Saturday, 31 October 2009

PILIHAN HIDUP LINDA (to be a vegetarian)

Segelas kecil susu coklat sudah siap menanti di atas meja makan untuk dihampiri dan segera diteguk. Linda hanya melihatnya sekilas. Tak ada hasrat sedikitpun untuk mencicipinya walau hanya sesendok. Karena Linda sangat anti terhadap susu.

Tiba-tiba mamanya muncul di ruang makan. Seperti yang pernah terjadi sudah-sudah. “Minum susumu Dik,” perintah mamanya. Sementara gelas susu kakaknya di meja yang sama sudah tandas sedari tadi. Dengan gerakan pelan dan penuh keterpaksaan diraihnya gelas tersebut. Meneguknya sedikit. Rasa mual mulai menyeruak ke hidung dan mengendap di ulu hati. Ditambah lambung yang meronta untuk memuntahkan cairan kental manis tersebut. Seakan mengerti apa yang Linda rasakan mamanya langsung berkomentar. “Langsung teguk sampai habis, tidak sedikit-sedikit seperti itu,” sergah mamanya tak sabar. “Sudah berapa kali aku bilang, aku tak suka susu Ma, bikin mual,” kata Linda memelas. “Tidak usah manja dan merengek, sudah bagus Mama buatkan, kamu tinggal meminumnya,” kata mamanya sambil berlalu. “Sini kalau tidak mau biar kuhabiskan,” kata kakaknya yang tiba-tiba saja sudah duduk di sebelahnya entah sejak kapan. “Bener nih?” tanya Linda dengan lega. Disodorkannya gelas susu yang baru terminum seperempat. Dengan gerakan sigap susu itu segera berpindah tempat ke perut kakaknya. Sejak saat itu setiap waktu minum susu tiba Linda selalu bernegosiasi dengan kakaknya agar terbebas dari susu.

Berikutnya adalah makanan produk-produk hewani, termasuk telur. Entah kenapa, setiap melihat daging rasa jijik langsung menghinggapinya. Terbayang oleh Linda, ayam dan itik yang berkelana kesana kemari, cakar yang dipakai mengais tanah kini telah berada di panci dalam bentuk sup. Sehingga jika diamati masih tampak seperti aslinya, yaitu ketika masih tersambung dengan bagian tubuh lainnya saat ayam itu beberapa jam yang lalu masih sempat berjalan kesana-kemari sebelum disembelih. Cakar kaki yang biasa dipakai melintasi tanah lembek, terkadang menginjak ini itu dan kotorannya sendiri. Belum lagi bagian tubuh yang lain yang tersaji dalam bentuk potongan ayam goreng. Tak ada daya tariknya sama sekali. Mungkin dari segi rasa dan aroma memang memikat, tapi itupun tak cukup membuat Linda mencicipinya. Begitupun dengan daging kambing, sapi, kerbau dan lainnya. Apalagi dalam pelajaran Biologi yang pernah diterima Linda di sekolah, bahwa daging sapi dan kambing rentan mengandung cacing pita dan penyakit lain berbahaya, termasuk kanker. Walaupun bisa diluruhkan dengan suntikan antibiotik dan melalui proses pemasakan yang sempurna, Linda tetap emoh mengkonsumsinya. “Mengapa makannya harus sedikit-sedikit, langsung digigit saja,” tegur mamanya penuh rasa jengkel.

Sedangkan dengan telur. Terutama kuningnya. Linda paling enek untuk menghabiskannya. Selain tidak terasa enak di lidahnya, sifatnya yang lengket di mulut membuat Linda semakin kontra terhadapnya. Satu lagi makanan lain yang membuat Linda urung menyantapnya. Makanan itu tak lain adalah ikan-ikanan seperti lele, bandeng, tongkol dan ikan asin serta berbagai jenis ikan yang lain. Dia membayangkan ikan yang awalnya berenang kesana-kemari menjadi kaku di piring. Apalagi ikan tersebut ditangkap nelayan dengan cacing sebagai umpannya. Ditambah dengan yang diketahui Linda bahwa sumber lain makanan ikan antara lain binatang kecil di air, sisa makanan, sisa-sisa kotoran, dan untuk ikan yang lebih besar sumber makanannya adalah memangsa ikan yang lebih kecil, seperti kanibal yang membuat Linda semakin ngeri. “Itu bergizi dan baik untuk kesehatan. Lagipula daging dan ikan diperlukan tubuh sebagai sumber protein,” ucap mamanya. Semua makanan tersebut diasupkan sang Mama pada Linda dengan paksaan. Hal itu membuat Linda berpikir untuk mencari alternatif lain dari sayuran yang kandungan gizinya tak kalah dari ikan dan daging. “Sudah tidak usah protes, makan saja. Apa kamu mau jadi anak yang menderita kurang gizi,” kata mamanya lagi. Namun Linda tetap pada pendiriannya. Bahkan dia bertekad untuk menjadi seorang vegetarian. Dan bercita-cita bila sudah menikah akan tetap menjadi seorang vegetarian walaupun suaminya bukan seorang vegetarian. Entah apa yang membuat Linda begitu anti terhadap segala sesuatu yang berbau hewani. Padahal tidak ada yang mempengaruhi dan menyuruh Linda menolak semua itu.

Kini, Linda sudah menikah dan dia merasa beruntung karena ternyata sang suami berpredikat sebagai seorang vegetarian selama 6 tahun. Sejalan dengan impian dan cita-citanya. Dari suaminya Linda mendapatkan pengetahuan tentang nikmatnya bervegetarian. Selain menyehatkan, bisa mengurangi resiko sakit penyakit degeneratif, diantaranya penyakit jantung, tekanan darah tinggi, stroke, kanker, penuaan dini dan lainnya yang dipicu oleh makanan yang banyak mengandung kolesterol, asam urat, lemak, juga logam berat dari pencemaran lingkungan dan pestisida yang turut tertimbun dalam tubuh hewan. Disamping itu Linda jadi tahu jenis-jenis makanan yang baik dan bermanfaat bagi tubuh serta makanan yang perlu dihindari.

Meskipun telah terbebas dari paksaan mamanya untuk makan daging, saat ini Linda belajar mengkonsumsi susu dan putih telur, atas anjuran suaminya dengan tujuan meminimalisir resiko terkena osteoporosis kelak, karena defisiensi kalcium dan mineral lain.

Linda jadi berpikir dan bersyukur karena Yang Maha Kuasa telah menjadikannya seorang vegetarian dengan didukung bakat-bakat vegetarian sejak kecil, yang tidak suka makan daging. Walaupun dia tahu bahwa daging dan ikan halal, tapi ada satu hal lagi yang membuat Linda semakin mantap bervegetarian. Hal tersebut adalah rasa tak tega melihat ayam dan itik yang kejang-kejang sesaat setelah disembelih. Menyaksikan penyembelihan binatang kurban lengkap dengan pemandangan di mana darah mengucur. Dan Linda yakin kalau binatangpun sebenarnya tak mau mati disembelih. Linda bertanya-tanya mengapa harus menikmati makanan dengan membunuh dan menumpahkan darah secara paksa. Manusia saja tak suka dipaksa apalagi binatang.

“Terimakasih Ya Allah kau takdirkan aku menjadi seorang vegetarian dengan pendamping hidup yang juga seorang vegetarian pula,” ucap Linda dalam doanya.

Dan apakah kalian tahu, kisah Linda ini adalah kisah nyata, dimana tokoh tersebut mewakili saya untuk menyampaikan kepada pembaca tentang pengalaman saya pribadi meraih cita-cita untuk menjadi pemakan biji-bijian, sayuran dan buah-buahan. Pengalaman saya ini sesuai dengan profile saya di blog ini, “seorang vegetarian”. Walaupun tidak terlalu tulen karena menganut aliran Lacto Ovo Vegetarian, jadi masih mengkonsumsi susu dan telur. HEHEHEHE…

Monday, 19 October 2009

KELUGUAN SUGIHARTO

Sugih arto, mungkin itulah maksud sang ibu pada penggalan kata tersebut yang artinya Kaya Harta. Nama itu tak lain adalah nama yang diberikan pada anak laki-laki semata wayangnya. Sepintas jika dilihat secara fisik, Sugiharto tidak berbeda dengan anak-anak lain sebayanya, yakni berusia sekitar 8 tahun dan seger waras fisiknya. Namun ternyata dia salah seorang anak yang berkebutuhan khusus. Dikatakan demikian karena dia mengalami hambatan dalam perkembangan mental.

Karena kurangnya pengetahuan orangtuanya tentang keberadaan sekolah khusus, sang anak didaftarkan di sebuah Sekolah Dasar Umum dan bersekolah bersama dengan anak-anak yang normal. Tentu saja, si anak mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan teman-temannya dengan kemampuan mental normal. Alhasil, Sugiharo akhirnya ngambek tidak mau berangkat sekolah lagi.

Awalnya saya tidak tahu apa kegiatannya sebelum kepindahan kami ke rumah kontrakan yang baru.

Seperti pagi sebelumnya, Sugiharto dengan setia duduk di sebuah ceruk pagar batu depan rumah kontrakan kami, menunggui suami saya yang sedang menyapu halaman, yang sudah menjadi rutinitas suami sejak pindah ke rumah kontrakan yang baru. Hampir setiap hari dia standby di depan rumah kami, seakan dia sudah hafal di luar kepala jadwalnya. Dan kesetiaannya seperti kesetiaan sang kekasih pada pasangannya, hehehehe. Dan yang paling lucu, dia suka sekali memanggil suami saya dengan sebutan 'Bapak!' dan kepada saya dia memanggil 'Budhe!'.

Mungkin dia merindukan sosok seorang ayah, karena ibunya ternyata seorang singgle parent. Sebenarnya Sugiharto merasa sangat kesepian, dia butuh seorang teman untuk tempat berbagi. Hal itu nampak pada sikapnya yang selalu melongokkan kepala untuk mengintip rumah kami.

Dia juga pernah berkata pada suami saya seperti ini “Bapak mau kerja?” (tentunya dengan pengucapan yang tidak 100% benar) ketika melihat suami saya mengeluarkan kendaraan. “Pak wis bak,” katanya saat melihat bak telah terisi air dari kran sampai penuh. Tapi ketika ditanya, yang kami peroleh bukannya jawaban, akan tetapi hanya seulas senyum yang tersungging di bibirnya.

Namun, 'kaya harta' tidak ada harganya dibandingkan dengan kekayaan hati. Harta akan mudah habis dan bisa dicari. Sedangkan kekayaan hati tak akan pernah habis dan usaha untuk mendapatkannya tidaklah mudah. Harapan saya adalah ada seorang tokoh masyarakat sekitar misal Pak RT/Pak Dukuh atau siapapun yang dihormati oleh warga, untuk memberikan pengertian pada Ibundanya agar menyekolahkan anaknya di SLB. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga perasaan ibunya Sugiharto supaya tidak tersinggung. Dengan demikian, Sugiharto mendapatkan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhannya. Yang menjadi kekhawatiran adalah jalan kehidupan Sugiharto selanjutnya setelah ia dewasa. Karena kalau Sang Ibu sudah tidak sanggup mengurusnya seperti sekarang, lantas siapakah orang yang bersedia direpotkan? Dalam tanda kutip dengan rasa penuh keikhlasan.

Friday, 9 October 2009

Kekaguman Seorang Guru TK terhadap Pramoedya Ananta Toer

Oleh Yulinda Rohedy Yoshoawini
Saya berusia 21 tahun, seorang Guru pada sebuah Taman Kanak-kanak di Yogyakarta. Saya pengagum karya-karya Pramoedya. Sebelumnya saya tidak begitu mengenal beliau. Siapa Pramoedya, dari mana dia berasal, tokoh penulis seperti apa dia?

Kekaguman saya pada beliau berawal ketika saya bertemu dengan seseorang yang sekarang menjadi suami saya. Karena dia tahu saya hobi membaca, dia menawarkan salah satu novel karya Pramoedya.

Sejak itulah saya mulai mengenal sosok Pramoedya dan bersentuhan dengan karya-karyanya. Novel Pramoedya yang pertama kali saya baca berjudul “Gadis Pantai”. Mulanya saya kurang tertarik dan tak berminat, karena saya lebih suka membaca roman percintaan dan buku fiksi anak-anak. Sedangkan karya Pramoedya lebih bernuansa sejarah perjuangan Indonesia dan berbau politik. Tetapi, saat mulai membaca “Gadis Pantai”, saya seakan-akan seperti orang yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Saya seolah menyelami alur cerita dalam Gadis Pantai yang disuguhkan Pramoedya secara mengalir itu. Saya seakan-akan melihat kejadian dalam cerita itu dari dekat, dalam imajinasi saya seolah-olah berada di tempat yang diceritakan dalam novel. Itulah salah satu kelihaian Pramoedya, mampu menghipnotis para pembaca melalui karyanya.

Menyusul kemudian “Tetralogi Buru” yang mengobati dahaga saya akan karya-karya Pramoedya. Sampai akhirnya saya jadi ketagihan membaca buku-buku Pramoedya yang lain. Membaca novel-novel Pramoedya seperti terbawa arus yang mengalir lembut dalam cerita, sungguh ini benar-benar luar biasa.

Sebenarnya belum begitu banyak karya Pramoedya yang saya baca, karena banyak buku yang sulit saya dapatkan. Selain itu banyak karya Pramoedya yang belum diterbitkan kembali. Padahal saya ingin membaca karya-karya lainnya.

Membahas karya Pramoedya, memang tak ada habisnya. Selalu ada topik menarik yang bisa dibicarakan tentang setiap karyanya. Saya selalu terpesona dengan cara Pramoedya melukiskan jalan cerita. Membuat saya benar-benar hanyut dalam dunia rekaannya. Salah satu contohnya adalah bagaimana dia menggambarkan persetubuhan antara Annelies dan Minke dalam “Bumi Manusia”, sungguh bersahaja, tidak vulgar. Keindahan alam yang diamati dan dilalui tokoh saat melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain juga begitu elok. Sehingga membuat saya penasaran dengan apa yang akan terjadi dalam lembar-lembar selanjutnya, saat tokoh dalam cerita tiba di tempat tujuan. Saat cerita memasuki suasana tegang, saya ikut-ikutan tegang. Ketika suasana sedih, saya juga larut dalam kesedihan, mata saya pun tak terasa jadi berkaca-kaca. Seolah-olah saya bisa merasakan apa yang dirasakan oleh tokoh dalam cerita.

Dan yang lebih hebat lagi, Pramoedya menuliskan kisah masa lalu Indonesia dalam kurun waktu antara tahun sekian hingga sekian. Dia seakan-akan memberitahukan apa yang terjadi saat itu dengan bumbu rekaan jalan cerita yang semakin sayang kalau dilewatkan.
Saya sungguh salut dengan Pramoedya. Sebab, kata Pramoedya sendiri, dia sebenarnya SMP saja tidak selesai. Tapi pada kenyataannya, Pramoedya bisa menulis lusinan karya sastra yang mendunia, tanpa harus menjadi seorang sarjana sastra. Hal ini selalu membuat saya bertanya-tanya bagaimana mungkin seseorang yang tidak lulus SMP dan tidak menuntut ilmu di bidang tulis-menulis bisa menghasilkan karya yang membesarkan namanya sampai ke manca negara.

Ternyata ketekunannya dan ketelitiannya dalam mengkliping dan riset data merupakan salah satu kunci keberhasilan Pramoedya menulis karya-karyanya yang luar biasa. Dan satu lagi yang membuat saya hampir tidak percaya, ternyata Pramoedya pernah menjadi staf pengajar Fakultas Sastra di Universitas Res Publica.

Dari sini saya dapat mengambil hikmah bahwa syarat utama untuk bisa menghasilkan karya yang berkualitas adalah ketekunan, kemauan, dan kerja keras seperti yang sudah dicontohkan oleh Pramoedya. Untuk menjadi seorang penulis tidak harus melalui jenjang pendidikan tinggi. Kalau Inggris punya J.K. Rowling, Indonesia punya Pramoedya Ananta Toer. Dan saya kira tak ada salahnya menyandingkan Pramoedya dengan penulis-penulis besar dari negara lain. Saya pribadi merasa bangga karena Indonesia punya putra bangsa seperti Pramoedya yang karya dan namanya mendunia.

Semangat juang Pramoedya yang ditularkan lewat tulisan-tulisannya, sungguh memberi inspirasi dan motivasi untuk belajar lebih giat lagi dalam menghasilkan karya, seperti yang saya tekuni saat ini, menulis cerita anak, sesuai dengan bidang yang saya geluti. Dengan begitu saya bisa menularkan semangat, kerja keras, dan dedikasi tinggi, serta semua hal yang diperjuangkan oleh Pramoedya kepada anak-anak, dengan tulisan dan dongeng.

* Esei ini merupakan salah satu dari puluhan tulisan yang dipublikasikan dalam buku berjudul PRAMOEDYA ANANTA TOER, 1000 WAJAH PRAM DALAM KATA DAN SKETSA, yang diterbitkan oleh Lentera Dipantara, 2009.