Monday, 17 August 2009

CLEANING UP

Ruangan yang dialasi karpet itu nampak terang, bersih dan dingin karena ber-AC. Beberapa kursi dan meja berderet, dua lemari, sebuah rak buku dengan bermacam buku bacaan, sebuah cermin, dan tempat tidur kecil. Dua lemari ukuran sedang, lengkap dengan sejumlah mainan dan sebuah papan tulis yang tergantung di dinding, menambah kesan semarak yang padat. Tersedia juga loker tempat untuk menyimpan tas yang jumlahnya sebanyak siswa. Ruangan itu tak lain adalah ruang kelas, tepatnya ruang kelas Kelompok Bermain di sebuah sekolah di Yogyakarta.

Jam menunjukkan waktu pukul 10.00 WIB. Terdengar suara tape yang memutar kaset lagu anak-anak. Derit kursi, suara gedebuk kaki anak-anak yang berlarian kesana-kemari dan mainan yang beradu satu sama lain. Belum lagi tawa dan pembicaraan para siswa dengan wajah polos nan lucu mereka. Menambah kesan ramai di dalamnya. Sang guru yang seakan sudah hafal jadwal di luar kepala, segera sadar dan tiba-tiba langsung menyanyi. “Kerja...kerja ayo kita kerja, beres...beres ayo beres beres, rapikan mainan bersama-bersama, rapikan mainan sampai bersih”. Bagai sebuah robot serentak semua anak langsung begegas mengambil dan meletakkan kembali mainan yang berserakan dimana-diamana itu ke tempat semula.

Hal itu berlangsung hampir 6 bulan, sehingga menjadi suatu rutinitas. Sampai suatu hari saat untuk merapikan mainanan telah tiba seperti biasa, anak-anak tak mau melakukannya. Sebagian besar dari mereka malah asyik memainkan permainan, tanpa menghiraukan perintah guru. “Oke cleaning up!”, seru bu guru.

Ini biasa terjadi lantaran dua sebab, pertama mereka masih ingin bermain, dan kedua kata-kata atau perintah guru yang sudah mereka dengar hampir setiap hari, mungkin saja membuat mereka bosan. Untuk itu guru perlu membuat variasi dalam mengajak anak untuk mebereskan mainan mereka. Baik itu dalam perbuatan untuk memberi mereka contoh ataupun lagu yang tidak terkesan memerintah. Dalam bentuk perbuatan misalnya dengan menciptakan suasana yang kompetitif seperti, “Ayo kita lomba beres-beres, siapa yang jadi juara satu!”. Atau dengan cara bermain peran, “Bu Guru mau belanja ah, siapa yang mau bantuin bu guru belanja?”, sambil mendorong kereta keranjang dan memasukkan mainan kedalamnya.

Membereskan mainan merupakan suatu pembelanjaran moral yang amat penting ditanamkan pada anak-anak sejak usia dini. Dengan demikian secara tidak langsung mengajarkan pada anak untuk belajar bertanggung jawab. Setelah menggunakan mainan juga harus mengembalikan pada tempat semula. Pembiasaan ini memang harus dilakukan berulang-ulang agar anak tidak lupa. Selain itu juga harus disertai penjelasan, mengapa kita harus merapikan mainan, dan meletakkan pada tempat semula. Sehingga anak tidak hanya terpusat pada kegiatan pelaksanaannya saja tanpa mengerti maksud dan tujuan dari pelaksanaan kegiatan tersebut. Dan akan lebih baik lagi jika pembiasan ini tidak hanya diterapkan di sekolah saja, tapi juga oleh para orangtua terhadap anak ketika mereka bermain di rumah. Dengan begitu, tercipta pembiasaan baik yang diterapkan pada kedua lingkungan belajar anak. Dan menanamkan pada diri anak untuk bersikap bertanggun- jawab kapanpun dan dimanapun mereka berada.

2 comments:

  1. Betul-betul-betul!
    Keponakan saya sudah sering digeret ortunya kalo ga mau beresin mainan..
    Musti sejak dini tuh!

    ReplyDelete
  2. ...thank you so much Mbak!
    betul mbak memang demikian seharusnya, sehingga sudah menjadi gaya hidup atau kebiasaan yang baik, bukan lagi menjadi kewajiban yang memberatkan, tetapi menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi saban waktu hehehhehhh...

    ReplyDelete