Monday, 17 August 2009

BAHASA FORMAL SEORANG BOCAH

Sebagai seorang pendidik, saya sering mengamati perilaku dan cara bicara anak-anak didik saya ketika mereka berinteraksi. Baik dengan gurunya maupun dengan teman sebayanya. Maklum waktu itu baru tahun ajaran baru. Jadi anak-anak membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan sekolah mereka, alias lingkungan baru. Beberapa dari mereka masih ada yang menangis ketika ditinggal oleh pengasuh atau orangtuanya. Bahkan sampai terjadi tarik-menarik antara orangtua/pengasuh dengan guru kelas ketika, mereka akan diserahkan ke pihak sekolah. Ada beberapa anak yang masih bisa ditenangkan dengan bujuk-rayu para guru. Peraturan sekolah mengharuskan anak untuk ditinggal, atau tidak boleh ditunggui ketika kelas berlangsung. Demi melatih kemandirian anak. Pihak sekolah hanya memberikan toleransi waktu satu minggu, bagi pihak orang tua yang ingin tetap mendampingi anaknya ketika kelas sedang berlangsung. Namun demikian, mereka tetap tidak diperkenankan mendamping di dalam kelas.

Salah seorang murid saya, anak laki-laki yang baru berusia 3 tahun, terlihat menangis sambil memeluk erat leher sang ibu. Tidak mau lepas dari gendongan. Ketika hendak dipindah-tangankan pada guru kelas, dia mengatakan “Aku belum dewasa. Jadi harus digendong sama mama”. Kontan perkataan anak itu mengundang tawa dari para staf guru yang juga berusaha membujuknya untuk mau berpisah dengan sang ibu. “Oh ya, supaya mama tidak capek, gendongnya digantiin bu guru,” begitu jawaban yang saya berikan waktu itu. Tak sampai satu menit anak tersebut sudah berpindah ke dalam gendongan saya.

Kelucuan yang dipancarkan murid saya tersebut, tidak hanya berhenti sampai di situ. Saat proses kegiatan belajar mengajar berlangsung, anak itu kembali menangis minta pulang, pingin ikut ibunya. Kali ini tangisnya bertahan lebih lama. Karena tak kunjung reda, maka salah seorang rekan guru berkata, ”Nangisnya nggak usah lama-lama. Sebentara aja”. “Mengapa tidak boleh menagis terlalu lama?” tanya anak itu. Sunguh mengejutkan sekaligus menggelikan. Di usianya yang baru menginjak 3 tahun, dia bisa berbicara dengan bahasa formal tanpa singkatan. Layaknya menyesuaikan dengan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan). Hal yang jarang dilakukan anak-anak seusianya.

Hal lain yang lebih mengejutkan saat kegiatan bercerita. Beberapa anak didik saya tidak duduk di karpet, tetapi di lantai. “Silahkan duduk di karpet. Soalnya kalau di lantai dingin. Bu guru nggak mau kalau anak-anak masuk angin,” kata teman sesama guru. “Ibu guru tidak mau kalau anak-anak masuk angin,” ulang anak itu menirukan perkataan rekan kerja saya. Anak itu mampu mengolah kalimat tidak lengkap menjadi kalimat lengkap, dan terdengar lebih formal. Setelah menanyakan kepada orangtua tentang gaya bahasa anak, ternyata sejak kecil si anak telah dibiasakan berbahasa formal ketika berkomukikasi dengan orangtuanya. Kami para guru hanya bisa berkata, “O…pantas saja, sudah disetel dari rumah begitu”.

2 comments:

  1. aku belum dewasa, kalau aku nangis aku butuh bahu untuk bersandar....

    Salam kenal...

    ReplyDelete
  2. hahhahh...betul Mbak, semua orang membutuhkan sandaran untuk berlindung dan berbagi, baik kesedihan maupun kebahagiaan. Terima kasih telah bersua ke site ini Mbak....

    ReplyDelete