Friday, 25 December 2009

PENDIDIKAN SEKS UNTUK ANAK USIA DINI

Suatu hari seorang teman pernah bercerita pada saya tentang anaknya. Seperti yang kita tahu, anak-anak terkenal dengan kepolosan, kelucuan dan keterkejutan. Untuk yang satu ini para pembaca sekalian pasti bertanya-tanya, mengapa bisa dikatakan keterkejutan. Kata-kata anak-anak memang selalu tidak terduga. Daripada terus dihinggapi rasa penasaran, saya mulai ceritanya.

Teman saya: “Kamu tadi lagi ngapain sama ayahmu, Teo?” (bertanya pada anaknya yang bernama Teo)
Teo: “Nonton film?”.
Teman saya: “Film apa to dik?”.
Teo: “Nggak tau buk, nggak sampai selesai, kayak film orang kerokan?”(dengan wajah dan nada suara polosnya).

Sontak saja teman saya langsung tertawa ngakak dengan jawaban anaknya yang masih duduk di bangku TK tersebut. Mungkin dari teman-teman ada yang tahu isi cerita ini. Ya cerita ini tak lain adalah mengisahkan tentang kegiatan anak yang sempat menonton sekilas adegan film porno, tapi tidak sampai akhir, mungkin hanya adegan pembuka.

Berikut ini akan saya ceritakan kisah yang lain.

Ada sebuah keluarga kecil (pasangan muda) dengan satu anak laki-laki berusia 5 tahun, mengontrak kamar atau kos kamar. Suatu siang yang amat terik si anak tadi keluar dari kamar kos.

“Lho siang-siang begini kok keluar to dik, nggak tidur siang?” tanya teman saya yang juga kos disitu. “Aku disuruh keluar sama papa,” jawabnya dengan wajah dan nada suara datar. “Kenapa disuruh keluar?” teman saya penasaran. “Soalnya papa bilang, papa sama mama mau push up,” jawab anak itu, lagi-lagi dengan kepolosannya. Akhirnya teman saya tahu, apa yang sedang terjadi di dalam. Sambil menahan tawa dia langsung kembali ke kamarnya.

Ada banyak cerita seputar si kecil, yang lucu dan menggemaskan untuk disimak. Satu cerita lagi yang akan saya hadirkan disini. Inilah kisahnya.

Seorang anak laki-laki berusia 5 tahun dan masih duduk di bangku TK terkejut ketika memasuki kamar yang tidak terkunci dan mendapati ayah ibunya sedang berhubungan badan. “Lho…ibuku diapain…,”teriak si anak. Sejak saat itu si anak menjadi benci dan menunjukkan sikap permusuhan terhadap ayahnya, karena dia merasa ayahnya telah menyakiti ibunya.

Selama ini, pendidikan seks untuk anak usia dini dianggap tabu di kalangan masyarakat. Mereka beranggapan bahwa pendidikan seks belum pantas diberikan pada anak kecil. Padahal dengan pendidikan seks yang diberikan sejak dini sangat berpengaruh dalam kehidupan anak ketika dia memasuki masa remaja. Apalagi anak-anak sekarang kritis, dari segi pertanyaan dan tingkah laku. Itu semua karena pada masa ini anak-anak memiliki rasa keingintahuan yang besar. Pernahkah para pembaca mendengar tentang seorang anak yang bertanya “Adik bayi itu keluar dari mana?” atau “Adik bayi asalnya dari mana?”. Untuk itu perlu kiat-kiat khusus dalam memberikan pemahaman tentang seks kepada mereka. Biasanya tak jarang orangtua mengalihkan pembicaraan, kadang mereka membentak dan melarang anak untuk tak menanyakan hal tersebut. Selain itu jawaban yang diberikan malah terkesan ngawur. Padahal jawaban yang demikian bisa memicu anak untuk mengeksplor sendiri, karena mereka merasa penasaran dan berusaha mencari jawaban sendiri, apabila tidak mendapatkannya dari orangtuanya.

Melalui cerita ini, saya bermaksud berbagi cerita dan berbagi tips tentang cara memberikan pendidikan seks untuk anak usia dini. Ada beberapa tips dalam memberikan pemahaman anak tentang seks antara lain: Menanamkan rasa malu, misalnya dengan membiasakan anak untuk ganti baju di tempat tertutup; Menanamkan jiwa maskulinitas pada anak laki-laki dan jiwa feminitas pada anak perempuan, misalnya dengan berpakaian sesuai dengan jenis kelaminnya; Memisahkan tempat tidur mereka, terutama dengan saudara yang berjenis kelamin berbeda; Mengenalkan waktu berkunjung (meminta izin dalam 3 waktu), untuk menanamkan dan menghormati privasi masing-masing saat berada di dalam kamar; Mendidik anak untuk menjaga pandangan matanya dari hal-hal yang mengandung unsur pornografi; Mengajari anak untuk menjaga kebersihan alat kelamin sekaligus juga mengajari anak tentang najis, membiasakan anak buang air kecil pada tempatnya (toilet), dengan begitu anak akan terbiasa mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. Selain itu, secara tidak langsung mengajari anak untuk tidak sembarangan mengizinkan orang lain membersihkan alat kelaminnya.

Pendidikan seks untuk anak-anak walaupun diberikan sejak dini juga harus memperhatikan faktor usia dan tingkat pemahaman anak. Beri penjelasan dengan bahasa yang dimengerti oleh anak. Pendidikan dapat diawali dengan mengenalkan identitas anak, mengenalkan perbedaan ciri-ciri tubuh anak perempuan dan laki-laki. Selanjutnya jelaskan pada anak tentang bagian tubuh yang tersembunyi, yang dianggap tabu untuk disebutkan namanya. Menjelaskan pada anak apa adanya bukan berarti jorok. Memang tidak gampang memberikan penjelasan tersebut. Yang penting sesuai. Yang tidak kalah penting adalah menciptakan hubungan yang baik dengan anak, dengan begitu anak akan mudah menerima masukan dari orangtua, dan yang tidak ketinggalan adalah membina hubungan kerjasama dengan pihak sekolah, dengan tujuan pergaulan anak di sekolah dapat terpantau, dan tidak ada salahnya pendidikan seks untuk anak juga diadakan di sekolah.

Dengan demikian anak sudah mempunyai bekal untuk kehidupannya kelak ketika menginjak masa remaja dengan menjaga dirinya sebaik mungkin. Selain itu anak menjadi tahu batasan dan sebab akibat dari bahaya pergaulan bebas.

Monday, 7 December 2009

BURUNG DAN ULAT



Desa itu diserang ulat. Pohon tak mau berbuah. Tak ada burung yang datang untuk memakan ulat. Warga desa resah. “Pak saya tahu, kenapa burung-burung itu tidak mau datang ke desa ini,” ucap seorang anak. “Kenapa?,” Tanya Pak Lurah. “Semua itu karena Kentus,” jawab si anak. “Kok bisa?” desak Pak Lurah. “Iya karena Kentuslah yang suka mengetapel burung-burung, sehingga tidak ada yang berani datang ke sini, mereka tidak mau celaka,” jelas si anak. “Ya, Pak Lurah saya juga sering melihat Kentus mengetapel burung,” kata warga lain yang ada disitu. “Apa?” teriak Pak Lurah penuh amarah. “Panggil Kentus dan suruh menghadap aku,” perintah Pak Lurah. “Baik Pak,” sahut Satpam. Singkat cerita Kentus sudah menghadap Pak Lurah. “Kentus, apa benar kamu yang mengetapel burung-burung yang hinggap di desa kita,” Tanya Pak Lurah. “I…iya pak,” jawab Kentus tergagap. “Jebloskan dia ke gudang dan jangan biarkan dia keluar,” perintah Pak Lurah. “Ampun pak Lurah, apa salah saya pak,” pinta Kentus tak mengerti. Dia diseret dan dijebloskan ke Gudang yang memang mirip dengan penjara. “Nah, sekarang bagaimana cara agar burung-burung itu mau datang kesini dan membasmi hama ulat,” gumam Pak Lurah. “Saya bisa membuat mereka datang kemari,” sahut si anak. “Oya, bagaimana dan dimana kamu akan menemukan para burung itu,” Tanya Pak Lurah. “Di hutan di dekat kota, untuk itu perlu ada orang yang mengantar saya kesana dan meminta para burung datang kesini,” sahut anak itu. Jalan cerita tersebut diwarnai dengan suara deru motor yang mengantar si anak ke hutan.

Sesampainya di hutan si anak menyanyi memanggil kawanan burung tersebut. “Kalian tidak usah takut lagi, Kentus yang suka memburu bangsa kalian sudah dihukum Pak Lurah dan kini mendekam di Penjara,” tutur anak itu.


Sepeninggal anak itu, seekor burung yang paling besar dan menjadi pimpinan mereka, mengumpulkan seluruh pengikutnya dan bersuara dengan lantang, tentu saja dengan bahasa burung. “Wahai rakyatku, Kentus kini telah menerima hukuman dari Kepala Desa, dan kini mendekam di Penjara. Jadi tak aka nada yang memburu dan menyakiti kita. Kita diminta datang ke desa untuk membasmi ulat yang telah menggerogoti pohon di desa itu. Kalian harus bersiap,” titah Si Raja burung. “Setuju,” sambut rakyat burung dengan girang. Keesokan harinya terdengar suara kepak sayap burung dengan suara lantang. “Serbuuu…., teriak para burung penuh semangat. Dengan sigap mereka hinggap di dahan dan mulai mematuk gerombolan ulat. Mereka berpesta pora. Keadaan menjadi hening setelahpara burung menyantap ulat-ulat. Mereka pulang ke hutan dengan perut menggembung karena kenyang. Hari berganti hari menjadi bulan. Beberapa bulan kemudian setelah pepohonan diguyur hujan, tunas tumbuh menjadi bunga dan akhirnya berbuah dengan lebat. Desa itu kembali tenteram dan hidup sejahtera dengan hasil panen buah yang melimpah.


Itulah sepenggal kisah dari dongeng yang disampaikan Kak Wes pada anak-anak yang tinggal di sekitar “Rumah Dongeng Indonesia”. Acara ini merupakan acara perdana. Sebuah cerita yang sarat dengan pesan moral tentang lingkungan hidup dan kasih sayang terhadap binatang
dan tumbuhan. Acara ini dihadiri sekitar 50 anak, dengan rentang usia antara batita sampai kelas 6 Sekolah Dasar. Adapun ibu-ibu yang ikut sekadar mendengarkan dan mengantar anaknya. Anak-anak terlihat antusias. Dengan penuh perhatian mereka mendengarkan seksama jalan cerita tersebut. Ditambah dengan kelihaian Kak Wes dalam membawakan dongeng tersebut, penuh penghayatan. Bagaimana cara beliau dalam menirukan suara motor menderu, burung yang berpesta ria makan ulat, dan membuat suara berbeda untuk setiap karakter tokoh yang ada dalam cerita tersebut. Seperti suara Pak Lurah, Si anak, Satpam, Kentus, dan pimpinan burung.

Acara ini rencananya akam diadakan setiap 2 minggu sekali sesuai permintaan anak-anak sekitar, yang akan dimulai pukul 16.00 dengan durasi 1 jam. Untuk kegiatan kedepannya rencananya akan digelar perpustakaan mini, kegiatan menyanyi bersama, kegiatan kelompok belajar dan lainnya. Itulah rencana acara yang akan menjadi agenda rutin Rumah Dongeng Indonesia.