seorang anak di bawah umur, dimana dia berperan ganda baik sebagai si Boss dan si Keceng.

Kita tentu masih ingat dengan berita dan video yang sempat beredar di internet beberapa waktu yang lalu. Kita tidak akan mengira kalau kata-kata kasar itu meluncur dari mulut seorang balita berusia 4 tahun, yang tinggal di sebuah kota di Jawa Timur. Bahkan si anak ini mampu memperagakan adegan seks dan hafal nama beberapa tempat pelacuran setempat. Tidak hanya itu. Dia juga bisa memberikan penilaian terhadap 'kelas' dari pelacuran tersebut. Lebih jauh lagi, si anak juga telah fasih mengucapkan sejumlah kata-kata kotor, dan umpatan-umpatan khas Jawa Timur. Lihat saja bagaimana si anak tersebut mampu bertingkah dan berkata-kata layaknya orang dewasa, seperti caranya memegang, menghisap dan menghembuskan rokok. Konyolnya, adegan si anak dianggap sebagai hiburan oleh orang dewasa.
***
Seorang teman pernah bercerita kepada saya mengenai tetangganya, berikut petikan kisahnya:

Rudi adalah seorang bocah yang baru saja berusia 4 tahun dan duduk di bangku TK. Dia tinggal bersama ayah dan ibunya. Ibunya yang bekerja sebagai karyawan di sebuah pusat perbelanjaan, sering meninggalkan Rudi bersama ayahnya, karena jam kerjanya berlangsung dari pagi hingga sore hari. Kebetulan sang ayah juga tak bekerja, sehingga praktis ibunyalah yang akhirnya menjadi tulang punggung keluarga. Kehidupan Rudi sehari-harinya berlangsung biasa saja. Dia termasuk anak yang lucu dan periang.

Setiap pagi, sambil berangkat ke tempat kerja, ibunya mengantar Rudi ke sekolah. Siangnya giliran sang ayah yang menjemput. Setelah pulang dari sekolah, kegiatan Rudi biasanya bermain di rumah, kadang juga bermain bersama dengan tetangganya. Sebagian besar waktunya dihabiskan bersama ayah daripada ibunya.

Sampai pada suatu hari, si anak tersebut memergoki sang ayah yang sedang menonton film biru alias film porno. Melihat ayahnya yang keasyikan menonton, membuat Rudi menjadi penasaran dan ikut menyaksikan adegan dalam film itu. Sang ayah tak tahu kalau kegiatan tersebut dapat berpengaruh buruk terhadap Rudi. Yang dia tahu adalah yang penting si kecil diam, menurut, dan tidak rewel. Kegiatan tersebut berlangsung hampir beberapa minggu.

Tidak seperti biasanya, sepulang sekolah Rudi menangis, merengek kepada sang ayah. Ternyata permintaan anak tidak bisa dibilang sepele. Tanpa disangka si anak minta diputarkan film biru yang biasa dia tonton bersama si ayah. Kontan saja hal ini mengundang keterkejutan ayahnya. Hasil akhirnya sungguh mencengangkan. Apabila dalam satu hari saja si Rudi tidak menonton film tersebut, dia akan menangis dan merengek-rengek. Sungguh kasihan sekali. Entah apa yang dirasakan Rudi dengan melihat film porno tersebut.
***
Cerita lain yang menghebohkan, saya dapat ketika saya di SMA. Begini kisahnya:

Saat jam istirahat berlangsung sejumlah teman saya perempuan dan laki-laki tampak bergerombol di salah satu tempat duduk barisan depan di ruang kelas. Beberapa dari mereka tampak meringsek maju. “Eh aku mau lihat, eh aku minta gambarnya dikirim ke hpku”, kata salah seorang dari mereka. Seusainya mereka menonton video tersebut seorang teman perempuan saya mengaku, bahwa dia menjadi terobsesi dan ingin sekali mencobanya. Ternyata yang ingin dia coba praktekkan adalah, adegan hubungan seksual yang baru saja dia lihat beramai-ramai.
***
Dari cuplikan kisah nyata yang ada di atas tadi, meskipun belum tentu mewakili keseluruhan situasi yang sesungguhnya, kita jadi lebih tahu seperti apa perkembangan moral generasi kita.

Moral sendiri tidak hanya mengacu pada hal yang berhubungan dengan pornografi saja, akan tetapi juga mencakup tentang etika, etiket dan budaya. Etika adalah pemikiran kritis terhadap ajaran-ajaran moral. Etiket adalah sopan santun. Budaya bisa diartikan sebagai kebiasaan hidup.

Tayangan pornografi, menyebabkan remaja terdorong untuk mencoba karena ingin tahu rasanya, sedangkan anak-anak akan berkesplorasi karena rasa ingin tahunya yang begitu besar.

Lantas, siapa yang bertanggung jawab terhadap pembentukan moral mereka dan usaha apa yang perlu dilakukan? Disini jelas sekali bahwa teknologi dan lingkungan keluarga sangat besar pengaruhnya. Teknologi tidak dapat dilawan, dicegah, dan ditolak. Karena, dia juga anak kandung peradaban, yang juga bermanfaat. Dalam hal ini orangtua perlu membekali anak dengan menanamkan pendidikan moral dan seks sejak dini kepada anak. Pendidikan moral dapat diberikan melalui dongeng dan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari. Melalui proses pembiasaan untuk bersikap dan bertindak sesuai dengan norma dan budaya. Orang-tua dan mereka yang lebih dewasa harus menjadi teladan yang baik bagi anak. Karena moral merupakan pedoman untuk mengikat perilaku manusia agar tetap berada dalam koridor norma susila dan kesantunan yang disepakati.

Sedangkan untuk pendidikan seks, dapat diberikan sesuai dengan usia dan tingkat pemahaman anak. Untuk anak usia dini misalnya, pendidikan seks dapat dilakukan dengan memperkenalkan ciri-ciri fisik antara laki-laki dan perempuan. Mengenalkan toilet training, seperti buang air pada tempatnya dan cara membersihkan alat vital sendiri, agar tidak sembarang orang membersihkannya. Untuk anak remaja pendidikan seks yang dapat diberikan adalah tentang kesehatan organ reproduksi. Tak ada salahnya disertai dengan dampak yang dapat ditimbulkan apabila melakukan pelanggaran terhadap kaidah norma, misalnya, berpacaran tidak sehat, dan melakukan hubungan intim pranikah. Lalu bagaimana menurut pendapat teman-teman?

Note: Cerita ini dalam rangka partisipasi untuk meramaikan kolaborasi postingan tentang "Moralitas dan Budaya", yang dipelopori oleh blog "TRIMATRA"

Saturday, 12 June 2010

KETIKA ANAK BERCITA-CITA (BAGIAN 2)

“Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa,” itulah sebutan orang untuk profesi ini. Akan tetapi ternyata tak semua orang bermimpi untuk jadi guru. Profesi ini bisa disebut sebagai sebuah panggilan hati, itu juga kata orang. Banyak orang bercita-cita ingin jadi seorang insinyur, dokter, tentara, pilot dan masih banyak lagi. Begitupun dengan anak-anak, seperti yang sudah saya ceritakan di episode sebelumnya. Sebagian besar profesi yang dipilih anak-anak merupakan fotokopi dari orangtua. Ada yang ingin menjadi polwan seperti ibunya. Ada yang bercita-cita menjadi pegawai bank, karena ayah dan ibunya bekerja bank. Bahkan ada yang ingin sekali menjadi dokter anak, karena ayahnya juga seorang dokter spesialis anak. Namun tidak semuanya sama. Ada anak yang cita-citanya ingin sekali jadi nahkoda karena obsesinya yang begitu besar pada kapal laut. Ada yang ingin jadi pilot karena mainan kesukaannya adalah pesawat.

Berdasarkan pengalaman saya selama 2 tahun menjadi guru di kelas Kelompok Bermain, bersama dengan 2 rekan saya, kami bertiga telah mensurvei, atau lebih tepatnya dikatakan menanyai anak-anak didik kami satu persatu tentang cita-cita mereka. Hasil yang kami dapat agak sedikit mencengangkan, dari 58 murid (2 kali tahun ajaran baru), tidak ada satupun yang ingin jadi guru. Sungguh agak sedikit memprihatinkan, karena profesi ini kurang diminati anak-anak. Kalaupun ada hanya 4- 5 orang saja dari 5 kelas dengan jumlah total anak 150 orang (mencakup kelas TK). Dari 150 murid kelas Kelompok Bermain dan TK hanya 5 orang yang bercita-cita jadi guru. Itupun semuanya dari kelas TK, yang dari Kelompok Bermain tidak ada.

Menjelang berakhirnya perang dunia ke-II, waktu itu kota Hirosima dan Nagasaki luluh lantah dihantam bom atom Pasukan Sekutu. Lalu apa hubungannya antara perang dengan cita-cita menjadi guru? Saat kejadian tersebut dilaporkan pada pimpinan Jepang, sang pimpinan bertanya “Berapa orang guru yang tersisa?” Kenapa yang ditanyakan bukan jumlah tentara yang berperang?

Kalau menurut saya, jawabannya adalah karena pendidikan merupakan tonggak untuk membangun bangsa, dalam artian mencerdaskan kehidupan bangsa. Karena maju tidaknya suatu bangsa itu dilihat dari segi pendidikannya. Kalau dirunut lebih dalam, semuanya memang berasal dari guru. Pilot, dokter, tentara, polisi, insinyur dan lain sebagainya semuanya dididik oleh guru. Bisa dikatakan semua profesi yang ada, dilahirkan oleh guru.

Setelah semua anak ditanyai satu persatu, teman saya berkata, “Nak nggak ada yang mau menjadi guru?” Akan tetapi jawaban yang didapat teman saya hanya tatapan anak-anak yang melongo memandangi teman saya. Mungkin saja, orangtua juga tidak ada yang mengarahkan anaknya jadi guru. Barangkali mereka juga berpikir, gaji seorang guru tidaklah besar, sehingga mereka mengharapkan anaknya untuk memilih profesi yang bergaji tinggi.

Oleh karena itulah menjadi seorang guru kalau dikatakan orang sebagai panggilan hati memang benar adanya. Karena butuh keikhlasan yang sangat tinggi untuk menjadi seorang pendidik. Selain itu tanggung jawab yang dipikul juga berat, yakni harus mampu melahirkan generasi penerus bangsa yang handal. Dulu awalnya saya sendiri tidak bercita-cita menjadi guru. Tapi begitu saya menginjak kelas 2 SMP hingga kelas 2 SMA saya berniat jadi guru. Bagi saya pribadi guru ibarat orangtua kedua bagi peserta didik. Guru juga bisa jadi sahabat anak didiknya. Yang saya rasakan selama menjadi guru adalah adanya ikatan batin antara saya dengan anak-anak.

Foto: www.geogaul.wordpress.com

Sunday, 9 May 2010

KETIKA ANAK BERCITA-CITA (BAGIAN I)

Kenaikan kelas sebentar lagi akan tiba. Seperti yang terjadi di sebuah sekolah, di tempat saya mengajar. Tepatnya di kelas kelompok bermain yang penghuninya berusia sekitar 3-4 tahun. Seperti kebiasaan tahun-tahun sebelumnya. Guru mendokumentasikan cita-cita anak. Mulailah guru menanyai anak satu persatu. Ada yang ingin jadi pilot, tentara, pembalap, dokter, pegawai bank, dan masih banyak lagi. Berikut salah satu petikan percakapannya:
Guru: “Arif, besok kalau sudah besar mau jadi apa?”
Arif: “Mau jadi polisi”.
Guru: “Kalau Dela ingin jadi apa?”
Dela: “Pengen jadi polisi juga”.
Guru: “ Kalau Nisa, besok pengen jadi apa?”
Nisa: “Polisi”.
Guru: “Selain polisi apa?”
Nisa tampak berpikir sejenak lalu menjawab dengan datar dan polos.
Nisa: “Tukang parkir”.

Mendengar hal itu serentak para guru langsung tertawa terbahak, terutama saya, karena tidak menyangka akan mendapatkan jawaban yang tidak terduga dari anak.

Tapi yang perlu dicermati oleh pembaca sekalian adalah ini bukan merupakan bentuk pengulangan atau jawaban anak yang ikut-ikutan temannya.

Kalau dicermati lebih dalam jawaban Nisa memang lucu dan cerdas. Dia mencari jenis pekerjaan yang hampir mirip dengan polisi, yaitu berseragam dan menyemprit. Ya, itulah kesamaan antara polisi dengan tukang parkir.

Selain itu ada juga anak yang bercita-cita jadi princess, karena menganggap princess itu hidupnya akan bahagia, di istana dan kaya raya, seperti yang mereka saksikan di film televisi dan mereka lihat di buku. Wajah yang cantik, baju yang berwarna-warni itulah yang menjadi keinginan anak.

Ada juga yang bercita-cita menjadi mickymouse. Ketika ditanya alasannya si anak menjawab, karena micky punya telinga yang bagus, besar, dan lebar. Kwak..kak..kak..kak….

Ada juga yang ingin jadi power rangers, spiderman, dan ultraman. Itu karena mereka terpengaruh dengan aksi superhero idola mereka di film.

Ada-ada saja ketika anak menyebutkan sesuatu yang menjadi keinginannya atau cita-citanya. Selalu tidak terduga, cerdas, dan penuh kelucuan serta mengandung unsur imajinasi.

Sunday, 28 March 2010

IMPIAN SEORANG ANAK JALANAN

Oleh Yulinda Rohedy Yoshoawini

Sudah dua minggu swalayan itu mulai beroperasi. Swalayan yang mewah itu, berdiri strategis di ujung perempatan jalan. Tak sembarang orang bisa memasukinya, hanya yang berduitlah yang bisa leluasa keluar masuk. Ditambah dengan adanya satpam yang berwajah kaku, berkumis tebal bertampang galak. Apalagi bagi Danang, itu hanya akan jadi angan-angan.

Danang, salah satu anak yang mengalami putus sekolah. Usianya baru sepuluh tahun. Di daerah itu banyak anak-anak yang tak bisa mengenyam bangku pendidikan karena latar belakang ekonomi orang tua yang semakin memburuk. Sebagian besar dari mereka bekerja sebagai pengojek payung, ada juga yang jadi pemulung, pengamen jalanan, bahkan pedagang asongan. Sekadar untuk membantu orang tua mencari sesuap nasi.

“Nang, karena sekarang lagi musim hujan bagaimana kalau kita mencoba mengojek payung untuk pengunjung swalayan,” ajak Bakri teman sekampungnya.

“Aku tidak yakin bisa laku, karena parkir mobil mereka terletak berdekatan dengan swalayan. Apalagi sekarang sudah banyak orang yang sedia payung sebelum hujan,” jawab Danang. “Tapi kita masih bisa menawarkannya pada pejalan kaki yang tak bawa paying,” kata Bakri tetap penuh semangat. Akhirnya Danang setuju untuk menjalankan usulan Bakri. Tapi ternyata kurang membawa hasil. Para pengunjung kadang menolak untuk dipayungi menuju ke mobilnya.

***

“Kamu coba untuk berjualan rokok dan makanan kecil di teras swalayan, pasti laku keras karena swalayan itu tempat dimana orang-orang bermobil datang,” kata Ibu memberi masukan. “Tapi Danang takut bu, sama Satpam yang jaga pintu masuk,” sergah Danang. “Tak apa-apa kalau kamu sudah meminta ijin terlebih dahulu”, bujuk sang ibu. “Kalau tidak diijinkan bagaimana?” tanya Danang. “Ya sudah, kamu bisa berjualan di tempat lain,” tutur ibunya. “Besok ibu buatkan penganan dan makanan kecil lain untuk kau jual,” kata ibu.

Dua hari kemudian, Danang dengan ditemani Bakri, sudah menggelar dan menata barang dagangan di teras toko. Tak lama kemudian Satpam yang biasa bertugas datang. “Maaf adik-adik, dilarang untuk berjualan di sini, karena bisa mengganggu kenyamanan pengunjung,” jelas Pak Satpam. “Tapi pak, kami hanya ijin memakai teras ini untuk berjualan,” sahut Bakri dengan memelas. “Dik teras ini merupakan jalan untuk lalu lalang orang-orang,” kata Si Satpam lagi. Akhirnya mereka mengalah dan membereskan barang dagangan, untuk mencari tempat yang baru. Sambil membereskan barang dagangan, secara tak sengaja Danang melirik ke arah dalam ruangan swalayan yang dibatasi kaca itu. Dalam hati ia merasa takjub dengan isi yang ada di dalamnya, yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Lantai yang putih bersih, barang dagangan, beberapa makanan pokok yang dijual tertata rapi di atas rak, dan…

“Bakri, tahu nggak saat di swalayan tadi aku sempat melihat kedalam, ternyata bagus dan kelihatan nyaman,” cerita Danang pada Bakri. “Sudah ah sekarang yang terpenting kita cari tempat lain untuk berjualan,” jawab Bakri. Dalam hati timbul keinginan Danang untuk bisa masuk ke dalam swalayan tersebut. Danang terus memutar otak untuk mencari cara. Tapi dia tak kunjung menemukannya.

Siang itu, tanpa disadari entah bagaimana caranya tiba-tiba saja Danang sudah berada di antara orang-orang yang sedang berbelanja di Swalayan elit itu. “Kenapa aku bisa berada disini,” gumam Danang. Dia mulai menjelajah setiap lorong demi lorong yang disekat oleh rak setinggi atap. Di bagian makanan ada mi instan, gula, kecap, minyak goreng , tepung terigu, garam dan masih banyak lagi kebutuhan dapur yang lain.

“Ibu pasti senang, kalau kubawakan sedikit,” ucap Danang dengan mata berbinar. “Tapi mana mungkin, aku tak punya cukup uang,” kata Danang sesaat kemudian dengan raut muka sedih. Di bagian rak lain ada baju dan sepatu cantik yang dipajang satu-satu. Danang teringat akan adiknya di rumah, namun ketika melihat harga yang tertera dia hanya bisa menelan ludah. Tak ada habisnya Danang mengagumi bangunan megah itu. Apapun yang ada di dalamnya selalu dia raba dan diamatinya. Karena terlalu gembira dan sibuk memegangi benda-benda sekaligus bercampur heran, Danang kurang hati-hati dan tiba-tiba saja, “Bruk! Aduuh!,” keduanya mengaduh. Ternyata dia bertabrakan dengan seorang ibu paruh baya. “Maaf bu, saya tidak sengaja,” ucap Danang sambil membantu memunguti belanjaan ibu itu yang jatuh dari keranjang. “Nggak apa-apa kok dik,” jawab Si ibu. Kemudian Si Ibu-pun berlalu. Puas berjalan-jalan, Danang merasa ingin segera pulang. Dia tidak ingin membuat ibunya di rumah merasa cemas. Danang kebingungan mencari pintu keluar. Ia lalu bertanya pada petugas yang ada disitu. “Oh adik lewat kasir aja, yang sebelah sana,” kata Si Petugas menerangkan. Danang berjalan kearah yang dimaksud. Saat itu di kasir tengah terjadi keributan.

“Dompet saya hilang pak,” kata seorang perempuan yang tak lain adalah Ibu yang tadi bertabrakan dengan Danang. Ketika Si Ibu menoleh dan melihat Danang, dia langsung berseru, “Itu pak Satpam anaknya, tidak salah lagi dia yang menabrak saya sambil mencuri. Saya yakin, bawa saja dia, pencuri sekarang memang pintar! Strateginya sambil menubruk orang”. Danang yang tidak mengerti apa-apa hanya melongo ketika dibawa Satpam untuk diinterogasi. “Kamu yang mencuri dompet ibu itu, sekarang kembalikan, atau saya laporkan ke Polisi,” ancam Si Satpam. “Lho Pak saya tidak salah, saya bukan pencuri,” kata Danang membela diri. “Kalau tidak mau mengaku, baiklah ayo ikut Bapak ke kantor Polisi,” kata Satpam sambil menggandeng paksa Danang. “Jangan pak, saya tidak mencuri, sungguh,” kata Danang terus meronta berusaha melepaskan diri. Tiba-tiba, “Pak lepaskan dia, dompet saya sudah ketemu,” seru Si Ibu.

Akhirnya Si Ibu dan Pak Satpam langsung meminta maaf telah menuduh Danang. Dompet itu ditemukan petugas terjatuh di bawah rak makanan. “Untuk menebus kesalahan, terimalah ini,” kata Si Ibu sambil memberikan selembar uang pecahan Lima Puluh Ribuan pada Danang. Danang hanya bisa menatap tak percaya pada uang yang disodorkan padanya. “Tidak usah ragu, kau harus mau menerimanya,” lanjut Si Ibu itu. Danang menerima uang itu dengan tangan gemetar. Tiba-tiba dia merasa pipinya sedikit sakit.

“Lima Puluh Ribuuuu,” sebut Danang hingga ia terbangun. Ketika dia membuka mata dia mendapati adiknya, Dodik mencubit pipinya yang sedang tertidur pulas, sambil beseru, “Kak ayo cepat bangun. Kakak mengigau ya, memangnya mimpi apa?” tanya Dodik. Danang hanya menggeleng pelan. Lambat-lambat baru disadarinya, dia sedang bermimpi.

Cernak ini dimuat Harian SUARA MERDEKA, edisi Minggu 28 Maret 2010. Ilustrasi: Kakjo, SUARA MERDEKA

Tuesday, 9 February 2010

ADA APA DENGAN KUPU-KUPU SURGA?

ANAK-anak dijuluki dengan sebutan kupu-kupu surga karena kelucuan dan kepolosan mereka. Suatu hari di dalam kelas, saat pembelajaran berlangsung, salah seorang murid bernama Arif sedang berbagi cerita dengan teman sekelasnya dan bu guru. Setelah berdiri, memberi salam dan dipersilahkan, si anak mulai bercerita. Berikut cuplikannya.

Bu guru : “Arif mau bercerita apa?”

Arif : “Mau cerita kereta”.

Bu guru : “Ada apa dengan kereta?”

Arif : “Kemarin aku naik kereta api”.

Bu guru : “Ooo…naik kereta api. Memangnya pergi kemana kok naik kereta api?”

Arif : “Ke stasiun”.

Serentak kami bertiga langsung tertawa. Padahal maksud pertanyaan Bu guru adalah kota tempat tujuan. Tapi jawaban si anak memang tidak bisa disalahkan 100%. Karena ada benarnya juga kalau naik kereta api ya pergi ke stasiun, hehe….

Masih tentang Arif dan juga ceritanya. Berikut petikan kisahnya.
Arif : “Mau cerita Thomas”. (tokoh kartun yang diperankan oleh sebuah kereta bernama Thomas)

Bu Guru : “Thomasnya lagi ngapain?”

Arif : “Thomasnya lagi jalan”.

Bu Guru : “Lihat Kereta Thomas dimana?”

Arif : “Di TV”.

Bu Guru : “Di TV pas jalan Thomasnya lihat apa saja?”

Arif : “Di TV”.

Bu Guru : “Iya Thomasnya lihat apa saja pas jalan?”

Beberapa kali teman saya menanyakan apa saja yang dilihat Thomas selama perjalanannya, tetapi Arif tetap menjawab di TV. Sampai akhirnya dia berkata begini.

Arif : “Wong aku lihat Thomasnya di TV kok…”

Disini tampak telah terjadi miss komunikasi antara Guru dengan anak. Mungkin saja Arif juga merasa jengkel, kenapa bu Guru tak juga mengerti isi ceritanya. Padahal dia yang belum paham pertanyaan yang diberikan oleh guru. Kejadian itu selalu menyisakan senyum.

Kali ini ketika berdoa. Saat sedang berdoa bersama sambil mengangkat kedua tangan, Arif menatap tangan saya tepatnya kuku saya yang memang berwarna merah, karena saya beri daun pacar sebagai pemerah kuku alami. Karena melihat kuku saya, konsentrasi berdoanya pun buyar. Buru-buru dengan gerakan sigap saya melipat atau menekuk jari sehingga kuku saya tak terlihat. Tapi tanpa diduga dengan gerakan sigap pula dia ikut-ikutan melakukan hal serupa. Saya hanya bisa menahan tawa. Dia pikir gerakan saya adalah contoh yang harus diikuti.

Maka, tak heran bila mereka dijuluki kupu-kupu surga, karena segala yang ada pada mereka dan semua yang mereka lakukan tetap terlihat lucu dan menggelikan. Baik ketika mereka tertawa, maupun saat menangis. Baik ketika mereka ramah maupun saat marah. Baik ketika mereka terjaga, maupun saat tertidur lelap. Baik ketika mereka sedih, maupun saat senang atau gembira. Dan masih banyak lagi. Sebagian besar tak ada yang menjengkelkan. Karena itulah kehadiran mereka sangat dinanti orangtua. Tanpa adanya anak-anak, maka kehidupan ini akan terasa hambar. Dan anak tidak hanya membawa keriangan yang penuh warna, tapi juga membawa berkah sejak dia dilahirkan ke dunia. Dunia anak, dunia yang kaya akan warna ceria, dimana orang akan selalu merasa bersukaria. Bisa dikatakan anak adalah pelipur lara bagi rasa duka.

Ilustrasi: DevianArt.

Saturday, 30 January 2010

KISAH ANAK-ANAK DARI SLB (BAGIAN-1)

Kisah ini bermula dari kegiatan bakti sosial yang dilakukan sekolah, dimana saya mengajar. Kami berkunjung ke sebuah panti asuhan, barangkali tepatnya Sekolah Luar Biasa (SLB), yang ada di daerah Sleman Yogyakarta. Bila baru melihat dari tampilan fisik luarnya, barangkali siapapun tak akan mengira kalau sekolah ini diperuntukan bagi anak-anak berkebutuhan khusus—kurang beruntung dari sisi perkembangan mental.

Profile depannya seperti sekolah taman kanak-kanak kebanyakan, walau bangunan dan halamannya hanya ala kadarnya. Fasilitas permainan yang tersedia, waktu itu, hanyalah prosotan atau papan luncur sederhana yang terbuat dari semen, juga sebuah bola dunia kerangka pipa besi. Gedungnya terdiri dari tiga ruang utama, ditambah sebuah ruang guru atau kantor dan dua ruang kelas. Di setiap ruang kelas berjajar sejumlah bangku dan kursi. Bangunan itu memang sudah agak tua.

Yang lebih memprihatinkan adalah keadaan anak-anak didiknya. Salah seorang pengajar menuturkan bahwa beberapa kali, di pagi hari ada beberapa orangtua yang mengantarkan anaknya datang ke sekolah tersebut. Namun, ketika tiba waktu pulang, si orangtua yang bersangkutan tak kunjung datang untuk menjemputnya, hingga sekarang. Sehingga menjadi tanggungan pihak sekolah 100%. Dari situ dapat diambil kesimpulan bahwa anak itu memang tidak diharapkan kehadirannya dengan kelainan yang dideritanya.

* * *
Ini merupakan kunjungan pertama kami. Beberapa diantara mereka kelihatan asyik dan gembira, karena kami berkunjung bersama anak-anak. Mungkin mereka merasa senang mendapatkan teman baru. Ada yang bersikap biasa-biasa saja, seperti tak terjadi apa-apa. Yang merasa takut justru adalah beberapa anak didik kami. Ada yang minta gendong, menagis dan tidak mau masuk ke ruangan. Bahkan ada yang sudah sampai di dalam tidak mau melepaskan pegangan pada baju bu guru, merengek-rengek dan minta pulang.

Diantara anak-anak penghuni sekolah itu hanya beberapa saja yang sekolah sampai tengah hari. Sebagian besar dari mereka sekolah asrama, karena mereka tidak punya orangtua, dan ada yang memang sengaja ditinggalkan orangtuanya disitu. Menurut keterang seorang staf, lembaga sosial tersebut menangani anak autis, mentally retarded, dan penderita kelainan lainnya.

Memandangi mereka sungguh mengiris hati. Seorang anak bertubuh besar sedang menghadap jendela, dengan aktivitas menampar mulutnya sendiri. Hal itu dilakukan berulang-ulang. Ada yang duduk diam dengan melipat kaki sambil memandang tak mengerti ke arah kami. Ada yang memegang-megang salah seorang anak didik kami, sambil tersenyum. Dan bila dilarang dengan diangkat gurunya maka akan berteriak-teriak. Si anak tadi bahkan ikut berbaur bersama dengan duduk di barisan kami. Mungkin saja dia bermaksud menyapa anak-anak kami. Tapi murid-murid saya malah ketakutan. Kepada mereka saya katakana tidak apa-apa mereka juga temannya anak-anak, sambil saya minta untuk berjabat tangan.

Kegiatan yang diawali dengan salam perkenalan dan sambutan dari masing-masing perwakilan kepala sekolah, diakhiri dengan memberikan bantuan yang bersifat simbolis dari kepala sekolah kami ke kepala sekolah yang bersangkutan. Sedangkan anak-anak memberikan bingkisan kepada setiap murid sekolah tersebut.

Inti tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memberikan pemahaman kepada anak-anak tentang pentingnya berbagi, kepada siapa berbagi, mengapa harus berbagi, dan seterusnya, yang telah disampaikan guru kelas pada anak sebelumnya. Dengan demikian diharapkan tingkat kepedulian anak-anak terhadap sesamanya akan terasah.

Anak-anak adalah titipan Tuhan yang harus dijaga dan dirawat dengan sebaik-baiknya. Saya pribadi tidak habis pikir bagaimana bisa ada orangtua yang tega meninggalkan anak-anaknya dengan kondisi demikian. Padahal Tuhan tak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan umatnya. Dan setiap cobaan yang diujikan Tuhan pasti ada hikmahnya. Merawat anak-anak terlantar dengan kelainan yang mereka derita sungguh membutuhkan kesabaran dan ketekunan yang luar biasa, serta tingkat keikhlasan yang tinggi dari para pendidik. Tidak semua pendidik dan tidak semua orang mau dan mampu merawat anak berkebutuhan khusus demikian. Saya pribadi salut dengan para pendidik yang ada di sekolah tersebut yang telah dengan tulus mendedikasikan seluruh kemampuannya dalam merawat anak-anak tersebut. Tuhan pasti melipatgandakan kebaikan untuk mereka semua, amen.

Wednesday, 6 January 2010

Berbagi Demi Kemajuan

Selama ini yang kita tahu, kita belajar pada orang yang dianggap mampu dan bisa. Dalam hal ini adalah orang yang diidentikkan dengan individu yang berusia lebih tua dari kita, dan yang lebih pintar, yang bergelar, yang kaya dan sebagainya. Bila ditinjau dari segi umur, gelar, dan tingkat pengetahuan, bisa kita contohkan, seorang murid yang belajar pada guru di sebuah sekolah. Hal yang diajarkan adalah seputar pengetahuan yang harus dimengerti dan dipahami oleh anak, yang disertai dengan proses transfer ilmu. Selain itu tuntutan yang diharapkan guru adalah target nilai yang harus dicapai anak untuk semua mata pelajaran. Sehingga menjadikan anak tidak profesional di bidang yang sesuai dengan minatnya. Itulah yang menyebabkan potensi anak tidak tergali secara maksimal, dan sayang karena kesempatan itu telah terlewatkan. Dan target nilai tersebut dijadikan tolok ukur tingkat kecerdasan anak. Padahal anak yang mendapat nilai jelek di mata pelajaran tertentu belum tentu bodoh dan jelek di mata pelajaran lain. Karena setiap orang mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing yang perlu untuk dipahami, diterima, dan dihargai.

Hal lain yang kadang terjadi dalam dunia persekolahan adalah pengekangan yang tercermin dalam aturan-aturan yang membatasi kreatifitas siswa dalam mengekspresikan dirinya. Hubungannya dengan belajar adalah proses pembelajaran yang berlangsung secara “Teacher Centered”, dimana guru bertindak sebagai pusat kegiatan belajar mengajar atau dengan kata lain pembelajaran yang terpusat pada guru. Model seperti ini yang menyebabkan anak atau siswa menjadi pasif, karena hanya berperan sebagai pendengar, mungkin hal itu pula yang menyebabkan orang Indonesia tidak pintar berdebat, dan hanya orang-orang tertentu yang bisa melakukannya.

Untuk mencetak generasi yang cakap dalam berbicara, pembelajaran yang perlu diterapkan adalah “Student Centered”, pembelajaran yang terpusat pada siswa atau model pembelajaran yang merupakan perpaduan antara keduanya, yakni “Teacher Centered” dengan “Student Centered”, sehingga guru dan siswa mempunyai porsi yang seimbang dalam mengembangkan dirinya. Yang dimaksudkan dengan pembelajaran yang terpusat pada siswa adalah siswa yang berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran, selebihnya guru hanya bertindak sebagai fasilitator.

Pernahkah kita merasa bahwa kita masih perlu belajar? Khususnya belajar pada orang yang lebih muda dari kita. Seperti kejadian yang pernah saya alami, sebagai seorang pendidik. Peristiwa ini seolah membuka mata hati saya. Kalau selama ini siswa yang belajar pada guru, bagaimana kalau guru yang belajar pada siswa? Apabila kita tidak mengkaji kalimat ini, pertanyaan yang akan terlontar dapat diperkirakan akan berbunyi “Bagaimana bisa guru belajar pada muridnya?”

Peristiwa itu saya alami ketika proses pembelajaran berlangsung. Saat itu salah seorang murid perempuan yang masih berusia 3 tahun dan duduk di tingkat Kelompok Bermain, bermain maze bersama teman sekelasnya. Maze adalah jenis permainan mencari jejak dengan jalan yang telah tersedia. Biasanya kami para guru, telah menyiapkan lembar kerja yang berisi gambar permainan maze. Atau membuat jalan dari tali, atau membuat jalan dengan menempel kertas dengan bentuk dan warna yang bervariasi pada lantai untuk dilewati anak. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk melatih dan megasah kemampuan kognitif (daya pikir/daya nalar) anak dalam menghadapi dan memecahkan suatu persoalan. Tapi yang terjadi dalam pengamatan saya berbeda. Murid perempuan saya ini tadi, menata dan mengatur kursi dengan arah secara acak. Hasilnya sungguh mengagumkan yaitu sebuah maze atau jalan berliku dengan bentuk tiga dimensi yang lebih terlihat nyata. Dia mampu membuat maze dengan kreasinya sendiri tanpa bantuan dari guru dan teman-temannya.

Padahal salah satu aturan yang ada di sekolah tempat saya bekerja adalah anak didik dilarang menaiki atau memanjat apapun dengan alasan keselamatan anak. Saat saya mengetahui anak tersebut menaiki dan berjalan di maze hasil buatannya, saya sengaja tidak melarangnya. Dan betul saja, teman sebayanya yang lain ikut naik dan gembira dengan permainan model baru hasil temuan teman mereka. Dari hal itu saya baru percaya dan menyadari bahwa larangan adalah salah satu penyebab atau penghambat kreativitas anak. Seandainya saya telah melarang murid saya menggeser untuk merubah letak kursi-kursi tersebut, mungkin maze model baru itu tidak akan pernah tercipta. Dan kalau saya melarang anak menaiki kursi, maka dia tidak akan pernah mendapatkan kesempatan untuk mencoba. Dan dari peristiwa itu pula saya memahami bahwa anak perlu diberi kebebasan maksimal untuk bereksplorasi dan berkarya, tetapi sesuai batas-batas tertentu. Selain itu saya pribadi merasa mendapatkan pembelajaran dan belajar dari anak didik saya, untuk mengembangkan permainan yang lebih bervariasi, walaupun secara tidak langsung dan anak tidak bermaksud mengajari saya.

Itulah perbedaan pembelajaran dan belajar dari guru dan dari anak. Bisa dikatakan, anak tidak menuntut apapun dari kita atas pembelajaran yang telah kita dapatkan dari mereka. Yang mereka minta bukan nilai kita, seperti yang diminta para guru kita terdahulu, tapi pengetian kita terhadap mereka akan kebebasan dalam berkreasi dan bereksplorasi. Dan yang paling penting, proses belajar dan pembelajaran tidak harus selalu dari seorang guru, tetapi bisa dari banyak hal. Hal-hal tersebut antara lain, belajar dari pengalaman, karena pengalaman adalah guru terbaik kita. Belajar dari alam melalui pengamatan kita, agar kita lebih peka akan keadaan lingkungan. Belajar dari orangtua karena orangtua adalah guru pertama kita. Belajar dari orang lain, misal melalui diskusi yang dapat mengasah kemampuan berbicara. Belajar dari buku yang merupakan jendela dunia yang dapat membuka dan memperluas wawasan kita. Juga belajar dari anak dan belajar dari diri kita dalam rangka untuk mengerti dan memahami diri kita sendiri, serta masih banyak lagi.

Dengan begitu selain anak melakukan praktek langsung, saya pribadi menjadi mengerti bahwa belajar itu bisa dari berbagai sumber. Bahkan apa yang ada pada diri kita pun dapat kita pelajari. Dengan demikian, saya pribadi dapat berkaca bahwa sebagai seorang pendidik tidak bijak menganggap diri kita tahu segala hal dibanding orang lain dan merasa lebih pintar dibanding yang lainnya. Karena di atas pintar masih ada yang lebih pintar yaitu Sang Pencipta. Kemudian, yang perlu saya cermati secara pribadi adalah bahwa pembelajaran dan belajar antara guru dan anak berlangsung secara take and give, saling memberi dan menerima. Dan tidak ada yang lebih indah selain kesadaran kita untuk saling berbagi dalam kebersamaan.

Note: Foto dimodifikasi dari La Canada Child.