Monday, 17 August 2009

BALAS BUDI IKAN AJAIB

Oleh Yulinda Rohedy Yoshoawini
Seekor cacing sedang menggeliat-geliat berusaha melepaskan diri dari mata kail. Saat itu Tori si ikan bersayap yang ada di lautan itu, sedang berenang melintas. Tapi karena kurang hati-hati tiba-tiba saja, “duk aduh”, teriak keduanya berbarengan. “Ma…”, belum selesai Tori meminta maaf matanya terbelalak. “Wah mi instan”, seru Ikan Terbang dengan girang. Dia mulai membuka mulutnya lebar-lebar. Si cacing yang menyadari kalau bertabrakan dengan seekor ikan, langsung terkejut dan “Wa…tolong jangan makan aku”, teriaknya sambil menutup mata dengan kedua telapak tangannya. Tori merasa iba, sehingga dia mengurungkan niatnya. “Hei sobat, aku tak akan memangsamu”, kata Tori. Perlahan-lahan si cacing mulai menurunkan kedua tangannya. “Oh syukurlah”, ucap Aci si cacing. “Maaf aku tidak sengaja menabrakmu, kau siapa?” tanya Tori. “Oh tak apa, namaku Aci”, jawab si cacing. “Maukah kau menolongku melepaskan ikatan ini?” lanjutnya. “Bagaimana ya...aku sedang terburu-buru menghadiri undangan dan agak terlambat”, tolak Tori. “Tolonglah jangan tinggalkan aku sendirian. Aku tak mau jadi santapan ikan lain. Setidaknya lepaskanlah aku lebih dulu”, pinta Aci memelas. “Tapi aku tak mau ambil risiko, bisa tertangkap. Aku tak mau jadi ikan goreng”, elak Ikan Terbang. “Huu…u…hua…a…,” Aci menagis ketakutan. “Walah pakai menagis lagi. Cup cup diam ya”, bujuk Tori. Tangis si Aci bukannya mereda tapi semakin keras. Tori menjadi bingung dan akhirnya, “Baiklah aku akan menolongmu”, sahut Tori. “Benarkah, kata Aci di sela-sela tangisnya. Ikan Terbang hanya mengangguk. Dia mulai membuka ikatan tali pancing pada ekor si Cacing dengan hati berdebar dan tangan yang gemetar, karena takut terpancing. “Nah selesai”, kata Tori setelah bersusah-payah. “Hah terimakasih ya”, ucap Aci dengan senang. “Entah bagaimana aku membalas kebaikanmu”, lanjutnya. “Ah tak usah sungkan bukankah kita harus saling menolong”, jawab Tori. “Sekarang pergilah dan jangan sampai kau jadi umpan lagi”, pesan Tori si ikan terbang. Aci pun beringsut pergi. Sepeninggal cacing Tori tak menyadari kalau mata kail yang dilepasnya tadi tersangkut di ekornya. Tali pancing bergetar maka seketika itu juga pak nelayan menyentakkan pancingnya dan “Ah… tolong…!” pekik Tori.

Kini Tori telah berada di dalam ember. “Tolong jangan bunuh aku”, suara Tori terputus-putus dan hampir kehabisan napas. Pak nelayan terlonjak. “Siapa yang bicara ya?” gumamnya sambil tengok kanan dan kiri. Dia hanya sendirian. Dia mengamati Tori. Mulut ikan terbang itu nampak bergerak-gerak. “Akulah yang bicara Pak”, serunya dengan tersengal. “Ah mana mungkin ikan bisa bicara, mustahil”, kata pak nelayan tak percaya. “Kau bicara padaku?” tanya pak nelayan. “Ya”, jawab ikan terbang terengah-engah. “Wah jangan-jangan ini ikan siluman”, kata pak nelayan pada dirinya sendiri. “Aku bukan ikan siluman aku ikan ajaib”, sangkal Tori. “Kau tak bohong?” tanya pak nelayan menegaskan. “Percayalah padaku. Lepaskanlah aku. Ku mohon, aku sudah tak kuat lagi”, pinta Tori. Dia merasa sesak napas. “Kau memintaku melepaskanmu?” sahut pak nelayan. Karena merasa kasihan dia melemparkan Tori ke dalam air. “Terimakasih banyak Pak. Budi baikmu tak akan kulupakan”, ucap si ikan terbang. Pak nelayan hanya mengangguk dan terlongo tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Tori kembali berenang di dalam lautan. Pak nelayan hanya termangu diatas kapalnya. Hari ini dia tak mendapatkan seekor ikanpun. Padahal hari telah menjelang sore.

“Gluduk…gluduk…dhuer!” “Wah kelihatannya mau ada hujan badai, lebih baik aku pulang saja”, kata pak nelayan seraya membereskan perlengkapan pancingnya, dan mulai menjalankan mesin perahunya. Akan tetapi tanpa disangka-sangka, di tengah perjalanan badai datang dan menghantam perahunya. “Wush…wush… wush…lip lip lip dhuer!” Perahu pak nelayan terbalik. Beliau hampir saja tenggelam karena tak bisa berenang. “Tolong.....hap....toloong….aku tak bisa berenang…hap hap!” Beruntunglah saat itu Tori mendengar teriakan si nelayan. Tori segera berubah menjadi ikan terbang raksasa dan berenang ke arah sumber suara tersebut. Sebelum tenggelam, Tori menangkap dengan sigap tubuh pak nelayan dan menaikkannya ke atas punggungnya. Beliau merasakan tubuhnya melayang ringan diantara deru dan kecipak air. “Apakah aku sudah mati?” tanya pak nelayan. Rupanya dia sempat pingsan dan tak sadarkan diri. “Kau masih hidup pak, coba bukalah matamu”, jawab si ikan. Dengan agak berat pak nelayan mulai membuka matanya. “Hah dimana aku dan si…si siapa kau? Kenapa aku bisa berada di atas punggungmu?” tanya si nelayan dengan gugup. Tori hanya tersenyum, “Apa kau sudah benar-benar lupa padaku? Aku adalah ikan terbang yang kau lepaskan tadi siang”, jawabnya. “Lalu bagaimana kau bisa berubah jadi sebesar ini?” tanya si nelayan penasaran. “Bukankah sudah kukatakan kalau aku adalah ikan ajaib”, jelas Tori. “Tadi sewaktu aku mau pulang dari rumah temanku, aku mendapatimu terombang-ambing di lautan sambil meminta pertolongan”, sekarang katakan dimana tempat tinggalmu. Aku akan mengantarmu pulang. Lagipula kapalmu sudah hancur diterpa ombak”, lanjut ikan terbang. “Rumahku ada ditepi pantai sebelah timur”, kata pak nelayan menunjuk arah yang dimaksud. “Baiklah kalau begitu bersiaplah”, ikan terbang memeberi aba-aba. “Wush srut”, Tori berenang dengan gesit. “Hei jangan terlalu kencang!” Si nelayan mulai ketakutan. “Berpegang saja pada siripku!” kata Tori.

Tak lama kemudian mereka telah tiba di tepi pantai. “Nah, kita sudah sampai”, ucap si ikan terbang. “Syukurlah”, jawab pak nelayan sambil menghembuskan napas panjang karena merasa lega. Kemudian dia berkata pada si ikan terbang ajaib, “Terimakasih ya. Entah apa yang akan terjadi padaku jika kau tak menolongku”. “Sama-sama, tapi maaf aku tak bisa berlama-lama disini. Aku harus segera kembali ke laut”, kata Tori. “Baiklah kawan, berhati-hatilah! Sampai jumpa lagi!” kata pak nelayan akhirnya. “Ya, sampai ketemu di lain waktu”, timpal si ikan terbang. “Dah…”, kata keduanya saling mambalas lambaian tangan. Sejenak pak nelayan menatap ke laut lepas. Hari ini begitu banyak hal-hal aneh yang dia alami, namun dia juga mendapatkan segudang hikmah yang dapat ia rasakan. Semenjak hari itu dia berjanji dan bertekad dalam hati, bahwa dia akan berhenti menjadi nelayan. Karena dia tahu tak semua ikan rela untuk menjadi santapan di atas meja makan.

Cernak ini pernah dimuat Harian SUARA MERDEKA 30 November 2008. Ilustrasi Kak Jo, Suara Merdeka.

3 comments:

  1. Hidup - ringan - dan menyentuh.
    Saya senang sekali membacanya, mengingatkan saya pada masa kecil saya yang selalu disuguhi cerita2 dan dongeng2 dari ayah saya..
    Meskipun ga dibacain! hahaha..

    THUMBS UP...!!!!!!

    ReplyDelete
  2. Terima kasih Mbak, telah memberi kementar yang bisa meningkatkan semangat saya untuk terus belajar dan belajar, sehingga bisa mencapai tinkat yang lebih baik dan lebih baik lagi...

    ReplyDelete
  3. Ini karya yang pertama dimuat media, khan! Sebuah capaian hebat...thumb up! Semoga semakin bersemangat dalam menggeluti dunia sastra anak. Di negeri ini belum banyak sastrawan yang punya konsen serius pada sastra anak. Ini sebuah tantangan sekaligus peluang besar yang harus diambil. Keep on creating!

    ReplyDelete