Wednesday, 30 September 2009

MUDIK LEBARAN YANG BERKESAN

Idul Fitri baru saja berlalu. Tapi suasana bermaafan masih terasa. Hah…setelah vakum sejenak dari dunia blog ini, saya kembali untuk berbagi pengalaman dan cerita selama saya mudik ke kota kebesaran. Memang bukan kota kelahiran, karena saya besar di sana, dan numpang lahir di kota lain. Anggap saja ini oleh-oleh saya dari kota asal, dimana saya telah dibesarkan.

Nah ini, saya berharap kejutan saya tidak membuat semuanya terkejut. Saya sejatinya sudah menikah selama tiga tahun, kawan. Terkejut nggak…..tidak khan?!

Seperti tahun-tahun sebelumnya. Ketika di rumah mertua, saya sudah hafal luar kepala dengan rutinitas yang sudah pernah saya lakukan sebelumnya. Seusai shalat subuh, biasanya saya tidur lagi. Dan bangun sekitar pukul 06.00 wib. Setelah mencuci muka, saya langsung menjemput sapu untuk saya ajak membersihkan lantai yang berdebu. Setelah itu saya bergegas ke dapur membantu ibu mertua memasak sarapan. Misalnya memotong sayuran, meracik bumbu, menggoreng lauk, dan sebagainya. Saya yang sebelumnya jarang memasak kini mulai sibuk memasak ini dan itu. Dan kompor yang digunakan bukan kompor minyak atau gas yang biasa saya pakai, melainkan ‘tungku’ yang terbuat dari semen berbentuk persegi panjang, dengan dua lubang besar di atasnya dan berbahan bakar kayu. Terbayang kan bagaimana susahnya saya memasak dengan tungku-masak tersebut.

Kayu yang telah dibakar dan menyalakan api itu mulai memanaskan minyak dan air yang akan dipergunakan untuk memasak. Belum asap yang mengepul dari kayu bakar, sungguh menyesakkan dada, dan membuat mata menjadi pedih. Dan yang lebih repot adalah ketika mencoba menghidupkan api yang padam, sungguh butuh tenaga dan pengalaman yang ekstra dan tradisional.

Setelah semuanya selesai saya langsung melesat ke kamar mandi membersihkan diri dari asap dan keringat yang menggelayut di tubuh dan pakaian saya. Saya sampai tidak bisa membayangkan bagaimana rupa saya saat itu. Setelah beres dengan diri saya, saya bisa menikmati sarapan yang lezat masakan khas hasil kolaborasi ibu mertua dengan menantunya. He…he…he…!

Seperti kata pepatah “Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya”. Lain dengan di rumah mertua dengan di rumah orangtua sendiri. Kalau di rumah mertua saya ikut sibuk membantu memasak, lain halnya dengan di rumah orangtua saya sendiri. Dirumah ibu, saya justru disibukkan dengan melayani ajakan para adik keponakan untuk bermain monopoli dan catur. Umur mereka masih termasuk dalam kategori usia dini, yakni 4,6 dan 9 tahun. Dengan si adik keponakan yang berusia 4 tahun dan duduk di bangku TK Kecil itu, saya diajak bersentuhan dan memainkan motor-motoran, mobil-mobilan, merangkai kereta api, main perang-perangan dengan robot-robotan yang berukuran kecil. Pokoknya semuanya yang berhubungan dengan mainan anak laki-laki.

Lain dengan adik keponakan saya yang duduk di bangku TK besar yang masih berusia 5 tahun. Saya diajaknya bermain masak-masakan, main boneka, dan rumah-rumahan. Semuanya yang berbau feminin.

Beda lagi dengan adik keponakan yang satu ini juga seorang anak perempuan berumur 9 tahun dan sudah menginjak bangku Sekolah Dasar kelas 3. Ini dia yang suka mengajak saya main monopoli, catur dan ular tangga.

Saya merasa kembali menjadi anak kecil lagi, ketika memainkan permainan sejenis itu. Toh saya pun tak keberatan, karena saya juga sering bermain masak-masakan, boneka, dan lain-lain dengan anak didik saya setiap harinya. Dengan bermain monopoli misalnya saya bisa belajar berhitung dan membaca dengan adik keponakan saya. Bermain catur yang bisa melatih otak kita. Terkadang saat saya hanyut dan menikmati permainan tersebut, saya seolah lupa kalau sudah berkeluarga, hanya bedanya saya belum memiliki momongan. Orangtua dan keluarga besar saya hanya bisa senyam-senyum dengan tingkah saya, yang katanya masih seperti kekanak-kanakan. Saya pun menjawab ya beginilah guru PAUD, dalam berinteraksi dengan anak memang harus berkomunikasi dengan gaya anak-anak tentunya, agar kita bisa masuk dalam dunia anak-anak dan mengerti isinya.

Lebaran bagi saya memang menjadi kerinduan tersendiri yang saya nantikan setiap tahunnya.Tidak hanya bisa berkumpul bersama keluarga, tapi juga bisa bermain permainan edukatif tentunya. Dengan bermain permainan edukatif, bisa menambah bekal saya sebagai guru bagi anak-anak dan sebagai orangtua untuk anak saya kelak.

MATUR NUWUN…buat semua yang telah meluangkan waktu dan energy untuk membaca tulisan senderhana ini.

Thursday, 17 September 2009

MACA MERDIKA

“Maca agawe merdika”. Slogan itulah yang akhirnya terlahir dari rumusan judul di atas. Kalau diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, artinya kurang lebih seperti ini, “Membaca membuat kita merdeka”. Ya, buku membebaskan kita dari belenggu kebodohan dan ketidaktahuan. Membuat kita mendapat siraman ilmu pengetahuan.

Dalam rangka menyambut HUT RI yang ke-64, IRE Yogyakarta bekerjasama dengan pemuda Karang Taruna Dusun Tegal Rejo mengadakan semacam kegiatan perpustakaan tiban untuk merayakan hari jadi Indonesia tersebut.

Kegiatan yang sangat terbuka untuk umum ini bertempat di Dusun Tegal Rejo, Sariharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta, tepatnya di Balai Masyarakat milik Dusun Tegal Rejo.

Kegiatan yang dimotori oleh Galie, pustakawan yang sehari-harinya bermarkas di LSM IRE Yogyakarta ini, diorganisir oleh tujuh orang termasuk ketuanya. Dua dari IRE Yogyakarta dan lima pemuda-pemudi aktivis Karang Taruna Dusun Tegal Rejo. Juga didukung oleh satu armada perpustakaan keliling dari LSM Satu Nama.

Kegiatan perpustakaan tiban ini, kegiatan yang bersambung. Yakni berlangsung sebanyak lima kali even, selama 3 minggu, dengan intensitas pertemuan seminggu sekali dan durasi waktu 180 menit, dari pukul 14.00- 17.00 WIB. Kegiatan ini dilaksanakan setiap hari Sabtu pada tanggal 1, 8, 15 Agustus 2009 dan hari Minggu dan Senin pada tanggal 16 dan 17 pada bulan yang sama.

Adapun tujuan dari kegiatan ini adalah mengenalkan dunia buku dan perpustakaan, menanamkan kebiasaan membaca, menumbuhkan kreativitas, dan memperluas wawasan anak-anak usia prasekolah dan sekolah dasar (umur 2-11 tahun) melalui permainan yang bersifat edukatif dan menghinbur, terutama mereka yang tinggal di Dusun Tegal Rejo dan dusun lain di sekitarnya. Karena kenyataannya banyak pengungjung yang berasal dari dusun lain seperti Dusun Poton, Ringin Putin, Gondang Legi dan Tambak Rejo.

Materi kegiatan perpustakaan Maca Merdika, dirancang sedemikian rupa dan beranekaragam untuk menarik perhatian anak-anak. Awalnya Balai Masyarakat yang biasa dipergunakan untuk pertemuan warga disulap dengan meja berjajar yang di atasnya telah bertengger sejumlah buku dengan ilustrasi dan warna yang memanjakan mata anak tentunya dan menyedot rasa keingintahuan mereka untuk mengamati atau bahkan mulai membuka dan membaca isinya. Ada sesi permainan, menyanyi bersama, mendengarkan dongeng, baca buku dan bermain bebas serta diakhiri dengan dengan peminjaman buku di penghujung acara. Ada permainan lingkaran sambil menyanyi, lalu main tepuk tunggal dan tepuk ganda bersama-sama.

Ketika saya selaku MC memberikan instruksi tepuk tunggal maka serentak semua anak yang telah membentuk lingkaran tersebut langsung bertepuk tangan satu kali. Begitupun dengan tepuk ganda, mereka juga bertepuk tangan dua kali. Tepuk tiga, empat dan lima. Dan bagi yang keliru maka diminta menyanyi sambil menari di depan. Saya tidak mengatakan itu hukuman, tapi saya bilang yang tepuk tangannya tidak sesuai instruksi, maka dipersilahkan untuk menyanyi di depan.

Dongeng yang disajikan ada beberapa macam. Sebagai dongeng pembuka acara “Maca Medika” saat hari pertama pada tanggal 1 Agustus, saya menceritakan tentang kisah “Empat sahabat”, yang tak lain adalah 4 buah buku berbeda dalam satu rak. Intinya yang berhubungan dengan perpustakaan. Pesan moral yang terkadung di dalamnya adalah kebersamaan. Bisa dibilang cerita itu adalah sebagai dongeng perkenalan. Dan diakhir cerita ada sesi tanya jawab untuk mengetahui tingkat atau daya ingat anak-anak tentang isi cerita.

Di setiap edisi, kegiatan yang disuguhkan semakin menarik dan tak kalah seru. Ada acara menonton film anak, demonstrasi sains, kunjungan ke perpustakaan Natsuko Sioya (Perpustakaan Carity asal Jepang) dan kegiatan kreativitas.

Film yang dipilih adalah “Laskar Pelangi”, karena bertemakan perjuangan. Film ini diputar di kantor IRE pada tanggal 8 Agustus. Setelah acara menonton film usai anak-anak diberi pertanyaan tentang isi dari film laskar pelangi. Bagi yang bisa menjawab pertanyaan, kami para panitia sudah menyiapkan hadiah yang menarik dan mereka berhak memilih, karena hadiah yang disediakan beranekaragam. Ada hal yang menggelikan pada saat sesi pertanyaan. Ketika saya menanyakan siapa nama 2 orang guru yang mengajar di sekolah SD dalam film tersebut. Sejumlah anak tampak berebut mengacungkan jari. Ketika saya tunjuk untuk mengemukakan jawabannya. Tapi sayangnya mereka hanya bisa menyebutkan nama Bu Muslimah. Mereka tidak ingat pada tokoh yang memerankan Pak Bakrie. Hingga sampai pada jawaban yang lucu. Seorang anak perempuan usia SD. Dia menjawaab Bu Siti dan Bu Intan, yang tak lain adalah guru kelas di sekolahnya sendiri, ha…ha…ha… Bahkan ada yang menjawab secara serampangan. Seorang anak perempuan juga yang juga duduk di bangku SD. Dia menjawab Bu Muslimah dan Bu Narti lantaran dia tidak bisa mengingat nama Pak Bakrie. Dan ketika saya tegaskan bahwa guru yang seorang adalah laki-laki, kembali dia menyebutkan Pak Rahmat, guru di SD-nya he…he…he… Mungkin saja dia lupa atau bisa juga salah tangkap. Dikiranya saya menanyakan nama guru SD yang mengajar di kelasnya.

Demonstrasi sains yang ditampilkan adalah percampuran warna dasar dengan media cat, anak-anak juga dipersilahkan untuk mencoba mempraktekan sendiri. Langkah-langkahnya 3 gelas aqua yang telah diisi air dicampur dengan cat yang berbeda warna pada setiap gelasnya., yaitu merah, kuning dan biru. Lalu setiap warna dicampurkan secara acak, untuk mendapatkan warna lain yang lebih bervariasi. Hasil yang didapatkan antara lain ungu dari warna merah dan hijau; oranye dari warna merah dan kuning; dan hijau dari warna kuning dan biru.

Sedangkan kunjungan ke perpustakaan Natsuko Sioya dimaksudkan untuk lebih mengenalkan dunia perpustakaan pada anak-anak. Disana anak-anak meminjam dan baca buku.

Untuk kegiatan kreativitas anak-anak diajak untuk berkreasi membuat bermacam bentuk dengan play dough, melukis bebas dengan cat di kertas atau yang lebih dikenal dengan finger painting (melukis dengan jari). Ternyata anak-anak tersebut memang kreatif. Terbukti mereka bisa membuat bunga, beraneka bentuk binatang dan sebagainya. Dan hasil karya dari kreativitas finger painting juga tak kalah bagus. Diatas kertas yang telah dilumuri tiga macam cat warna-warni itu tercipta berbagai jenis bentuk gambar hasil imajinasi mereka. Ada yang menggambar atau membuat bentuk rumah, matahari, bintang dan masih banyak lagi. Di setiap kegiatan selalu disisipi dengan dongeng, permainan dan menyanyi. Dan diakhiri dengan sesi pengembalian dan peminjaman buku lagi. Dengan harapan anak-anak juga mengenal tata cara atau prosedur peminjaman-pengembalian buku.

Yang unik dari rangkaian kegiatan tersebut adalah saat menginjak hari terakhir ada kejutan dongeng dari Ann Marie Brightman, seorang antropolog dari Newcastle University, Inggris yang sedang melakukan penelitian di Yogyakarta, sekaligus ikut menyemarakkan Hari Lahir Indonesia.Yang menggembirakan sekaligus memuaskan adalah antusiasme dan semangat anak-anak yang sangat tinggi. Ditambah dengan acara dan kegiatan yang meraih sukses. Hidup Maca Merdika, Hidup Anak Indonesia.

Tuesday, 8 September 2009

LAILA OH LAILA, KETHIP-KETHIP…THUING…!

Mungkin para pembaca sekalian bertanya tanya apa maksud dari judul tersebut. Tapi sabar dulu, saya akan memberitahukannya di akhir cerita, setelah rentetan kisah berikut ini.

Kali ini masih tentang anak didik saya. Tapi yang ini kelucuan itu datang dari seorang gadis kecil. Namanya Laila. Usianya sekitar tiga tahun. Badannya kecil mungil, kulitnya hitam, rambutnya ikal pendek, dan ciri yang paling unik adalah sikap diamnya, yang mengundang banyak tanda tanya dari para guru. Ada apa dengan diamnya??? Satu-satunya murid yang masih ditunggui di kelas, ketika teman-teman yang lainnya tak ada yang ditunggui lagi.

Namun yang namanya anak-anak, sikap seperti apapun yang ditunjukkan oleh mereka, pasti tetap saja lucu. Suatu kali, saat kegiatan menggambar. Setiap selesai menggambar bebas, si anak diminta untuk bercerita tentang gambar yang dibuatnya, dan guru menuliskan kata-kata atau cerita anak di bawah gambar tersebut. Sebagai contoh. “Bu…sudah selesai,” ucap seorang anak. “Oh ya, sini cerita sama bu guru,” kata saya. Setelah duduk berhadapan saya bertanya sambil bersiap menulis, “Ini gambar apa?” “Gambar ultraman merah,” jawab si anak. “Ultraman merahnya lagi ngapain?” tanya saya lagi. “Lagi perang,” jawabnya lagi. “Trus dari tangannya keluar sinar bipbipbipbip…cu…duer…meletus,” ungkapnya lagi dengan gaya dan ekspresi menirukan ultraman. Dan seterusnya sampai dia berheti cerita dan pertanyaan yang diajukan telah dirasa cukup. Padahal gambar yang dia buat berbentuk lingkaran agak lonjong dengan warna merah. Sungguh tidak nyambung menurut pandangan kita sebagai orang dewasa. Tapi itulah anak-anak, penuh dengan imajinasi yang harus kita hargai. Tidak ada maksud bohong atau menipu dari mereka.

Hal yang terjadi pada Laila justru berbeda. Ketika saya tanya apa yang dia gambar, bukannya kata-kata jelas atau bisikan lirih yang saya peroleh, akan tetapi gerak bibir membuka seperti mengucapkan satu suku kata ‘Ma’, tanpa suara. Saya langsung tertawa tapi buru-buru juga saya redam. Saya ulangi pertanyaan saya beberapa kali, tapi jawaban serupa yang kembali saya peroleh, sekali lagi tanpa ekspresi. Bahkan saya sudah berkata demikian, “Kalau tidak bersuara bu guru tidak tahu Laila menggambar apa”. Sampai akhirnya kami berdua sama-sama menyerah. Mungkin karena sama-sama capek. Saya capek bertanya, begitu pula dengan Laila capek menjawab. Saya amati gambar yang dibuatnya. Beberapa lingkaran kecil dengan warna berbeda dan garis lurus di bagian bawah lingkaran. “Ini kelereng?” tebak saya. Dia hanya menggangguk kemudian berlalu dari hadapan saya. Sayapun hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum menghadapi karakter Laila.

Kejadian lain yang tak kalah seru adalah waktu kegiatan tanya jawab antara guru dan anak. Waktu itu tema yang dibahas tentang binatang piaraan. Satu persatu anak telah diberi pertanyaan oleh teman saya. Jawaban yang diperoleh beranekaragam. Ada yang memelihara ayam, kelinci, ikan dan sebagainya. Sampai tiba giliran Laila. “Kalau Laila di rumah punya binatang apa?” tanya teman saya. “Kuuciing,” jawabnya sambil berbisik lirih. “Apa? Bu guru tidak dengar,” balas teman saya dengan berbisik juga. Jawaban yang diperoleh juga sama walaupun bisikannya sudah agak terdengar. “Apa lagi?” tanya teman saya. “Iikaan,” jawabnya masih dengan berbisik. “Terus, apa lagi?” tanya teman saya. “Hamsteer,” katanya lagi. “Ada lagi?” tanyaku. “Uudaah,” jawab Laila. Semua jawaban yang diberikan seluruhnya berupa bisikan. Teman saya tidak bermasud membalas anak tetapi hanya berusaha memancing supaya suaranya keluar. Kami bertiga sebagai Penanya hanya bisa tertawa kecil dengan jawaban bisikan itu.

“Tolong, panggilkan Faadhil,” pinta saya pada Laila ketika tiba waktu pemeriksaan kuku. Saya amati dia waktu memanggil temannya. “Faadhil dipanggil Bu Yuli,” katanya dengan volume suara terendah. Saya hanya bisa menahan tawa. Faadhil tidak mengerti. Saya minta Laila untuk mengulangi, “Faadhil tidak dengar karena Laila berbisik,” kata saya. Tapi tetap saja volume suaranya tak bisa lebih dari itu. Hingga akhirnya saya yang memanggil Faadhil.

Atau saat dia minta tolong dipakaikan jilbab atau mau memasukkan uang amal. “Laila mau ngapain?” tanya saya waktu itu. Dia hanya menyodorkan jilbab dan uang dihadapan saya tanpa sepatah kata-pun.

Mungkin inilah kelucuan yang paling ditunggu-tunggu, para pembaca sekalian karena berhubugan dengan judul tulisan ini. Waktu itu tema yang dibahas adalah tentang anggota keluarga. “Siapa yang punya kakak di rumah?” tanya teman saya. Semua murid dengan serentak menjawab “Sayaaa…saya…saya buu!” kata mereka sambil mengacungkan jari telujuk sembari maju kedepan. Sementara itu yang terjadi pada Laila sungguh menggelikan. Dia hanya duduk manis di tepi karpet. Pandangan matanya ke bawah. Lalu matanya berkedip tapi masih dengan pandangan kebawah. Mungkin kalau saya lukiskan seperti ini wajahnya waktu itu, ...‘kethip…kethip’, matanya berkedip dua kali. Kemudian.... ‘thuing!’ Dia mengacungkan telunjuknya. Tidak setinggi teman-temannya, tapi di bawah dadanya. Dan sekali lagi tanpa suara. Sungguh menggelikan.

Terkadang dia menolak kasih sayang yang kami berikan saat di sekolah. Dia akan berusaha melepaskan genggaman tangannya ketika digandeng Bu Guru masuk kelas. Menepis belaian kami. Dan buru-buru menggeser duduknya ketika dipangku oleh saya misalnya.

Namun tingkah laku dan sikapnya saat di rumah sangat bertolak belakang dengan saat berada di sekolah. Berdasar pengakuan ibunya, Laila seringkali bercerita tentang pengalamannya di sekolah hari itu. Hal itu tampak nyata, ketika kami bertiga menerima undangan untuk berkunjung ke rumahnya. Kami melihat dia bersikap seperti biasa ketika bermain dengan kakaknya dan terlihat ceria seperti anak-anak lainnya. Dia juga banyak mendominasi pembiacraan ketika berkomunikasi dengan kakaknya. Tapi ketika salah satu dari kami bertanya dia langsung mengunci mulutnya.

Tapi terlepas dari itu semua, dia bisa mengikuti aktivitas kelas. Suka menggambar. Jenis permainan yang paling digemari adalah Puzzle. Intinya yang melibatkan daya nalar atau daya pikir. Hanya kurang percaya diri ketika berkomunikasi dan berinteraksi baik dengan teman sebayanya maupun dengan gurunya. Prestasi yang membanggakan yang pernah diraihnya adalah juara tiga lomba mewarnai tingkat Kelompok Bermain. Laila mewarnai gambar yang disediakan panitia lomba menggunakan krayon. Hasilnya penuh, rapi dan tidak keluar garis.

“Uudaah!” he...he...he...