Friday, 21 August 2009

SAMPAIKAN SALAMKU


Radio yang mengudara pada gelombang 93.8 FM itu menjadi Radio favorit Tari. Bisa dikatakan Tari adalah salah satu pendengar setia. Selain menyuguhkan lagu-lagu hits Indonesia, Radio itu juga menjadi ajang dalam menyampaikan salam dan perkenalan. Dua minggu yang lalu, melalui sebuah acara “Sahabat Pena”, Tari diperkenalkan dengan seseorang yang belum dia tahu bagaimana wajahnya. Setelah sering berkomunikasi via SMS dan telepon, akhirnya mereka berdua sepakat untuk bertemu. “Malam Minggu di Toga Mas, lantai dua”, jangan lupa Kaos Hitam Blue Jeans ya, ucap Nikko, teman kenalannya saat di telepon.
Akhirnya dengan hanya berbekal nama dan nomor ponsel, dia putuskan berangkat ke tempat yang dimaksud. Sesampainya di tujuan, Tari segera menuju lantai atas. Sebelum melangkah lebih jauh, diedarkannya pandangan keseluruh ruangan, mencoba mengamati dan mencari cowok Misterius itu. Sampai kemudian pandangannya terhenti pada seseorang yang mengenakan baju yang telah diberitahukan lewat telepon tadi. Dia memencet nomor henfon si cowok untuk memastikan kebenaran. Telepon diangkat. “Hallo, Tari kamu dimana”, kata Nikko sambil celingukan. “Aku sudah dekat dengan tempat dudukmu”, jawab Tari. Perlahan didekatinya Nikko dengan hati berdebar. Tapi alangkah terkejutnya Tari ketika sudah berada dihadapannya. “Ternyata kamu”, tunjuknya tak percaya. Nikko langsung berdiri dan berkata, “Tari?,”, tanyanya tak percaya. Mereka berdua duduk dan memesan minuman. Karena lantai dua Toko Buku itu merupakan Cafe. “Tak disangka aku dipertemukan dengan sahabat lama”, ucap Nikko. “Ternyata dunia ini memang sempit ya”, lanjutnya. “Ya dan anehnya ternyata di dunia ini hanya ada satu Nikko”, sahut Tari. “Dan juga cuma ada satu Tari”, timpal Nikko tak mau kalah. Mereka berdua akhirnya terlibat obrolan seru, tentang masa-masa SMP dulu. Kadang terdengar canda tawa antara keduanya.
“Sampai sini aja ya”, kata Nikko masih tetap di atas motor. “Kamu yakin nggak mampir dulu”, tawar Tari. “Sudah malam, lain kali saja, lagian orangtuamu bisa terganggu, sekarang masuklah”, perintah Nikko. “Tidak, kau dulu yang pergi, aku ingin melihatmu sampai kau berbelok di tikungan itu”, sahut Tari.”Tidak bisa begitu, bagaimana nanti kalau terjadi apa-apa padamu, setelah aku berlalu”, kata Nikko lembut. “Ayo sana masuk”, lanjut Nikko sambil mendorong tubuh Tari untuk segera masuk rumah. “Hati-hati ya”, ucap Tari sesaat sebelum membuka pintu gerbang. Dari jendela kamar diamatinya Nikko yang sudah mulai berjalan sambil melambaikan tangan.
Pagi-pagi Tari sudah bersiap untuk berangkat ke sekolah. Namun ketika keluar rumah, didapatinya Nikko sudah menunggu. “Hei kenapa nggak masuk”, seru Tari.. “Sudah nggak apa, sekarang yuk naik, aku mau mengantarmu ke sekolah”, ucap Nikko sambil menyodorkan helm. Tak lama kemudian mereka berdua sudah melaju di jalanan. Siang hari keduanya memutuskan makan siang bersama. Sore hari jalan-jalan di Ambarukmo Plaza, menonton film. Malamnya pergi ke Cafe.
Hari Minggu mereka tengah menghabiskan liburan di pantai Parangtritis. Pelan tapi pasti Nikko meraih tangan Tari. “Menurutmu, ke arah mana hubungan kita ini akan dibawa?”, tanya Nikko. Tari semakin salah tingkah. Dia mengambil napas dalam-dalam, berusaha menenangkan hatinya. “Sebenarnya, aku berpikir biarlah hubungan ini berjalan dengan sendirinya”, jawab Tari. “Jadi kita HTS”, sergah Nikko.
Tiga hari kemudian…tepat saat malam Valentine. Suara handphone membuyarkan lamunan Tari. Satu pesan masuk. Dari nikko. Buka. “Berjalanlah ke arah jendela dan dapatkan aku”. Ragu-ragu Tari melangkah ke arah jendela dan membukanya. Di bawah sana Nikko melambaikan tangannya. Dia merentangkan sebuah karton yang bertuliskan seperti ini:
Andai aku bisa memutar waktu . Sudah sejak dulu kunyatakan cintaku. Tapi waktu terus berlalu. Tanpa memberikan ruang kesempatan bagiku. Apakah sekarang masih terbuka kesempatan kedua bagiku?Ijinkanlah aku untuk mengisi ruang di hatimu
Tari semakin tersipu. Nikko merogoh sakunya. Mengeluarkan henfon dan menghubungi nomor Tari. Telepon di seberang diangkat. “Sudah berapa wanita yang sudah kau taklukkan dengan rayuanmu?”, tanya Tari penuh selidik. “Jadi bagaimana, apa ungkapan sayangku bisa kau terima?”, balas Nikko. Tari hanya mengangguk. “Yes…teriak Nikko girang. “Turunlah, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat, jangan lupa minta ijin pada orang tuamu”, ucap Nikko. Sepuluh menit kemudian mereka berangkat ketempat yang dimaksud. Tiba disana, Nikko menutup mata Tari dengan selembar kain. “Sebenarnya, ada apaan sih,”, tanya Tari penuh rasa penasaran. “Nanti kau juga akan tahu”, jawab Nikko. Digandengnya tangan Tari. Setelah melangkah beberapa meter, dia membuka tutup mata Tari. “Surprise…Happy Valentine,” ucap Nikko. Mereka ada di ruangan berukuran sedang yang sudah dihias oleh Nikko. Tari hanya bisa memandang takjub.”Aku menyewa tempat ini”, jelas Nikko. “Duduk sini”, katanya lagi. Dia menuangkan minuman untuk kekasihnya. Setelah itu menghidupkan lagu dan mengulurkan tangan pada Tari. Sesaat kemudian mereka berdansa. Namun tiba-tiba saja Tari terjerembab dan DUK…! “Aduh…”, pekik Tari. Dia terbangun dengan posisi jatuh dari tempat tidur. Radionya masih menyala, Tari Cuma termangu.

6 comments:

  1. berangkat dari mimpi, mudah2an jadi kenyataan hihihihii....

    ReplyDelete
  2. salam kenal..thx for visit my blog...sekali2 dengerin juga Radio Nafiri 107.1 FM via streaming www.nafirifm.net

    ReplyDelete
  3. Wakakakakakakk..cuma mimpi toh, padahal awalnya aku sempet pikir ini cerita pribadi..

    ReplyDelete
  4. visit ur blog.... ^_^ http://huyuh.blogspot.com

    ReplyDelete