Sunday, 30 August 2009

AKU TAHU…YA, TADI ITU AKU LUPA!

Sebagai seorang guru saya tidak hanya mengajar anak-anak di kelas, pada sebuah lembaga yang bernama sekolah, atau lebih tepatnya lembaga prasekolah, karena berada di tingkat Kelompok Bermain atau Play Group/PAUD.

Suatu kali saya pernah diminta memberi les baca-tulis untuk anak usia TK yang sedang bersiap masuk SD, dan saya menyanggupinya. Yang melatar-belakangi permintaan itu adalah, karena sejumlah lembaga SD hanya bersedia menerima lulusan TK yang sudah bisa membaca. Dengan kata lain, SD bersangkutan menguji kemampuan baca-tulis peserta didik yang mendaftarkan diri, sehingga membuat orangtua gundah. Akhirnya, mereka mengajari anaknya belajar-membaca dengan cara yang instan. Harapannya, sang anak bisa diterima masuk SD.

Tentu saja tawaran tersebut saya terima. Yah, selain bisa sedikit membantu ekonomi keluarga, saya juga bisa belajar untuk mengenal karakter dan mengukur kemampuan anak yang duduk di kelas TK. Sehingga saya bisa memperoleh pengetahuan tentang perkembangan anak TK dan cara pembelajarannya.

Awalnya, murid yang mendaftar baru satu anak. Lalu bertambah menjadi dua, kemudian tiga. Yakni, dua anak perempuan yang duduk di bangku TK A, bernama Citra dan Ninda, serta satu anak laki-laki di kelas TK B, panggilannya Apri. Karena baru tahap awal saya tidak langsung mengajarkan membaca. Tapi melalui pengenalan huruf terlebih dahulu dan review. Saya pikir mereka sudah mengenal beberapa huruf dari 26 abjad yang ada. Yang mereka peroleh dari rumah ketika belajar dengan orangtua dan dari sekolah ketika belajar bersama guru formal mereka. Setiap pertemuan saya selalu menyiapkan sebuah dongeng sebagai hadiah setelah pelajaran selesai. Dan juga sebagai motivasi mereka untuk lebih giat belajar membaca.

Dari ketiga anak tersebut, Citra-lah yang paling menonjol. Namun, yang dimaksud menonjol disini bukan prestasi atau kemampuan membacanya yang meningkat. Jangankan meningkat, berkembang saja belum. Padahal, kegiatan les sudah berlangsung selama empat bulan, dengan tiga kali pertemuan setiap minggu. Sedangkan yang terjadi dengan dua temannya, sebaliknya. Apri tampaknya sudah siap masuk SD. Kemampuan membacanya sudah lancar, dia juga sudah bisa menulis nama benda dalam gambar. Ketika saya minta mengacak kartu huruf yang berjumlah 4 dengan abjad A, I, N, dan M, untuk merangkai menjadi beberapa kata, dia juga sudah bisa melakukannya. Begitu pula dengan Ninda. Dia sudah tampak matang dengan kemampuan baca-tulisnya.

Akan tetapi tidak begitu yang terjadi pada Citra. Setiap kali saya tanya nama huruf, dia juga balik bertanya, seperti pada percakapan berikut ini.
“Ini huruf ?” tanya saya sambil menujuk sebuah huruf pada papan, bermaksud menguji daya ingatnya.
“Huruf?” Citra balik bertanya pada saya.
“Ini M,” kata saya setelah melihatnya kesulitan berpikir.
Dan tanggapan yang diberikannya sungguh menjengkelkan tapi juga menggelikan seperti tertuang dalam percakapan berikut ini.
“Aku tahu itu huruf M,” kata Citra percaya diri.
“Kalau tahu kok yang jawab bu guru,” tanya saya mulai gusar tapi tetap dengan suara lembut.
“Ya… tadi itu aku lupa,” jawabnya dengan ketus.
Saya hanya bisa menahan tawa ketika dia berkata demikian.
“Sekarang tulis huruf ini,” pinta saya pada mereka. Saya memang sengaja tidak menyebut huruf yang saya tuliskan pada papan tulis, yaitu huruf “U”.
Kedua temannya sudah mulai menulis, tapi dia tidak. Ketika saya tanya, kenapa tidak menulis dia menjawab dengan dongkol.
“Ya ya, aku tahu itu huruf “U”, tapi tu aku bingung mau nulis yang mana!”
Sontak Ninda dan Apri langsung menoleh pada Citra dengan wajah heran.
“Itu lho Tra yang ditulis,” kata Ninda menunjuk papan tulis, bermaksud memberitahu huruf yang harus disalin.
“Yang ditulis ya huruf U itu,” timpal Apri sambil tertawa kecil, sehingga membuat saya menutup mulut saya yang mulai mencetak senyum.

Atau ketika kejadian yang satu ini. Seusai belajar sambil menunggu dijemput orangtua masing-masing, saya mengajak mereka bermain tebak bisikan. Saya menjelaskan pada ketiga anak tersebut tentang prosedur permainan tersebut. Setelah kami berempat (termasuk saya) duduk membentuk lingkaran kecil, saya akan membisikkan dua buah kata pada anak yang duduk di dekat saya. Setelah itu anak tersebut akan membisikkan kata yang saya sebutkan pada teman di sebelahnya, dan seterusnya. Mirip pesan berantai. Di akhir permainan saya akan menanyai anak terakhir yang menerima bisikan kata-kata dari teman sebelahnya. Kalau kata-katanya salah akan ditelusuri dari siapa dan dari mana kesalahan itu berawal. Dan yang salah nanti bertugas memimpin doa ketika pulang atau mengeja kalimat yang sudah saya sediakan. Berikut cuplikannya.
“Buah apel,” bisik saya pada Ninda.
Lalu Ninda meneruskannya pada Apri dan Apri meneruskannya pada Citra, semuanya dengan berbisik.
“Apa jawabannya Citra?” tanya saya.
Dia hanya tersenyum lebar sambil matanya melirik ke kanan dan ke kiri tanpa mampu memberikan jawaban. Saya meminta Apri mengulang bisikannya sampai beberapa kali. Tapi tetap saja tak ada respon. Ketika saya tanya sekali lagi, ekspresi itulah yang dia tampilkan, dan sekali lagi juga tanpa jawaban.
“Kalau jawaban-mu apa?” tanya saya pada Apri karena dia yang membisikkan kata itu pada Citra.
“Buah apel,” jawab Apri singkat.
Bahkan saya sudah pernah mencoba untuk menukar posisi tempat duduk dalam permainan pesan berantai. Pada Citra saya bisikkan dua buah kata “Baju Baru”. Ketika saya minta membisikkan pada temannya hasilnya tetap nihil. Saya sudah mengulang kata-kata saya beberapa kali, tapi kembali ekspresi itulah yang saya dapatkan. Ekspresi yang seakan melukiskan dia bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Sehingga membuat teman-temannya semakin penasaran dan tidak sabar menunggu kata-kata dari Citra.

Citra memang tipe anak yang tergolong aneh. Hal yang paling disukainya adalah bermain ketika ada jeda waktu istirahat. Dia paling cepat keluar kelas kalau waktu istirahat atau pulang tiba. Akan tetapi paling akhir dan paling sulit kalau diminta masuk kelas tanda pelajaran akan segera dimulai. Sampai-sampai saya harus membujuknya setiap kali akan masuk kelas. Sungguh hal yang melelahkan. Tidak sampai disitu. Terkadang dia terlihat memprovokasi temannya untuk menunda waktu masuk kelas, dan memperpanjang waktu bermain. Padahal waktu yang saya alokasikan untuk bermain berkisar antara 15-20 menit dari waktu 1,5 jam les, karena hari mulai menjelang senja. Dia juga pernah mengatakan pada saya kalau lesnya dongeng saja, tidak usah pakai baca tulis, habis itu istirahat terus pulang. Saya katakan padanya kalau saya akan memberikan hadiah dongeng kalau dia mau belajar baca-tulis. Saya juga tak habis pikir mengapa sulit sekali bagi dia untuk mengeja. Padahal usianya lebih tua dibanding dengan Ninda yang sama duduk di kelas TK A. Dan metode yang saya gunakan juga sambil bermain. Dan dia yang paling ekstra menguras tenaga saya ketika belajar sambil bermain. Waktu menyalin tulisan di papan tulis juga paling lambat. Setelah saya amati dengan seksama, ternyata setiap menyalin satu huruf, dia langsung mengajak ngobrol temannya. Tak peduli temannya sedang sibuk menyalin atau tidak. Serta paling lama, baik saat membaca, menulis maupun mengeja.

Tapi dibalik semua itu, sebenarnya dia unik. Ketika menyalin tulisan dia selalu menulis setiap huruf yang merangkai kata ke arah samping sesuai dengan tata cara membaca, sementara Apri dan Ninda menyusun kebawah pada huruf yang sama.
Selain itu, dia penggerak untuk menyalakan semangat teman-temannya. Hal ini terlihat saat diajak bernyanyi bersama dan bernyanyi bersahutan, dia yang paling pertama dan paling keras suaranya. Sementara kedua anak yang lain terkadang hanya diam terkadang menyahut dengan suara lirih.

Saya merasakan perbedaan suasana yang mencolok antara ada dan tidak-ada-Citra. Kalau dia tidak masuk, sudah dapat dipastikan suasana kelas akan terasa sepi hanya dengan Ninda dan Apri. Tetapi saya merasa beruntung, karena proses belajar berjalan lebih cepat tanpa ketidakhadirannya. Namun kalau dia hadir, saya agak merasa malas mengajar karena nanti pasti akan membutuhkan waktu yang lama dalam membimbing dia mengeja, membaca dan menulis. Namun demikian, saya juga merasa senang, karena keceriaaannya kelas menjadi terasa lebih ramai. Karena dia satu-satunya cheerleader yang menyemarakkan kelas dengan nyanyian yang bersahutan, dibanding kedua temannya. Satu keunikan lagi yang tak dimiliki kedua temannya adalah, dia menunjukkan bakat kepemimpinan. Hal ini tercermin dalam sikapnya yang langsung merespon dengan angkat tangan dan berkata aku, ketika saya menawarkan siapa yang mau memimpin doa atau siapa yang mau maju duluan untuk menulis atau membaca di depan. Sementara untuk yang lainnya selalu menunggu untuk ditujuk dan tidak berani menampilkan diri di depan, ketika saya minta memimpin kelas.

Hal lain yang tak kalah lucu, yakni ketika mereka bertiga belajar mengeja. Apri misalnya;
Saya: "Ini huruf?"
Apri: "b"
Saya: "Ini?"
Apri: "o"
Saya: "Ini?"
Apri: "b o"
Saya: "bo bo dibaca"?
Apri: "kebo"

Atau yang terjadi pada Ninda;
Saya: "t e?"
Ninda: "te"
Saya: "k o?"
Ninda: "ko"
saya: "te ko dibaca?"
Ninda: "naruto" (Mungkin saja dia mengidolakan tokoh Naruto dalam film kartun)

Atau ketika kejadian seperti berikut;
Saya: "p i"
Ninda: "pi"
Saya: "t a"
Ninda: "ta"
Saya: "pi ta dibaca?"
Ninda: "tapi" (He..he..he...bacanya jadi dibalik karena masih terpengaruh suku kata akhir)

On top of that, saya pun menyadari bahwa setiap anak diciptakan berbeda, dengan segala kekurangan dan kelebihan masing-masing.

Friday, 28 August 2009

DALIH SEORANG ANAK


Kali ini masih tentang tes individu. Hal ini menimpa salah seorang peserta didik. Farhan namanya. Usianya baru menginjak tiga tahun. Untuk memudahkan pembaca sekalian dalam mengimajinasikan Farhan, maka akan saya gambarkan ciri-cirinya. Tubuhnya tinggi besar, rambutnya lurus potong pendek, wajahnya lonjong yang dilengkapi dengan sebentuk senyum khas anak-anak. Kurang percaya diri dalam mengambil keputusan. Hal itu nampak ketika dia sering bertanya warna krayon apa yang cocok untuk mewarnai gambarnya.

Oleh orangtuanya Farhan diikutkan beberapa macam les privat ala anak pra-sekolah, yang tengah marak di Yogyakarta.

Saat itu, di sekolah dimana saya mengajar, untuk tingkat Kelompok Bermain (KB atau Play Group), memasuki tahap pengenalan warna dasar. Metode yang dilakukan antara lain: demonstrasi percampuran warna. Berkreasi warna dengan menggunakan krayon, menebak dan mengenali warna dasar dan lain-lain. Kali ini tes individu mengaplikasikan metode menebak dan mengenali warna dasar. “Farhan, sini sebentar nak,” panggil partner sekelas saya. Setelah Farhan mendekat dan dipersilahkan duduk, teman saya mulai melontarkan pertanyaan. “Ini warna apa Han?” tanya teman saya, sambil menunjuk kartu segi-empat warna merah. Untuk sesaat matanya berkedip-kedip, lalu dia berdehem. “Warna apa Han?” ulang teman saya lagi. Dia berdehem sekali lagi. Kemudian mulai bersuara. Tapi jawaban yang diberikan sungguh di luar dugaan kami semua. “Sebentar bu, aku tak les warna dulu,” jawab Farhan. Mengingat kejadian itu akan selalu menimbulkan tawa kami. Mungkin dia menjawab seperti itu karena selain belum tahu nama warna dia juga terbiasa dengan rutinitas les yang sering dijalaninya di luar kegiatan sekolah. Lucu memang, mechanis sekali, apa-apa harus less!

Thursday, 27 August 2009

KETIKA DHYCA DI UJI SECARA INDIVIDU


Hari ini sudah memasuki hari ke-6 di bulan suci Ramadhan. Dan ini berarti juga menghadapi anak-anak Play Group Kelompok II, yang beberapa diantaranya tergolong aktif, di hari pertama puasaku. Dhyca salah satunya.

Hari ini ada yang unik dari Dhyca. Pagi ini dia diantar Sang Ibu, sampai pintu gerbang. Dia mengenakan setelan baju muslim warna biru muda. Setelah salim dengan bu guru yang menymbut di depan pintu gerbang, segera kuantar dia menuju ruang kelas. Namun belum mencapai ruang kelas, dia langsung berseru, "Prosotan…prosotan,” teriaknya sambil berusaha melepaskan diri. Segera kupegang erat tangannya dan langkahnya kuarahkan menuju ruang kelas. “Prosotannya nanti, karena masih dibersihkan sama Pak Tono,” kataku sambil menunjuk prosotan yang sedang dibersihkan oleh petugas kebersihan. Dia hanya diam, ketika mengamati prosotan tersebut.

Memasuki ruang kelas, Dhyca mengucap salam. “Salammualaikum,” ucapnya, yang seharusnya “Assalammualaikum", sambil membuka pintu kelas. Salah satu ciri khasnya, yang belum pernah dilakukan teman-teman sebayanya. Tanpa diminta atau diingatkan dia langsung mengucap salam ketika memasuki kelas. Sungguh merupakan hal yang luar biasa. Seperti biasa, semua aktivitas kelas sama sekali tidak diikuti olehnya. Kegiatan yang paling disukainya adalah menggambar, sampai lantai dan meja menjadi media tempat dia menggoreskan krayon.

Sampai tiba waktu uji individu. Pada selembar kertas tersedia gambar lima macam pancaindra diantaranya mata, hidung, mulut/lidah, telinga, dan tangan sebagai indera peraba. Pada setiap gambar pancaindra tersedia garis untuk menuliskan jawaban yang diucapkan anak. Nama gambar pancaindra dan fungsinya. Satu demi satu anak dipanggil. Jawaban yang diperoleh sangat beranekaragam. Ada yang bilang hidung itu untuk bernapas, menyim sampai mengupil. Hingga akhirnya tiba giliran Dhyca. Seperti biasa dia paling tidak tahan untuk diminta duduk selama 5 menit. Lalu saya bersama seorang teman saya bekerjasama untuk tetap melakukan tes individu, guna mengetahui kemmpuan berbahasanya sejauh mana. Saya yang menulis jawabannya, teman saya yang bertugas menanyai, mirip interogasi yang dilakukan polisi pada tersangka, he…he…he…

Dhyca tetap saja tidak menghiraukan ketika teman saya melontarkan pertanyaan fungsi mata. Dia tetap asyik dengan mainan yang ada di tangannya. Kami tidak patah semangat. Sambil mengikuti langkah kaki Dhyca yang mengitari kelas teman saya masih terus bertanya. Saat Dhyca sudah mulai berhenti, teman saya masih memburu jawabannya. “Dhyca ini apa?” tanya teman saya sambil memegang mata Dhyca. “Mata,” jawabnya singkat. “Matanya Dhyca buat apa?” tanya teman saya lagi. Teman saya mengulang tentang fungsi mata pada Dhyca. “Nangis,” jawab Dhyca lagi. “Kalau hidung?”. “Sisi!” jawabnya. Dan jawaban yang mengundang tawa serta tidak terduga adalah waktu teman saya menanyakan fungsi mulut. “Mulut Dhyca untuk?”. “Teh,” jawabnya singkat, padat dan jelas. Kontan saja kami berdua langsung tertawa, mengingat dia sangat menyukai minuman teh. Saya-pun lantas membubuhkan jawaban yang telah diperoleh teman saya dari Dhyca, pada lembar kerja murid milik Dhyca. Dan untuk selanjutnya jawaban fungsi telinga dan tangan tak dapat kami peroleh karena Dhyca sudah tidak mau menjawab lagi, karena sibuk dengan mainannya.

Monday, 24 August 2009

KEPAHAMAN, TERSEMBUNYI DALAM KETIDAK-PEDULIAN

Namanya Daffa, usianya baru tiga tahun, dan diterima sebagai anak didik di tingkat kelompok bermain. Ukuran tubuhnya bisa dikatakan bongsor untuk anak seusianya, tapi itulah yang membuat orang gemas karena kelucuan yang terpancar dari wajahnya yang bulat dengan pipi tembem. Rambutnya ikal, potong pendek. Hari pertamanya pada minggu kedua di sekolah, diawali dengan tangis, ketika sang pengasuh diminta meninggalkannya di kelas bersama bu guru. Karena memang begitulah peraturan sekolah, yang memberikan batas selama satu minggu untuk ikut serta menemani anak belajar.

Sepintas ketika diperhatikan, anak yang satu ini terlihat unik. Ketika teman-temannya sudah bersiap duduk di karpet untuk berdoa, dia maih asyik dengan balok dan lego. Ketika teman-temannya bersiap cuci tangan menjelang waktu makan, dia pasti menghambur, berlari menuju taman bermain, dimana alat permainan tersedia. Lalu segera naik tangga dan jembatan goyang bersiap meluncur di papan luncur. Kami para guru dibuatnya berlari kesana kemari mengikutinya. Bahkan untuk menggiringnya masuk kelas dibutuhkan tenaga dua orang pengajar.

Seperti yang terjadi hari ini. Sambil memperlihatkan senyum khasnya yang lebar, dia melongokkan kepalanya dari terowongan papan luncur. Saya dan teman saya sudah menunggu dia untuk segera turun ke bawah dengan bujuk rayu yang terus meluncur dari bibir kami secara bergantian. Tapi rupanya dia sama sekali tidak terpengaruh. Sepertinya dia sudah hafal, kalau dia meluncur ke bawah, maka tangan kami akan segera menggandeng tangannya dan menggiringnya masuk kelas. Lima menit sudah berlalu, tapi Daffa masih belum mau meluncur. Bahkan dia sengaja menggoda dengan gerak-geriknya untuk menguji kesabaran kami. Antara sebentar dia bersiap untuk meluncur, akan tetapi belum separuh jalan dia kembali naik lagi ke terowongan sambil tertawa-tawa. Ketika dia sudah mendapatkan setengah jalan di papan luncur, dengan sigap kami segera memegang dan menggandeng tangannya berjalan beriringan ke kelas. Kami berusaha sekuat tenaga supaya dia tidak terlepas. Kalau sampai terlepas, dia bisa berlari masuk ke kelas TK seperti yang terjadi beberapa waktu yang lalu. Untuk urusan cuci tangan-pun kami juga bekerjasama. Ketika hendak membawanya ke wastafel, saya pegang kepalanya dan menghadapkan ke muka saya. “Daffa, cuci tangan lalu makan,” kata saya sambil berjongkok supaya pandangan mata kami sejajar. Metode itu memang kami terapkan pada Daffa yang agak aktif dan belum bisa fokus. Sementara saya menggulung lengan bajunya supaya tidak basah, lalu memegang tangannya ketika dibasuh, teman saya yang menuangkan sabun. Pada saat akan masuk kelas kami bertiga melintasi loker sepatu yang di atasnya bertengger 3 gelas air teh yang masih panas. Sontak saja dia langsung berucap, “Teh…teh…teh…” sebutnya sambil berusaha meraih minuman tersebut. Teman saya segera mendahului mengambil teh dan berkata “Teh…teh…yuk diminum di kelas,” kata teman saya sambil mengangkat gelas tinggi-tinggi dan membawanya masuk kelas dengan diikuti Daffa. Saya tertawa cekikikan menyaksikan adegan itu. Salah satu dari kami harus merelakan tehnya menjadi korban Daffa.

Sesampainya di kelas dan Daffa sudah puas dengan tehnya, dia bukannya mengambil alas makan, makanan, dan minuman seperti yang dilakukan teman-temannya yang lain. Akan tetapi dia mulai menyibukkan diri dengan permainan kepingan puzzle. Setelah bosan, dia berpindah ke permainan plastisin tanpa merapikan puzzle yang telah dimainkan. Begitu seterusnya. Sehingga kami dengan telaten membiasakan Daffa untuk merapikan mainannya sehabis digunakan.

Kalau diperhatikan Daffa sama sekali tidak berminat terhadap kegiatan di kelas. Ketika mewarnai, dia harus dipegang seorang guru supaya mau menggoreskan krayonnya pada gambar yang sudah disediakan, walaupun terkadang tidak selesai dan masih belum rapi. Tapi kalau kami cermati, dia sebenarnya sudah mengenal konsep warna. Hal itu saya amati ketika teman sesama pengajar, mencoba mengujinya dengan balok kecil berwarna-warni.

Teman saya tadi mengambil 3 buah balok kecil dengan warna berbeda. “Coba, warna merah yang mana?” tanya teman saya sambil menyodorkan ketiga buah balok ke hadapan Daffa. Di luar dugaan kami, Daffa mengambil balok dengan warna yang diminta. Ketika diminta mengambil warna lain-pun dia juga bisa menunjukkan, bahwa dia cukup memahami konsep warna. Tentu saja setelah teman saya melakukan tes sederhana itu beberapa kali. Sungguh hal yang menakjubkan, di tengah ketidak pedulian seorang Daffa, dia masih mampu memahami konsep dengan hasil yang memuaskan.

Friday, 21 August 2009

KOMET DARI SURGA


Masih terbayang jelas dalam ingatan saya, waktu itu pengalaman kedua saya menghadapi tahun ajaran baru, hari pertama. Ruangan kelas itu tidak hanya dipenuhi barang-barang penunjang kegiatan belajar mengajar, tapi juga suara tangis anak-anak lengkap dengan teriakan yang memanggil-manggil nama sang ibu ataupun pengasuh yang mengantarkannya sekolah sampai ke dalam kelas. Ada yang berteriak- teriak, menghentakkan kaki pertanda marah, meronta berusaha melepaskan diri ketika dipeluk ataupun digendong, buru-buru mengambil tas yang ada di dalam loker, hingga sampai berlari keluar kelas ketika pintu, dalam keadaan tak terkunci. Semuanya disertai tangisan dan menuntut untuk segera pulang. Bahkan rayuan guru-pun ada yang tak mempan, hingga kami para guru dibuat kewalahan dengan permintaan anak yang macam-macam. Mulai dari yang ingin pulang, ketemu mama, ketemu mbak, minta susu yang dibuatkan mama, kangen ibu, takut, ngantuk, bahkan minta disambungkan ke telepon rumah minta dijemput ayahnya saat itu juga.

Sudah seminggu, sejak peraturan dari pihak sekolah mulai berlaku. Anak boleh ditemani orangtua selama satu minggu, untuk minggu berikutnya para orangtua tidak diperkenankan menemani sang buah hati di dalam kelas ketika kegiatan belajar mengajar berlangsung. Hal ini bertujuan untuk melatih kemandirian anak dalam bersosialisasi dengan teman sebaya dan gurunya. Selain itu juga untuk membiasakan anak beradaptasi dengan lingkungan baru. Apalagi sejak duduk di tingkat Kelompok Bermain, kelas dimana saya mengajar.

Karena saya sudah pernah mendapatkan pengalaman yang serupa pada tahun ajaran sebelumnya, saya tidak begitu kaget dengan keadaan yang tengah terjadi. Beberapa saat kemudian keriuhan seisi kelas tadi sudah dapat teratasi seiring berjalannya waktu. Mungkin anak-anak sudah merasa capek menangis dan meronta. Hanya sesenggukan kecil yang tersisa dari mulut mereka. Ada yang membuat saya cukup heran dengan anak didik tahun ini. Diantara sekian banyak yang menangis ada beberapa anak yang mulai enjoy dengan permainan dan mainan yang ada di dalam kelas. Yang awalnya menangis mulai berlarian dengan temannya mengitari meja dan kursi. Ada murid yang mengikuti kemanapun guru melangkah. Tapi tidak sembarang guru yang dia ikuti. Guru yang dia ikuti, ialah guru yang sejak pagi sudah menjemputnya di gerbang sekolah dan menemaninya bermain di kelas serta yang membujuknya ketika menangis. Bahkan ketika guru tersebut hendak ke kamar mandi dia juga turut menyertai walaupun dia menunggu di depan pintu toilet yang tertutup. Dengan guru yang lain dia tak mau ikut. Ketika anak tadi ingin pipis dia hanya ingin diantar oleh guru yang itu juga, tidak mau diganti guru lain, layaknya seorang cowok yang setia pada pasangan pilihannya. Atau ketika sang guru duduk, dia juga ikut-ikutan duduk disampingnya, tak jarang sampai minta dipangku. Ketika sang guru mulai beranjak si anak juga bersiap untuk berdiri. Dan saat bu guru berjalan kesana kemari si anak juga mengikuti di belakangnya, seperti hendak mengawal. Sampai-sampai tatapan matanya tidak pernah lepas untuk mengamati gerak-gerik sang guru, layaknya seorang badan intelegen yang tugasnya mematai-matai seseorang. Itu semua karena dia tak mau ditinggal pergi sebelum bertemu dengan ibunya atau lebih tepatnya ketika dijemput Sang Ibu. Menangis-pun juga tanpa suara, hanya air mata yang mengalir dari kedua matanya. Sungguh unik, lucu dan menggelikan.Para guru selalu bilang dia suka mengekor alias mengikuti. Terlintas di pikiran saya, anak ini seperti komet yang memiliki ekor dan mengikuti kemanapun intinya pergi. Hal itu mungkin masih wajar jika terjadi pada anak perempuan berusia 3 tahun yang melalui hari pertamanya di sekolah. Tapi hal ini terjadi pada anak laki-laki bertubuh tinggi besar dengan usia yang sama dan kejadian yang serupa.

SAMPAIKAN SALAMKU


Radio yang mengudara pada gelombang 93.8 FM itu menjadi Radio favorit Tari. Bisa dikatakan Tari adalah salah satu pendengar setia. Selain menyuguhkan lagu-lagu hits Indonesia, Radio itu juga menjadi ajang dalam menyampaikan salam dan perkenalan. Dua minggu yang lalu, melalui sebuah acara “Sahabat Pena”, Tari diperkenalkan dengan seseorang yang belum dia tahu bagaimana wajahnya. Setelah sering berkomunikasi via SMS dan telepon, akhirnya mereka berdua sepakat untuk bertemu. “Malam Minggu di Toga Mas, lantai dua”, jangan lupa Kaos Hitam Blue Jeans ya, ucap Nikko, teman kenalannya saat di telepon.
Akhirnya dengan hanya berbekal nama dan nomor ponsel, dia putuskan berangkat ke tempat yang dimaksud. Sesampainya di tujuan, Tari segera menuju lantai atas. Sebelum melangkah lebih jauh, diedarkannya pandangan keseluruh ruangan, mencoba mengamati dan mencari cowok Misterius itu. Sampai kemudian pandangannya terhenti pada seseorang yang mengenakan baju yang telah diberitahukan lewat telepon tadi. Dia memencet nomor henfon si cowok untuk memastikan kebenaran. Telepon diangkat. “Hallo, Tari kamu dimana”, kata Nikko sambil celingukan. “Aku sudah dekat dengan tempat dudukmu”, jawab Tari. Perlahan didekatinya Nikko dengan hati berdebar. Tapi alangkah terkejutnya Tari ketika sudah berada dihadapannya. “Ternyata kamu”, tunjuknya tak percaya. Nikko langsung berdiri dan berkata, “Tari?,”, tanyanya tak percaya. Mereka berdua duduk dan memesan minuman. Karena lantai dua Toko Buku itu merupakan Cafe. “Tak disangka aku dipertemukan dengan sahabat lama”, ucap Nikko. “Ternyata dunia ini memang sempit ya”, lanjutnya. “Ya dan anehnya ternyata di dunia ini hanya ada satu Nikko”, sahut Tari. “Dan juga cuma ada satu Tari”, timpal Nikko tak mau kalah. Mereka berdua akhirnya terlibat obrolan seru, tentang masa-masa SMP dulu. Kadang terdengar canda tawa antara keduanya.
“Sampai sini aja ya”, kata Nikko masih tetap di atas motor. “Kamu yakin nggak mampir dulu”, tawar Tari. “Sudah malam, lain kali saja, lagian orangtuamu bisa terganggu, sekarang masuklah”, perintah Nikko. “Tidak, kau dulu yang pergi, aku ingin melihatmu sampai kau berbelok di tikungan itu”, sahut Tari.”Tidak bisa begitu, bagaimana nanti kalau terjadi apa-apa padamu, setelah aku berlalu”, kata Nikko lembut. “Ayo sana masuk”, lanjut Nikko sambil mendorong tubuh Tari untuk segera masuk rumah. “Hati-hati ya”, ucap Tari sesaat sebelum membuka pintu gerbang. Dari jendela kamar diamatinya Nikko yang sudah mulai berjalan sambil melambaikan tangan.
Pagi-pagi Tari sudah bersiap untuk berangkat ke sekolah. Namun ketika keluar rumah, didapatinya Nikko sudah menunggu. “Hei kenapa nggak masuk”, seru Tari.. “Sudah nggak apa, sekarang yuk naik, aku mau mengantarmu ke sekolah”, ucap Nikko sambil menyodorkan helm. Tak lama kemudian mereka berdua sudah melaju di jalanan. Siang hari keduanya memutuskan makan siang bersama. Sore hari jalan-jalan di Ambarukmo Plaza, menonton film. Malamnya pergi ke Cafe.
Hari Minggu mereka tengah menghabiskan liburan di pantai Parangtritis. Pelan tapi pasti Nikko meraih tangan Tari. “Menurutmu, ke arah mana hubungan kita ini akan dibawa?”, tanya Nikko. Tari semakin salah tingkah. Dia mengambil napas dalam-dalam, berusaha menenangkan hatinya. “Sebenarnya, aku berpikir biarlah hubungan ini berjalan dengan sendirinya”, jawab Tari. “Jadi kita HTS”, sergah Nikko.
Tiga hari kemudian…tepat saat malam Valentine. Suara handphone membuyarkan lamunan Tari. Satu pesan masuk. Dari nikko. Buka. “Berjalanlah ke arah jendela dan dapatkan aku”. Ragu-ragu Tari melangkah ke arah jendela dan membukanya. Di bawah sana Nikko melambaikan tangannya. Dia merentangkan sebuah karton yang bertuliskan seperti ini:
Andai aku bisa memutar waktu . Sudah sejak dulu kunyatakan cintaku. Tapi waktu terus berlalu. Tanpa memberikan ruang kesempatan bagiku. Apakah sekarang masih terbuka kesempatan kedua bagiku?Ijinkanlah aku untuk mengisi ruang di hatimu
Tari semakin tersipu. Nikko merogoh sakunya. Mengeluarkan henfon dan menghubungi nomor Tari. Telepon di seberang diangkat. “Sudah berapa wanita yang sudah kau taklukkan dengan rayuanmu?”, tanya Tari penuh selidik. “Jadi bagaimana, apa ungkapan sayangku bisa kau terima?”, balas Nikko. Tari hanya mengangguk. “Yes…teriak Nikko girang. “Turunlah, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat, jangan lupa minta ijin pada orang tuamu”, ucap Nikko. Sepuluh menit kemudian mereka berangkat ketempat yang dimaksud. Tiba disana, Nikko menutup mata Tari dengan selembar kain. “Sebenarnya, ada apaan sih,”, tanya Tari penuh rasa penasaran. “Nanti kau juga akan tahu”, jawab Nikko. Digandengnya tangan Tari. Setelah melangkah beberapa meter, dia membuka tutup mata Tari. “Surprise…Happy Valentine,” ucap Nikko. Mereka ada di ruangan berukuran sedang yang sudah dihias oleh Nikko. Tari hanya bisa memandang takjub.”Aku menyewa tempat ini”, jelas Nikko. “Duduk sini”, katanya lagi. Dia menuangkan minuman untuk kekasihnya. Setelah itu menghidupkan lagu dan mengulurkan tangan pada Tari. Sesaat kemudian mereka berdansa. Namun tiba-tiba saja Tari terjerembab dan DUK…! “Aduh…”, pekik Tari. Dia terbangun dengan posisi jatuh dari tempat tidur. Radionya masih menyala, Tari Cuma termangu.

Wednesday, 19 August 2009

Ketika Membaca, PR, dan Tes Masuk Jadi Bumerang

Dewasa ini berbagai tuntutan dalam dunia pendidikan mulai diberlakukan pada anak. Khususnya di tingkat TK. Salah satunya adalah bisa membaca, ketika anak menjelang SD. Kalau tidak, maka SD yang bersangkutan tidak bisa menerima. Persyaratan tersebut tidak sesuai bila diberlakukan untuk Anak Usia Dini. Mereka mendaftar sekolah bukan untuk bekerja, tapi menuntut ilmu. Sungguh tidak masuk akal kalau anak yang datang untuk belajar harus melalui tes masuk. Bukankan tes seleksi lebih tepat diberlakukan di dunia kerja setelah anak dididik di lembaga sekolah. Apakah murid yang ingin belajar di sebuah sekolah perlu untuk diseleksi?

Dengan adanya aturan tersebut, akhirnya guru TK mulai sibuk menyiapkan anak didik mereka supaya mereka segera bisa membaca. Cara-cara yang digunakan-pun terkesan instan. Seperti yang penulis sendiri pernah amati, salah satunya adalah mencongak atau dikte. Hal ini sungguh sulit untuk dilakukan anak-anak usia TK. Bahkan yang lebih lucu lagi, untuk mendukung upaya tersebut adalah pemberian PR menulis dan membaca. Entah lembaga SD mana yang mempelopori penentuan syarat “harus sudah bisa membaca” tersebut. Hal ini sangat memberatkan siswa.

Sungguh ironis, namanya saja taman kanak-kanak, tapi modelnya sudah seperti SD kelas atas. Maka tak heran ketika sejumlah anak-anak yang duduk di bangku TK tiba-tiba saja mogok sekolah dengan alasan bosan, seperti yang penulis pernah dengar langsung dari celetukannya. Diantara mereka bahkan ada yang sampai menangis. Ini membuktikan bahwa metode yang digunakan tidak bervariatif dan kurang bermakna khususnya bagi anak. Usia TK yang seharusnya usia bermain sekarang telah berevolusi menjadi usia belajar. Aspek moral, bahasa, kognitif, motorik, seni, sosial-emosional dan kemandirian, yang seharusnya dikembangkan di tingkat TK menjadi minim, karena tergusur oleh pengembangan kemampuan membaca dan menulis.

Sebenarnya ada beberapa cara efektif dalam mengajarkan anak membaca. Seperti yang pernah diungkapkan oleh Pakar PAUD sekaligus Dosen FIP UNY, Dr. Sugito, MA, “Mengajari anak mulai membaca, tidak harus menunggu saat anak menginjak usia TK atau SD. Alangkah baiknya kalau anak diajarkan membaca sejak usia dini, semakin dini semakin baik, secara bertahap. Salah satunya dengan membacakan cerita atau dongeng, dan yang lebih penting adalah keteladanan orangtua dalam membaca. Kalau orangtua-nya saja tidak suka membaca maka bagaimana bisa memberi contoh pada anak untuk suka membaca.” Yang dimaksudkan disini adalah hendaknya para orangtua membudayakan tradisi membaca tidak hanya pada anak tapi juga pada diri sendiri. Dengan begitu dalam diri anak akan tumbuh kemauan untuk membaca seiring dengan bertambahnya usia.
Selain itu beliau juga berpendapat bahwa Pekerjaan Rumah (PR) bagi anak usia pra-sekolah dipandang tidak perlu, karena akan membebani mereka. Hal senada juga pernah diungkapkan oleh pakar PAUD yang lain, yang mencontohkan bahwa bentuk PR yang bisa diberikan untuk anak usia dini antara lain: memberi makan binatang peliharaan, membantu orangtua menyiram bunga, atau merapikan tempat tidur. Dengan begitu secara tidak langsung mengembangkan aspek pertumbuhan—yang telah disebutkan di atas—kepada anak-anak ketika berada di rumah. Sehingga orangtua-pun juga akan terlibat secara kongkrit dan berperan penting dalam mendampingi anaknya. Dengan demikian komunikasi dan kerjasama antara orangtua dan guru dapat terjalin lebih erat dan produktif demi keberhasilan bersama.

Cara lain yang bisa diterapkan adalah dengan mengenalkan kartu bergambar atau kartu huruf. Pengenalan dilakukan dengan pengucapan lafal secara jelas dan diulang-ulang. Metode ini akan lebih efektif dan menyenangkan bagi anak-anak bila nuansa bermain tetap diaplikasikan dalam proses pengenalan alpabet bergambar tersebut. Dengan begitu anak-anak akan tetap tertarik untuk belajar karena mereka merasa itu bagian dari dunia permainannya yang menyenangkan.

Dengan demikian, relevan kiranya bila kita semua berharap para pendidik PAUD dan TK untuk rela meluangkan waktu demi meningkatkan kapasitasnya, dengan banyak menengok teori-teori tentang psikologi perkembangan anak dan pola pembelajaran Anak Usia Dini yang kini semakin berkembang. Dan akses terhadap materi-materi yang demikian telah tersedia begitu banyak dan gratis pada situs-situs di internet. Kini tinggal menunggu langkah mulia tersebut.

Konsep Kedisiplinan di Lingkungan PAUD

Saat ini dunia pendidikan benar-benar mengalami kondisi yang bisa dikatakan menderita (suffer). Menderita disini lebih tepat ditekankan pada situasi dimana anak-anak yang terpaksa atau diharuskan taat pada aturan yang ada dan cenderung bersifat ‘harga mati’—tidak dapat ditawar lagi. Khususnya di lingkungan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) yang menekankan kedisiplinan pada anak sejak dini. Contoh yang sederhana, sebagaimana penulis pernah alami sendiri, dalam kegiatan pembelajaran di kelas, ketika anak-anak berdoa harus melipat tangan, kaki dirapatkan, mata dipejamkan, atau berbaris rapi ketika hendak masuk kelas, dan masih banyak lagi ketentuan yang diberlakukan oleh pihak sekolah terhadap anak didik. Padahal, proses penanaman kedisiplinan yang demikian belum tentu dapat mencetak dan menghasilkan peserta didik yang sepenuhnya disiplin dan akan selalu taat pada peraturan.

Pada dasarnya anak-anak itu menyukai suasana hidup, bermain dan belajar yang bebas tanpa tekanan peraturan yang ketat. Kita tahu anak-anak belum bisa bersikap tenang dalam situasi tertentu. Sehingga penerapan kedisiplinan yang berlebihan dan cenderung saklek pada mereka justeru bisa kontraproduktif dan menghambat perkembangan kreativitas dan kepekaan mereka terhadap lingkungan sosialnya di sekolah. Pola yang demikian disciplined sesungguhnya tidak sesuai karena cenderung militeristik. Meskipun ‘seolah’ benar karena sudah menjadi bagian tradisi pendidikan di negeri ini, bisa jadi merupakan sistem pendidikan warisan jaman kolonial.
Gaya pendidikan yang demikian merupakan cerminan dari pola pengasuhan otoritarian. Hal ini secara tidak langsung mengekang kebebasan anak dalam berekspresi, yang dapat menghambat bahkan bisa mematikan kreatifitas anak. Anak jadi tidak memiliki inisiatif dalam memutuskan sesuatu, selalu menunggu perintah, sehingga membuat anak menjadi mekanis, layaknya robot yang sudah diprogram sejak awal. Implikasi yang dapat ditimbulkan adalah anak kurang mandiri dan kurang memiliki tanggung jawab sosial di kemudian hari.

Hal lain yang tak luput dari kedisiplinan adalah soal penyeragaman. Mulai dari pakaian, kurikulum, metode mengajar, sampai soal cara berpikir. Tidak ada ruang sedikitpun bagi berkembangnya keragaman pikiran, ideologi, budaya, suara, hingga tindakan. Penyeragaman pakaian, konon dipandang sebagai upaya untuk mencegah persaingan tak sehat dan menghindari kesenjangan sosial antar individu. Padahal penyeragaman yang demikian hanya bersifat simbolik, kurang bermakna, karena justru menyembunyikan kondisi yang sebenarnya.

Penuntutan kepatuhan peraturan terhadap anak merupakan cara yang kurang efektif untuk mananamkan kedisiplinan, apalagi bila disertai ancaman atau intimidasi hukuman yang ketat diberlakukan. Model disiplin tersebut merupakan bentuk disiplin jangka pendek. Sedangkan tujuan edukasi disiplin adalah agar setiap anak memiliki disiplin jangka panjang, melekat karena tumbunya kesadaran yang rasional. Nah, bagaimana caranya? Disiplin jangka panjang yang transformtif (membawa peruhan yang lebih baik) itu bisa muncul apabila sudah tumbuh kesadaran atau kemampuan si anak untuk mendisiplinkan diri karena dia mengerti dan memahani akan penting dan bergunanya perilaku positif tersebut bagi dirinya sendiri dan orang lain di sekitarnya. Jika anak sudah punya kemampuan semacam itu, maka ia akan menjalani kehidupannya sehari-hari dengan penuh kedisiplinan, atas inisiatif sendiri, tanpa disuruh-suruh, ditegur, dimarahi, apalagi diberi hukuman. Ia sudah mengerti dan memahami bahwa disiplin merupakan bagian dari kewajiban dan tanggung jawab, bahkan menjadi kebutuhannya untuk meraih prestasi dan keberhasilan di masa depan. Hal ini seperti yang telah disampaikan oleh Zainun Mutadin, S.Psi, MSi, dalam situs www.e-psikologi.com.

Lalu apa yang harus dilakukan, untuk membantu anak mengerti, sehingga bisa tumbuh kesadarannya dalam menerapkan kedisiplinan diri? Menurut para ahli PAUD, yang harus dilakukan kalangan pendidik dan juga orang tua adalah memberikan teladan, contoh kongkrit, mulai yang kecil-kecil yang kita anggap sederhana. Dan tentunya penjelasan yang rasional atas ketentuan atau peraturan dan etika apapun. Tentang apa manfaat disiplin diri dan sisi negatif atau bahaya ketidakdisiplinan terhapdap dirinya dan orang lain di sekitarnya, bahkan dampak buruknya terhadap lingkungan alam—bila kita ingin mencontohkan soal kedisiplinan membuang sampah misalnya. Tentu saja, semuanya dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh anak usia dini. Serta penerapan toleransi dan fleksibilitas manakala si anak dihadapkan pada situasi dan kondisi tertentu yang bisa dimaklumi akal sehat.

Hal ini sejalan dengan pola pengasuhan konstruktif keluarga, dimana peran orangtua dalam peningkatan kedisiplinan dapat diterima oleh anak dengan penuh kesadaran sebagai bagian dari nilai-nilai dan etika sosial yang terpuji. Hasilnya anak memiliki kemandirian, empathy dan tanggung jawab sosial yang tinggi. Perlu juga mungkin, kita menengok dan berkaca, kemudian mempelajari sisi positif sistem pendidikan anak usia dini yang diterapkan di negara yang lebih maju. Dengan harapan, pendidikan disiplin yang transformatif bersih dari kekerasan dan intimidasi (bullying) bisa terwujud. Dengan demikian paling tidak kita telah melakukan sesuatu yang positif untuk mengurangi suffering yang saat ini tengah dialami anak-anak usia dini di sekolahnya.

Tuesday, 18 August 2009

B A R O N G S A I

Oleh Yulinda Rohedy Yoshoawini
Barongsai itu meliuk-liuk seperti ular yang tampak lincah. Dia melompat menaiki tiang kayu yang disusun berjajar dengan ketinggian tertentu. Suara tabuhan dan teriakan orang-orang yang takjub membahana. Mereka yang memainkan barongsai tersebut tak lain adalah kelompok Koh Huan. Sementara itu seorang gadis kecil dengan senyum polosnya hanya memandangi pertunjukan Sang Ayah dari tepi arena. Liem Me Fung namanya, dan biasa dipanggil Me Fung. Me Fung sangat lucu dengan rambut yang selalu dikepang dua itu. Wajahnya manis dan menyenangkan. Sekarang dia duduk di kelas 4 SD.

Tapi pertunjukan yang ramai itu hanya tinggal kenangan. Dua hari yang lalu rumahnya terbakar. Me Fung yang hanya tinggal bersama ayahnya itu pun hidup terlunta-lunta. Ibunya telah tiada ketika tangis Me Fung menyapa dunia. Karena kejadian itu pula dia sudah dua minggu tidak masuk sekolah karena harus membantu sang ayah bekerja. Berdua ayah anak itu sedikit demi sedikit mulai membangun kembali rumah mereka yang roboh terbakar. Jadi untuk sementara waktu dia dan ayahnya tinggal di tenda bersama tetangga sekitar yang bernasib sama.

Sebentar lagi Imlek akan tiba. Biasanya Koh Huan bersama beberapa rekannya selalu mengadakan pertunjukan tari Barongsai untuk memperingatinya. Tapi harapan itu kandas karena perlengkapan dan kostum barongsai juga tak luput dari amukan Si Jago Merah. Kini mereka tak tahu lagi harus bagaimana. Malam itu Koh Huan menghela napas panjang setiap teringat kemalangan yang baru saja menimpa keluarganya.

Siang itu, Anti, Nella dan Rista mengunjungi Me Fung di tenda. Mereka bertiga khawatir karena Me Fung sudah lama tidak masuk sekolah. “Kami sangat merindukanmu, kapan kau akan sekolah lagi?” tanya Anti. “Aku belum tahu teman-teman, sepertinya aku akan berhenti sekolah karena ayahku tak mampu untuk membiayai sekolahku”, jelas Me Fung dengan sedih.

Keesokan harinya saat Bu Ranti, wali kelas 4, menanyakan tentang Me Fung, ketiga sahabatnya menceritakan keadaan Me Fung pada Bu Guru. Setelah termenung Bu Ranti akhirnya memutuskan untuk mengadopsi Me Fung sebagai anak angkat, agar bisa bersekolah lagi, apalagi Bu Ranti juga akan mengusulkan bahwa Me Fung berhak mendapatkan Beasiswa karena dia termasuk murid yang pandai. “Ibu akan membicarakan hal ini dengan ayah Me Fung dan menyampaikan pada Komite Sekolah tentang beasiswa tersebut”, kata Bu Ranti akhirnya. Ketiga sahabat itupun menyambut dengan bahagia.

Sore itu Bu Ranti datang ke rumah Me Fung yang baru saja selesai diperbaiki. “Maaf bu, karena keadaan ekonomi keluarga, Me Fung tidak bisa melanjutkan sekolah”, kata Koh Huan mewakili, putrinya. “Saya datang kemari untuk menyampaikan maksud baik dan membawa kabar gembira untuk anda”, jelas Bu Ranti. “Saya bermaksud mengangkat Me Fung sebagai anak asuh dan membiayai semua keperluan sekolahnya”, lanjut Bu Ranti. “Apakah ibu serius”, tanya Koh Huan tak percaya. Hal itu juga didukung dengan disetujuinya pemberian beasiswa untuk Me Fung.

Malam itu adalah Malam Imlek yang paling berkesan bagi Me Fung. Di balik semua kemalangan yang dia alami, ternyata banyak keberuntungan menghampiri. Apalagi ketika Sang Ayah memberitahu bahwa ada kelompok Tari Barongsai yang mengajak beliau bergabung untuk mempertotonkan tarian Barongsai dalam rangka Imlek. Untuk menyambut Tahun Baru Imlek yang akan tiba, Me Fung dengan dibantu oleh ketiga sahabatnya sedang membuat dan memasang lampion untuk menghias ruangan rumahnya. “Terimakasih teman, tanpa kalian aku tak akan bertemu dengan keberuntungan”, ucap Me Fung dengan mata berkaca-kaca. Keempat sahabat itupun saling berpelukan penuh rasa haru. ‘GONG XI FAT CAI 2560”.

Cernak ini pernah dimuat Harian Kedaulatan Rakyat, Minggu Pon 25 Januari 2009

Monday, 17 August 2009

BAHASA FORMAL SEORANG BOCAH

Sebagai seorang pendidik, saya sering mengamati perilaku dan cara bicara anak-anak didik saya ketika mereka berinteraksi. Baik dengan gurunya maupun dengan teman sebayanya. Maklum waktu itu baru tahun ajaran baru. Jadi anak-anak membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan sekolah mereka, alias lingkungan baru. Beberapa dari mereka masih ada yang menangis ketika ditinggal oleh pengasuh atau orangtuanya. Bahkan sampai terjadi tarik-menarik antara orangtua/pengasuh dengan guru kelas ketika, mereka akan diserahkan ke pihak sekolah. Ada beberapa anak yang masih bisa ditenangkan dengan bujuk-rayu para guru. Peraturan sekolah mengharuskan anak untuk ditinggal, atau tidak boleh ditunggui ketika kelas berlangsung. Demi melatih kemandirian anak. Pihak sekolah hanya memberikan toleransi waktu satu minggu, bagi pihak orang tua yang ingin tetap mendampingi anaknya ketika kelas sedang berlangsung. Namun demikian, mereka tetap tidak diperkenankan mendamping di dalam kelas.

Salah seorang murid saya, anak laki-laki yang baru berusia 3 tahun, terlihat menangis sambil memeluk erat leher sang ibu. Tidak mau lepas dari gendongan. Ketika hendak dipindah-tangankan pada guru kelas, dia mengatakan “Aku belum dewasa. Jadi harus digendong sama mama”. Kontan perkataan anak itu mengundang tawa dari para staf guru yang juga berusaha membujuknya untuk mau berpisah dengan sang ibu. “Oh ya, supaya mama tidak capek, gendongnya digantiin bu guru,” begitu jawaban yang saya berikan waktu itu. Tak sampai satu menit anak tersebut sudah berpindah ke dalam gendongan saya.

Kelucuan yang dipancarkan murid saya tersebut, tidak hanya berhenti sampai di situ. Saat proses kegiatan belajar mengajar berlangsung, anak itu kembali menangis minta pulang, pingin ikut ibunya. Kali ini tangisnya bertahan lebih lama. Karena tak kunjung reda, maka salah seorang rekan guru berkata, ”Nangisnya nggak usah lama-lama. Sebentara aja”. “Mengapa tidak boleh menagis terlalu lama?” tanya anak itu. Sunguh mengejutkan sekaligus menggelikan. Di usianya yang baru menginjak 3 tahun, dia bisa berbicara dengan bahasa formal tanpa singkatan. Layaknya menyesuaikan dengan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan). Hal yang jarang dilakukan anak-anak seusianya.

Hal lain yang lebih mengejutkan saat kegiatan bercerita. Beberapa anak didik saya tidak duduk di karpet, tetapi di lantai. “Silahkan duduk di karpet. Soalnya kalau di lantai dingin. Bu guru nggak mau kalau anak-anak masuk angin,” kata teman sesama guru. “Ibu guru tidak mau kalau anak-anak masuk angin,” ulang anak itu menirukan perkataan rekan kerja saya. Anak itu mampu mengolah kalimat tidak lengkap menjadi kalimat lengkap, dan terdengar lebih formal. Setelah menanyakan kepada orangtua tentang gaya bahasa anak, ternyata sejak kecil si anak telah dibiasakan berbahasa formal ketika berkomukikasi dengan orangtuanya. Kami para guru hanya bisa berkata, “O…pantas saja, sudah disetel dari rumah begitu”.

BALAS BUDI IKAN AJAIB

Oleh Yulinda Rohedy Yoshoawini
Seekor cacing sedang menggeliat-geliat berusaha melepaskan diri dari mata kail. Saat itu Tori si ikan bersayap yang ada di lautan itu, sedang berenang melintas. Tapi karena kurang hati-hati tiba-tiba saja, “duk aduh”, teriak keduanya berbarengan. “Ma…”, belum selesai Tori meminta maaf matanya terbelalak. “Wah mi instan”, seru Ikan Terbang dengan girang. Dia mulai membuka mulutnya lebar-lebar. Si cacing yang menyadari kalau bertabrakan dengan seekor ikan, langsung terkejut dan “Wa…tolong jangan makan aku”, teriaknya sambil menutup mata dengan kedua telapak tangannya. Tori merasa iba, sehingga dia mengurungkan niatnya. “Hei sobat, aku tak akan memangsamu”, kata Tori. Perlahan-lahan si cacing mulai menurunkan kedua tangannya. “Oh syukurlah”, ucap Aci si cacing. “Maaf aku tidak sengaja menabrakmu, kau siapa?” tanya Tori. “Oh tak apa, namaku Aci”, jawab si cacing. “Maukah kau menolongku melepaskan ikatan ini?” lanjutnya. “Bagaimana ya...aku sedang terburu-buru menghadiri undangan dan agak terlambat”, tolak Tori. “Tolonglah jangan tinggalkan aku sendirian. Aku tak mau jadi santapan ikan lain. Setidaknya lepaskanlah aku lebih dulu”, pinta Aci memelas. “Tapi aku tak mau ambil risiko, bisa tertangkap. Aku tak mau jadi ikan goreng”, elak Ikan Terbang. “Huu…u…hua…a…,” Aci menagis ketakutan. “Walah pakai menagis lagi. Cup cup diam ya”, bujuk Tori. Tangis si Aci bukannya mereda tapi semakin keras. Tori menjadi bingung dan akhirnya, “Baiklah aku akan menolongmu”, sahut Tori. “Benarkah, kata Aci di sela-sela tangisnya. Ikan Terbang hanya mengangguk. Dia mulai membuka ikatan tali pancing pada ekor si Cacing dengan hati berdebar dan tangan yang gemetar, karena takut terpancing. “Nah selesai”, kata Tori setelah bersusah-payah. “Hah terimakasih ya”, ucap Aci dengan senang. “Entah bagaimana aku membalas kebaikanmu”, lanjutnya. “Ah tak usah sungkan bukankah kita harus saling menolong”, jawab Tori. “Sekarang pergilah dan jangan sampai kau jadi umpan lagi”, pesan Tori si ikan terbang. Aci pun beringsut pergi. Sepeninggal cacing Tori tak menyadari kalau mata kail yang dilepasnya tadi tersangkut di ekornya. Tali pancing bergetar maka seketika itu juga pak nelayan menyentakkan pancingnya dan “Ah… tolong…!” pekik Tori.

Kini Tori telah berada di dalam ember. “Tolong jangan bunuh aku”, suara Tori terputus-putus dan hampir kehabisan napas. Pak nelayan terlonjak. “Siapa yang bicara ya?” gumamnya sambil tengok kanan dan kiri. Dia hanya sendirian. Dia mengamati Tori. Mulut ikan terbang itu nampak bergerak-gerak. “Akulah yang bicara Pak”, serunya dengan tersengal. “Ah mana mungkin ikan bisa bicara, mustahil”, kata pak nelayan tak percaya. “Kau bicara padaku?” tanya pak nelayan. “Ya”, jawab ikan terbang terengah-engah. “Wah jangan-jangan ini ikan siluman”, kata pak nelayan pada dirinya sendiri. “Aku bukan ikan siluman aku ikan ajaib”, sangkal Tori. “Kau tak bohong?” tanya pak nelayan menegaskan. “Percayalah padaku. Lepaskanlah aku. Ku mohon, aku sudah tak kuat lagi”, pinta Tori. Dia merasa sesak napas. “Kau memintaku melepaskanmu?” sahut pak nelayan. Karena merasa kasihan dia melemparkan Tori ke dalam air. “Terimakasih banyak Pak. Budi baikmu tak akan kulupakan”, ucap si ikan terbang. Pak nelayan hanya mengangguk dan terlongo tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Tori kembali berenang di dalam lautan. Pak nelayan hanya termangu diatas kapalnya. Hari ini dia tak mendapatkan seekor ikanpun. Padahal hari telah menjelang sore.

“Gluduk…gluduk…dhuer!” “Wah kelihatannya mau ada hujan badai, lebih baik aku pulang saja”, kata pak nelayan seraya membereskan perlengkapan pancingnya, dan mulai menjalankan mesin perahunya. Akan tetapi tanpa disangka-sangka, di tengah perjalanan badai datang dan menghantam perahunya. “Wush…wush… wush…lip lip lip dhuer!” Perahu pak nelayan terbalik. Beliau hampir saja tenggelam karena tak bisa berenang. “Tolong.....hap....toloong….aku tak bisa berenang…hap hap!” Beruntunglah saat itu Tori mendengar teriakan si nelayan. Tori segera berubah menjadi ikan terbang raksasa dan berenang ke arah sumber suara tersebut. Sebelum tenggelam, Tori menangkap dengan sigap tubuh pak nelayan dan menaikkannya ke atas punggungnya. Beliau merasakan tubuhnya melayang ringan diantara deru dan kecipak air. “Apakah aku sudah mati?” tanya pak nelayan. Rupanya dia sempat pingsan dan tak sadarkan diri. “Kau masih hidup pak, coba bukalah matamu”, jawab si ikan. Dengan agak berat pak nelayan mulai membuka matanya. “Hah dimana aku dan si…si siapa kau? Kenapa aku bisa berada di atas punggungmu?” tanya si nelayan dengan gugup. Tori hanya tersenyum, “Apa kau sudah benar-benar lupa padaku? Aku adalah ikan terbang yang kau lepaskan tadi siang”, jawabnya. “Lalu bagaimana kau bisa berubah jadi sebesar ini?” tanya si nelayan penasaran. “Bukankah sudah kukatakan kalau aku adalah ikan ajaib”, jelas Tori. “Tadi sewaktu aku mau pulang dari rumah temanku, aku mendapatimu terombang-ambing di lautan sambil meminta pertolongan”, sekarang katakan dimana tempat tinggalmu. Aku akan mengantarmu pulang. Lagipula kapalmu sudah hancur diterpa ombak”, lanjut ikan terbang. “Rumahku ada ditepi pantai sebelah timur”, kata pak nelayan menunjuk arah yang dimaksud. “Baiklah kalau begitu bersiaplah”, ikan terbang memeberi aba-aba. “Wush srut”, Tori berenang dengan gesit. “Hei jangan terlalu kencang!” Si nelayan mulai ketakutan. “Berpegang saja pada siripku!” kata Tori.

Tak lama kemudian mereka telah tiba di tepi pantai. “Nah, kita sudah sampai”, ucap si ikan terbang. “Syukurlah”, jawab pak nelayan sambil menghembuskan napas panjang karena merasa lega. Kemudian dia berkata pada si ikan terbang ajaib, “Terimakasih ya. Entah apa yang akan terjadi padaku jika kau tak menolongku”. “Sama-sama, tapi maaf aku tak bisa berlama-lama disini. Aku harus segera kembali ke laut”, kata Tori. “Baiklah kawan, berhati-hatilah! Sampai jumpa lagi!” kata pak nelayan akhirnya. “Ya, sampai ketemu di lain waktu”, timpal si ikan terbang. “Dah…”, kata keduanya saling mambalas lambaian tangan. Sejenak pak nelayan menatap ke laut lepas. Hari ini begitu banyak hal-hal aneh yang dia alami, namun dia juga mendapatkan segudang hikmah yang dapat ia rasakan. Semenjak hari itu dia berjanji dan bertekad dalam hati, bahwa dia akan berhenti menjadi nelayan. Karena dia tahu tak semua ikan rela untuk menjadi santapan di atas meja makan.

Cernak ini pernah dimuat Harian SUARA MERDEKA 30 November 2008. Ilustrasi Kak Jo, Suara Merdeka.

CLEANING UP

Ruangan yang dialasi karpet itu nampak terang, bersih dan dingin karena ber-AC. Beberapa kursi dan meja berderet, dua lemari, sebuah rak buku dengan bermacam buku bacaan, sebuah cermin, dan tempat tidur kecil. Dua lemari ukuran sedang, lengkap dengan sejumlah mainan dan sebuah papan tulis yang tergantung di dinding, menambah kesan semarak yang padat. Tersedia juga loker tempat untuk menyimpan tas yang jumlahnya sebanyak siswa. Ruangan itu tak lain adalah ruang kelas, tepatnya ruang kelas Kelompok Bermain di sebuah sekolah di Yogyakarta.

Jam menunjukkan waktu pukul 10.00 WIB. Terdengar suara tape yang memutar kaset lagu anak-anak. Derit kursi, suara gedebuk kaki anak-anak yang berlarian kesana-kemari dan mainan yang beradu satu sama lain. Belum lagi tawa dan pembicaraan para siswa dengan wajah polos nan lucu mereka. Menambah kesan ramai di dalamnya. Sang guru yang seakan sudah hafal jadwal di luar kepala, segera sadar dan tiba-tiba langsung menyanyi. “Kerja...kerja ayo kita kerja, beres...beres ayo beres beres, rapikan mainan bersama-bersama, rapikan mainan sampai bersih”. Bagai sebuah robot serentak semua anak langsung begegas mengambil dan meletakkan kembali mainan yang berserakan dimana-diamana itu ke tempat semula.

Hal itu berlangsung hampir 6 bulan, sehingga menjadi suatu rutinitas. Sampai suatu hari saat untuk merapikan mainanan telah tiba seperti biasa, anak-anak tak mau melakukannya. Sebagian besar dari mereka malah asyik memainkan permainan, tanpa menghiraukan perintah guru. “Oke cleaning up!”, seru bu guru.

Ini biasa terjadi lantaran dua sebab, pertama mereka masih ingin bermain, dan kedua kata-kata atau perintah guru yang sudah mereka dengar hampir setiap hari, mungkin saja membuat mereka bosan. Untuk itu guru perlu membuat variasi dalam mengajak anak untuk mebereskan mainan mereka. Baik itu dalam perbuatan untuk memberi mereka contoh ataupun lagu yang tidak terkesan memerintah. Dalam bentuk perbuatan misalnya dengan menciptakan suasana yang kompetitif seperti, “Ayo kita lomba beres-beres, siapa yang jadi juara satu!”. Atau dengan cara bermain peran, “Bu Guru mau belanja ah, siapa yang mau bantuin bu guru belanja?”, sambil mendorong kereta keranjang dan memasukkan mainan kedalamnya.

Membereskan mainan merupakan suatu pembelanjaran moral yang amat penting ditanamkan pada anak-anak sejak usia dini. Dengan demikian secara tidak langsung mengajarkan pada anak untuk belajar bertanggung jawab. Setelah menggunakan mainan juga harus mengembalikan pada tempat semula. Pembiasaan ini memang harus dilakukan berulang-ulang agar anak tidak lupa. Selain itu juga harus disertai penjelasan, mengapa kita harus merapikan mainan, dan meletakkan pada tempat semula. Sehingga anak tidak hanya terpusat pada kegiatan pelaksanaannya saja tanpa mengerti maksud dan tujuan dari pelaksanaan kegiatan tersebut. Dan akan lebih baik lagi jika pembiasan ini tidak hanya diterapkan di sekolah saja, tapi juga oleh para orangtua terhadap anak ketika mereka bermain di rumah. Dengan begitu, tercipta pembiasaan baik yang diterapkan pada kedua lingkungan belajar anak. Dan menanamkan pada diri anak untuk bersikap bertanggun- jawab kapanpun dan dimanapun mereka berada.

Kulo Nuwun

Saya Yulinda Yoshoawini, aged 21 tahun, seorang staf pengajar di sebuah taman kanak-kanak di Yogyakarta. Ini ruang baru, ruang maya yang akan saya manfaatkan untuk menimba ilmu dan berlatih menulis. Saya ingin situs ini bisa memberi ruang ekspresi akan ketertarikan saya pada dunia anak-anak. Seperti yang pernah dikatakan banyak orang, dunia anak-anak adalah dunia yang unik. Dunia bermain yang menyenangkan, dimana tidak ada beban dan masalah. Wajah, kata-kata, tingkah laku polos mereka terkadang mengundang tawa saya ketika mengamati mereka. Perkataan yang meluncur dari bibir mereka terkesan apa adanya, tidak ada kebohongan, tidak ditambah ataupun dikurang, dan juga tidak dibumbui dengan ini dan itu layaknya gossip artis yang tengah beredar. Tingkah laku mereka terlihat alami, tidak dibuat-buat seperti akting di atas panggung. Maka tak ada salahnya menjuluki mereka sebagai kupu-kupu dari surga yang bisa mengobati duka lara siapa saja yang bisa menyelami dunia mereka.

Tujuan lain dari blog ini adalah untuk berbagi pengalaman sekaligus menjalin pertemanan dengan siapa saja, terutama mereka yang punya konsen pada dunia anak. Semoga ruang firtual ini akan menguatkan motivasi saya untuk terus belajar dan mendalami pengetahuan tentang anak, sekaligus bisa mengundang masukan dari siapapun yang ingin berbagi pengalaman dan ngelmu.Terimakasih!