Sunday, 22 November 2009

DIBALIK DONGENG

Melalui tulisan ini, saya bermaksud berbagi pengalaman dan ilmu dengan teman-teman di dunia maya, yakni sesama blogger.

Ternyata dongeng menyimpan sejumlah rahasia. Tentunya bukan rahasia biasa, tapi luar biasa. Dongeng tidak hanya sekedar bercerita atau menceritakan sesuatu kepada orang lain. Juga bukan hanya sekedar metode yang digunakan dalam pendidikan prasekolah atau pendidikan anak usia dini, dalam kegiatan pembelajaran. Akan tetapi dongeng merupakan media komunikasi, dimana sejumlah nilai dan norma disampaikan dan ditanamkan pada pendengarnya. Nilai tersebut antara lain yaitu moral, agama, sosial, etika, budaya, kemandirian dan masih banyak lagi. Dan di dunia pendidikan anak usia dini, metode bercerita mengambil peran penting dalam kegiatan pembelajaran.

Dan saya adalah seorang yang merasa sangat beruntung, telah mendapatkan ilmu dan mengetahui rahasia yang tersembunyi dalam dunia dongeng, setelah berguru pada Kak Wes, begitu ia biasa disapa, sosok pendongeng profesional yang berbakat, sekaligus pakar dongeng dan pendiri komunitas “Rumah Dongeng”, di Yogyakarta. Dalam pelatihan yang diadakan pada tanggal 13 November dan berlangsung selama 3 hari 2 malam itu saya dan 6 orang teman lainnya, mulai dikenalkan dan belajar menyelami dunia dongeng yang konon sangat mengasyikkan itu. Dan kita jadi paham dongeng seperti apa yang baik dalam artian yang mengandung unsur edukasi dan motivasi bagi pendengarnya. Selanjutnya akan saya ceritakan perjalanan saya bersama 6 orang teman dalam menguak tabir dongeng.

Kami bertujuh tiba di tempat tujuan dan memulai kegiatan pada hari Jum’at malam tanggal 13 November. Malam itu kami berbincang tentang semua hal yang berhubungan dengan dongeng dan kaitannya dengan pendidikan. Pagi harinya, kami ditugaskan untuk berjalan kaki dengan rute-rute yang sudah ditentukan untuk dilewati dan tempat-tempat pemberhentian sementara, layaknya terminal. Tugas itupun kami sambut dengan penuh tanda tanya, apalagi Kak Wes tidak memberikan alasan dibalik pemberian tugas itu. Selain itu Kak Wes juga menyertakan catatan penting bahwa selama menempuh perjalanan yang cukup lama dan jauh tersebut, kami tidak diperbolehkan bicara satu sama lain. Penggunaan bahasa isyarat juga tidak diperkenankan. Pesan lain yaitu apabila berpapasan dengan orang lain dan ditanya atau ditawari pedagang untuk membeli, cukup menjawabnya dengan senyuman. Makan dan minum juga dilarang selama perjalanan berlangsung. Maka bertambahlah tanda tanya yang kedua di benak kami.

Kemudian mulailah tepat pukul 6, kami berjalan mengular dengan jarak kurang lebih 1-2 meter antar teman satu dengan yang lain. Menyeberang melewati perempatan lampu lalu lintas. Tiba di alun-alun selatan, sesuai dengan instruksi dari Kak Wes yang dikatakan menjelang keberangkatan kami, kami dipersilahkan berhenti sejenak untuk melepas lelah dan mengamati keadaan sekitar lingkungan. Setelah dirasa cukup, kami kembali melanjutkan perjalanan melalui rute-rute yang telah disepakati sebelumnya. Kami terus berjalan. Tiba di pasar, sebagai pos kedua, kami berhenti mengamati keadaaan dan kegitan yang ada di pasar. Perjalanan kembali berlanjut dengan kaki yang sudah semakin lunglai, pegal tanda sudah tak bisa diajak kompromi lagi. Mendekati rumah Kak Wes, pos ketiga kami adalah makam. Seperti di pos sebelumnya kami juga berhenti disitu. Mengamati suasana makam di pagi hari menjelang siang.

Memasuki halaman rumah Kak Wes, beliau mempersilahkan kami duduk, sekali lagi tanpa suara. Setelah itu, kami diminta masuk rumah dan duduk di karpet. Di atas karpet telah tersedia 7 gelas air putih dan 7 potong biskuit serta tujuh lembar kertas folio lengkap dengan 7 spidol hitam. Beberapa menit berlalu dalam diam, kami bertujuh hanya bisa saling menatap dan tersenyum sambil memandangi apa yang telah tersedia di depan kami, tanpa tahu apa yang harus dilakukan. Pertanyaan demi pertanyaan terus berkecamuk dalam kepala kami. “Silahkan melakukan apapun, kecuali berbicara,” perintah Kak Wes. Entah siapa yang melakukakannya duluan, mungkin karena kami merasa kehausan dan kelaparan, maka biskuit dan air putih tadi tandas sedikit demi sedikit. Dan ketika seorang teman saya mulai menggoreskan spidol di kertasnya, yang lainnya pun mulai ikut-ikutan menulis. Dapat dipastikan semuanya menulis hal yang sama, yaitu perjalanan yang baru saja ditempuh, walaupun kami tidak saling contekan.

Selang beberapa menit, kak Wes meminta dan memeriksa tulisan kami. Beliau berujar, bahwa kami termasuk manusia yang belum berbudaya, masih menuruti “naluri hewani” yang ada pada diri kami. Hal itu terbukti dengan sikap kami yang lebih memilih menghabiskan roti, ketimbang mendahulukan untuk menulis hal-hal apa saja yang terjadi selama perjalanan kami. “Seorang pendongeng dan penulis yang peka adalah orang yang tidak mau kehilangan peristiwa yang telah dilaluinya, dia akan segera menuangkannya dalam bentuk tulisan,” ujar beliau kepada kami bertujuh.

“Dan tujuan dari perjalanan tanpa suara dan hubungannya dengan dongeng adalah bahwa seorang pendongeng harus memiliki kepekaan sosial yang tinggi terhadap lingkungan sekitar. Dan untuk meningkatkan kepekaan sosial tersebut perlu mengistirahatkan suara kita alias diam. Karena suara kita akan menyebabkan kita kehilangan konsentrasi dalam mengamati lingkungan sekitar, yang merupakan salah satu hal yang termasuk dalam kepekaan sosial,” lanjut beliau. Contoh kejadian yang dapat mengasah kepekaan sosial adalah dengan mengamati hal-hal yang dijumpai selama perjalanan berlangsung. Misal perasaan apa yang timbul ketika melihat nenek tua yang berjalan teeseok-seok sambil menggendong barang dagangan. Apa tidak punya anak yang mengurus dia, sehingga masih harus berjualan. Atau tukang bengkel yang sedang sepi order. Atau penjual di pasar yang dagangannya tidak laku-laku. Lalu perasaan apa yang muncul ketika melewati dan berhenti sejenak di pekuburan, untuk merenungi bahwa pada akhirnya di akhir hidup, kita hanya membutuhkan lubang berukuran 1,5 x 0,8 meter, untuk tempat bersemayam kita ketika menghadap Sang Pencipta. Terjawab sudah pertanyaan kami.

Selama perjalanan ada hal lucu yang terjadi. Salah satu teman kami, saat melakukan perjalanan bertemu dengan temannya. Ketika dipanggil dan ditanya lagi ngapain, teman saya hanya menggunakan kerlingan matanya dan segera berlalu. Tapi dia yakin temannya paham maksudnya, dengan melihat 7 orang yang berjalan berjejer ke belakang tanpa suara, ini pasti ada suatu misi yang dijalankan. Saya juga mengalami hal serupa. Ketika keluar dari areal pemakaman seorang kakek bertanya pada saya, dari mana saja, kok berjalan rame-rame. Saya hanya bisa tersenyum. Dan tanpa diduga kakek itu marah sambil menggerutu, “Loh, piye to ditako’i kok”. Belum lagi tatapan orang-orang yang berpapasan dengan rombongan kami disepanjang perjalanan yang kami lalui.

Latihan lainnya yang dapat melatih kepekaan sosial adalah berhitung berurutan dan bergantian, jangan sampai dua orang menyebut angka yang sama dalam waktu yang bersamaan. Jadi ketika berhitung, mata kita sambil menatap teman-teman kita agar tidak bertubrukan dalam mengucap angka.

Latihan berikutnya adalah spontanitas. Kali ini pelatihnya adalah Kak Asep, yang merupakan salah satu murid Kak Wes di Rumah Dongeng angkatan pertama. Kami bertujuh duduk melingkar. Setelah Kak Asep memberikan tiga kata, salah satu dari kami diminta membuat kata baru dengan kata akhir sebagai awal kata, dan meneruskannya pada teman disebelahnya. Detailnya sebagai berikut. Kak Asep mengucap tiga kata, “Hitam warna bajuku”. Setelah itu saya yang kebetulan mendapat urutan pertama langsung meneruskan, “Bajuku masih baru”. Kemudian teman disebelah saya melanjutkan, dengan membuat kalimat baru, “Baru lari pagi”. Dan seterusnya. Itupun kami harus cepat dan hanya diberi waktu 3 detik. Bagi yang terlambat membuat kalimat dan salah dalam mengucapkan harus keluar dari lingkaran. Begitu seterusnya sampai tersisa satu orang yang tercepat. Seorang pendongeng harus memiliki spontanitas yang tinggi juga, guna memperluas khasanah bahasa dalam mendongeng.

Latihan selanjutnya adalah olah vokal dan gerak tubuh. Seorang pendongeng dituntut memiliki ketrampilan tubuh dan vokal, guna memperkuat ekspresi tokoh yang diperankan oleh pendongeng itu sendiri. Tidak hanya itu. Kita bertujuh juga diminta mengekspresikan rasa marah terhadap teman kita dengan cara berpasangan dua-dua.

Pelajaran selanjutnya adalah menggali ide. Prosesnya adalah kita semua diminta mencari sebuah benda yang menarik perhatian kita di sekitar lingkungan rumah tersebut. Setelah menemukan benda tersebut, Kak Wes meminta kami menuliskan apa yang dikatakan benda yang telah kami temukan, apabila dia punya mata dan bisa melihat, punya hidung, punya rasa dan bisa merasakan, serta punya telinga dan bisa mendengar. Tujuan dari pelatihan ini adalah bahwa seorang pendongeng harus peka terhadap isu-isu yang berkembang saat ini. Misalnya peristiwa apa saja yang telah dilalui oleh benda tersebut, untuk kemudian dia ceritakan pada kita. Misal pecahan cangkir kopi yang bercerita tentang kenaikan harga BBM, yang dia dengar dari obrolan orang-orang yang sedang duduk di warung kopi. Dan masih banyak isu-isu lainnya yang berkembang. “Kalau kemampuan menggali ide sudah terasah, maka tidak sulit untuk menulis sebuah buku,” kata Kak Wes. “Kuncinya adalah dengan rajin membaca,” lanjut beliau.

Ada latihan reading, teknik membacakan buku cerita agar menarik perhatian pendengar. Latihan lainnya adalah kita diminta berpasangan dengan teman kita dua-dua. Lalu saling berkenalan, walaupun sudah kenal. Perkenalan yang lebih dalam. Saling mengenal tentang diri kita yang meliputi nama, alamat, hobi, jumlah saudara, pekerjaan dan lainnya. Setelah itu, satu persatu dari kami diminta memperkenalkan diri kita sebagai teman kita. Jadi saya memperkenalkan teman yang menjadi pasangan saya dan sebaliknya. Saya memperkenalkan diri sebagai orang lain dan orang lain memperkenalkan diri sebagai saya. Tujuan dari latihan ini adalah belajar menempatkan diri pada posisi orang lain dan mengasah rasa empati terhadap sesama. Ini juga harus dimiliki seorang pendongeng untuk lebih memahami pendengarnya.

Dan akhir dari latihan tersebut adalah praktek mendongeng tanpa alat peraga. Dan evaluasi dari praktek tersebut. Evaluasi praktek mendongeng meliputi kemampuan penguasaaan materi, sikap dan teknik mendongeng, cara penyampaian, pesan dan nilai yang terkandung dalam dongeng, dan masih banyak lagi. Persiapan sebelum mendongeng juga perlu diperhatikan.

Saya pribadi, merasa masih harus banyak belajar dan belajar. Dan pengalaman yang saya dapatkan dari Rumah Dongeng sangat berharga, mengesankan dan menyenangkan serta tak akan pernah terlupakan. Mata saya seolah langsung terbuka terhadap segala hal dan kemampuan yang harus dimiliki seorang pendongeng. Ternyata untuk menjadi seorang pendongeng yang baik tidak hanya bermodalkan bakat saja. Dan yang tak kalah penting adalah kedisiplinan yang merupakan hal penting lainnya yang merupakan tolok ukur dan kunci kesuksesan seorang pendongeng.

Ilustrasi, http://shop.deviantart.com

39 comments:

  1. seru juga bacanya....
    banyak manfaat yang bisa diambil...
    banyak pelajaran berharga dari orang di sekeliling kita ya, walaupun kadang kita tidak menyadarinya.

    ikut menulis dongeng juga bu guru?

    ReplyDelete
  2. seperti orang yang suka menulis puisi, begitu ada ide di benak langsung dituangkan ke dalam tulisan.
    lengkap ditulis hari, jamnya, tentu maknanya lebih dalam daripada menunggu sampai dirumah misalnya baru menuliskannya.

    ReplyDelete
  3. Ya, dongeng memiliki kandungan edukasi yg unik sekaligus efektif. Dongeng, salah satu manfaatnya bisa menjadi cikal kegemaran anak terhadap literasi sastra yg akhirnya membawa mereka ke dunia buku. Artikel mantap.

    ReplyDelete
  4. apakah menjadi pendongeng harus punya bakat?
    mksdnya tanpa latihan pun keahliannya uda terpupuk,,

    ReplyDelete
  5. WOW!!!!!!!
    pengalaman yang luar biasa Mbak, saya juga jadi belajar dari tulisan Mbak! Benar-benar belajar.
    Thumbs up!

    ReplyDelete
  6. Dongeng buat anak-anak sangat mengasikkan dan itu bermanfaat dalam membentuk karakter anak.

    nice sharing

    ReplyDelete
  7. Wow...postingan yang mantap euy... Memang dongeng bukan hanya sekedar cerita sebelum tidur.. tapi bisa sebagai trik pembelajaran yang jitu. Salam kreatifitas teman..!!

    ReplyDelete
  8. Salam kenal. saya jadi teringat waktu kecil, ketika bapaku selalu memberikan sebuah dongeng ketika diriku menjelang tidur. Namun ada, satu hal yang membuat saya berpikir lain dengan bapaku.Yaitu, seharusnya ketika mendongeng jangan pernah selesaikan akhir ceritannya. Karena tak lain agar anak menjadi penasaran lantas si anak-pun bertanya, dan seharusnya kemudian bapaku menjawab "baca saja bukunya". Namun, sayang bapaku selalu mendongeng hingga selesai.Kini, apabila ku mendongeng untuk anaku baiknya jangan pernah selesaikan ceritanya, biarlah anak mencari sendiri akhir cerita itu agar ketika menjelang tidur si anak tidak harus di jejali dengan dongeng akan tetapi dengan membaca.(he...2)

    ReplyDelete
  9. Wah..makasih infonya mba, cocok buat saya yang sedang belajar menulis...

    ReplyDelete
  10. ***ocheholic: kalau menurutku, untuk menjadi seorang pendongeng, bakat memang juga diperlukan dan mendukung. Tapi tidak 100% menjamin, akan menjadikan seseorang sebagai pendongeng yang profesional. Karena untuk menjadi seorang yang profesional, memang membutuhkan kerja keras yang tinggi, dengan ketekunan latihan. Walaupun dalam diri seseorang tersebut terdapat suatu bakat, bakat itu tak akan pernah berkembang apabila tidak terasah dengan baik dan intensitas yang sering. Dengan kata lain, keahlian tidak akan mungkin terpupuk tanpa latihan.
    Jadi untuk menjadi seorang yang profesional adalah dengan terus berlatih. Dongeng yang baik adalah dongeng yang berkembang sesuai jaman dan yang selalu up to date, selalu baru. Maka dari itu seorang pendongeng harus peka terhadap isu-isu yang sedang berkembang. Itu merupakan salah satu hal yang harus dimiliki oleh seorang pendongeng.

    ***Murad Maulana: Aku sangat setuju tuh dengan pendapatmu dan saya belajar sesuatu dari pendapatmu tersebut. Ya memang ada baiknya tidak harus menyelesaikan cerita sampai akhir. Dengan begitu, anak akan merasa penasaran untuk mengetahui lanjutannya dan akan terus menantinya. Dan hal itu tidak menutup kemungkinan, akan keinginan anak untuk membaca dan mencintai buku bisa terwujud. Salah satu cara belajar membaca yang baik adalah mengawalinya dengan dongeng. Dan satu hal lagi yang dapat aku simpulkan dari pendapatmu bahwa dongeng atau cerita yang baik adalah kisah yang menyisakan misteri untuk terus dikuak dan diketahui. Dalam artian lanjutan cerita yang belum selesai akan menjadi misteri bagi anak, karena dia merasa penasaran. Bukankah misteri selalu berhubungan dengan penasaran? Selain itu tidak menutup kemungkinan lain bahwa kreatifitas anak dapat terasah untuk menebak lanjutan cerita yang belum selesai dan bisa jadi dia terpacu untuk menyelidiki dan menyimpulkan sendiri kisah selanjutnya. Karena pada dasarnya anak usia dini, selalu mempunyai rasa keingintahuan yang besar.

    ReplyDelete
  11. BUAT SEMUA PENGUNJUNG BLOG SAYA, TERIMAKASIH ATAS KUNJUNGAN DAN KOMENNNYA. JANGAN JEMU UNTUK KOMEN DI RUMAH SAYA YA...

    ReplyDelete
  12. yang jelas mendongeng itu lebih susah dari bercerita, makanya diblog saya cuma ada 2 postingan dongeng...heheh promo tersembunyi

    ReplyDelete
  13. waktu aku msh kecil, ibuku sering banget mendongeng untuk aku dan adikku.. Skrg kegemaran itu menurun pada anak2ku.. kayaknya emang bisa dibudidayakan secara turun temurun..

    ReplyDelete
  14. Yup dongeng memang bisa membuat anak2 mengerti akan arti hidup ini, banyak psn moral yg trsampaikan dari sebuah dongeng

    ReplyDelete
  15. Kalo guru nya rajin memperdalam ilmu seperti ini, gak kebayang deh gimana kreatifnya anak anak Indonesia masa depan.... TWO THUMBS UP

    ReplyDelete
  16. i come to follow.... hehehehe,,,

    ReplyDelete
  17. Mendongeng untuk anak sebelum tidur atau ketika sendang bercengkrama dengan mereka, akan merangsang imaginasi mereka.

    Menurut banyak alhi pendidikan anak usia dini, dan para psikolog anak, mendongeng sangat efektif untuk menanamkan pendidikan budi pekerti, memperkenalkan pengetahuan, life skills, dan juga memberi motivasi anak untuk melakukan hal-hal yang baik dan penting untuk kehidupan mereka sendiri kelak.

    Karena itu, penting bagi para calon orang-tua dan orang tua untuk belajar mendongeng dengan benar, sehingga mereka bisa mendidik anak dengan cara yang berfareasi, sehingga memudahkan proses pendidikan anak dalam keluarga.

    Trims, posting yang bagus!

    ReplyDelete
  18. benar kak. mendongeng adalah salah satu cara yang membuat kita banyak belajar. dari dongeng loh saya bisa banyak tau tentang dunia. tapi memang sih dongeng kesukaan saya kebanyakan fairy. oh mungkin oneday, kakak bisa bikin dongeng khas Indonesia yang gg kalah bagusnya :D

    ReplyDelete
  19. Mbak, dengan ini Whienda tambah wawasan, sekaligus malu. Whienda senang mendongeng, bahkan hidup saya ini saya anggap tak lebih dari sebuah dongeng. Entah dibaca orang atau tidak, keinginan mendongeng itu kucurahkan di blog saya. Ternyata untuk menjadi pen-dongeng itu sayaratnya banyak dan berat!
    Trus, gimana ya, Whienda berhenti mendongeng dan harus belajar dulu ke Kak Wes? Duh, yang sudah terlanjur banyak kutulis, trus gimana, nih? Malu... saya.

    ReplyDelete
  20. wah..
    keren sekali metode nya Kak Wes, mbak.. :)
    oh ya, selamat belajar menjadi pendongeng yang sukses yah mbak.. ^_^

    ReplyDelete
  21. aduh pengalaman yang sangat bagus mbak pasti deh jago banget mendongeng

    ReplyDelete
  22. itulah yang aku suka dari dongeng,, pasti ada pembelajaran berharga yang kita dapet dari cerita itu...

    ReplyDelete
  23. wah jadi iget masa kecil
    degan dogeng anak dapat di kenalkan kisah kisah cerita kehidupan. dan degan dogeng dapat membentuk karakter anak

    ReplyDelete
  24. Dongeng memang bagus utk membangun karakter anak, tapi ortu jg harus tetap membimbing karena dongeng tetap dongeng, sering menampilkan khayalan yg jauh dr kenyataan. Aku paling tdk suka krn dongeng itu selalu happy ending, kalo anak membaca tanpa bimbingan ortu, ia akan berpikir itulah kehidupan nyata. Dan begitu dalam hidup tak begitu kenyataannya, ia pun frustrasi.

    Halo, pa kabar? Maaf lama ga mampir...

    ReplyDelete
  25. ***athaaa: YA DOAIN AJA YACH...
    ***Whienda: GA PERLU MERASA MALU. YANG LALU BIARLAH BERLALU. MASIH BANYAK KESEMPATAN DI LAIN WAKTU. MEMANG UNTUK MENCURAHKAN DONGENG KE DALAM TULISAN UNTUK MENUJU SEMPURNA DIBUTUHKAN PROSES YANG LAMA DAN TIDAK GAMPANG. DENGAN MENERAPKAN METODE KAK WES TIDAK MENUTUP KEMUNGKINAN KAMU TIDAK AKAN MERASA MALU LAGI DAN LEBIH MANTAP DALAM MENULIS, SELAIN ITU TULISANMU AKAN BERKEMBANG DENGAN BAIK DAN MENDEKATI SEMPURNA. YANG PENTING ADALAH DENGAN SERING BERLATIH MENGGALI IDE, SEPERTI YANG DISAMPAIKAN OLEH KAK WES. KARENA TULISAN BERKEMBANG DARI SEBUAH IDE. TAPI BUKAN BERARTI TULISAN YANG SUDAH KAMU TULIS BURUK DI MATA ORANG LAIN. SEPERTI YANG PERNAH DIKATAKAN SENO GUMIRA AJIDARMA BAHWA TULISAN YANG BAIK ADALAH TULISAN YANG DIBUAT OLEH PENULISNYA DENGAN MENGERAHKAN SEGENAP KEMAMPUANNYA. JADI TIDAK PERLU MERASA MINDER ATAUPUN MALU. SO, TERUSLAH MENDONGENG MELALUI TULISAN DAN HIDUP MEMANG TAK LEBIH DARI SEKEDAR DONGENG DIMANA KITA SEBAGAI PERAN UTAMANYA, YANG SUATU SAAT NANTI KETIKA KITA SUDAH MENYATU DENGAN TANAH,NAMA KITA AKAN MENJADI DONGENG BAGI KETURUNAN KITA.
    ***FANDA: MENANGGAPI PENDAPAT MBAK FANDA, MUNGKIN ORANGTUA BISA MEMILIH DONGENG ATAUPUN MEMILIHKAN BUKU DONGENG YANG TIDAK TERLALU FIKTIF UNTUK ANAK, DENGAN CATATAN DISESUAIKAN DENGAN USIA ANAK. DAN PENDAPAT MBAK FANDA ADA BENARNYA JUGA BAHWA DONGENG MEMANG TIDAK HARUS SELALU HAPPY ENDING. SELAIN ITU DALAM MENDAMPINGI ANAK, ORANGTUA TIDAK HANYA SEKEDAR MENEMANI SAJA, AKAN TETAPI JUGA SAMBIL MEMBERIKAN PENJELASAN DAN PENGERTIAN TENTANG ISI DONGENG YANG DIBACAKAN KE ANAK ATAU YANG ANAK BACA. TERIMAKASIH MBAK FANDA ATAS MASUKANNYA. SAYA JADI TAMBAH ILMU.

    BTW, KABAR SAYA SEHAT.

    ReplyDelete
  26. Salam alaiki.
    Benar kali ini baru berani saya mengucap salam..

    Bagus benar penulisanmu. Aku kagum.

    ReplyDelete
  27. kalau saya bercerita. mungkin sedikit beda dengan dongeng...
    anak saya senang sekali mendengar saya cerita karena nama teman dan gurunya saya ikut sebutkan.....

    ReplyDelete
  28. wahhh...pelatihannya seru ya mbak

    saya suka kalimat " diam tanpa bersuara akan meningkatkan indera kepekaan sosial kita"

    bung becce mau coba tuh mbak... :)

    postingan mantap !!!

    ReplyDelete
  29. mampir malam hari. apa kabar nih?

    ReplyDelete
  30. komentku dah muncul belum ya? lelet nih inetnya

    ReplyDelete
  31. wah...tulisanmu membuka cakrawala....

    ReplyDelete
  32. eh ikutan follow ya...
    ..hehehe..tp jangan lupa follow balik ya..(pamrih.com)

    ReplyDelete
  33. permici cm mo ngingetin lok tidur jngn telen tang yaw jangan loh beneran jangan telentang telen baut ja susah pa gi telentang

    ReplyDelete
  34. met hari minggu. namaku kan memang fanny dan blogku kan banyak, Lin.

    ReplyDelete
  35. ***Sang Cerpenis bercerita: TERNYATA SEMAKIN BANYAK YANG BELUM SAYA KETAHUI TENTANG SAMPEAN MBAK.
    ***trafsilo: SAMPEAN PUNYA BAKAT 'DAGELAN' MAS!
    ***Alrezamittariq: SUDAH SAYA TINDAKLANJUTI MAS!
    ***becce_lawo: TERIMA KASIH BANYAK!
    ***setiakasih: JANGAN BERLEBIHAN PUJIANNYA MBAK!
    ***komuter: WUIH, ITU METODE YANG PERLU DIIKUTI, MELIBATKAN TEMEN-TEMEN DEKETNYA, SANGAT JITU MAS!

    ReplyDelete
  36. Dongeng juga bisa melatih kecerdasan, karena dengan dongeng kita bisa membandingkan antara fakta dengan isi dongeng, dan bisa diambil hikmah nya bagi kehidupan

    ReplyDelete
  37. Dengan dongeng, sejak dini anak akan diajak untuk mengembangkan imajinasi tanpa batas, sehingga kreativitas mereka akan terasah dan berkembang.

    Terus terang, dulu sejak kecil saya sangat jarang sekali mendapat dongeng, maklum dari keluarga petani di pedesaan yang belum mempunyai budaya baca yang mencukupi, sehingga kini saya merasakan betapa ada sesuatu yang sangat kurang dalam diri dan sejarah hidup saya.

    Nah, sejarah tersebut tidak ingin saya ulang ketika kami punya anak nanti. Kami ingin mengembangkan tradisi mendongeng dan literasi dalam keluarga, semoga berhasil. Tulisan bagus ini telah memberikan inspirasi dan pemberlajaran bagi saya untuk mengubah tradisi dalam keluarga kelak.

    ReplyDelete
  38. Mbak Yulinda, bisakah saya minta alamat atau no telpon Kak Wes yang bisa dihubungi? Saya tinggal di jogja dan tertarik untuk belajar / kursus dongeng. bisa dikirim ke katrina.devi@gmail.com atau jengipee@yahoo.com

    thanks

    ReplyDelete