Sunday, 30 August 2009

AKU TAHU…YA, TADI ITU AKU LUPA!

Sebagai seorang guru saya tidak hanya mengajar anak-anak di kelas, pada sebuah lembaga yang bernama sekolah, atau lebih tepatnya lembaga prasekolah, karena berada di tingkat Kelompok Bermain atau Play Group/PAUD.

Suatu kali saya pernah diminta memberi les baca-tulis untuk anak usia TK yang sedang bersiap masuk SD, dan saya menyanggupinya. Yang melatar-belakangi permintaan itu adalah, karena sejumlah lembaga SD hanya bersedia menerima lulusan TK yang sudah bisa membaca. Dengan kata lain, SD bersangkutan menguji kemampuan baca-tulis peserta didik yang mendaftarkan diri, sehingga membuat orangtua gundah. Akhirnya, mereka mengajari anaknya belajar-membaca dengan cara yang instan. Harapannya, sang anak bisa diterima masuk SD.

Tentu saja tawaran tersebut saya terima. Yah, selain bisa sedikit membantu ekonomi keluarga, saya juga bisa belajar untuk mengenal karakter dan mengukur kemampuan anak yang duduk di kelas TK. Sehingga saya bisa memperoleh pengetahuan tentang perkembangan anak TK dan cara pembelajarannya.

Awalnya, murid yang mendaftar baru satu anak. Lalu bertambah menjadi dua, kemudian tiga. Yakni, dua anak perempuan yang duduk di bangku TK A, bernama Citra dan Ninda, serta satu anak laki-laki di kelas TK B, panggilannya Apri. Karena baru tahap awal saya tidak langsung mengajarkan membaca. Tapi melalui pengenalan huruf terlebih dahulu dan review. Saya pikir mereka sudah mengenal beberapa huruf dari 26 abjad yang ada. Yang mereka peroleh dari rumah ketika belajar dengan orangtua dan dari sekolah ketika belajar bersama guru formal mereka. Setiap pertemuan saya selalu menyiapkan sebuah dongeng sebagai hadiah setelah pelajaran selesai. Dan juga sebagai motivasi mereka untuk lebih giat belajar membaca.

Dari ketiga anak tersebut, Citra-lah yang paling menonjol. Namun, yang dimaksud menonjol disini bukan prestasi atau kemampuan membacanya yang meningkat. Jangankan meningkat, berkembang saja belum. Padahal, kegiatan les sudah berlangsung selama empat bulan, dengan tiga kali pertemuan setiap minggu. Sedangkan yang terjadi dengan dua temannya, sebaliknya. Apri tampaknya sudah siap masuk SD. Kemampuan membacanya sudah lancar, dia juga sudah bisa menulis nama benda dalam gambar. Ketika saya minta mengacak kartu huruf yang berjumlah 4 dengan abjad A, I, N, dan M, untuk merangkai menjadi beberapa kata, dia juga sudah bisa melakukannya. Begitu pula dengan Ninda. Dia sudah tampak matang dengan kemampuan baca-tulisnya.

Akan tetapi tidak begitu yang terjadi pada Citra. Setiap kali saya tanya nama huruf, dia juga balik bertanya, seperti pada percakapan berikut ini.
“Ini huruf ?” tanya saya sambil menujuk sebuah huruf pada papan, bermaksud menguji daya ingatnya.
“Huruf?” Citra balik bertanya pada saya.
“Ini M,” kata saya setelah melihatnya kesulitan berpikir.
Dan tanggapan yang diberikannya sungguh menjengkelkan tapi juga menggelikan seperti tertuang dalam percakapan berikut ini.
“Aku tahu itu huruf M,” kata Citra percaya diri.
“Kalau tahu kok yang jawab bu guru,” tanya saya mulai gusar tapi tetap dengan suara lembut.
“Ya… tadi itu aku lupa,” jawabnya dengan ketus.
Saya hanya bisa menahan tawa ketika dia berkata demikian.
“Sekarang tulis huruf ini,” pinta saya pada mereka. Saya memang sengaja tidak menyebut huruf yang saya tuliskan pada papan tulis, yaitu huruf “U”.
Kedua temannya sudah mulai menulis, tapi dia tidak. Ketika saya tanya, kenapa tidak menulis dia menjawab dengan dongkol.
“Ya ya, aku tahu itu huruf “U”, tapi tu aku bingung mau nulis yang mana!”
Sontak Ninda dan Apri langsung menoleh pada Citra dengan wajah heran.
“Itu lho Tra yang ditulis,” kata Ninda menunjuk papan tulis, bermaksud memberitahu huruf yang harus disalin.
“Yang ditulis ya huruf U itu,” timpal Apri sambil tertawa kecil, sehingga membuat saya menutup mulut saya yang mulai mencetak senyum.

Atau ketika kejadian yang satu ini. Seusai belajar sambil menunggu dijemput orangtua masing-masing, saya mengajak mereka bermain tebak bisikan. Saya menjelaskan pada ketiga anak tersebut tentang prosedur permainan tersebut. Setelah kami berempat (termasuk saya) duduk membentuk lingkaran kecil, saya akan membisikkan dua buah kata pada anak yang duduk di dekat saya. Setelah itu anak tersebut akan membisikkan kata yang saya sebutkan pada teman di sebelahnya, dan seterusnya. Mirip pesan berantai. Di akhir permainan saya akan menanyai anak terakhir yang menerima bisikan kata-kata dari teman sebelahnya. Kalau kata-katanya salah akan ditelusuri dari siapa dan dari mana kesalahan itu berawal. Dan yang salah nanti bertugas memimpin doa ketika pulang atau mengeja kalimat yang sudah saya sediakan. Berikut cuplikannya.
“Buah apel,” bisik saya pada Ninda.
Lalu Ninda meneruskannya pada Apri dan Apri meneruskannya pada Citra, semuanya dengan berbisik.
“Apa jawabannya Citra?” tanya saya.
Dia hanya tersenyum lebar sambil matanya melirik ke kanan dan ke kiri tanpa mampu memberikan jawaban. Saya meminta Apri mengulang bisikannya sampai beberapa kali. Tapi tetap saja tak ada respon. Ketika saya tanya sekali lagi, ekspresi itulah yang dia tampilkan, dan sekali lagi juga tanpa jawaban.
“Kalau jawaban-mu apa?” tanya saya pada Apri karena dia yang membisikkan kata itu pada Citra.
“Buah apel,” jawab Apri singkat.
Bahkan saya sudah pernah mencoba untuk menukar posisi tempat duduk dalam permainan pesan berantai. Pada Citra saya bisikkan dua buah kata “Baju Baru”. Ketika saya minta membisikkan pada temannya hasilnya tetap nihil. Saya sudah mengulang kata-kata saya beberapa kali, tapi kembali ekspresi itulah yang saya dapatkan. Ekspresi yang seakan melukiskan dia bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Sehingga membuat teman-temannya semakin penasaran dan tidak sabar menunggu kata-kata dari Citra.

Citra memang tipe anak yang tergolong aneh. Hal yang paling disukainya adalah bermain ketika ada jeda waktu istirahat. Dia paling cepat keluar kelas kalau waktu istirahat atau pulang tiba. Akan tetapi paling akhir dan paling sulit kalau diminta masuk kelas tanda pelajaran akan segera dimulai. Sampai-sampai saya harus membujuknya setiap kali akan masuk kelas. Sungguh hal yang melelahkan. Tidak sampai disitu. Terkadang dia terlihat memprovokasi temannya untuk menunda waktu masuk kelas, dan memperpanjang waktu bermain. Padahal waktu yang saya alokasikan untuk bermain berkisar antara 15-20 menit dari waktu 1,5 jam les, karena hari mulai menjelang senja. Dia juga pernah mengatakan pada saya kalau lesnya dongeng saja, tidak usah pakai baca tulis, habis itu istirahat terus pulang. Saya katakan padanya kalau saya akan memberikan hadiah dongeng kalau dia mau belajar baca-tulis. Saya juga tak habis pikir mengapa sulit sekali bagi dia untuk mengeja. Padahal usianya lebih tua dibanding dengan Ninda yang sama duduk di kelas TK A. Dan metode yang saya gunakan juga sambil bermain. Dan dia yang paling ekstra menguras tenaga saya ketika belajar sambil bermain. Waktu menyalin tulisan di papan tulis juga paling lambat. Setelah saya amati dengan seksama, ternyata setiap menyalin satu huruf, dia langsung mengajak ngobrol temannya. Tak peduli temannya sedang sibuk menyalin atau tidak. Serta paling lama, baik saat membaca, menulis maupun mengeja.

Tapi dibalik semua itu, sebenarnya dia unik. Ketika menyalin tulisan dia selalu menulis setiap huruf yang merangkai kata ke arah samping sesuai dengan tata cara membaca, sementara Apri dan Ninda menyusun kebawah pada huruf yang sama.
Selain itu, dia penggerak untuk menyalakan semangat teman-temannya. Hal ini terlihat saat diajak bernyanyi bersama dan bernyanyi bersahutan, dia yang paling pertama dan paling keras suaranya. Sementara kedua anak yang lain terkadang hanya diam terkadang menyahut dengan suara lirih.

Saya merasakan perbedaan suasana yang mencolok antara ada dan tidak-ada-Citra. Kalau dia tidak masuk, sudah dapat dipastikan suasana kelas akan terasa sepi hanya dengan Ninda dan Apri. Tetapi saya merasa beruntung, karena proses belajar berjalan lebih cepat tanpa ketidakhadirannya. Namun kalau dia hadir, saya agak merasa malas mengajar karena nanti pasti akan membutuhkan waktu yang lama dalam membimbing dia mengeja, membaca dan menulis. Namun demikian, saya juga merasa senang, karena keceriaaannya kelas menjadi terasa lebih ramai. Karena dia satu-satunya cheerleader yang menyemarakkan kelas dengan nyanyian yang bersahutan, dibanding kedua temannya. Satu keunikan lagi yang tak dimiliki kedua temannya adalah, dia menunjukkan bakat kepemimpinan. Hal ini tercermin dalam sikapnya yang langsung merespon dengan angkat tangan dan berkata aku, ketika saya menawarkan siapa yang mau memimpin doa atau siapa yang mau maju duluan untuk menulis atau membaca di depan. Sementara untuk yang lainnya selalu menunggu untuk ditujuk dan tidak berani menampilkan diri di depan, ketika saya minta memimpin kelas.

Hal lain yang tak kalah lucu, yakni ketika mereka bertiga belajar mengeja. Apri misalnya;
Saya: "Ini huruf?"
Apri: "b"
Saya: "Ini?"
Apri: "o"
Saya: "Ini?"
Apri: "b o"
Saya: "bo bo dibaca"?
Apri: "kebo"

Atau yang terjadi pada Ninda;
Saya: "t e?"
Ninda: "te"
Saya: "k o?"
Ninda: "ko"
saya: "te ko dibaca?"
Ninda: "naruto" (Mungkin saja dia mengidolakan tokoh Naruto dalam film kartun)

Atau ketika kejadian seperti berikut;
Saya: "p i"
Ninda: "pi"
Saya: "t a"
Ninda: "ta"
Saya: "pi ta dibaca?"
Ninda: "tapi" (He..he..he...bacanya jadi dibalik karena masih terpengaruh suku kata akhir)

On top of that, saya pun menyadari bahwa setiap anak diciptakan berbeda, dengan segala kekurangan dan kelebihan masing-masing.

74 comments:

  1. saya tak pernah menikmati bangku TK.... tapi tulisan yg ini, membuat saya tahu.. kenapa dia ingin jadi guru...


    :D

    ReplyDelete
  2. hey..
    aku berkunjung balik nih...
    sepertinya seruu yaa pengalamannya..pasti selalu ada hal2 baru setiap harinya.. :D

    ReplyDelete
  3. Setiap kita punya kemampuan dn kelebihan masing2 yang diberi oleh Tuhan. Hanya kadang kita tidak mengetahuinya.

    Salam Sahabat.

    ReplyDelete
  4. asyik ya ngajar anak kecil. aku juga pernah punya keinginan kaya gitu. tapi sekarang paling2 ngajar keponakan aja, itupun kadang2 ga sabar. hehe.

    ReplyDelete
  5. hihihihiihihihi....citra...citra.....aku juga suka citra,...heheheeh

    ReplyDelete
  6. setuju, setiap manusia karakternya beda2 ya.......
    btw ceritanya asyiik ya...

    ReplyDelete
  7. wah kalau ngajar anak-anak emang capek,bete,tawa dan geli jadi satu sis...hehehe.tetap semangat ya.

    ReplyDelete
  8. Pengalaman Berharga yang tiada nilainya... :)

    ReplyDelete
  9. Tulisan Anda menarik :)

    Salam kenal juga

    ReplyDelete
  10. Kata kuncinya adalah :
    Semua harus mengerti dan tahu ( Guru ,orang tua siapapun orang dewasa lainnya ) bahwa setiap anak itu unique sehingga sungguh tidak bijak kalau diperlakukan dengan cara-cara yang sama

    ReplyDelete
  11. Salah satu cita-cita saya yang sampai detik ini belum tercapai adalah menjadi guru TK, saya jadi iri melihat anda.
    Jeng Yulinda, karena kita sama-sama di Jogja, kapan-kapan mari kita bertemu di 'darat', rasanya banyak hal yang bisa kita lakukan bersama, untuk berkembangan anak.
    Salam,
    Saya tunggu kabarnya.

    ReplyDelete
  12. ehmm..yang sabar ya bu guru...yach namanya anak kecil....he...he..he..

    ReplyDelete
  13. Mbak dari Jogja juga yak?
    Boleh dunk, kapan waktu kita kopdar hehehe
    Salam kenal yak...
    Tetap Semangat !!!
    Nice share...

    ReplyDelete
  14. Sepertinya dalam mengajar ( terutama anak kecil ) memang harus banyak sabar, karena karakter anak berbeda-beda dan dari tulisan mba..sepertinya mba Yuli sudah ok dalam menjalankan peran sebagai guru. Kalau saya...wah bisa pusang tujuh kelalang deh..Trus semangat en salam kenal

    ReplyDelete
  15. seandainya semua guru kaya kamu...????

    ReplyDelete
  16. Jadi guru TK, hm...pasti asek ya mbak. Cerita yang menarik. Tentang lagu Ilir-ilir tadi, terimakasih ya. Kalau bisa kasih terjemahannya dong. Saya yakin, lagu itu pasti punya filosopi yang dalam. Terimakasih sebelumnya.

    ReplyDelete
  17. banyak orang ingin anaknya menjadi pintar tapi sedikit sekali orang ingin menjadi pendidik...
    kamu telah berani mengambil yang sedikit tersebut...

    selamat ya...
    salam kenal..

    ReplyDelete
  18. ha..ha..ha..ha.. Ninda lucu ya... btw punya tips ngedidik anak usia dibawah dua tahun nggak mbak.. anakku tuh umurnya hampir dua tahun... lucu banget... omongane criwis tenan..

    ReplyDelete
  19. huaaahh. seru yah ngajar anak2 lucu itu... ada2 aja hal2 yg bakal terjadi,, contohnya si ninda itu.. teko kok yah jadi naruto tooohh??! hihihi..

    ReplyDelete
  20. Walau pun ada beberapa perkataan dan istilah yang saya kurang faham, namun secara keseluruhannya saya mengerti bahawa:

    1. Tiap-tiap seorang dari mereka ada kekuatan dan kelemahan masing2,
    2. Tiap-tiap seorang dari mereka ada karektor dan peribadi masing2,
    3. Jika dimanfaat kesemuanya akan dapat satu kesan sinergi yang boleh digembleng untuk kebaikan; dan
    4. Kerja mendidik adalah satu pekerjaan yang mulia kerana perlu kesabaran paling tinggi.

    Kesimpulan dari kisah ini telah kamu tuliskan dalam para terakhir dengan baik sekali.

    ReplyDelete
  21. kapan yah cita2 ngajar di PG/TK terwujud..
    Jadi iri...

    ReplyDelete
  22. Citra sungguh unik... aku jadi penasaran kenapa ya dia begitu ? Kenapa dia tidak mau segera merespon saat diberi perintah ?
    Tapi dia bisa jadi penyemangat yg lainnya...
    Hehehe... aku jadi heran deh.

    ReplyDelete
  23. Aku udah komentar di blog kamu, bales komentar aku ya

    ………………….._,,-~’’’¯¯¯’’~-,,
    ………………..,-‘’ ; ; ;_,,---,,_ ; ;’’-,…………………………….._,,,---,,_
    ……………….,’ ; ; ;,-‘ , , , , , ‘-, ; ;’-,,,,---~~’’’’’’~--,,,_…..,,-~’’ ; ; ; ;__;’-,
    ……………….| ; ; ;,’ , , , _,,-~’’ ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ¯’’~’-,,_ ,,-~’’ , , ‘, ;’,
    ……………….’, ; ; ‘-, ,-~’’ ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ;’’-, , , , , ,’ ; |
    …………………’, ; ;,’’ ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ;’-, , ,-‘ ;,-‘
    ………………….,’-‘ ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ;’’-‘ ;,,-‘
    ………………..,’ ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ;__ ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ‘-,’
    ………………,-‘ ; ; ; ; ; ; ; ; ; ;,-‘’¯: : ’’-, ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; _ ; ; ; ; ;’,
    ……………..,’ ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ;| : : : : : ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ,-‘’¯: ¯’’-, ; ; ;’,
    …………….,’ ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ‘-,_: : _,-‘ ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; | : : : : : ; ; ; .|
    ……………,’ ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ¯¯ ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ;’-,,_ : :,-‘ ; ; ;|
    …………..,-‘ ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ,,-~’’ , , , , ,,,-~~-, , , , _ ; ; ;¯; ; ; ; ; ;|
    ..…………,-‘ ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ;,’ , , , , , , ,( : : : : , , , ,’’-, ; ; ; ; ; ; ; ;|
    ……….,-‘ ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ;’, , , , , , , , ,’~---~’’ , , , , , ,’ ; ; ; ; ; ; ; ;’,
    …….,-‘’ ; _, ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ‘’~-,,,,--~~’’’¯’’’~-,,_ , ,_,-‘ ; ; ; ; ; ; ; ; ; ‘,
    ….,-‘’-~’’,-‘ ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; | ; ; | . . . . . . ,’; ,’’¯ ; ; ; ; ; ; ; ; ; ,_ ; ‘-,
    ……….,’ ; ;,-, ; ;, ; ; ;, ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ‘, ; ;’, . . . . THAT'S JUST WRONG---‘’’
    ………,’-~’ ,-‘-~’’ ‘, ,-‘ ‘, ,,- ; ; ; ; ; ; ; ; ‘, ; ; ‘~-,,,-‘’ ; ,’ ; ; ; ; ‘, ;,-‘’ ; ‘, ,-‘,
    ……….,-‘’ ; ; ; ; ; ‘’ ; ; ;’’ ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ‘’-,,_ ; ; ; _,-‘ ; ; ; ; ; ;’-‘’ ; ; ; ‘’ ; ;’-,
    ……..,-‘ ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ;¯¯’’¯ ; ; ; ; ; ; ; ; , ; ; ; ; ; ; ; ; ;’’-,
    ……,-‘ ; ; ; ; ; ; ; ,, ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; |, ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ‘-,
    …..,’ ; ; ; ; ; ; ; ;,’ ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ;|..’-,_ ; ; ; , ; ; ; ; ; ‘,

    ReplyDelete
  24. Pekerjaan apapun emang harusnya dilaksanakan penuh kesabaran, terutama seorang guru yang dulu ngetop ma Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
    Pengalamannya seru neh....


    http://humorbendol.com

    ReplyDelete
  25. yah itulah guru mbak harus mempunyai stok sabar yang banyak apalagi mengajari anak TK, tetep semangat ya :)

    ReplyDelete
  26. pagi, bu guru.... Ngomong2 mana shoutmix-nya? Dunia anak memang penuh kejutan ya. Tetap semangat, ya dik!

    ReplyDelete
  27. oh ya lupa, ada award untukmu. Diambil di tempatku, ya

    ReplyDelete
  28. salam kenal sob,, dah aq follow jg

    ReplyDelete
  29. hihihi.., memang anak kecil itu lucu-lucu yah. hal yang sama pernah aku rasakan waktu KKN ngajar anak SD kelas 6.
    ayo semangat ibu guru, murid-murid menantimu. thanks dah mampir dan koment di blog ku yah.

    ReplyDelete
  30. anak kecil memang lucu dan menggelikan, kalau sudah nakal repotnya minta ampun,tpi kalau ga ada, dicariin kemana mana hii

    ReplyDelete
  31. wadoooh.. kok lucu sekali to anak-anaknya..

    yang saya heran itu lo, semua anak kecil itu kok pasti lucu ya, adaa aja caranya membuat kita tertawa...

    dzofar.com

    ReplyDelete
  32. salam kenal mba.
    btw, salute ama mba yang mau ngajarin baca & tulis, karena menurut sayah itu dasar dari semua ilmu. Dan guru yang paling hebat ya guru yang bisa mengajarkan & membuat si anak jadi bisa tulis & baca.
    makasih udah jadi follower blog sayah ya.
    sukses selalu.

    ReplyDelete
  33. wah blog-na bu guru niy yah... sharing pengalamannya bagus... saya juga salut sma bu guru ni... mengajari anak membaca dan menulis itu membutuhkan kesabaran-kan ya sis... pola tingkah anak itu terkadang masih naik-turun mood-nya... kadang ada hal yang menyenangkan dan menyebalkan juga kli ya...
    oya, ngumungin soal anak... anak juga memiliki karakter yang berbeda dan talenta yang berbeda yup... seperti yang sis tulis di postingan sis.. tentang citra dan 2 anak lainnya... karena setiap orang memang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, dan sedari kecil-pun sudah nampak... tinggal bagaimana orang dewasa mampu menuntunnya dalam melangkah hidup saja yup sis.. agar talenta yang dimiliki anak berkembang secara baik...
    oya... trimz dah berkenan menjadi reader blog ilmu_air.. dan selamat menunaikan ibadah puasa y sis...

    ReplyDelete
  34. assalamualaikum,
    sy salut dengan strateginya bu guru,udah sabar,dan selalu yakin anak didiknya bisa mempelajari apa yg diajarkan.
    nice post mbak.
    wassalam

    ReplyDelete
  35. Hihihi, kayak'x seru juga yah...
    Tapi emang, gampang2 sulit ngedidik anak usia segitu....
    Tergantung mood N kadang suka ngeselin kalo diajar tp gak bisa2, wkwkwkwk...
    Harus sabar sih...

    Semangat :)

    ReplyDelete
  36. ouh...kapan bisa punya anak kecil ya..?
    lucu!
    hmm, tapi kalo dah besar, ckckck..

    ReplyDelete
  37. sala kenal ya...mmm..anda beruntung kerana dapat melihat perkembangan anak2. ba kan, andala yang menanamkan keinginan mereka untuk belajar...

    ReplyDelete
  38. keren mba ceritanya.. kita sama2 guru ternyata... saya makasi banget sama mba yang udah ngedidik dari kecil anak2 itu.. kalo saya kan udah terima produk jadi tinggal transfer ilmu hihihi (saya guru smk)...

    oh ya mba.. masalah citra, unik anaknya.. tapi juga bisa bermasalah nantinya.. pernah kah dkonsultasikan ma orgtuanya.. biar ada kerjasamanya.... hanya saran mba :)

    kayanya saya bakal sering mampir nih :)

    ReplyDelete
  39. hue he he he, kalo saya justru pengalaman macam itu sama orang2 sepuh waktu KKN Pemberantasan buta aksara.
    tutor:"S-A-Y-U-R" dibaca?
    Warga belajar: "ASEM"

    ReplyDelete
  40. kita memang harus extra sabar ngajarin anak tk, dan harus bisa masuk kedalam dunia mereka.
    lam kenal mba, kebetulan saya juga guru tk nih.

    ReplyDelete
  41. halo sobat..aq salut bgt sama seorang guru tk tuh... bisa sabar gtu hadapin tingkah anak2 kecil yang lucu bahkan bandel.. smoga tetep sabar hadapin citra ya ... aq rasa dia tuh anak yang berani .. cuma sdikit kurang cerdas n malas blajar namanya juga anak2 lebih suka main nya. harus sabar n telaten ya sob..

    ReplyDelete
  42. hmm.. kayaknya seru juga jadi seorang guru TK..
    Setiap hari akan mengalami pengalaman seperti itu dengan anak2 yang masih menggemaskan :)

    salam kenal, mbak..

    ReplyDelete
  43. mampir di rumah ibu guru. Asyik ya kalo jadi guru TK. Bisa dekat dg anak2 kecil yg lucu2 banget.

    ReplyDelete
  44. malam jeung
    salam persahabatan ya
    salam hangat selalu

    ReplyDelete
  45. Blog yang sangat membantu.. ikutan follow ahh..
    anakku sekarang masih balita..

    ReplyDelete
  46. gw salut ma anda :)

    muga smw muridnya masug SD yang bagus.amin

    ReplyDelete
  47. saya baca lagi ceritanya sis,..kangen ama citra hehehe.Btw ada award di blog saya ambil ya sis..thanks.

    ReplyDelete
  48. mbak ada award buat mbak di t4 aq.. di ambil ya klo berkenan. trims bnget sobat

    ReplyDelete
  49. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  50. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  51. Mbak Dian dan mbak Sari Maniez, maaf baru kasih kabar sekarang. Tentu saja saya sangat senang dapet teman baru apalagi kalau bisa langsung ketemuan. Ini no.Hp. saya 081904277262. Kapan dan dimana mbak-mbak mau ngajak ketemuan? Saya tunggu kabar selanjutnya. Terimakasih.

    ReplyDelete
  52. Mampir lagi dek .... ada award untukmu.
    Monggo diambil

    ReplyDelete
  53. Yulinda, mampir bentar tuk ngasih tau, ada award buatmu di blog aku: http://curhatfanda.blogspot.com/2009/09/still-hottest-female-blogger.html Tolong diambil ya!

    ReplyDelete
  54. hi... saya copy yah salah satu cerita anda... ingin saya pelajari.. mungkin nanti saya juga akan menulis cerita tentang "anak" seperti anda.. yang tidak ada unsur "kekerasan"

    ReplyDelete
  55. Duhhhhhh.....
    Antriannya panjang banget.

    Inget anakku masuk TK.
    Kalau uang jajannya habis ngajak Pulang,
    Katanya Percuma lama-lama gak bisa jajan lagi.

    Hiksss.

    ReplyDelete
  56. Met berjuang sahabatku, ..

    met bercengkrama dengan jiwa yg bening,

    salam

    ReplyDelete
  57. Apa ada kemungkinan Citra terkena disleksia ya? Salah satu cirinya kan kesulitan mengeja dan mengenal huruf, kasian lho kalo tidak ditangani secara khusus...karena dia anak yang cerdas.

    ReplyDelete
  58. selamat ya....dan maksih...... qt seprofesi cuma kamu lebih mulia....karena kau letakkan dasar pada seorang anak manusia yg masih putih...sabar ya...cinta pada anak-anak lebih mengasyikkan tentunya

    ReplyDelete
  59. pernah baca TOTO CHAN??
    itu buku favoritku tentang pendidikan anak-anak.

    ReplyDelete
  60. Setiap anak memang berbeda, sehingga cara pendekatannya pun pasti harus berbeda.Apalagi untuk anak TK yang memang perlu kesabaran ekstra. Salam kenal ya bu guru

    ReplyDelete
  61. pengalamanmu ini bisa ditulis jadi buku yg menarik lho

    ReplyDelete
  62. memberi dengan ikhlas nih sorry menulis tanpa buku tamu tanpa jmlh pengunjung

    ReplyDelete
  63. Lucu ya Mbak, mereka memang nge-gemesin banget, musti sabar...
    Dulu, ayah saya mengajari saya baca dengan metode kartu. (flash card) karena kebanyakan orang visual. Saya tidak tau huruf, tidak bisa mengeja, yang saya tau saya sudah bisa membaca sejak umur 3,5 tahun. Itulah hutang budi saya pada ayah tercinta. yang entah.. bagaimana cara membalasnya. :)

    Tapi, sebagai akibatnya, saya sering di-strap waktu SD di depan kelas, karena tidak bisa mengeja!!! (dan guru2 bilang.. saya SOMBONG...) padahal.. demi Tuhan, saya tidak bisa mengeja!!!!!

    ReplyDelete
  64. Lucu banget yah....!
    Menyenangkan, menghibur, juga menjengkelkan mungkin menghadapi mereka...!

    ReplyDelete
  65. wah bagusbanget blognya... keren abis... terus berkarya ya... salam kenal dariku

    ReplyDelete
  66. sebuah karya dan informasi yang sangat menarik dan sangat luar biasa. terimakasih atas pencerahannya. dan jangan lupa berkunjung balik yah ...

    ReplyDelete
  67. sungguh luar biasa mas bro infonya menarik banget.. semoga trafic blog ini terus naik.. amin...

    ReplyDelete
  68. saya jadi nggak sabar, pengen cepat lulus dan bertemu dengan the golden age yang sebenarnya..

    ReplyDelete
  69. saya jadi nggak sabar, pengen cepat lulus dan bertemu dengan the golden age yang sebenarnya..

    ReplyDelete