Monday, 24 August 2009

KEPAHAMAN, TERSEMBUNYI DALAM KETIDAK-PEDULIAN

Namanya Daffa, usianya baru tiga tahun, dan diterima sebagai anak didik di tingkat kelompok bermain. Ukuran tubuhnya bisa dikatakan bongsor untuk anak seusianya, tapi itulah yang membuat orang gemas karena kelucuan yang terpancar dari wajahnya yang bulat dengan pipi tembem. Rambutnya ikal, potong pendek. Hari pertamanya pada minggu kedua di sekolah, diawali dengan tangis, ketika sang pengasuh diminta meninggalkannya di kelas bersama bu guru. Karena memang begitulah peraturan sekolah, yang memberikan batas selama satu minggu untuk ikut serta menemani anak belajar.

Sepintas ketika diperhatikan, anak yang satu ini terlihat unik. Ketika teman-temannya sudah bersiap duduk di karpet untuk berdoa, dia maih asyik dengan balok dan lego. Ketika teman-temannya bersiap cuci tangan menjelang waktu makan, dia pasti menghambur, berlari menuju taman bermain, dimana alat permainan tersedia. Lalu segera naik tangga dan jembatan goyang bersiap meluncur di papan luncur. Kami para guru dibuatnya berlari kesana kemari mengikutinya. Bahkan untuk menggiringnya masuk kelas dibutuhkan tenaga dua orang pengajar.

Seperti yang terjadi hari ini. Sambil memperlihatkan senyum khasnya yang lebar, dia melongokkan kepalanya dari terowongan papan luncur. Saya dan teman saya sudah menunggu dia untuk segera turun ke bawah dengan bujuk rayu yang terus meluncur dari bibir kami secara bergantian. Tapi rupanya dia sama sekali tidak terpengaruh. Sepertinya dia sudah hafal, kalau dia meluncur ke bawah, maka tangan kami akan segera menggandeng tangannya dan menggiringnya masuk kelas. Lima menit sudah berlalu, tapi Daffa masih belum mau meluncur. Bahkan dia sengaja menggoda dengan gerak-geriknya untuk menguji kesabaran kami. Antara sebentar dia bersiap untuk meluncur, akan tetapi belum separuh jalan dia kembali naik lagi ke terowongan sambil tertawa-tawa. Ketika dia sudah mendapatkan setengah jalan di papan luncur, dengan sigap kami segera memegang dan menggandeng tangannya berjalan beriringan ke kelas. Kami berusaha sekuat tenaga supaya dia tidak terlepas. Kalau sampai terlepas, dia bisa berlari masuk ke kelas TK seperti yang terjadi beberapa waktu yang lalu. Untuk urusan cuci tangan-pun kami juga bekerjasama. Ketika hendak membawanya ke wastafel, saya pegang kepalanya dan menghadapkan ke muka saya. “Daffa, cuci tangan lalu makan,” kata saya sambil berjongkok supaya pandangan mata kami sejajar. Metode itu memang kami terapkan pada Daffa yang agak aktif dan belum bisa fokus. Sementara saya menggulung lengan bajunya supaya tidak basah, lalu memegang tangannya ketika dibasuh, teman saya yang menuangkan sabun. Pada saat akan masuk kelas kami bertiga melintasi loker sepatu yang di atasnya bertengger 3 gelas air teh yang masih panas. Sontak saja dia langsung berucap, “Teh…teh…teh…” sebutnya sambil berusaha meraih minuman tersebut. Teman saya segera mendahului mengambil teh dan berkata “Teh…teh…yuk diminum di kelas,” kata teman saya sambil mengangkat gelas tinggi-tinggi dan membawanya masuk kelas dengan diikuti Daffa. Saya tertawa cekikikan menyaksikan adegan itu. Salah satu dari kami harus merelakan tehnya menjadi korban Daffa.

Sesampainya di kelas dan Daffa sudah puas dengan tehnya, dia bukannya mengambil alas makan, makanan, dan minuman seperti yang dilakukan teman-temannya yang lain. Akan tetapi dia mulai menyibukkan diri dengan permainan kepingan puzzle. Setelah bosan, dia berpindah ke permainan plastisin tanpa merapikan puzzle yang telah dimainkan. Begitu seterusnya. Sehingga kami dengan telaten membiasakan Daffa untuk merapikan mainannya sehabis digunakan.

Kalau diperhatikan Daffa sama sekali tidak berminat terhadap kegiatan di kelas. Ketika mewarnai, dia harus dipegang seorang guru supaya mau menggoreskan krayonnya pada gambar yang sudah disediakan, walaupun terkadang tidak selesai dan masih belum rapi. Tapi kalau kami cermati, dia sebenarnya sudah mengenal konsep warna. Hal itu saya amati ketika teman sesama pengajar, mencoba mengujinya dengan balok kecil berwarna-warni.

Teman saya tadi mengambil 3 buah balok kecil dengan warna berbeda. “Coba, warna merah yang mana?” tanya teman saya sambil menyodorkan ketiga buah balok ke hadapan Daffa. Di luar dugaan kami, Daffa mengambil balok dengan warna yang diminta. Ketika diminta mengambil warna lain-pun dia juga bisa menunjukkan, bahwa dia cukup memahami konsep warna. Tentu saja setelah teman saya melakukan tes sederhana itu beberapa kali. Sungguh hal yang menakjubkan, di tengah ketidak pedulian seorang Daffa, dia masih mampu memahami konsep dengan hasil yang memuaskan.

26 comments:

  1. hhmm... kayaknya si daffa itu tipikal cerdas yah,, hehehe...

    aku dulu pernah punya temen yg keliatan cuek sama pelajaran.. tapi nilai2nya selalu aja bagus,, salut deh... :)

    ReplyDelete
  2. salam perkenalan dari saya, semoga kita menjadi sahabat di alam maya ini.

    ReplyDelete
  3. ok juga nih enak di baca dan enak di makan

    ReplyDelete
  4. seru juga ya menghadapi anak2 kecil dg berbagai karakter. apalagi karakter spt Daffa.

    ReplyDelete
  5. Salam kenal juga mbak. Maaf baru send coment...

    Artikel na bagus2 lo. Aq suka bgt.
    Anyway...memang setiap anak memiliki keunikan tersendiri. Sama qt2 jg unik... he he he

    keep in touch

    ReplyDelete
  6. jaaahhh mungkin memang benar si daffa ini anak yg pintar, dia bermain karena mungkin dia tau apa yg diajarkannya sudah diketahuinya.... hahahahaha pasti seru ntu.....

    ReplyDelete
  7. wetsssssss blognya simple tpi berisi :)


    salam kenal !!

    ReplyDelete
  8. assalamualaikum,
    waduuhh..kunjungan pertama disuguhi tulisan menarik ni mbak, lucu banget tu si daffa.
    halo dafa?
    wassalam

    ReplyDelete
  9. aduh mbak yuli, sayang sekali saya baru nemu blognya sampeyan. coba dari dulu - dulu. tetep ngeblog ya!

    ReplyDelete
  10. owg gitu, y,,

    mntp article ny,,

    lam kenal..

    l0neman.blogspot.com

    ReplyDelete
  11. Hmm... lucu...

    Saya salut dengan guru-guru TK..
    Totally salut, meski saya gak pernah TK... :D

    new follower..
    salam kenal...
    hehehe

    ReplyDelete
  12. hmmmmmmmmmm..... guru TK emang rata² penyabar yak...bagaimana tidak ngadepi murid" yang masih polos serta masih pingin maaaeeeeeeeeenn mulu.aaaakh ga nyambung banget yak jawabanya....


    salam kenal juga

    ReplyDelete
  13. halo bu guru...

    aduh aku dulu pengen banget jd guru TK lho

    :)

    ReplyDelete
  14. wuaaaa tu anak boleh ane bawa pulang gak??heheheh gw pengen banget punya ade :(
    gemessss ane ngeliatnya :D

    ReplyDelete
  15. Salam ziarah :)

    Anak-anak kadangkala memang tak boleh kita sangka, di dalam diamnya, ada banyak kecerdikan yang tersembunyi. Sebagai ibu-bapa/pendidik kita seharusnya tahu bagaimana mau mencungkil bakat mereka. Iya kan?

    ReplyDelete
  16. bagoss ni postinga :D

    apa itu cerita nyata?

    ReplyDelete
  17. terima kasih banyak mbak atas partisipasinya di blog saya, salam kenal juga dari saya....

    ReplyDelete
  18. hauo...
    blognya ak follow ya,,
    keren2,,

    ReplyDelete
  19. Haedir* Salam kenal juga. Makasih udah mampir ke blog-ku. Kalau mau bawa pulang Daffa buat dijadiin adek ijin dulu sama yang punya alias ortunya. Tapi nanti kalau sudah bersama Daffa, yakin bisa ngasuh tuh anak? Sudah tahu kan karakter Daffa dari cerita saya. Aktif tapi unik. Cerdas tapi cuek. Jadi bersiaplah untuk capek sekaligus tertawa.

    ReplyDelete
  20. Rizky* Makasih udah ngoment tulisan saya. Ya iyalah itu cerita nyata. Masak saya ngarang. Yang saya tulis itu kisah murid saya sendiri.

    ReplyDelete
  21. Ok juga artikelnya...mampir balik ya..

    ReplyDelete
  22. TERIMAKASIH BUAT SEMUA KAWAN YANG TELAH MENINGGALKAN JEJAK DI LAMAN PELANGI ANAK INI, SEMOGA KITA AKAN TERUS SALING BERSUA DAN UNTUK MEMBANGKITKAN MOTIVASI KITA AGAR TERUS BLOGGING!

    ReplyDelete
  23. anak saya tipe nya seperti Daffa, gimana cara nanganinya supaya mau belajar?, Saya takut klo anak saya gak bisa ngikutin pelajaran di sekolah. Tapi klo saya tes di rumah, apa yang diajarkan di sekolah di selalu bisa.

    ReplyDelete