Sunday, 22 November 2009

DIBALIK DONGENG

Melalui tulisan ini, saya bermaksud berbagi pengalaman dan ilmu dengan teman-teman di dunia maya, yakni sesama blogger.

Ternyata dongeng menyimpan sejumlah rahasia. Tentunya bukan rahasia biasa, tapi luar biasa. Dongeng tidak hanya sekedar bercerita atau menceritakan sesuatu kepada orang lain. Juga bukan hanya sekedar metode yang digunakan dalam pendidikan prasekolah atau pendidikan anak usia dini, dalam kegiatan pembelajaran. Akan tetapi dongeng merupakan media komunikasi, dimana sejumlah nilai dan norma disampaikan dan ditanamkan pada pendengarnya. Nilai tersebut antara lain yaitu moral, agama, sosial, etika, budaya, kemandirian dan masih banyak lagi. Dan di dunia pendidikan anak usia dini, metode bercerita mengambil peran penting dalam kegiatan pembelajaran.

Dan saya adalah seorang yang merasa sangat beruntung, telah mendapatkan ilmu dan mengetahui rahasia yang tersembunyi dalam dunia dongeng, setelah berguru pada Kak Wes, begitu ia biasa disapa, sosok pendongeng profesional yang berbakat, sekaligus pakar dongeng dan pendiri komunitas “Rumah Dongeng”, di Yogyakarta. Dalam pelatihan yang diadakan pada tanggal 13 November dan berlangsung selama 3 hari 2 malam itu saya dan 6 orang teman lainnya, mulai dikenalkan dan belajar menyelami dunia dongeng yang konon sangat mengasyikkan itu. Dan kita jadi paham dongeng seperti apa yang baik dalam artian yang mengandung unsur edukasi dan motivasi bagi pendengarnya. Selanjutnya akan saya ceritakan perjalanan saya bersama 6 orang teman dalam menguak tabir dongeng.

Kami bertujuh tiba di tempat tujuan dan memulai kegiatan pada hari Jum’at malam tanggal 13 November. Malam itu kami berbincang tentang semua hal yang berhubungan dengan dongeng dan kaitannya dengan pendidikan. Pagi harinya, kami ditugaskan untuk berjalan kaki dengan rute-rute yang sudah ditentukan untuk dilewati dan tempat-tempat pemberhentian sementara, layaknya terminal. Tugas itupun kami sambut dengan penuh tanda tanya, apalagi Kak Wes tidak memberikan alasan dibalik pemberian tugas itu. Selain itu Kak Wes juga menyertakan catatan penting bahwa selama menempuh perjalanan yang cukup lama dan jauh tersebut, kami tidak diperbolehkan bicara satu sama lain. Penggunaan bahasa isyarat juga tidak diperkenankan. Pesan lain yaitu apabila berpapasan dengan orang lain dan ditanya atau ditawari pedagang untuk membeli, cukup menjawabnya dengan senyuman. Makan dan minum juga dilarang selama perjalanan berlangsung. Maka bertambahlah tanda tanya yang kedua di benak kami.

Kemudian mulailah tepat pukul 6, kami berjalan mengular dengan jarak kurang lebih 1-2 meter antar teman satu dengan yang lain. Menyeberang melewati perempatan lampu lalu lintas. Tiba di alun-alun selatan, sesuai dengan instruksi dari Kak Wes yang dikatakan menjelang keberangkatan kami, kami dipersilahkan berhenti sejenak untuk melepas lelah dan mengamati keadaan sekitar lingkungan. Setelah dirasa cukup, kami kembali melanjutkan perjalanan melalui rute-rute yang telah disepakati sebelumnya. Kami terus berjalan. Tiba di pasar, sebagai pos kedua, kami berhenti mengamati keadaaan dan kegitan yang ada di pasar. Perjalanan kembali berlanjut dengan kaki yang sudah semakin lunglai, pegal tanda sudah tak bisa diajak kompromi lagi. Mendekati rumah Kak Wes, pos ketiga kami adalah makam. Seperti di pos sebelumnya kami juga berhenti disitu. Mengamati suasana makam di pagi hari menjelang siang.

Memasuki halaman rumah Kak Wes, beliau mempersilahkan kami duduk, sekali lagi tanpa suara. Setelah itu, kami diminta masuk rumah dan duduk di karpet. Di atas karpet telah tersedia 7 gelas air putih dan 7 potong biskuit serta tujuh lembar kertas folio lengkap dengan 7 spidol hitam. Beberapa menit berlalu dalam diam, kami bertujuh hanya bisa saling menatap dan tersenyum sambil memandangi apa yang telah tersedia di depan kami, tanpa tahu apa yang harus dilakukan. Pertanyaan demi pertanyaan terus berkecamuk dalam kepala kami. “Silahkan melakukan apapun, kecuali berbicara,” perintah Kak Wes. Entah siapa yang melakukakannya duluan, mungkin karena kami merasa kehausan dan kelaparan, maka biskuit dan air putih tadi tandas sedikit demi sedikit. Dan ketika seorang teman saya mulai menggoreskan spidol di kertasnya, yang lainnya pun mulai ikut-ikutan menulis. Dapat dipastikan semuanya menulis hal yang sama, yaitu perjalanan yang baru saja ditempuh, walaupun kami tidak saling contekan.

Selang beberapa menit, kak Wes meminta dan memeriksa tulisan kami. Beliau berujar, bahwa kami termasuk manusia yang belum berbudaya, masih menuruti “naluri hewani” yang ada pada diri kami. Hal itu terbukti dengan sikap kami yang lebih memilih menghabiskan roti, ketimbang mendahulukan untuk menulis hal-hal apa saja yang terjadi selama perjalanan kami. “Seorang pendongeng dan penulis yang peka adalah orang yang tidak mau kehilangan peristiwa yang telah dilaluinya, dia akan segera menuangkannya dalam bentuk tulisan,” ujar beliau kepada kami bertujuh.

“Dan tujuan dari perjalanan tanpa suara dan hubungannya dengan dongeng adalah bahwa seorang pendongeng harus memiliki kepekaan sosial yang tinggi terhadap lingkungan sekitar. Dan untuk meningkatkan kepekaan sosial tersebut perlu mengistirahatkan suara kita alias diam. Karena suara kita akan menyebabkan kita kehilangan konsentrasi dalam mengamati lingkungan sekitar, yang merupakan salah satu hal yang termasuk dalam kepekaan sosial,” lanjut beliau. Contoh kejadian yang dapat mengasah kepekaan sosial adalah dengan mengamati hal-hal yang dijumpai selama perjalanan berlangsung. Misal perasaan apa yang timbul ketika melihat nenek tua yang berjalan teeseok-seok sambil menggendong barang dagangan. Apa tidak punya anak yang mengurus dia, sehingga masih harus berjualan. Atau tukang bengkel yang sedang sepi order. Atau penjual di pasar yang dagangannya tidak laku-laku. Lalu perasaan apa yang muncul ketika melewati dan berhenti sejenak di pekuburan, untuk merenungi bahwa pada akhirnya di akhir hidup, kita hanya membutuhkan lubang berukuran 1,5 x 0,8 meter, untuk tempat bersemayam kita ketika menghadap Sang Pencipta. Terjawab sudah pertanyaan kami.

Selama perjalanan ada hal lucu yang terjadi. Salah satu teman kami, saat melakukan perjalanan bertemu dengan temannya. Ketika dipanggil dan ditanya lagi ngapain, teman saya hanya menggunakan kerlingan matanya dan segera berlalu. Tapi dia yakin temannya paham maksudnya, dengan melihat 7 orang yang berjalan berjejer ke belakang tanpa suara, ini pasti ada suatu misi yang dijalankan. Saya juga mengalami hal serupa. Ketika keluar dari areal pemakaman seorang kakek bertanya pada saya, dari mana saja, kok berjalan rame-rame. Saya hanya bisa tersenyum. Dan tanpa diduga kakek itu marah sambil menggerutu, “Loh, piye to ditako’i kok”. Belum lagi tatapan orang-orang yang berpapasan dengan rombongan kami disepanjang perjalanan yang kami lalui.

Latihan lainnya yang dapat melatih kepekaan sosial adalah berhitung berurutan dan bergantian, jangan sampai dua orang menyebut angka yang sama dalam waktu yang bersamaan. Jadi ketika berhitung, mata kita sambil menatap teman-teman kita agar tidak bertubrukan dalam mengucap angka.

Latihan berikutnya adalah spontanitas. Kali ini pelatihnya adalah Kak Asep, yang merupakan salah satu murid Kak Wes di Rumah Dongeng angkatan pertama. Kami bertujuh duduk melingkar. Setelah Kak Asep memberikan tiga kata, salah satu dari kami diminta membuat kata baru dengan kata akhir sebagai awal kata, dan meneruskannya pada teman disebelahnya. Detailnya sebagai berikut. Kak Asep mengucap tiga kata, “Hitam warna bajuku”. Setelah itu saya yang kebetulan mendapat urutan pertama langsung meneruskan, “Bajuku masih baru”. Kemudian teman disebelah saya melanjutkan, dengan membuat kalimat baru, “Baru lari pagi”. Dan seterusnya. Itupun kami harus cepat dan hanya diberi waktu 3 detik. Bagi yang terlambat membuat kalimat dan salah dalam mengucapkan harus keluar dari lingkaran. Begitu seterusnya sampai tersisa satu orang yang tercepat. Seorang pendongeng harus memiliki spontanitas yang tinggi juga, guna memperluas khasanah bahasa dalam mendongeng.

Latihan selanjutnya adalah olah vokal dan gerak tubuh. Seorang pendongeng dituntut memiliki ketrampilan tubuh dan vokal, guna memperkuat ekspresi tokoh yang diperankan oleh pendongeng itu sendiri. Tidak hanya itu. Kita bertujuh juga diminta mengekspresikan rasa marah terhadap teman kita dengan cara berpasangan dua-dua.

Pelajaran selanjutnya adalah menggali ide. Prosesnya adalah kita semua diminta mencari sebuah benda yang menarik perhatian kita di sekitar lingkungan rumah tersebut. Setelah menemukan benda tersebut, Kak Wes meminta kami menuliskan apa yang dikatakan benda yang telah kami temukan, apabila dia punya mata dan bisa melihat, punya hidung, punya rasa dan bisa merasakan, serta punya telinga dan bisa mendengar. Tujuan dari pelatihan ini adalah bahwa seorang pendongeng harus peka terhadap isu-isu yang berkembang saat ini. Misalnya peristiwa apa saja yang telah dilalui oleh benda tersebut, untuk kemudian dia ceritakan pada kita. Misal pecahan cangkir kopi yang bercerita tentang kenaikan harga BBM, yang dia dengar dari obrolan orang-orang yang sedang duduk di warung kopi. Dan masih banyak isu-isu lainnya yang berkembang. “Kalau kemampuan menggali ide sudah terasah, maka tidak sulit untuk menulis sebuah buku,” kata Kak Wes. “Kuncinya adalah dengan rajin membaca,” lanjut beliau.

Ada latihan reading, teknik membacakan buku cerita agar menarik perhatian pendengar. Latihan lainnya adalah kita diminta berpasangan dengan teman kita dua-dua. Lalu saling berkenalan, walaupun sudah kenal. Perkenalan yang lebih dalam. Saling mengenal tentang diri kita yang meliputi nama, alamat, hobi, jumlah saudara, pekerjaan dan lainnya. Setelah itu, satu persatu dari kami diminta memperkenalkan diri kita sebagai teman kita. Jadi saya memperkenalkan teman yang menjadi pasangan saya dan sebaliknya. Saya memperkenalkan diri sebagai orang lain dan orang lain memperkenalkan diri sebagai saya. Tujuan dari latihan ini adalah belajar menempatkan diri pada posisi orang lain dan mengasah rasa empati terhadap sesama. Ini juga harus dimiliki seorang pendongeng untuk lebih memahami pendengarnya.

Dan akhir dari latihan tersebut adalah praktek mendongeng tanpa alat peraga. Dan evaluasi dari praktek tersebut. Evaluasi praktek mendongeng meliputi kemampuan penguasaaan materi, sikap dan teknik mendongeng, cara penyampaian, pesan dan nilai yang terkandung dalam dongeng, dan masih banyak lagi. Persiapan sebelum mendongeng juga perlu diperhatikan.

Saya pribadi, merasa masih harus banyak belajar dan belajar. Dan pengalaman yang saya dapatkan dari Rumah Dongeng sangat berharga, mengesankan dan menyenangkan serta tak akan pernah terlupakan. Mata saya seolah langsung terbuka terhadap segala hal dan kemampuan yang harus dimiliki seorang pendongeng. Ternyata untuk menjadi seorang pendongeng yang baik tidak hanya bermodalkan bakat saja. Dan yang tak kalah penting adalah kedisiplinan yang merupakan hal penting lainnya yang merupakan tolok ukur dan kunci kesuksesan seorang pendongeng.

Ilustrasi, http://shop.deviantart.com