Friday, 21 August 2009

KOMET DARI SURGA


Masih terbayang jelas dalam ingatan saya, waktu itu pengalaman kedua saya menghadapi tahun ajaran baru, hari pertama. Ruangan kelas itu tidak hanya dipenuhi barang-barang penunjang kegiatan belajar mengajar, tapi juga suara tangis anak-anak lengkap dengan teriakan yang memanggil-manggil nama sang ibu ataupun pengasuh yang mengantarkannya sekolah sampai ke dalam kelas. Ada yang berteriak- teriak, menghentakkan kaki pertanda marah, meronta berusaha melepaskan diri ketika dipeluk ataupun digendong, buru-buru mengambil tas yang ada di dalam loker, hingga sampai berlari keluar kelas ketika pintu, dalam keadaan tak terkunci. Semuanya disertai tangisan dan menuntut untuk segera pulang. Bahkan rayuan guru-pun ada yang tak mempan, hingga kami para guru dibuat kewalahan dengan permintaan anak yang macam-macam. Mulai dari yang ingin pulang, ketemu mama, ketemu mbak, minta susu yang dibuatkan mama, kangen ibu, takut, ngantuk, bahkan minta disambungkan ke telepon rumah minta dijemput ayahnya saat itu juga.

Sudah seminggu, sejak peraturan dari pihak sekolah mulai berlaku. Anak boleh ditemani orangtua selama satu minggu, untuk minggu berikutnya para orangtua tidak diperkenankan menemani sang buah hati di dalam kelas ketika kegiatan belajar mengajar berlangsung. Hal ini bertujuan untuk melatih kemandirian anak dalam bersosialisasi dengan teman sebaya dan gurunya. Selain itu juga untuk membiasakan anak beradaptasi dengan lingkungan baru. Apalagi sejak duduk di tingkat Kelompok Bermain, kelas dimana saya mengajar.

Karena saya sudah pernah mendapatkan pengalaman yang serupa pada tahun ajaran sebelumnya, saya tidak begitu kaget dengan keadaan yang tengah terjadi. Beberapa saat kemudian keriuhan seisi kelas tadi sudah dapat teratasi seiring berjalannya waktu. Mungkin anak-anak sudah merasa capek menangis dan meronta. Hanya sesenggukan kecil yang tersisa dari mulut mereka. Ada yang membuat saya cukup heran dengan anak didik tahun ini. Diantara sekian banyak yang menangis ada beberapa anak yang mulai enjoy dengan permainan dan mainan yang ada di dalam kelas. Yang awalnya menangis mulai berlarian dengan temannya mengitari meja dan kursi. Ada murid yang mengikuti kemanapun guru melangkah. Tapi tidak sembarang guru yang dia ikuti. Guru yang dia ikuti, ialah guru yang sejak pagi sudah menjemputnya di gerbang sekolah dan menemaninya bermain di kelas serta yang membujuknya ketika menangis. Bahkan ketika guru tersebut hendak ke kamar mandi dia juga turut menyertai walaupun dia menunggu di depan pintu toilet yang tertutup. Dengan guru yang lain dia tak mau ikut. Ketika anak tadi ingin pipis dia hanya ingin diantar oleh guru yang itu juga, tidak mau diganti guru lain, layaknya seorang cowok yang setia pada pasangan pilihannya. Atau ketika sang guru duduk, dia juga ikut-ikutan duduk disampingnya, tak jarang sampai minta dipangku. Ketika sang guru mulai beranjak si anak juga bersiap untuk berdiri. Dan saat bu guru berjalan kesana kemari si anak juga mengikuti di belakangnya, seperti hendak mengawal. Sampai-sampai tatapan matanya tidak pernah lepas untuk mengamati gerak-gerik sang guru, layaknya seorang badan intelegen yang tugasnya mematai-matai seseorang. Itu semua karena dia tak mau ditinggal pergi sebelum bertemu dengan ibunya atau lebih tepatnya ketika dijemput Sang Ibu. Menangis-pun juga tanpa suara, hanya air mata yang mengalir dari kedua matanya. Sungguh unik, lucu dan menggelikan.Para guru selalu bilang dia suka mengekor alias mengikuti. Terlintas di pikiran saya, anak ini seperti komet yang memiliki ekor dan mengikuti kemanapun intinya pergi. Hal itu mungkin masih wajar jika terjadi pada anak perempuan berusia 3 tahun yang melalui hari pertamanya di sekolah. Tapi hal ini terjadi pada anak laki-laki bertubuh tinggi besar dengan usia yang sama dan kejadian yang serupa.

13 comments:

  1. kalau anak nangis bagaimana mahu pujuk diamkan?...tq krn follow

    ReplyDelete
  2. ngga ribet ka ngasuh anak kecil, hehehhe

    ReplyDelete
  3. Hai Hai salam kenal yah.... heheheh
    wah guru PAUD nih ceritanya??
    ehhehe kebetulan aku juga lagi KKN nih mbak....
    aku juga ngajar PAUD wah wah kocak-kocak anaknya heheheh
    aku kebagian KKN di SALATIGA... hmmm di kecamatan bringin git deh...
    anak2 PAUD seru abis hehehhehe slam kenal yah mbak

    ReplyDelete
  4. wah, asyiik juga ya bisa bareng teruuss ama anak2...

    ReplyDelete
  5. Memang begitulah karakter anak2 ya, beda2

    ReplyDelete
  6. kadang aq juga gitu kalo ngasih les ke anak2..
    Beda orang ya beda karakter.Gimana caranya kita ajah bikin mereka tertarik utk belajar and selalu exciting menunggu kedatangan kita utk mengajar,,hheheee

    ReplyDelete
  7. hehehe,,lucu juga kalo ngeliat ada anak kecil yang kayak gitu.

    ReplyDelete
  8. wah repotnya, jadi guru anak-anak ya...sampai ke toilet juga di ikutin?salam kenal teacher.and thanks follownya.

    ReplyDelete
  9. mksh ka atas sarannya,, ngerti ko apa kata kaka, hehehheheh

    ReplyDelete
  10. Zumairi* kalau berdasar pada kasus anak yang ingin ditunggui selama sekolah, langkah awal saya berusaha menenangkan dulu dengan mengelus punggung dan kepala mereka, karena seperti yang pernah saya baca di majalah anak-anak, cara tersebut efektif untuk menenangkan anak. Setelah tangis agak reda, saya sampaikan pada anak tentang pemahaman sekolah, bagaimana asyiknya bersekolah. Bisa bermain dengan bu guru dan teman-teman, misalnya. Tentu saja dengan bahasa yang mudah dicerna anak-anak dan posisi tubuh kita jongkok supaya pandangan mata dan tinggi badan kita sejajar dengan anak-anak. Tapi pengalaman saya selama ini, anak yang menangis langsung terdiam ketika mendengar dan melihat teman-temannya menyanyi bersahutan. Setelah itu dia merasa enjoy ketika diajak bermain lingkaran sambil bernyanyi.

    ReplyDelete