Wednesday, 19 August 2009

Ketika Membaca, PR, dan Tes Masuk Jadi Bumerang

Dewasa ini berbagai tuntutan dalam dunia pendidikan mulai diberlakukan pada anak. Khususnya di tingkat TK. Salah satunya adalah bisa membaca, ketika anak menjelang SD. Kalau tidak, maka SD yang bersangkutan tidak bisa menerima. Persyaratan tersebut tidak sesuai bila diberlakukan untuk Anak Usia Dini. Mereka mendaftar sekolah bukan untuk bekerja, tapi menuntut ilmu. Sungguh tidak masuk akal kalau anak yang datang untuk belajar harus melalui tes masuk. Bukankan tes seleksi lebih tepat diberlakukan di dunia kerja setelah anak dididik di lembaga sekolah. Apakah murid yang ingin belajar di sebuah sekolah perlu untuk diseleksi?

Dengan adanya aturan tersebut, akhirnya guru TK mulai sibuk menyiapkan anak didik mereka supaya mereka segera bisa membaca. Cara-cara yang digunakan-pun terkesan instan. Seperti yang penulis sendiri pernah amati, salah satunya adalah mencongak atau dikte. Hal ini sungguh sulit untuk dilakukan anak-anak usia TK. Bahkan yang lebih lucu lagi, untuk mendukung upaya tersebut adalah pemberian PR menulis dan membaca. Entah lembaga SD mana yang mempelopori penentuan syarat “harus sudah bisa membaca” tersebut. Hal ini sangat memberatkan siswa.

Sungguh ironis, namanya saja taman kanak-kanak, tapi modelnya sudah seperti SD kelas atas. Maka tak heran ketika sejumlah anak-anak yang duduk di bangku TK tiba-tiba saja mogok sekolah dengan alasan bosan, seperti yang penulis pernah dengar langsung dari celetukannya. Diantara mereka bahkan ada yang sampai menangis. Ini membuktikan bahwa metode yang digunakan tidak bervariatif dan kurang bermakna khususnya bagi anak. Usia TK yang seharusnya usia bermain sekarang telah berevolusi menjadi usia belajar. Aspek moral, bahasa, kognitif, motorik, seni, sosial-emosional dan kemandirian, yang seharusnya dikembangkan di tingkat TK menjadi minim, karena tergusur oleh pengembangan kemampuan membaca dan menulis.

Sebenarnya ada beberapa cara efektif dalam mengajarkan anak membaca. Seperti yang pernah diungkapkan oleh Pakar PAUD sekaligus Dosen FIP UNY, Dr. Sugito, MA, “Mengajari anak mulai membaca, tidak harus menunggu saat anak menginjak usia TK atau SD. Alangkah baiknya kalau anak diajarkan membaca sejak usia dini, semakin dini semakin baik, secara bertahap. Salah satunya dengan membacakan cerita atau dongeng, dan yang lebih penting adalah keteladanan orangtua dalam membaca. Kalau orangtua-nya saja tidak suka membaca maka bagaimana bisa memberi contoh pada anak untuk suka membaca.” Yang dimaksudkan disini adalah hendaknya para orangtua membudayakan tradisi membaca tidak hanya pada anak tapi juga pada diri sendiri. Dengan begitu dalam diri anak akan tumbuh kemauan untuk membaca seiring dengan bertambahnya usia.
Selain itu beliau juga berpendapat bahwa Pekerjaan Rumah (PR) bagi anak usia pra-sekolah dipandang tidak perlu, karena akan membebani mereka. Hal senada juga pernah diungkapkan oleh pakar PAUD yang lain, yang mencontohkan bahwa bentuk PR yang bisa diberikan untuk anak usia dini antara lain: memberi makan binatang peliharaan, membantu orangtua menyiram bunga, atau merapikan tempat tidur. Dengan begitu secara tidak langsung mengembangkan aspek pertumbuhan—yang telah disebutkan di atas—kepada anak-anak ketika berada di rumah. Sehingga orangtua-pun juga akan terlibat secara kongkrit dan berperan penting dalam mendampingi anaknya. Dengan demikian komunikasi dan kerjasama antara orangtua dan guru dapat terjalin lebih erat dan produktif demi keberhasilan bersama.

Cara lain yang bisa diterapkan adalah dengan mengenalkan kartu bergambar atau kartu huruf. Pengenalan dilakukan dengan pengucapan lafal secara jelas dan diulang-ulang. Metode ini akan lebih efektif dan menyenangkan bagi anak-anak bila nuansa bermain tetap diaplikasikan dalam proses pengenalan alpabet bergambar tersebut. Dengan begitu anak-anak akan tetap tertarik untuk belajar karena mereka merasa itu bagian dari dunia permainannya yang menyenangkan.

Dengan demikian, relevan kiranya bila kita semua berharap para pendidik PAUD dan TK untuk rela meluangkan waktu demi meningkatkan kapasitasnya, dengan banyak menengok teori-teori tentang psikologi perkembangan anak dan pola pembelajaran Anak Usia Dini yang kini semakin berkembang. Dan akses terhadap materi-materi yang demikian telah tersedia begitu banyak dan gratis pada situs-situs di internet. Kini tinggal menunggu langkah mulia tersebut.

12 comments:

  1. Wow ...sebuah sharing yang bagus tentang menumbuhkan minat baca anak.

    nice posting

    ReplyDelete
  2. Postingan menarik. Guru adalah pekerjaan mulia. Terus semangat berkiprah ya.

    ReplyDelete
  3. great idea..thanks 4 visiting me! lam kenal..

    ReplyDelete
  4. Hallo... lam kenal..
    Menarik juga membahas pendidikan anak.. ^^
    umm... setahuku, tes masuk SD tidak selalu mutlak digunakan untuk menentukan masuk/tidaknya seorang anak ke sebuah lembaga pendidikan. Namun kadang-kadang digunakan sebagai "panduan" guru mengenai gambaran siswa tersebut sehingga mampu memberikan treatment (PR, bimbingan/KBM, dan tugas lain) yang lebih tepat kepada siswa disesuaikan dengan kemampuan dan karakternya.

    ReplyDelete
  5. kalau aku muridnya, bu guru juga akan aku kasih PR yang lebih sulit, biar bisa merasakan juga sulitnya mengerjakan PR ha ha ha

    ReplyDelete
  6. THANKS TO ALL OF YOU GUYS, ALREADY LEAVING COMMENT FOR THE SIMPLE ARTICLE! MAY THEY CAN MOTIVATE ME TO MAKE MORE POSTINGS!

    ReplyDelete
  7. wah sungguh luar biasa dan infonya terimakasih... blog ini selalu yang terbaik. Amin.

    ReplyDelete