Friday, 25 December 2009

PENDIDIKAN SEKS UNTUK ANAK USIA DINI

Suatu hari seorang teman pernah bercerita pada saya tentang anaknya. Seperti yang kita tahu, anak-anak terkenal dengan kepolosan, kelucuan dan keterkejutan. Untuk yang satu ini para pembaca sekalian pasti bertanya-tanya, mengapa bisa dikatakan keterkejutan. Kata-kata anak-anak memang selalu tidak terduga. Daripada terus dihinggapi rasa penasaran, saya mulai ceritanya.

Teman saya: “Kamu tadi lagi ngapain sama ayahmu, Teo?” (bertanya pada anaknya yang bernama Teo)
Teo: “Nonton film?”.
Teman saya: “Film apa to dik?”.
Teo: “Nggak tau buk, nggak sampai selesai, kayak film orang kerokan?”(dengan wajah dan nada suara polosnya).

Sontak saja teman saya langsung tertawa ngakak dengan jawaban anaknya yang masih duduk di bangku TK tersebut. Mungkin dari teman-teman ada yang tahu isi cerita ini. Ya cerita ini tak lain adalah mengisahkan tentang kegiatan anak yang sempat menonton sekilas adegan film porno, tapi tidak sampai akhir, mungkin hanya adegan pembuka.

Berikut ini akan saya ceritakan kisah yang lain.

Ada sebuah keluarga kecil (pasangan muda) dengan satu anak laki-laki berusia 5 tahun, mengontrak kamar atau kos kamar. Suatu siang yang amat terik si anak tadi keluar dari kamar kos.

“Lho siang-siang begini kok keluar to dik, nggak tidur siang?” tanya teman saya yang juga kos disitu. “Aku disuruh keluar sama papa,” jawabnya dengan wajah dan nada suara datar. “Kenapa disuruh keluar?” teman saya penasaran. “Soalnya papa bilang, papa sama mama mau push up,” jawab anak itu, lagi-lagi dengan kepolosannya. Akhirnya teman saya tahu, apa yang sedang terjadi di dalam. Sambil menahan tawa dia langsung kembali ke kamarnya.

Ada banyak cerita seputar si kecil, yang lucu dan menggemaskan untuk disimak. Satu cerita lagi yang akan saya hadirkan disini. Inilah kisahnya.

Seorang anak laki-laki berusia 5 tahun dan masih duduk di bangku TK terkejut ketika memasuki kamar yang tidak terkunci dan mendapati ayah ibunya sedang berhubungan badan. “Lho…ibuku diapain…,”teriak si anak. Sejak saat itu si anak menjadi benci dan menunjukkan sikap permusuhan terhadap ayahnya, karena dia merasa ayahnya telah menyakiti ibunya.

Selama ini, pendidikan seks untuk anak usia dini dianggap tabu di kalangan masyarakat. Mereka beranggapan bahwa pendidikan seks belum pantas diberikan pada anak kecil. Padahal dengan pendidikan seks yang diberikan sejak dini sangat berpengaruh dalam kehidupan anak ketika dia memasuki masa remaja. Apalagi anak-anak sekarang kritis, dari segi pertanyaan dan tingkah laku. Itu semua karena pada masa ini anak-anak memiliki rasa keingintahuan yang besar. Pernahkah para pembaca mendengar tentang seorang anak yang bertanya “Adik bayi itu keluar dari mana?” atau “Adik bayi asalnya dari mana?”. Untuk itu perlu kiat-kiat khusus dalam memberikan pemahaman tentang seks kepada mereka. Biasanya tak jarang orangtua mengalihkan pembicaraan, kadang mereka membentak dan melarang anak untuk tak menanyakan hal tersebut. Selain itu jawaban yang diberikan malah terkesan ngawur. Padahal jawaban yang demikian bisa memicu anak untuk mengeksplor sendiri, karena mereka merasa penasaran dan berusaha mencari jawaban sendiri, apabila tidak mendapatkannya dari orangtuanya.

Melalui cerita ini, saya bermaksud berbagi cerita dan berbagi tips tentang cara memberikan pendidikan seks untuk anak usia dini. Ada beberapa tips dalam memberikan pemahaman anak tentang seks antara lain: Menanamkan rasa malu, misalnya dengan membiasakan anak untuk ganti baju di tempat tertutup; Menanamkan jiwa maskulinitas pada anak laki-laki dan jiwa feminitas pada anak perempuan, misalnya dengan berpakaian sesuai dengan jenis kelaminnya; Memisahkan tempat tidur mereka, terutama dengan saudara yang berjenis kelamin berbeda; Mengenalkan waktu berkunjung (meminta izin dalam 3 waktu), untuk menanamkan dan menghormati privasi masing-masing saat berada di dalam kamar; Mendidik anak untuk menjaga pandangan matanya dari hal-hal yang mengandung unsur pornografi; Mengajari anak untuk menjaga kebersihan alat kelamin sekaligus juga mengajari anak tentang najis, membiasakan anak buang air kecil pada tempatnya (toilet), dengan begitu anak akan terbiasa mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. Selain itu, secara tidak langsung mengajari anak untuk tidak sembarangan mengizinkan orang lain membersihkan alat kelaminnya.

Pendidikan seks untuk anak-anak walaupun diberikan sejak dini juga harus memperhatikan faktor usia dan tingkat pemahaman anak. Beri penjelasan dengan bahasa yang dimengerti oleh anak. Pendidikan dapat diawali dengan mengenalkan identitas anak, mengenalkan perbedaan ciri-ciri tubuh anak perempuan dan laki-laki. Selanjutnya jelaskan pada anak tentang bagian tubuh yang tersembunyi, yang dianggap tabu untuk disebutkan namanya. Menjelaskan pada anak apa adanya bukan berarti jorok. Memang tidak gampang memberikan penjelasan tersebut. Yang penting sesuai. Yang tidak kalah penting adalah menciptakan hubungan yang baik dengan anak, dengan begitu anak akan mudah menerima masukan dari orangtua, dan yang tidak ketinggalan adalah membina hubungan kerjasama dengan pihak sekolah, dengan tujuan pergaulan anak di sekolah dapat terpantau, dan tidak ada salahnya pendidikan seks untuk anak juga diadakan di sekolah.

Dengan demikian anak sudah mempunyai bekal untuk kehidupannya kelak ketika menginjak masa remaja dengan menjaga dirinya sebaik mungkin. Selain itu anak menjadi tahu batasan dan sebab akibat dari bahaya pergaulan bebas.

Monday, 7 December 2009

BURUNG DAN ULAT



Desa itu diserang ulat. Pohon tak mau berbuah. Tak ada burung yang datang untuk memakan ulat. Warga desa resah. “Pak saya tahu, kenapa burung-burung itu tidak mau datang ke desa ini,” ucap seorang anak. “Kenapa?,” Tanya Pak Lurah. “Semua itu karena Kentus,” jawab si anak. “Kok bisa?” desak Pak Lurah. “Iya karena Kentuslah yang suka mengetapel burung-burung, sehingga tidak ada yang berani datang ke sini, mereka tidak mau celaka,” jelas si anak. “Ya, Pak Lurah saya juga sering melihat Kentus mengetapel burung,” kata warga lain yang ada disitu. “Apa?” teriak Pak Lurah penuh amarah. “Panggil Kentus dan suruh menghadap aku,” perintah Pak Lurah. “Baik Pak,” sahut Satpam. Singkat cerita Kentus sudah menghadap Pak Lurah. “Kentus, apa benar kamu yang mengetapel burung-burung yang hinggap di desa kita,” Tanya Pak Lurah. “I…iya pak,” jawab Kentus tergagap. “Jebloskan dia ke gudang dan jangan biarkan dia keluar,” perintah Pak Lurah. “Ampun pak Lurah, apa salah saya pak,” pinta Kentus tak mengerti. Dia diseret dan dijebloskan ke Gudang yang memang mirip dengan penjara. “Nah, sekarang bagaimana cara agar burung-burung itu mau datang kesini dan membasmi hama ulat,” gumam Pak Lurah. “Saya bisa membuat mereka datang kemari,” sahut si anak. “Oya, bagaimana dan dimana kamu akan menemukan para burung itu,” Tanya Pak Lurah. “Di hutan di dekat kota, untuk itu perlu ada orang yang mengantar saya kesana dan meminta para burung datang kesini,” sahut anak itu. Jalan cerita tersebut diwarnai dengan suara deru motor yang mengantar si anak ke hutan.

Sesampainya di hutan si anak menyanyi memanggil kawanan burung tersebut. “Kalian tidak usah takut lagi, Kentus yang suka memburu bangsa kalian sudah dihukum Pak Lurah dan kini mendekam di Penjara,” tutur anak itu.


Sepeninggal anak itu, seekor burung yang paling besar dan menjadi pimpinan mereka, mengumpulkan seluruh pengikutnya dan bersuara dengan lantang, tentu saja dengan bahasa burung. “Wahai rakyatku, Kentus kini telah menerima hukuman dari Kepala Desa, dan kini mendekam di Penjara. Jadi tak aka nada yang memburu dan menyakiti kita. Kita diminta datang ke desa untuk membasmi ulat yang telah menggerogoti pohon di desa itu. Kalian harus bersiap,” titah Si Raja burung. “Setuju,” sambut rakyat burung dengan girang. Keesokan harinya terdengar suara kepak sayap burung dengan suara lantang. “Serbuuu…., teriak para burung penuh semangat. Dengan sigap mereka hinggap di dahan dan mulai mematuk gerombolan ulat. Mereka berpesta pora. Keadaan menjadi hening setelahpara burung menyantap ulat-ulat. Mereka pulang ke hutan dengan perut menggembung karena kenyang. Hari berganti hari menjadi bulan. Beberapa bulan kemudian setelah pepohonan diguyur hujan, tunas tumbuh menjadi bunga dan akhirnya berbuah dengan lebat. Desa itu kembali tenteram dan hidup sejahtera dengan hasil panen buah yang melimpah.


Itulah sepenggal kisah dari dongeng yang disampaikan Kak Wes pada anak-anak yang tinggal di sekitar “Rumah Dongeng Indonesia”. Acara ini merupakan acara perdana. Sebuah cerita yang sarat dengan pesan moral tentang lingkungan hidup dan kasih sayang terhadap binatang
dan tumbuhan. Acara ini dihadiri sekitar 50 anak, dengan rentang usia antara batita sampai kelas 6 Sekolah Dasar. Adapun ibu-ibu yang ikut sekadar mendengarkan dan mengantar anaknya. Anak-anak terlihat antusias. Dengan penuh perhatian mereka mendengarkan seksama jalan cerita tersebut. Ditambah dengan kelihaian Kak Wes dalam membawakan dongeng tersebut, penuh penghayatan. Bagaimana cara beliau dalam menirukan suara motor menderu, burung yang berpesta ria makan ulat, dan membuat suara berbeda untuk setiap karakter tokoh yang ada dalam cerita tersebut. Seperti suara Pak Lurah, Si anak, Satpam, Kentus, dan pimpinan burung.

Acara ini rencananya akam diadakan setiap 2 minggu sekali sesuai permintaan anak-anak sekitar, yang akan dimulai pukul 16.00 dengan durasi 1 jam. Untuk kegiatan kedepannya rencananya akan digelar perpustakaan mini, kegiatan menyanyi bersama, kegiatan kelompok belajar dan lainnya. Itulah rencana acara yang akan menjadi agenda rutin Rumah Dongeng Indonesia.

Sunday, 22 November 2009

DIBALIK DONGENG

Melalui tulisan ini, saya bermaksud berbagi pengalaman dan ilmu dengan teman-teman di dunia maya, yakni sesama blogger.

Ternyata dongeng menyimpan sejumlah rahasia. Tentunya bukan rahasia biasa, tapi luar biasa. Dongeng tidak hanya sekedar bercerita atau menceritakan sesuatu kepada orang lain. Juga bukan hanya sekedar metode yang digunakan dalam pendidikan prasekolah atau pendidikan anak usia dini, dalam kegiatan pembelajaran. Akan tetapi dongeng merupakan media komunikasi, dimana sejumlah nilai dan norma disampaikan dan ditanamkan pada pendengarnya. Nilai tersebut antara lain yaitu moral, agama, sosial, etika, budaya, kemandirian dan masih banyak lagi. Dan di dunia pendidikan anak usia dini, metode bercerita mengambil peran penting dalam kegiatan pembelajaran.

Dan saya adalah seorang yang merasa sangat beruntung, telah mendapatkan ilmu dan mengetahui rahasia yang tersembunyi dalam dunia dongeng, setelah berguru pada Kak Wes, begitu ia biasa disapa, sosok pendongeng profesional yang berbakat, sekaligus pakar dongeng dan pendiri komunitas “Rumah Dongeng”, di Yogyakarta. Dalam pelatihan yang diadakan pada tanggal 13 November dan berlangsung selama 3 hari 2 malam itu saya dan 6 orang teman lainnya, mulai dikenalkan dan belajar menyelami dunia dongeng yang konon sangat mengasyikkan itu. Dan kita jadi paham dongeng seperti apa yang baik dalam artian yang mengandung unsur edukasi dan motivasi bagi pendengarnya. Selanjutnya akan saya ceritakan perjalanan saya bersama 6 orang teman dalam menguak tabir dongeng.

Kami bertujuh tiba di tempat tujuan dan memulai kegiatan pada hari Jum’at malam tanggal 13 November. Malam itu kami berbincang tentang semua hal yang berhubungan dengan dongeng dan kaitannya dengan pendidikan. Pagi harinya, kami ditugaskan untuk berjalan kaki dengan rute-rute yang sudah ditentukan untuk dilewati dan tempat-tempat pemberhentian sementara, layaknya terminal. Tugas itupun kami sambut dengan penuh tanda tanya, apalagi Kak Wes tidak memberikan alasan dibalik pemberian tugas itu. Selain itu Kak Wes juga menyertakan catatan penting bahwa selama menempuh perjalanan yang cukup lama dan jauh tersebut, kami tidak diperbolehkan bicara satu sama lain. Penggunaan bahasa isyarat juga tidak diperkenankan. Pesan lain yaitu apabila berpapasan dengan orang lain dan ditanya atau ditawari pedagang untuk membeli, cukup menjawabnya dengan senyuman. Makan dan minum juga dilarang selama perjalanan berlangsung. Maka bertambahlah tanda tanya yang kedua di benak kami.

Kemudian mulailah tepat pukul 6, kami berjalan mengular dengan jarak kurang lebih 1-2 meter antar teman satu dengan yang lain. Menyeberang melewati perempatan lampu lalu lintas. Tiba di alun-alun selatan, sesuai dengan instruksi dari Kak Wes yang dikatakan menjelang keberangkatan kami, kami dipersilahkan berhenti sejenak untuk melepas lelah dan mengamati keadaan sekitar lingkungan. Setelah dirasa cukup, kami kembali melanjutkan perjalanan melalui rute-rute yang telah disepakati sebelumnya. Kami terus berjalan. Tiba di pasar, sebagai pos kedua, kami berhenti mengamati keadaaan dan kegitan yang ada di pasar. Perjalanan kembali berlanjut dengan kaki yang sudah semakin lunglai, pegal tanda sudah tak bisa diajak kompromi lagi. Mendekati rumah Kak Wes, pos ketiga kami adalah makam. Seperti di pos sebelumnya kami juga berhenti disitu. Mengamati suasana makam di pagi hari menjelang siang.

Memasuki halaman rumah Kak Wes, beliau mempersilahkan kami duduk, sekali lagi tanpa suara. Setelah itu, kami diminta masuk rumah dan duduk di karpet. Di atas karpet telah tersedia 7 gelas air putih dan 7 potong biskuit serta tujuh lembar kertas folio lengkap dengan 7 spidol hitam. Beberapa menit berlalu dalam diam, kami bertujuh hanya bisa saling menatap dan tersenyum sambil memandangi apa yang telah tersedia di depan kami, tanpa tahu apa yang harus dilakukan. Pertanyaan demi pertanyaan terus berkecamuk dalam kepala kami. “Silahkan melakukan apapun, kecuali berbicara,” perintah Kak Wes. Entah siapa yang melakukakannya duluan, mungkin karena kami merasa kehausan dan kelaparan, maka biskuit dan air putih tadi tandas sedikit demi sedikit. Dan ketika seorang teman saya mulai menggoreskan spidol di kertasnya, yang lainnya pun mulai ikut-ikutan menulis. Dapat dipastikan semuanya menulis hal yang sama, yaitu perjalanan yang baru saja ditempuh, walaupun kami tidak saling contekan.

Selang beberapa menit, kak Wes meminta dan memeriksa tulisan kami. Beliau berujar, bahwa kami termasuk manusia yang belum berbudaya, masih menuruti “naluri hewani” yang ada pada diri kami. Hal itu terbukti dengan sikap kami yang lebih memilih menghabiskan roti, ketimbang mendahulukan untuk menulis hal-hal apa saja yang terjadi selama perjalanan kami. “Seorang pendongeng dan penulis yang peka adalah orang yang tidak mau kehilangan peristiwa yang telah dilaluinya, dia akan segera menuangkannya dalam bentuk tulisan,” ujar beliau kepada kami bertujuh.

“Dan tujuan dari perjalanan tanpa suara dan hubungannya dengan dongeng adalah bahwa seorang pendongeng harus memiliki kepekaan sosial yang tinggi terhadap lingkungan sekitar. Dan untuk meningkatkan kepekaan sosial tersebut perlu mengistirahatkan suara kita alias diam. Karena suara kita akan menyebabkan kita kehilangan konsentrasi dalam mengamati lingkungan sekitar, yang merupakan salah satu hal yang termasuk dalam kepekaan sosial,” lanjut beliau. Contoh kejadian yang dapat mengasah kepekaan sosial adalah dengan mengamati hal-hal yang dijumpai selama perjalanan berlangsung. Misal perasaan apa yang timbul ketika melihat nenek tua yang berjalan teeseok-seok sambil menggendong barang dagangan. Apa tidak punya anak yang mengurus dia, sehingga masih harus berjualan. Atau tukang bengkel yang sedang sepi order. Atau penjual di pasar yang dagangannya tidak laku-laku. Lalu perasaan apa yang muncul ketika melewati dan berhenti sejenak di pekuburan, untuk merenungi bahwa pada akhirnya di akhir hidup, kita hanya membutuhkan lubang berukuran 1,5 x 0,8 meter, untuk tempat bersemayam kita ketika menghadap Sang Pencipta. Terjawab sudah pertanyaan kami.

Selama perjalanan ada hal lucu yang terjadi. Salah satu teman kami, saat melakukan perjalanan bertemu dengan temannya. Ketika dipanggil dan ditanya lagi ngapain, teman saya hanya menggunakan kerlingan matanya dan segera berlalu. Tapi dia yakin temannya paham maksudnya, dengan melihat 7 orang yang berjalan berjejer ke belakang tanpa suara, ini pasti ada suatu misi yang dijalankan. Saya juga mengalami hal serupa. Ketika keluar dari areal pemakaman seorang kakek bertanya pada saya, dari mana saja, kok berjalan rame-rame. Saya hanya bisa tersenyum. Dan tanpa diduga kakek itu marah sambil menggerutu, “Loh, piye to ditako’i kok”. Belum lagi tatapan orang-orang yang berpapasan dengan rombongan kami disepanjang perjalanan yang kami lalui.

Latihan lainnya yang dapat melatih kepekaan sosial adalah berhitung berurutan dan bergantian, jangan sampai dua orang menyebut angka yang sama dalam waktu yang bersamaan. Jadi ketika berhitung, mata kita sambil menatap teman-teman kita agar tidak bertubrukan dalam mengucap angka.

Latihan berikutnya adalah spontanitas. Kali ini pelatihnya adalah Kak Asep, yang merupakan salah satu murid Kak Wes di Rumah Dongeng angkatan pertama. Kami bertujuh duduk melingkar. Setelah Kak Asep memberikan tiga kata, salah satu dari kami diminta membuat kata baru dengan kata akhir sebagai awal kata, dan meneruskannya pada teman disebelahnya. Detailnya sebagai berikut. Kak Asep mengucap tiga kata, “Hitam warna bajuku”. Setelah itu saya yang kebetulan mendapat urutan pertama langsung meneruskan, “Bajuku masih baru”. Kemudian teman disebelah saya melanjutkan, dengan membuat kalimat baru, “Baru lari pagi”. Dan seterusnya. Itupun kami harus cepat dan hanya diberi waktu 3 detik. Bagi yang terlambat membuat kalimat dan salah dalam mengucapkan harus keluar dari lingkaran. Begitu seterusnya sampai tersisa satu orang yang tercepat. Seorang pendongeng harus memiliki spontanitas yang tinggi juga, guna memperluas khasanah bahasa dalam mendongeng.

Latihan selanjutnya adalah olah vokal dan gerak tubuh. Seorang pendongeng dituntut memiliki ketrampilan tubuh dan vokal, guna memperkuat ekspresi tokoh yang diperankan oleh pendongeng itu sendiri. Tidak hanya itu. Kita bertujuh juga diminta mengekspresikan rasa marah terhadap teman kita dengan cara berpasangan dua-dua.

Pelajaran selanjutnya adalah menggali ide. Prosesnya adalah kita semua diminta mencari sebuah benda yang menarik perhatian kita di sekitar lingkungan rumah tersebut. Setelah menemukan benda tersebut, Kak Wes meminta kami menuliskan apa yang dikatakan benda yang telah kami temukan, apabila dia punya mata dan bisa melihat, punya hidung, punya rasa dan bisa merasakan, serta punya telinga dan bisa mendengar. Tujuan dari pelatihan ini adalah bahwa seorang pendongeng harus peka terhadap isu-isu yang berkembang saat ini. Misalnya peristiwa apa saja yang telah dilalui oleh benda tersebut, untuk kemudian dia ceritakan pada kita. Misal pecahan cangkir kopi yang bercerita tentang kenaikan harga BBM, yang dia dengar dari obrolan orang-orang yang sedang duduk di warung kopi. Dan masih banyak isu-isu lainnya yang berkembang. “Kalau kemampuan menggali ide sudah terasah, maka tidak sulit untuk menulis sebuah buku,” kata Kak Wes. “Kuncinya adalah dengan rajin membaca,” lanjut beliau.

Ada latihan reading, teknik membacakan buku cerita agar menarik perhatian pendengar. Latihan lainnya adalah kita diminta berpasangan dengan teman kita dua-dua. Lalu saling berkenalan, walaupun sudah kenal. Perkenalan yang lebih dalam. Saling mengenal tentang diri kita yang meliputi nama, alamat, hobi, jumlah saudara, pekerjaan dan lainnya. Setelah itu, satu persatu dari kami diminta memperkenalkan diri kita sebagai teman kita. Jadi saya memperkenalkan teman yang menjadi pasangan saya dan sebaliknya. Saya memperkenalkan diri sebagai orang lain dan orang lain memperkenalkan diri sebagai saya. Tujuan dari latihan ini adalah belajar menempatkan diri pada posisi orang lain dan mengasah rasa empati terhadap sesama. Ini juga harus dimiliki seorang pendongeng untuk lebih memahami pendengarnya.

Dan akhir dari latihan tersebut adalah praktek mendongeng tanpa alat peraga. Dan evaluasi dari praktek tersebut. Evaluasi praktek mendongeng meliputi kemampuan penguasaaan materi, sikap dan teknik mendongeng, cara penyampaian, pesan dan nilai yang terkandung dalam dongeng, dan masih banyak lagi. Persiapan sebelum mendongeng juga perlu diperhatikan.

Saya pribadi, merasa masih harus banyak belajar dan belajar. Dan pengalaman yang saya dapatkan dari Rumah Dongeng sangat berharga, mengesankan dan menyenangkan serta tak akan pernah terlupakan. Mata saya seolah langsung terbuka terhadap segala hal dan kemampuan yang harus dimiliki seorang pendongeng. Ternyata untuk menjadi seorang pendongeng yang baik tidak hanya bermodalkan bakat saja. Dan yang tak kalah penting adalah kedisiplinan yang merupakan hal penting lainnya yang merupakan tolok ukur dan kunci kesuksesan seorang pendongeng.

Ilustrasi, http://shop.deviantart.com

Saturday, 31 October 2009

PILIHAN HIDUP LINDA (to be a vegetarian)

Segelas kecil susu coklat sudah siap menanti di atas meja makan untuk dihampiri dan segera diteguk. Linda hanya melihatnya sekilas. Tak ada hasrat sedikitpun untuk mencicipinya walau hanya sesendok. Karena Linda sangat anti terhadap susu.

Tiba-tiba mamanya muncul di ruang makan. Seperti yang pernah terjadi sudah-sudah. “Minum susumu Dik,” perintah mamanya. Sementara gelas susu kakaknya di meja yang sama sudah tandas sedari tadi. Dengan gerakan pelan dan penuh keterpaksaan diraihnya gelas tersebut. Meneguknya sedikit. Rasa mual mulai menyeruak ke hidung dan mengendap di ulu hati. Ditambah lambung yang meronta untuk memuntahkan cairan kental manis tersebut. Seakan mengerti apa yang Linda rasakan mamanya langsung berkomentar. “Langsung teguk sampai habis, tidak sedikit-sedikit seperti itu,” sergah mamanya tak sabar. “Sudah berapa kali aku bilang, aku tak suka susu Ma, bikin mual,” kata Linda memelas. “Tidak usah manja dan merengek, sudah bagus Mama buatkan, kamu tinggal meminumnya,” kata mamanya sambil berlalu. “Sini kalau tidak mau biar kuhabiskan,” kata kakaknya yang tiba-tiba saja sudah duduk di sebelahnya entah sejak kapan. “Bener nih?” tanya Linda dengan lega. Disodorkannya gelas susu yang baru terminum seperempat. Dengan gerakan sigap susu itu segera berpindah tempat ke perut kakaknya. Sejak saat itu setiap waktu minum susu tiba Linda selalu bernegosiasi dengan kakaknya agar terbebas dari susu.

Berikutnya adalah makanan produk-produk hewani, termasuk telur. Entah kenapa, setiap melihat daging rasa jijik langsung menghinggapinya. Terbayang oleh Linda, ayam dan itik yang berkelana kesana kemari, cakar yang dipakai mengais tanah kini telah berada di panci dalam bentuk sup. Sehingga jika diamati masih tampak seperti aslinya, yaitu ketika masih tersambung dengan bagian tubuh lainnya saat ayam itu beberapa jam yang lalu masih sempat berjalan kesana-kemari sebelum disembelih. Cakar kaki yang biasa dipakai melintasi tanah lembek, terkadang menginjak ini itu dan kotorannya sendiri. Belum lagi bagian tubuh yang lain yang tersaji dalam bentuk potongan ayam goreng. Tak ada daya tariknya sama sekali. Mungkin dari segi rasa dan aroma memang memikat, tapi itupun tak cukup membuat Linda mencicipinya. Begitupun dengan daging kambing, sapi, kerbau dan lainnya. Apalagi dalam pelajaran Biologi yang pernah diterima Linda di sekolah, bahwa daging sapi dan kambing rentan mengandung cacing pita dan penyakit lain berbahaya, termasuk kanker. Walaupun bisa diluruhkan dengan suntikan antibiotik dan melalui proses pemasakan yang sempurna, Linda tetap emoh mengkonsumsinya. “Mengapa makannya harus sedikit-sedikit, langsung digigit saja,” tegur mamanya penuh rasa jengkel.

Sedangkan dengan telur. Terutama kuningnya. Linda paling enek untuk menghabiskannya. Selain tidak terasa enak di lidahnya, sifatnya yang lengket di mulut membuat Linda semakin kontra terhadapnya. Satu lagi makanan lain yang membuat Linda urung menyantapnya. Makanan itu tak lain adalah ikan-ikanan seperti lele, bandeng, tongkol dan ikan asin serta berbagai jenis ikan yang lain. Dia membayangkan ikan yang awalnya berenang kesana-kemari menjadi kaku di piring. Apalagi ikan tersebut ditangkap nelayan dengan cacing sebagai umpannya. Ditambah dengan yang diketahui Linda bahwa sumber lain makanan ikan antara lain binatang kecil di air, sisa makanan, sisa-sisa kotoran, dan untuk ikan yang lebih besar sumber makanannya adalah memangsa ikan yang lebih kecil, seperti kanibal yang membuat Linda semakin ngeri. “Itu bergizi dan baik untuk kesehatan. Lagipula daging dan ikan diperlukan tubuh sebagai sumber protein,” ucap mamanya. Semua makanan tersebut diasupkan sang Mama pada Linda dengan paksaan. Hal itu membuat Linda berpikir untuk mencari alternatif lain dari sayuran yang kandungan gizinya tak kalah dari ikan dan daging. “Sudah tidak usah protes, makan saja. Apa kamu mau jadi anak yang menderita kurang gizi,” kata mamanya lagi. Namun Linda tetap pada pendiriannya. Bahkan dia bertekad untuk menjadi seorang vegetarian. Dan bercita-cita bila sudah menikah akan tetap menjadi seorang vegetarian walaupun suaminya bukan seorang vegetarian. Entah apa yang membuat Linda begitu anti terhadap segala sesuatu yang berbau hewani. Padahal tidak ada yang mempengaruhi dan menyuruh Linda menolak semua itu.

Kini, Linda sudah menikah dan dia merasa beruntung karena ternyata sang suami berpredikat sebagai seorang vegetarian selama 6 tahun. Sejalan dengan impian dan cita-citanya. Dari suaminya Linda mendapatkan pengetahuan tentang nikmatnya bervegetarian. Selain menyehatkan, bisa mengurangi resiko sakit penyakit degeneratif, diantaranya penyakit jantung, tekanan darah tinggi, stroke, kanker, penuaan dini dan lainnya yang dipicu oleh makanan yang banyak mengandung kolesterol, asam urat, lemak, juga logam berat dari pencemaran lingkungan dan pestisida yang turut tertimbun dalam tubuh hewan. Disamping itu Linda jadi tahu jenis-jenis makanan yang baik dan bermanfaat bagi tubuh serta makanan yang perlu dihindari.

Meskipun telah terbebas dari paksaan mamanya untuk makan daging, saat ini Linda belajar mengkonsumsi susu dan putih telur, atas anjuran suaminya dengan tujuan meminimalisir resiko terkena osteoporosis kelak, karena defisiensi kalcium dan mineral lain.

Linda jadi berpikir dan bersyukur karena Yang Maha Kuasa telah menjadikannya seorang vegetarian dengan didukung bakat-bakat vegetarian sejak kecil, yang tidak suka makan daging. Walaupun dia tahu bahwa daging dan ikan halal, tapi ada satu hal lagi yang membuat Linda semakin mantap bervegetarian. Hal tersebut adalah rasa tak tega melihat ayam dan itik yang kejang-kejang sesaat setelah disembelih. Menyaksikan penyembelihan binatang kurban lengkap dengan pemandangan di mana darah mengucur. Dan Linda yakin kalau binatangpun sebenarnya tak mau mati disembelih. Linda bertanya-tanya mengapa harus menikmati makanan dengan membunuh dan menumpahkan darah secara paksa. Manusia saja tak suka dipaksa apalagi binatang.

“Terimakasih Ya Allah kau takdirkan aku menjadi seorang vegetarian dengan pendamping hidup yang juga seorang vegetarian pula,” ucap Linda dalam doanya.

Dan apakah kalian tahu, kisah Linda ini adalah kisah nyata, dimana tokoh tersebut mewakili saya untuk menyampaikan kepada pembaca tentang pengalaman saya pribadi meraih cita-cita untuk menjadi pemakan biji-bijian, sayuran dan buah-buahan. Pengalaman saya ini sesuai dengan profile saya di blog ini, “seorang vegetarian”. Walaupun tidak terlalu tulen karena menganut aliran Lacto Ovo Vegetarian, jadi masih mengkonsumsi susu dan telur. HEHEHEHE…

Monday, 19 October 2009

KELUGUAN SUGIHARTO

Sugih arto, mungkin itulah maksud sang ibu pada penggalan kata tersebut yang artinya Kaya Harta. Nama itu tak lain adalah nama yang diberikan pada anak laki-laki semata wayangnya. Sepintas jika dilihat secara fisik, Sugiharto tidak berbeda dengan anak-anak lain sebayanya, yakni berusia sekitar 8 tahun dan seger waras fisiknya. Namun ternyata dia salah seorang anak yang berkebutuhan khusus. Dikatakan demikian karena dia mengalami hambatan dalam perkembangan mental.

Karena kurangnya pengetahuan orangtuanya tentang keberadaan sekolah khusus, sang anak didaftarkan di sebuah Sekolah Dasar Umum dan bersekolah bersama dengan anak-anak yang normal. Tentu saja, si anak mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan teman-temannya dengan kemampuan mental normal. Alhasil, Sugiharo akhirnya ngambek tidak mau berangkat sekolah lagi.

Awalnya saya tidak tahu apa kegiatannya sebelum kepindahan kami ke rumah kontrakan yang baru.

Seperti pagi sebelumnya, Sugiharto dengan setia duduk di sebuah ceruk pagar batu depan rumah kontrakan kami, menunggui suami saya yang sedang menyapu halaman, yang sudah menjadi rutinitas suami sejak pindah ke rumah kontrakan yang baru. Hampir setiap hari dia standby di depan rumah kami, seakan dia sudah hafal di luar kepala jadwalnya. Dan kesetiaannya seperti kesetiaan sang kekasih pada pasangannya, hehehehe. Dan yang paling lucu, dia suka sekali memanggil suami saya dengan sebutan 'Bapak!' dan kepada saya dia memanggil 'Budhe!'.

Mungkin dia merindukan sosok seorang ayah, karena ibunya ternyata seorang singgle parent. Sebenarnya Sugiharto merasa sangat kesepian, dia butuh seorang teman untuk tempat berbagi. Hal itu nampak pada sikapnya yang selalu melongokkan kepala untuk mengintip rumah kami.

Dia juga pernah berkata pada suami saya seperti ini “Bapak mau kerja?” (tentunya dengan pengucapan yang tidak 100% benar) ketika melihat suami saya mengeluarkan kendaraan. “Pak wis bak,” katanya saat melihat bak telah terisi air dari kran sampai penuh. Tapi ketika ditanya, yang kami peroleh bukannya jawaban, akan tetapi hanya seulas senyum yang tersungging di bibirnya.

Namun, 'kaya harta' tidak ada harganya dibandingkan dengan kekayaan hati. Harta akan mudah habis dan bisa dicari. Sedangkan kekayaan hati tak akan pernah habis dan usaha untuk mendapatkannya tidaklah mudah. Harapan saya adalah ada seorang tokoh masyarakat sekitar misal Pak RT/Pak Dukuh atau siapapun yang dihormati oleh warga, untuk memberikan pengertian pada Ibundanya agar menyekolahkan anaknya di SLB. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga perasaan ibunya Sugiharto supaya tidak tersinggung. Dengan demikian, Sugiharto mendapatkan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhannya. Yang menjadi kekhawatiran adalah jalan kehidupan Sugiharto selanjutnya setelah ia dewasa. Karena kalau Sang Ibu sudah tidak sanggup mengurusnya seperti sekarang, lantas siapakah orang yang bersedia direpotkan? Dalam tanda kutip dengan rasa penuh keikhlasan.

Friday, 9 October 2009

Kekaguman Seorang Guru TK terhadap Pramoedya Ananta Toer

Oleh Yulinda Rohedy Yoshoawini
Saya berusia 21 tahun, seorang Guru pada sebuah Taman Kanak-kanak di Yogyakarta. Saya pengagum karya-karya Pramoedya. Sebelumnya saya tidak begitu mengenal beliau. Siapa Pramoedya, dari mana dia berasal, tokoh penulis seperti apa dia?

Kekaguman saya pada beliau berawal ketika saya bertemu dengan seseorang yang sekarang menjadi suami saya. Karena dia tahu saya hobi membaca, dia menawarkan salah satu novel karya Pramoedya.

Sejak itulah saya mulai mengenal sosok Pramoedya dan bersentuhan dengan karya-karyanya. Novel Pramoedya yang pertama kali saya baca berjudul “Gadis Pantai”. Mulanya saya kurang tertarik dan tak berminat, karena saya lebih suka membaca roman percintaan dan buku fiksi anak-anak. Sedangkan karya Pramoedya lebih bernuansa sejarah perjuangan Indonesia dan berbau politik. Tetapi, saat mulai membaca “Gadis Pantai”, saya seakan-akan seperti orang yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Saya seolah menyelami alur cerita dalam Gadis Pantai yang disuguhkan Pramoedya secara mengalir itu. Saya seakan-akan melihat kejadian dalam cerita itu dari dekat, dalam imajinasi saya seolah-olah berada di tempat yang diceritakan dalam novel. Itulah salah satu kelihaian Pramoedya, mampu menghipnotis para pembaca melalui karyanya.

Menyusul kemudian “Tetralogi Buru” yang mengobati dahaga saya akan karya-karya Pramoedya. Sampai akhirnya saya jadi ketagihan membaca buku-buku Pramoedya yang lain. Membaca novel-novel Pramoedya seperti terbawa arus yang mengalir lembut dalam cerita, sungguh ini benar-benar luar biasa.

Sebenarnya belum begitu banyak karya Pramoedya yang saya baca, karena banyak buku yang sulit saya dapatkan. Selain itu banyak karya Pramoedya yang belum diterbitkan kembali. Padahal saya ingin membaca karya-karya lainnya.

Membahas karya Pramoedya, memang tak ada habisnya. Selalu ada topik menarik yang bisa dibicarakan tentang setiap karyanya. Saya selalu terpesona dengan cara Pramoedya melukiskan jalan cerita. Membuat saya benar-benar hanyut dalam dunia rekaannya. Salah satu contohnya adalah bagaimana dia menggambarkan persetubuhan antara Annelies dan Minke dalam “Bumi Manusia”, sungguh bersahaja, tidak vulgar. Keindahan alam yang diamati dan dilalui tokoh saat melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain juga begitu elok. Sehingga membuat saya penasaran dengan apa yang akan terjadi dalam lembar-lembar selanjutnya, saat tokoh dalam cerita tiba di tempat tujuan. Saat cerita memasuki suasana tegang, saya ikut-ikutan tegang. Ketika suasana sedih, saya juga larut dalam kesedihan, mata saya pun tak terasa jadi berkaca-kaca. Seolah-olah saya bisa merasakan apa yang dirasakan oleh tokoh dalam cerita.

Dan yang lebih hebat lagi, Pramoedya menuliskan kisah masa lalu Indonesia dalam kurun waktu antara tahun sekian hingga sekian. Dia seakan-akan memberitahukan apa yang terjadi saat itu dengan bumbu rekaan jalan cerita yang semakin sayang kalau dilewatkan.
Saya sungguh salut dengan Pramoedya. Sebab, kata Pramoedya sendiri, dia sebenarnya SMP saja tidak selesai. Tapi pada kenyataannya, Pramoedya bisa menulis lusinan karya sastra yang mendunia, tanpa harus menjadi seorang sarjana sastra. Hal ini selalu membuat saya bertanya-tanya bagaimana mungkin seseorang yang tidak lulus SMP dan tidak menuntut ilmu di bidang tulis-menulis bisa menghasilkan karya yang membesarkan namanya sampai ke manca negara.

Ternyata ketekunannya dan ketelitiannya dalam mengkliping dan riset data merupakan salah satu kunci keberhasilan Pramoedya menulis karya-karyanya yang luar biasa. Dan satu lagi yang membuat saya hampir tidak percaya, ternyata Pramoedya pernah menjadi staf pengajar Fakultas Sastra di Universitas Res Publica.

Dari sini saya dapat mengambil hikmah bahwa syarat utama untuk bisa menghasilkan karya yang berkualitas adalah ketekunan, kemauan, dan kerja keras seperti yang sudah dicontohkan oleh Pramoedya. Untuk menjadi seorang penulis tidak harus melalui jenjang pendidikan tinggi. Kalau Inggris punya J.K. Rowling, Indonesia punya Pramoedya Ananta Toer. Dan saya kira tak ada salahnya menyandingkan Pramoedya dengan penulis-penulis besar dari negara lain. Saya pribadi merasa bangga karena Indonesia punya putra bangsa seperti Pramoedya yang karya dan namanya mendunia.

Semangat juang Pramoedya yang ditularkan lewat tulisan-tulisannya, sungguh memberi inspirasi dan motivasi untuk belajar lebih giat lagi dalam menghasilkan karya, seperti yang saya tekuni saat ini, menulis cerita anak, sesuai dengan bidang yang saya geluti. Dengan begitu saya bisa menularkan semangat, kerja keras, dan dedikasi tinggi, serta semua hal yang diperjuangkan oleh Pramoedya kepada anak-anak, dengan tulisan dan dongeng.

* Esei ini merupakan salah satu dari puluhan tulisan yang dipublikasikan dalam buku berjudul PRAMOEDYA ANANTA TOER, 1000 WAJAH PRAM DALAM KATA DAN SKETSA, yang diterbitkan oleh Lentera Dipantara, 2009.

Wednesday, 30 September 2009

MUDIK LEBARAN YANG BERKESAN

Idul Fitri baru saja berlalu. Tapi suasana bermaafan masih terasa. Hah…setelah vakum sejenak dari dunia blog ini, saya kembali untuk berbagi pengalaman dan cerita selama saya mudik ke kota kebesaran. Memang bukan kota kelahiran, karena saya besar di sana, dan numpang lahir di kota lain. Anggap saja ini oleh-oleh saya dari kota asal, dimana saya telah dibesarkan.

Nah ini, saya berharap kejutan saya tidak membuat semuanya terkejut. Saya sejatinya sudah menikah selama tiga tahun, kawan. Terkejut nggak…..tidak khan?!

Seperti tahun-tahun sebelumnya. Ketika di rumah mertua, saya sudah hafal luar kepala dengan rutinitas yang sudah pernah saya lakukan sebelumnya. Seusai shalat subuh, biasanya saya tidur lagi. Dan bangun sekitar pukul 06.00 wib. Setelah mencuci muka, saya langsung menjemput sapu untuk saya ajak membersihkan lantai yang berdebu. Setelah itu saya bergegas ke dapur membantu ibu mertua memasak sarapan. Misalnya memotong sayuran, meracik bumbu, menggoreng lauk, dan sebagainya. Saya yang sebelumnya jarang memasak kini mulai sibuk memasak ini dan itu. Dan kompor yang digunakan bukan kompor minyak atau gas yang biasa saya pakai, melainkan ‘tungku’ yang terbuat dari semen berbentuk persegi panjang, dengan dua lubang besar di atasnya dan berbahan bakar kayu. Terbayang kan bagaimana susahnya saya memasak dengan tungku-masak tersebut.

Kayu yang telah dibakar dan menyalakan api itu mulai memanaskan minyak dan air yang akan dipergunakan untuk memasak. Belum asap yang mengepul dari kayu bakar, sungguh menyesakkan dada, dan membuat mata menjadi pedih. Dan yang lebih repot adalah ketika mencoba menghidupkan api yang padam, sungguh butuh tenaga dan pengalaman yang ekstra dan tradisional.

Setelah semuanya selesai saya langsung melesat ke kamar mandi membersihkan diri dari asap dan keringat yang menggelayut di tubuh dan pakaian saya. Saya sampai tidak bisa membayangkan bagaimana rupa saya saat itu. Setelah beres dengan diri saya, saya bisa menikmati sarapan yang lezat masakan khas hasil kolaborasi ibu mertua dengan menantunya. He…he…he…!

Seperti kata pepatah “Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya”. Lain dengan di rumah mertua dengan di rumah orangtua sendiri. Kalau di rumah mertua saya ikut sibuk membantu memasak, lain halnya dengan di rumah orangtua saya sendiri. Dirumah ibu, saya justru disibukkan dengan melayani ajakan para adik keponakan untuk bermain monopoli dan catur. Umur mereka masih termasuk dalam kategori usia dini, yakni 4,6 dan 9 tahun. Dengan si adik keponakan yang berusia 4 tahun dan duduk di bangku TK Kecil itu, saya diajak bersentuhan dan memainkan motor-motoran, mobil-mobilan, merangkai kereta api, main perang-perangan dengan robot-robotan yang berukuran kecil. Pokoknya semuanya yang berhubungan dengan mainan anak laki-laki.

Lain dengan adik keponakan saya yang duduk di bangku TK besar yang masih berusia 5 tahun. Saya diajaknya bermain masak-masakan, main boneka, dan rumah-rumahan. Semuanya yang berbau feminin.

Beda lagi dengan adik keponakan yang satu ini juga seorang anak perempuan berumur 9 tahun dan sudah menginjak bangku Sekolah Dasar kelas 3. Ini dia yang suka mengajak saya main monopoli, catur dan ular tangga.

Saya merasa kembali menjadi anak kecil lagi, ketika memainkan permainan sejenis itu. Toh saya pun tak keberatan, karena saya juga sering bermain masak-masakan, boneka, dan lain-lain dengan anak didik saya setiap harinya. Dengan bermain monopoli misalnya saya bisa belajar berhitung dan membaca dengan adik keponakan saya. Bermain catur yang bisa melatih otak kita. Terkadang saat saya hanyut dan menikmati permainan tersebut, saya seolah lupa kalau sudah berkeluarga, hanya bedanya saya belum memiliki momongan. Orangtua dan keluarga besar saya hanya bisa senyam-senyum dengan tingkah saya, yang katanya masih seperti kekanak-kanakan. Saya pun menjawab ya beginilah guru PAUD, dalam berinteraksi dengan anak memang harus berkomunikasi dengan gaya anak-anak tentunya, agar kita bisa masuk dalam dunia anak-anak dan mengerti isinya.

Lebaran bagi saya memang menjadi kerinduan tersendiri yang saya nantikan setiap tahunnya.Tidak hanya bisa berkumpul bersama keluarga, tapi juga bisa bermain permainan edukatif tentunya. Dengan bermain permainan edukatif, bisa menambah bekal saya sebagai guru bagi anak-anak dan sebagai orangtua untuk anak saya kelak.

MATUR NUWUN…buat semua yang telah meluangkan waktu dan energy untuk membaca tulisan senderhana ini.

Thursday, 17 September 2009

MACA MERDIKA

“Maca agawe merdika”. Slogan itulah yang akhirnya terlahir dari rumusan judul di atas. Kalau diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, artinya kurang lebih seperti ini, “Membaca membuat kita merdeka”. Ya, buku membebaskan kita dari belenggu kebodohan dan ketidaktahuan. Membuat kita mendapat siraman ilmu pengetahuan.

Dalam rangka menyambut HUT RI yang ke-64, IRE Yogyakarta bekerjasama dengan pemuda Karang Taruna Dusun Tegal Rejo mengadakan semacam kegiatan perpustakaan tiban untuk merayakan hari jadi Indonesia tersebut.

Kegiatan yang sangat terbuka untuk umum ini bertempat di Dusun Tegal Rejo, Sariharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta, tepatnya di Balai Masyarakat milik Dusun Tegal Rejo.

Kegiatan yang dimotori oleh Galie, pustakawan yang sehari-harinya bermarkas di LSM IRE Yogyakarta ini, diorganisir oleh tujuh orang termasuk ketuanya. Dua dari IRE Yogyakarta dan lima pemuda-pemudi aktivis Karang Taruna Dusun Tegal Rejo. Juga didukung oleh satu armada perpustakaan keliling dari LSM Satu Nama.

Kegiatan perpustakaan tiban ini, kegiatan yang bersambung. Yakni berlangsung sebanyak lima kali even, selama 3 minggu, dengan intensitas pertemuan seminggu sekali dan durasi waktu 180 menit, dari pukul 14.00- 17.00 WIB. Kegiatan ini dilaksanakan setiap hari Sabtu pada tanggal 1, 8, 15 Agustus 2009 dan hari Minggu dan Senin pada tanggal 16 dan 17 pada bulan yang sama.

Adapun tujuan dari kegiatan ini adalah mengenalkan dunia buku dan perpustakaan, menanamkan kebiasaan membaca, menumbuhkan kreativitas, dan memperluas wawasan anak-anak usia prasekolah dan sekolah dasar (umur 2-11 tahun) melalui permainan yang bersifat edukatif dan menghinbur, terutama mereka yang tinggal di Dusun Tegal Rejo dan dusun lain di sekitarnya. Karena kenyataannya banyak pengungjung yang berasal dari dusun lain seperti Dusun Poton, Ringin Putin, Gondang Legi dan Tambak Rejo.

Materi kegiatan perpustakaan Maca Merdika, dirancang sedemikian rupa dan beranekaragam untuk menarik perhatian anak-anak. Awalnya Balai Masyarakat yang biasa dipergunakan untuk pertemuan warga disulap dengan meja berjajar yang di atasnya telah bertengger sejumlah buku dengan ilustrasi dan warna yang memanjakan mata anak tentunya dan menyedot rasa keingintahuan mereka untuk mengamati atau bahkan mulai membuka dan membaca isinya. Ada sesi permainan, menyanyi bersama, mendengarkan dongeng, baca buku dan bermain bebas serta diakhiri dengan dengan peminjaman buku di penghujung acara. Ada permainan lingkaran sambil menyanyi, lalu main tepuk tunggal dan tepuk ganda bersama-sama.

Ketika saya selaku MC memberikan instruksi tepuk tunggal maka serentak semua anak yang telah membentuk lingkaran tersebut langsung bertepuk tangan satu kali. Begitupun dengan tepuk ganda, mereka juga bertepuk tangan dua kali. Tepuk tiga, empat dan lima. Dan bagi yang keliru maka diminta menyanyi sambil menari di depan. Saya tidak mengatakan itu hukuman, tapi saya bilang yang tepuk tangannya tidak sesuai instruksi, maka dipersilahkan untuk menyanyi di depan.

Dongeng yang disajikan ada beberapa macam. Sebagai dongeng pembuka acara “Maca Medika” saat hari pertama pada tanggal 1 Agustus, saya menceritakan tentang kisah “Empat sahabat”, yang tak lain adalah 4 buah buku berbeda dalam satu rak. Intinya yang berhubungan dengan perpustakaan. Pesan moral yang terkadung di dalamnya adalah kebersamaan. Bisa dibilang cerita itu adalah sebagai dongeng perkenalan. Dan diakhir cerita ada sesi tanya jawab untuk mengetahui tingkat atau daya ingat anak-anak tentang isi cerita.

Di setiap edisi, kegiatan yang disuguhkan semakin menarik dan tak kalah seru. Ada acara menonton film anak, demonstrasi sains, kunjungan ke perpustakaan Natsuko Sioya (Perpustakaan Carity asal Jepang) dan kegiatan kreativitas.

Film yang dipilih adalah “Laskar Pelangi”, karena bertemakan perjuangan. Film ini diputar di kantor IRE pada tanggal 8 Agustus. Setelah acara menonton film usai anak-anak diberi pertanyaan tentang isi dari film laskar pelangi. Bagi yang bisa menjawab pertanyaan, kami para panitia sudah menyiapkan hadiah yang menarik dan mereka berhak memilih, karena hadiah yang disediakan beranekaragam. Ada hal yang menggelikan pada saat sesi pertanyaan. Ketika saya menanyakan siapa nama 2 orang guru yang mengajar di sekolah SD dalam film tersebut. Sejumlah anak tampak berebut mengacungkan jari. Ketika saya tunjuk untuk mengemukakan jawabannya. Tapi sayangnya mereka hanya bisa menyebutkan nama Bu Muslimah. Mereka tidak ingat pada tokoh yang memerankan Pak Bakrie. Hingga sampai pada jawaban yang lucu. Seorang anak perempuan usia SD. Dia menjawaab Bu Siti dan Bu Intan, yang tak lain adalah guru kelas di sekolahnya sendiri, ha…ha…ha… Bahkan ada yang menjawab secara serampangan. Seorang anak perempuan juga yang juga duduk di bangku SD. Dia menjawab Bu Muslimah dan Bu Narti lantaran dia tidak bisa mengingat nama Pak Bakrie. Dan ketika saya tegaskan bahwa guru yang seorang adalah laki-laki, kembali dia menyebutkan Pak Rahmat, guru di SD-nya he…he…he… Mungkin saja dia lupa atau bisa juga salah tangkap. Dikiranya saya menanyakan nama guru SD yang mengajar di kelasnya.

Demonstrasi sains yang ditampilkan adalah percampuran warna dasar dengan media cat, anak-anak juga dipersilahkan untuk mencoba mempraktekan sendiri. Langkah-langkahnya 3 gelas aqua yang telah diisi air dicampur dengan cat yang berbeda warna pada setiap gelasnya., yaitu merah, kuning dan biru. Lalu setiap warna dicampurkan secara acak, untuk mendapatkan warna lain yang lebih bervariasi. Hasil yang didapatkan antara lain ungu dari warna merah dan hijau; oranye dari warna merah dan kuning; dan hijau dari warna kuning dan biru.

Sedangkan kunjungan ke perpustakaan Natsuko Sioya dimaksudkan untuk lebih mengenalkan dunia perpustakaan pada anak-anak. Disana anak-anak meminjam dan baca buku.

Untuk kegiatan kreativitas anak-anak diajak untuk berkreasi membuat bermacam bentuk dengan play dough, melukis bebas dengan cat di kertas atau yang lebih dikenal dengan finger painting (melukis dengan jari). Ternyata anak-anak tersebut memang kreatif. Terbukti mereka bisa membuat bunga, beraneka bentuk binatang dan sebagainya. Dan hasil karya dari kreativitas finger painting juga tak kalah bagus. Diatas kertas yang telah dilumuri tiga macam cat warna-warni itu tercipta berbagai jenis bentuk gambar hasil imajinasi mereka. Ada yang menggambar atau membuat bentuk rumah, matahari, bintang dan masih banyak lagi. Di setiap kegiatan selalu disisipi dengan dongeng, permainan dan menyanyi. Dan diakhiri dengan sesi pengembalian dan peminjaman buku lagi. Dengan harapan anak-anak juga mengenal tata cara atau prosedur peminjaman-pengembalian buku.

Yang unik dari rangkaian kegiatan tersebut adalah saat menginjak hari terakhir ada kejutan dongeng dari Ann Marie Brightman, seorang antropolog dari Newcastle University, Inggris yang sedang melakukan penelitian di Yogyakarta, sekaligus ikut menyemarakkan Hari Lahir Indonesia.Yang menggembirakan sekaligus memuaskan adalah antusiasme dan semangat anak-anak yang sangat tinggi. Ditambah dengan acara dan kegiatan yang meraih sukses. Hidup Maca Merdika, Hidup Anak Indonesia.