Wednesday, 19 August 2009

Konsep Kedisiplinan di Lingkungan PAUD

Saat ini dunia pendidikan benar-benar mengalami kondisi yang bisa dikatakan menderita (suffer). Menderita disini lebih tepat ditekankan pada situasi dimana anak-anak yang terpaksa atau diharuskan taat pada aturan yang ada dan cenderung bersifat ‘harga mati’—tidak dapat ditawar lagi. Khususnya di lingkungan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) yang menekankan kedisiplinan pada anak sejak dini. Contoh yang sederhana, sebagaimana penulis pernah alami sendiri, dalam kegiatan pembelajaran di kelas, ketika anak-anak berdoa harus melipat tangan, kaki dirapatkan, mata dipejamkan, atau berbaris rapi ketika hendak masuk kelas, dan masih banyak lagi ketentuan yang diberlakukan oleh pihak sekolah terhadap anak didik. Padahal, proses penanaman kedisiplinan yang demikian belum tentu dapat mencetak dan menghasilkan peserta didik yang sepenuhnya disiplin dan akan selalu taat pada peraturan.

Pada dasarnya anak-anak itu menyukai suasana hidup, bermain dan belajar yang bebas tanpa tekanan peraturan yang ketat. Kita tahu anak-anak belum bisa bersikap tenang dalam situasi tertentu. Sehingga penerapan kedisiplinan yang berlebihan dan cenderung saklek pada mereka justeru bisa kontraproduktif dan menghambat perkembangan kreativitas dan kepekaan mereka terhadap lingkungan sosialnya di sekolah. Pola yang demikian disciplined sesungguhnya tidak sesuai karena cenderung militeristik. Meskipun ‘seolah’ benar karena sudah menjadi bagian tradisi pendidikan di negeri ini, bisa jadi merupakan sistem pendidikan warisan jaman kolonial.
Gaya pendidikan yang demikian merupakan cerminan dari pola pengasuhan otoritarian. Hal ini secara tidak langsung mengekang kebebasan anak dalam berekspresi, yang dapat menghambat bahkan bisa mematikan kreatifitas anak. Anak jadi tidak memiliki inisiatif dalam memutuskan sesuatu, selalu menunggu perintah, sehingga membuat anak menjadi mekanis, layaknya robot yang sudah diprogram sejak awal. Implikasi yang dapat ditimbulkan adalah anak kurang mandiri dan kurang memiliki tanggung jawab sosial di kemudian hari.

Hal lain yang tak luput dari kedisiplinan adalah soal penyeragaman. Mulai dari pakaian, kurikulum, metode mengajar, sampai soal cara berpikir. Tidak ada ruang sedikitpun bagi berkembangnya keragaman pikiran, ideologi, budaya, suara, hingga tindakan. Penyeragaman pakaian, konon dipandang sebagai upaya untuk mencegah persaingan tak sehat dan menghindari kesenjangan sosial antar individu. Padahal penyeragaman yang demikian hanya bersifat simbolik, kurang bermakna, karena justru menyembunyikan kondisi yang sebenarnya.

Penuntutan kepatuhan peraturan terhadap anak merupakan cara yang kurang efektif untuk mananamkan kedisiplinan, apalagi bila disertai ancaman atau intimidasi hukuman yang ketat diberlakukan. Model disiplin tersebut merupakan bentuk disiplin jangka pendek. Sedangkan tujuan edukasi disiplin adalah agar setiap anak memiliki disiplin jangka panjang, melekat karena tumbunya kesadaran yang rasional. Nah, bagaimana caranya? Disiplin jangka panjang yang transformtif (membawa peruhan yang lebih baik) itu bisa muncul apabila sudah tumbuh kesadaran atau kemampuan si anak untuk mendisiplinkan diri karena dia mengerti dan memahani akan penting dan bergunanya perilaku positif tersebut bagi dirinya sendiri dan orang lain di sekitarnya. Jika anak sudah punya kemampuan semacam itu, maka ia akan menjalani kehidupannya sehari-hari dengan penuh kedisiplinan, atas inisiatif sendiri, tanpa disuruh-suruh, ditegur, dimarahi, apalagi diberi hukuman. Ia sudah mengerti dan memahami bahwa disiplin merupakan bagian dari kewajiban dan tanggung jawab, bahkan menjadi kebutuhannya untuk meraih prestasi dan keberhasilan di masa depan. Hal ini seperti yang telah disampaikan oleh Zainun Mutadin, S.Psi, MSi, dalam situs www.e-psikologi.com.

Lalu apa yang harus dilakukan, untuk membantu anak mengerti, sehingga bisa tumbuh kesadarannya dalam menerapkan kedisiplinan diri? Menurut para ahli PAUD, yang harus dilakukan kalangan pendidik dan juga orang tua adalah memberikan teladan, contoh kongkrit, mulai yang kecil-kecil yang kita anggap sederhana. Dan tentunya penjelasan yang rasional atas ketentuan atau peraturan dan etika apapun. Tentang apa manfaat disiplin diri dan sisi negatif atau bahaya ketidakdisiplinan terhapdap dirinya dan orang lain di sekitarnya, bahkan dampak buruknya terhadap lingkungan alam—bila kita ingin mencontohkan soal kedisiplinan membuang sampah misalnya. Tentu saja, semuanya dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh anak usia dini. Serta penerapan toleransi dan fleksibilitas manakala si anak dihadapkan pada situasi dan kondisi tertentu yang bisa dimaklumi akal sehat.

Hal ini sejalan dengan pola pengasuhan konstruktif keluarga, dimana peran orangtua dalam peningkatan kedisiplinan dapat diterima oleh anak dengan penuh kesadaran sebagai bagian dari nilai-nilai dan etika sosial yang terpuji. Hasilnya anak memiliki kemandirian, empathy dan tanggung jawab sosial yang tinggi. Perlu juga mungkin, kita menengok dan berkaca, kemudian mempelajari sisi positif sistem pendidikan anak usia dini yang diterapkan di negara yang lebih maju. Dengan harapan, pendidikan disiplin yang transformatif bersih dari kekerasan dan intimidasi (bullying) bisa terwujud. Dengan demikian paling tidak kita telah melakukan sesuatu yang positif untuk mengurangi suffering yang saat ini tengah dialami anak-anak usia dini di sekolahnya.

4 comments:

  1. Bagus postingnya, Q setuju disiplin ditanamkan sejak dini.
    salam kenal dari alumni UNY and lengkapi Blog anda dengan fitur2 yang menarik pengunjung, contoh : kotak pesan, site metter, page rank, recent komentar, iklan mini dll.
    Moga sukses.
    Makasih....

    ReplyDelete
  2. Terima kasih atas kunjungan istimewanya Mas, semoga kita akan lebih sering bertukar kunjungan dan berbagi pengalaman lewat jejaring istimewa ini.

    Terima kasih juga atas masukannya, tetang kelengkapan lain untuk blog yang sederhana ini.

    ReplyDelete