Saturday, 31 October 2009

PILIHAN HIDUP LINDA

Segelas kecil susu coklat sudah siap menanti di atas meja makan untuk dihampiri dan segera diteguk. Linda hanya melihatnya sekilas. Tak ada hasrat sedikitpun untuk mencicipinya walau hanya sesendok. Karena Linda sangat anti terhadap susu.

Tiba-tiba mamanya muncul di ruang makan. Seperti yang pernah terjadi sudah-sudah. “Minum susumu Dik,” perintah mamanya. Sementara gelas susu kakaknya di meja yang sama sudah tandas sedari tadi. Dengan gerakan pelan dan penuh keterpaksaan diraihnya gelas tersebut. Meneguknya sedikit. Rasa mual mulai menyeruak ke hidung dan mengendap di ulu hati. Ditambah lambung yang meronta untuk memuntahkan cairan kental manis tersebut. Seakan mengerti apa yang Linda rasakan mamanya langsung berkomentar. “Langsung teguk sampai habis, tidak sedikit-sedikit seperti itu,” sergah mamanya tak sabar. “Sudah berapa kali aku bilang, aku tak suka susu Ma, bikin mual,” kata Linda memelas. “Tidak usah manja dan merengek, sudah bagus Mama buatkan, kamu tinggal meminumnya,” kata mamanya sambil berlalu. “Sini kalau tidak mau biar kuhabiskan,” kata kakaknya yang tiba-tiba saja sudah duduk di sebelahnya entah sejak kapan. “Bener nih?” tanya Linda dengan lega. Disodorkannya gelas susu yang baru terminum seperempat. Dengan gerakan sigap susu itu segera berpindah tempat ke perut kakaknya. Sejak saat itu setiap waktu minum susu tiba Linda selalu bernegosiasi dengan kakaknya agar terbebas dari susu.

Berikutnya adalah makanan produk-produk hewani, termasuk telur. Entah kenapa, setiap melihat daging rasa jijik langsung menghinggapinya. Terbayang oleh Linda, ayam dan itik yang berkelana kesana kemari, cakar yang dipakai mengais tanah kini telah berada di panci dalam bentuk sup. Sehingga jika diamati masih tampak seperti aslinya, yaitu ketika masih tersambung dengan bagian tubuh lainnya saat ayam itu beberapa jam yang lalu masih sempat berjalan kesana-kemari sebelum disembelih. Cakar kaki yang biasa dipakai melintasi tanah lembek, terkadang menginjak ini itu dan kotorannya sendiri. Belum lagi bagian tubuh yang lain yang tersaji dalam bentuk potongan ayam goreng. Tak ada daya tariknya sama sekali. Mungkin dari segi rasa dan aroma memang memikat, tapi itupun tak cukup membuat Linda mencicipinya. Begitupun dengan daging kambing, sapi, kerbau dan lainnya. Apalagi dalam pelajaran Biologi yang pernah diterima Linda di sekolah, bahwa daging sapi dan kambing rentan mengandung cacing pita dan penyakit lain berbahaya, termasuk kanker. Walaupun bisa diluruhkan dengan suntikan antibiotik dan melalui proses pemasakan yang sempurna, Linda tetap emoh mengkonsumsinya. “Mengapa makannya harus sedikit-sedikit, langsung digigit saja,” tegur mamanya penuh rasa jengkel.

Sedangkan dengan telur. Terutama kuningnya. Linda paling enek untuk menghabiskannya. Selain tidak terasa enak di lidahnya, sifatnya yang lengket di mulut membuat Linda semakin kontra terhadapnya. Satu lagi makanan lain yang membuat Linda urung menyantapnya. Makanan itu tak lain adalah ikan-ikanan seperti lele, bandeng, tongkol dan ikan asin serta berbagai jenis ikan yang lain. Dia membayangkan ikan yang awalnya berenang kesana-kemari menjadi kaku di piring. Apalagi ikan tersebut ditangkap nelayan dengan cacing sebagai umpannya. Ditambah dengan yang diketahui Linda bahwa sumber lain makanan ikan antara lain binatang kecil di air, sisa makanan, sisa-sisa kotoran, dan untuk ikan yang lebih besar sumber makanannya adalah memangsa ikan yang lebih kecil, seperti kanibal yang membuat Linda semakin ngeri. “Itu bergizi dan baik untuk kesehatan. Lagipula daging dan ikan diperlukan tubuh sebagai sumber protein,” ucap mamanya. Semua makanan tersebut diasupkan sang Mama pada Linda dengan paksaan. Hal itu membuat Linda berpikir untuk mencari alternatif lain dari sayuran yang kandungan gizinya tak kalah dari ikan dan daging. “Sudah tidak usah protes, makan saja. Apa kamu mau jadi anak yang menderita kurang gizi,” kata mamanya lagi. Namun Linda tetap pada pendiriannya. Bahkan dia bertekad untuk menjadi seorang vegetarian. Dan bercita-cita bila sudah menikah akan tetap menjadi seorang vegetarian walaupun suaminya bukan seorang vegetarian. Entah apa yang membuat Linda begitu anti terhadap segala sesuatu yang berbau hewani. Padahal tidak ada yang mempengaruhi dan menyuruh Linda menolak semua itu.

Kini, Linda sudah menikah dan dia merasa beruntung karena ternyata sang suami berpredikat sebagai seorang vegetarian selama 5 tahun. Sejalan dengan impian dan cita-citanya. Dari suaminya Linda mendapatkan pengetahuan tentang nikmatnya bervegetarian. Selain menyehatkan, bisa mengurangi resiko sakit penyakit degeneratif, diantaranya penyakit jantung, tekanan darah tinggi, stroke, kanker, penuaan dini dan lainnya yang dipicu oleh makanan yang banyak mengandung kolesterol, asam urat, lemak, juga logam berat dari pencemaran lingkungan dan pestisida yang turut tertimbun dalam tubuh hewan. Disamping itu Linda jadi tahu jenis-jenis makanan yang baik dan bermanfaat bagi tubuh serta makanan yang perlu dihindari.

Meskipun telah terbebas dari paksaan mamanya untuk makan daging, saat ini Linda belajar mengkonsumsi susu dan putih telur, atas anjuran suaminya dengan tujuan meminimalisir resiko terkena osteoporosis kelak, karena defisiensi kalcium dan mineral lain.

Linda jadi berpikir dan bersyukur karena Yang Maha Kuasa telah menjadikannya seorang vegetarian dengan didukung bakat-bakat vegetarian sejak kecil, yang tidak suka makan daging. Walaupun dia tahu bahwa daging dan ikan halal, tapi ada satu hal lagi yang membuat Linda semakin mantap bervegetarian. Hal tersebut adalah rasa tak tega melihat ayam dan itik yang kejang-kejang sesaat setelah disembelih. Menyaksikan penyembelihan binatang kurban lengkap dengan pemandangan di mana darah mengucur. Dan Linda yakin kalau binatangpun sebenarnya tak mau mati disembelih. Linda bertanya-tanya mengapa harus menikmati makanan dengan membunuh dan menumpahkan darah secara paksa. Manusia saja tak suka dipaksa apalagi binatang.

“Terimakasih Ya Allah kau takdirkan aku menjadi seorang vegetarian dengan pendamping hidup yang juga seorang vegetarian pula,” ucap Linda dalam doanya.

Dan apakah kalian tahu, kisah Linda ini adalah kisah nyata, dimana tokoh tersebut mewakili saya untuk menyampaikan kepada pembaca tentang pengalaman saya pribadi meraih cita-cita untuk menjadi pemakan biji-bijian, sayuran dan buah-buahan. Pengalaman saya ini sesuai dengan profile saya di blog ini, “seorang vegetarian”. Walaupun tidak terlalu tulen karena menganut aliran Lacto Ovo Vegetarian, jadi masih mengkonsumsi susu dan telur. HEHEHEHE…

Monday, 19 October 2009

KELUGUAN SUGIHARTO

Sugih arto, mungkin itulah maksud sang ibu pada penggalan kata tersebut yang artinya Kaya Harta. Nama itu tak lain adalah nama yang diberikan pada anak laki-laki semata wayangnya. Sepintas jika dilihat secara fisik, Sugiharto tidak berbeda dengan anak-anak lain sebayanya, yakni berusia sekitar 8 tahun dan seger waras fisiknya. Namun ternyata dia salah seorang anak yang berkebutuhan khusus. Dikatakan demikian karena dia mengalami hambatan dalam perkembangan mental.

Karena kurangnya pengetahuan orangtuanya tentang keberadaan sekolah khusus, sang anak didaftarkan di sebuah Sekolah Dasar Umum dan bersekolah bersama dengan anak-anak yang normal. Tentu saja, si anak mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan teman-temannya dengan kemampuan mental normal. Alhasil, Sugiharo akhirnya ngambek tidak mau berangkat sekolah lagi.

Awalnya saya tidak tahu apa kegiatannya sebelum kepindahan kami ke rumah kontrakan yang baru.

Seperti pagi sebelumnya, Sugiharto dengan setia duduk di sebuah ceruk pagar batu depan rumah kontrakan kami, menunggui suami saya yang sedang menyapu halaman, yang sudah menjadi rutinitas suami sejak pindah ke rumah kontrakan yang baru. Hampir setiap hari dia standby di depan rumah kami, seakan dia sudah hafal di luar kepala jadwalnya. Dan kesetiaannya seperti kesetiaan sang kekasih pada pasangannya, hehehehe. Dan yang paling lucu, dia suka sekali memanggil suami saya dengan sebutan 'Bapak!' dan kepada saya dia memanggil 'Budhe!'.

Mungkin dia merindukan sosok seorang ayah, karena ibunya ternyata seorang singgle parent. Sebenarnya Sugiharto merasa sangat kesepian, dia butuh seorang teman untuk tempat berbagi. Hal itu nampak pada sikapnya yang selalu melongokkan kepala untuk mengintip rumah kami.

Dia juga pernah berkata pada suami saya seperti ini “Bapak mau kerja?” (tentunya dengan pengucapan yang tidak 100% benar) ketika melihat suami saya mengeluarkan kendaraan. “Pak wis bak,” katanya saat melihat bak telah terisi air dari kran sampai penuh. Tapi ketika ditanya, yang kami peroleh bukannya jawaban, akan tetapi hanya seulas senyum yang tersungging di bibirnya.

Namun, 'kaya harta' tidak ada harganya dibandingkan dengan kekayaan hati. Harta akan mudah habis dan bisa dicari. Sedangkan kekayaan hati tak akan pernah habis dan usaha untuk mendapatkannya tidaklah mudah. Harapan saya adalah ada seorang tokoh masyarakat sekitar misal Pak RT/Pak Dukuh atau siapapun yang dihormati oleh warga, untuk memberikan pengertian pada Ibundanya agar menyekolahkan anaknya di SLB. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga perasaan ibunya Sugiharto supaya tidak tersinggung. Dengan demikian, Sugiharto mendapatkan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhannya. Yang menjadi kekhawatiran adalah jalan kehidupan Sugiharto selanjutnya setelah ia dewasa. Karena kalau Sang Ibu sudah tidak sanggup mengurusnya seperti sekarang, lantas siapakah orang yang bersedia direpotkan? Dalam tanda kutip dengan rasa penuh keikhlasan.

Friday, 9 October 2009

Kekaguman Seorang Guru TK terhadap Pramoedya Ananta Toer

Oleh: Yulinda R. Yoshoawini
Saya berusia 21 tahun, seorang Guru pada sebuah Taman Kanak-kanak di Yogyakarta. Saya pengagum karya-karya Pramoedya. Sebelumnya saya tidak begitu mengenal beliau. Siapa Pramoedya, dari mana dia berasal, tokoh penulis seperti apa dia?

Kekaguman saya pada beliau berawal ketika saya bertemu dengan seseorang yang sekarang menjadi suami saya. Karena dia tahu saya hobi membaca, dia menawarkan salah satu novel karya Pramoedya.

Sejak itulah saya mulai mengenal sosok Pramoedya dan bersentuhan dengan karya-karyanya. Novel Pramoedya yang pertama kali saya baca berjudul “Gadis Pantai”. Mulanya saya kurang tertarik dan tak berminat, karena saya lebih suka membaca roman percintaan dan buku fiksi anak-anak. Sedangkan karya Pramoedya lebih bernuansa sejarah perjuangan Indonesia dan berbau politik. Tetapi, saat mulai membaca “Gadis Pantai”, saya seakan-akan seperti orang yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Saya seolah menyelami alur cerita dalam Gadis Pantai yang disuguhkan Pramoedya secara mengalir itu. Saya seakan-akan melihat kejadian dalam cerita itu dari dekat, dalam imajinasi saya seolah-olah berada di tempat yang diceritakan dalam novel. Itulah salah satu kelihaian Pramoedya, mampu menghipnotis para pembaca melalui karyanya.

Menyusul kemudian “Tetralogi Buru” yang mengobati dahaga saya akan karya-karya Pramoedya. Sampai akhirnya saya jadi ketagihan membaca buku-buku Pramoedya yang lain. Membaca novel-novel Pramoedya seperti terbawa arus yang mengalir lembut dalam cerita, sungguh ini benar-benar luar biasa.

Sebenarnya belum begitu banyak karya Pramoedya yang saya baca, karena banyak buku yang sulit saya dapatkan. Selain itu banyak karya Pramoedya yang belum diterbitkan kembali. Padahal saya ingin membaca karya-karya lainnya.

Membahas karya Pramoedya, memang tak ada habisnya. Selalu ada topik menarik yang bisa dibicarakan tentang setiap karyanya. Saya selalu terpesona dengan cara Pramoedya melukiskan jalan cerita. Membuat saya benar-benar hanyut dalam dunia rekaannya. Salah satu contohnya adalah bagaimana dia menggambarkan persetubuhan antara Annelies dan Minke dalam “Bumi Manusia”, sungguh bersahaja, tidak vulgar. Keindahan alam yang diamati dan dilalui tokoh saat melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain juga begitu elok. Sehingga membuat saya penasaran dengan apa yang akan terjadi dalam lembar-lembar selanjutnya, saat tokoh dalam cerita tiba di tempat tujuan. Saat cerita memasuki suasana tegang, saya ikut-ikutan tegang. Ketika suasana sedih, saya juga larut dalam kesedihan, mata saya pun tak terasa jadi berkaca-kaca. Seolah-olah saya bisa merasakan apa yang dirasakan oleh tokoh dalam cerita.

Dan yang lebih hebat lagi, Pramoedya menuliskan kisah masa lalu Indonesia dalam kurun waktu antara tahun sekian hingga sekian. Dia seakan-akan memberitahukan apa yang terjadi saat itu dengan bumbu rekaan jalan cerita yang semakin sayang kalau dilewatkan.
Saya sungguh salut dengan Pramoedya. Sebab, kata Pramoedya sendiri, dia sebenarnya SMP saja tidak selesai. Tapi pada kenyataannya, Pramoedya bisa menulis lusinan karya sastra yang mendunia, tanpa harus menjadi seorang sarjana sastra. Hal ini selalu membuat saya bertanya-tanya bagaimana mungkin seseorang yang tidak lulus SMP dan tidak menuntut ilmu di bidang tulis-menulis bisa menghasilkan karya yang membesarkan namanya sampai ke manca negara.

Ternyata ketekunannya dan ketelitiannya dalam mengkliping dan riset data merupakan salah satu kunci keberhasilan Pramoedya menulis karya-karyanya yang luar biasa. Dan satu lagi yang membuat saya hampir tidak percaya, ternyata Pramoedya pernah menjadi staf pengajar Fakultas Sastra di Universitas Res Publica.

Dari sini saya dapat mengambil hikmah bahwa syarat utama untuk bisa menghasilkan karya yang berkualitas adalah ketekunan, kemauan, dan kerja keras seperti yang sudah dicontohkan oleh Pramoedya. Untuk menjadi seorang penulis tidak harus melalui jenjang pendidikan tinggi. Kalau Inggris punya J.K. Rowling, Indonesia punya Pramoedya Ananta Toer. Dan saya kira tak ada salahnya menyandingkan Pramoedya dengan penulis-penulis besar dari negara lain. Saya pribadi merasa bangga karena Indonesia punya putra bangsa seperti Pramoedya yang karya dan namanya mendunia.

Semangat juang Pramoedya yang ditularkan lewat tulisan-tulisannya, sungguh memberi inspirasi dan motivasi untuk belajar lebih giat lagi dalam menghasilkan karya, seperti yang saya tekuni saat ini, menulis cerita anak, sesuai dengan bidang yang saya geluti. Dengan begitu saya bisa menularkan semangat, kerja keras, dan dedikasi tinggi, serta semua hal yang diperjuangkan oleh Pramoedya kepada anak-anak, dengan tulisan dan dongeng.

* Esei ini merupakan salah satu dari puluhan tulisan yang dipublikasikan dalam buku berjudul PRAMOEDYA ANANTA TOER, 1000 WAJAH PRAM DALAM KATA DAN SKETSA, yang diterbitkan oleh Lentera Dipantara, 2009.

Wednesday, 30 September 2009

MUDIK LEBARAN YANG BERKESAN

Idul Fitri baru saja berlalu. Tapi suasana bermaafan masih terasa. Hah…setelah vakum sejenak dari dunia blog ini, saya kembali untuk berbagi pengalaman dan cerita selama saya mudik ke kota kebesaran. Memang bukan kota kelahiran, karena saya besar di sana, dan numpang lahir di kota lain. Anggap saja ini oleh-oleh saya dari kota asal, dimana saya telah dibesarkan.

Nah ini, saya berharap kejutan saya tidak membuat semuanya terkejut. Saya sejatinya sudah menikah selama tiga tahun, kawan. Terkejut nggak…..tidak khan?!

Seperti tahun-tahun sebelumnya. Ketika di rumah mertua, saya sudah hafal luar kepala dengan rutinitas yang sudah pernah saya lakukan sebelumnya. Seusai shalat subuh, biasanya saya tidur lagi. Dan bangun sekitar pukul 06.00 wib. Setelah mencuci muka, saya langsung menjemput sapu untuk saya ajak membersihkan lantai yang berdebu. Setelah itu saya bergegas ke dapur membantu ibu mertua memasak sarapan. Misalnya memotong sayuran, meracik bumbu, menggoreng lauk, dan sebagainya. Saya yang sebelumnya jarang memasak kini mulai sibuk memasak ini dan itu. Dan kompor yang digunakan bukan kompor minyak atau gas yang biasa saya pakai, melainkan ‘tungku’ yang terbuat dari semen berbentuk persegi panjang, dengan dua lubang besar di atasnya dan berbahan bakar kayu. Terbayang kan bagaimana susahnya saya memasak dengan tungku-masak tersebut.

Kayu yang telah dibakar dan menyalakan api itu mulai memanaskan minyak dan air yang akan dipergunakan untuk memasak. Belum asap yang mengepul dari kayu bakar, sungguh menyesakkan dada, dan membuat mata menjadi pedih. Dan yang lebih repot adalah ketika mencoba menghidupkan api yang padam, sungguh butuh tenaga dan pengalaman yang ekstra dan tradisional.

Setelah semuanya selesai saya langsung melesat ke kamar mandi membersihkan diri dari asap dan keringat yang menggelayut di tubuh dan pakaian saya. Saya sampai tidak bisa membayangkan bagaimana rupa saya saat itu. Setelah beres dengan diri saya, saya bisa menikmati sarapan yang lezat masakan khas hasil kolaborasi ibu mertua dengan menantunya. He…he…he…!

Seperti kata pepatah “Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya”. Lain dengan di rumah mertua dengan di rumah orangtua sendiri. Kalau di rumah mertua saya ikut sibuk membantu memasak, lain halnya dengan di rumah orangtua saya sendiri. Dirumah ibu, saya justru disibukkan dengan melayani ajakan para adik keponakan untuk bermain monopoli dan catur. Umur mereka masih termasuk dalam kategori usia dini, yakni 4,6 dan 9 tahun. Dengan si adik keponakan yang berusia 4 tahun dan duduk di bangku TK Kecil itu, saya diajak bersentuhan dan memainkan motor-motoran, mobil-mobilan, merangkai kereta api, main perang-perangan dengan robot-robotan yang berukuran kecil. Pokoknya semuanya yang berhubungan dengan mainan anak laki-laki.

Lain dengan adik keponakan saya yang duduk di bangku TK besar yang masih berusia 5 tahun. Saya diajaknya bermain masak-masakan, main boneka, dan rumah-rumahan. Semuanya yang berbau feminin.

Beda lagi dengan adik keponakan yang satu ini juga seorang anak perempuan berumur 9 tahun dan sudah menginjak bangku Sekolah Dasar kelas 3. Ini dia yang suka mengajak saya main monopoli, catur dan ular tangga.

Saya merasa kembali menjadi anak kecil lagi, ketika memainkan permainan sejenis itu. Toh saya pun tak keberatan, karena saya juga sering bermain masak-masakan, boneka, dan lain-lain dengan anak didik saya setiap harinya. Dengan bermain monopoli misalnya saya bisa belajar berhitung dan membaca dengan adik keponakan saya. Bermain catur yang bisa melatih otak kita. Terkadang saat saya hanyut dan menikmati permainan tersebut, saya seolah lupa kalau sudah berkeluarga, hanya bedanya saya belum memiliki momongan. Orangtua dan keluarga besar saya hanya bisa senyam-senyum dengan tingkah saya, yang katanya masih seperti kekanak-kanakan. Saya pun menjawab ya beginilah guru PAUD, dalam berinteraksi dengan anak memang harus berkomunikasi dengan gaya anak-anak tentunya, agar kita bisa masuk dalam dunia anak-anak dan mengerti isinya.

Lebaran bagi saya memang menjadi kerinduan tersendiri yang saya nantikan setiap tahunnya.Tidak hanya bisa berkumpul bersama keluarga, tapi juga bisa bermain permainan edukatif tentunya. Dengan bermain permainan edukatif, bisa menambah bekal saya sebagai guru bagi anak-anak dan sebagai orangtua untuk anak saya kelak.

MATUR NUWUN…buat semua yang telah meluangkan waktu dan energy untuk membaca tulisan senderhana ini.

Thursday, 17 September 2009

MACA MERDIKA

“Maca agawe merdika”. Slogan itulah yang akhirnya terlahir dari rumusan judul di atas. Kalau diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, artinya kurang lebih seperti ini, “Membaca membuat kita merdeka”. Ya, buku membebaskan kita dari belenggu kebodohan dan ketidaktahuan. Membuat kita mendapat siraman ilmu pengetahuan.

Dalam rangka menyambut HUT RI yang ke-64, IRE Yogyakarta bekerjasama dengan pemuda Karang Taruna Dusun Tegal Rejo mengadakan semacam kegiatan perpustakaan tiban untuk merayakan hari jadi Indonesia tersebut.

Kegiatan yang sangat terbuka untuk umum ini bertempat di Dusun Tegal Rejo, Sariharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta, tepatnya di Balai Masyarakat milik Dusun Tegal Rejo.

Kegiatan yang dimotori oleh Galie, pustakawan yang sehari-harinya bermarkas di LSM IRE Yogyakarta ini, diorganisir oleh tujuh orang termasuk ketuanya. Dua dari IRE Yogyakarta dan lima pemuda-pemudi aktivis Karang Taruna Dusun Tegal Rejo. Juga didukung oleh satu armada perpustakaan keliling dari LSM Satu Nama.

Kegiatan perpustakaan tiban ini, kegiatan yang bersambung. Yakni berlangsung sebanyak lima kali even, selama 3 minggu, dengan intensitas pertemuan seminggu sekali dan durasi waktu 180 menit, dari pukul 14.00- 17.00 WIB. Kegiatan ini dilaksanakan setiap hari Sabtu pada tanggal 1, 8, 15 Agustus 2009 dan hari Minggu dan Senin pada tanggal 16 dan 17 pada bulan yang sama.

Adapun tujuan dari kegiatan ini adalah mengenalkan dunia buku dan perpustakaan, menanamkan kebiasaan membaca, menumbuhkan kreativitas, dan memperluas wawasan anak-anak usia prasekolah dan sekolah dasar (umur 2-11 tahun) melalui permainan yang bersifat edukatif dan menghinbur, terutama mereka yang tinggal di Dusun Tegal Rejo dan dusun lain di sekitarnya. Karena kenyataannya banyak pengungjung yang berasal dari dusun lain seperti Dusun Poton, Ringin Putin, Gondang Legi dan Tambak Rejo.

Materi kegiatan perpustakaan Maca Merdika, dirancang sedemikian rupa dan beranekaragam untuk menarik perhatian anak-anak. Awalnya Balai Masyarakat yang biasa dipergunakan untuk pertemuan warga disulap dengan meja berjajar yang di atasnya telah bertengger sejumlah buku dengan ilustrasi dan warna yang memanjakan mata anak tentunya dan menyedot rasa keingintahuan mereka untuk mengamati atau bahkan mulai membuka dan membaca isinya. Ada sesi permainan, menyanyi bersama, mendengarkan dongeng, baca buku dan bermain bebas serta diakhiri dengan dengan peminjaman buku di penghujung acara. Ada permainan lingkaran sambil menyanyi, lalu main tepuk tunggal dan tepuk ganda bersama-sama.

Ketika saya selaku MC memberikan instruksi tepuk tunggal maka serentak semua anak yang telah membentuk lingkaran tersebut langsung bertepuk tangan satu kali. Begitupun dengan tepuk ganda, mereka juga bertepuk tangan dua kali. Tepuk tiga, empat dan lima. Dan bagi yang keliru maka diminta menyanyi sambil menari di depan. Saya tidak mengatakan itu hukuman, tapi saya bilang yang tepuk tangannya tidak sesuai instruksi, maka dipersilahkan untuk menyanyi di depan.

Dongeng yang disajikan ada beberapa macam. Sebagai dongeng pembuka acara “Maca Medika” saat hari pertama pada tanggal 1 Agustus, saya menceritakan tentang kisah “Empat sahabat”, yang tak lain adalah 4 buah buku berbeda dalam satu rak. Intinya yang berhubungan dengan perpustakaan. Pesan moral yang terkadung di dalamnya adalah kebersamaan. Bisa dibilang cerita itu adalah sebagai dongeng perkenalan. Dan diakhir cerita ada sesi tanya jawab untuk mengetahui tingkat atau daya ingat anak-anak tentang isi cerita.

Di setiap edisi, kegiatan yang disuguhkan semakin menarik dan tak kalah seru. Ada acara menonton film anak, demonstrasi sains, kunjungan ke perpustakaan Natsuko Sioya (Perpustakaan Carity asal Jepang) dan kegiatan kreativitas.

Film yang dipilih adalah “Laskar Pelangi”, karena bertemakan perjuangan. Film ini diputar di kantor IRE pada tanggal 8 Agustus. Setelah acara menonton film usai anak-anak diberi pertanyaan tentang isi dari film laskar pelangi. Bagi yang bisa menjawab pertanyaan, kami para panitia sudah menyiapkan hadiah yang menarik dan mereka berhak memilih, karena hadiah yang disediakan beranekaragam. Ada hal yang menggelikan pada saat sesi pertanyaan. Ketika saya menanyakan siapa nama 2 orang guru yang mengajar di sekolah SD dalam film tersebut. Sejumlah anak tampak berebut mengacungkan jari. Ketika saya tunjuk untuk mengemukakan jawabannya. Tapi sayangnya mereka hanya bisa menyebutkan nama Bu Muslimah. Mereka tidak ingat pada tokoh yang memerankan Pak Bakrie. Hingga sampai pada jawaban yang lucu. Seorang anak perempuan usia SD. Dia menjawaab Bu Siti dan Bu Intan, yang tak lain adalah guru kelas di sekolahnya sendiri, ha…ha…ha… Bahkan ada yang menjawab secara serampangan. Seorang anak perempuan juga yang juga duduk di bangku SD. Dia menjawab Bu Muslimah dan Bu Narti lantaran dia tidak bisa mengingat nama Pak Bakrie. Dan ketika saya tegaskan bahwa guru yang seorang adalah laki-laki, kembali dia menyebutkan Pak Rahmat, guru di SD-nya he…he…he… Mungkin saja dia lupa atau bisa juga salah tangkap. Dikiranya saya menanyakan nama guru SD yang mengajar di kelasnya.

Demonstrasi sains yang ditampilkan adalah percampuran warna dasar dengan media cat, anak-anak juga dipersilahkan untuk mencoba mempraktekan sendiri. Langkah-langkahnya 3 gelas aqua yang telah diisi air dicampur dengan cat yang berbeda warna pada setiap gelasnya., yaitu merah, kuning dan biru. Lalu setiap warna dicampurkan secara acak, untuk mendapatkan warna lain yang lebih bervariasi. Hasil yang didapatkan antara lain ungu dari warna merah dan hijau; oranye dari warna merah dan kuning; dan hijau dari warna kuning dan biru.

Sedangkan kunjungan ke perpustakaan Natsuko Sioya dimaksudkan untuk lebih mengenalkan dunia perpustakaan pada anak-anak. Disana anak-anak meminjam dan baca buku.

Untuk kegiatan kreativitas anak-anak diajak untuk berkreasi membuat bermacam bentuk dengan play dough, melukis bebas dengan cat di kertas atau yang lebih dikenal dengan finger painting (melukis dengan jari). Ternyata anak-anak tersebut memang kreatif. Terbukti mereka bisa membuat bunga, beraneka bentuk binatang dan sebagainya. Dan hasil karya dari kreativitas finger painting juga tak kalah bagus. Diatas kertas yang telah dilumuri tiga macam cat warna-warni itu tercipta berbagai jenis bentuk gambar hasil imajinasi mereka. Ada yang menggambar atau membuat bentuk rumah, matahari, bintang dan masih banyak lagi. Di setiap kegiatan selalu disisipi dengan dongeng, permainan dan menyanyi. Dan diakhiri dengan sesi pengembalian dan peminjaman buku lagi. Dengan harapan anak-anak juga mengenal tata cara atau prosedur peminjaman-pengembalian buku.

Yang unik dari rangkaian kegiatan tersebut adalah saat menginjak hari terakhir ada kejutan dongeng dari Ann Marie Brightman, seorang antropolog dari Newcastle University, Inggris yang sedang melakukan penelitian di Yogyakarta, sekaligus ikut menyemarakkan Hari Lahir Indonesia.Yang menggembirakan sekaligus memuaskan adalah antusiasme dan semangat anak-anak yang sangat tinggi. Ditambah dengan acara dan kegiatan yang meraih sukses. Hidup Maca Merdika, Hidup Anak Indonesia.

Tuesday, 8 September 2009

LIANA OH LIANA, KETHIP-KETHIP…THUING…!

Mungkin para pembaca sekalian bertanya tanya apa maksud dari judul tersebut. Tapi sabar dulu, saya akan memberitahukannya di akhir cerita, setelah rentetan kisah berikut ini.

Kali ini masih tentang anak didik saya. Tapi yang ini kelucuan itu datang dari seorang gadis kecil. Namanya Liana. Usianya sekitar tiga tahun. Badannya kecil mungil, kulitnya hitam, rambutnya ikal pendek, dan ciri yang paling unik adalah sikap diamnya, yang mengundang banyak tanda tanya dari para guru. Ada apa dengan diamnya??? Satu-satunya murid yang masih ditunggui di kelas, ketika teman-teman yang lainnya tak ada yang ditunggui lagi.

Namun yang namanya anak-anak, sikap seperti apapun yang ditunjukkan oleh mereka, pasti tetap saja lucu. Suatu kali, saat kegiatam menggambar. Setiap selesai menggambar bebas, si anak diminta untuk bercerita tentang gambar yang dibuatnya, dan guru menuliskan kata-kata atau cerita anak di bawah gambar tersebut. Sebagai contoh. “Bu…sudah selesai,” ucap seorang anak. “Oh ya, sini cerita sama bu guru,” kata saya. Setelah duduk berhadapan saya bertanya sambil bersiap menulis, “Ini gambar apa?” “Gambar ultraman merah,” jawab si anak. “Ultraman merahnya lagi ngapain?” tanya saya lagi. “Lagi perang,” jawabnya lagi. “Trus dari tangannya keluar sinar bipbipbipbip…cu…duer…meletus,” ungkapnya lagi dengan gaya dan ekspresi menirukan ultraman. Dan seterusnya sampai dia berheti cerita dan pertanyaan yang diajukan telah dirasa cukup. Padahal gambar yang dia buat berbentuk lingkaran agak lonjong dengan warna merah. Sungguh tidak nyambung menurut pandangan kita sebagai orang dewasa. Tapi itulah anak-anak, penuh dengan imajinasi yang harus kita hargai. Tidak ada maksud bohong atau menipu dari mereka.

Hal yang terjadi pada Liana justru berbeda. Ketika saya tanya apa yang dia gambar, bukannya kata-kata jelas atau bisikan lirih yang saya peroleh, akan tetapi gerak bibir membuka seperti mengucapkan satu suku kata ‘Ma’, tanpa suara. Saya langsung tertawa tapi buru-buru juga saya redam. Saya ulangi pertanyaan saya beberapa kali, tapi jawaban serupa yang kembali saya peroleh, sekali tanpa ekspresi. Bahkan saya sudah berkata demikian, “Kalau tidak bersuara bu guru tidak tahu Liana menggambar apa”. Sampai akhirnya kami berdua sama-sama menyerah. Mungkin karena sama-sama capek. Saya capek bertanya, begitu pula dengan Liana capek menjawab. Saya amati gambar yang dibuatnya. Beberapa lingkaran kecil dengan warna berbeda dan garis lurus di bagian bawah lingkaran. “Ini kelereng?” tebak saya. Dia hanya menggangguk kemudian berlalu dari hadapan saya. Sayapun hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum menghadapi karakter Liana.

Kejadian lain yang tak kalah seru adalah waktu kegiatan tanya jawab antara guru dan anak. Waktu itu tema yang dibahas tentang binatang piaraan. Satu persatu anak telah diberi pertanyaan oleh teman saya. Jawaban yang diperoleh beranekaragam. Ada yang memelihara ayam, kelinci, ikan dan sebagainya. Sampai tiba giliran Liana. “Kalau Liana di rumah punya binatang apa?” tanya teman saya. “Kuuciing,” jawabnya sambil berbisik lirih. “Apa? Bu guru tidak dengar,” balas teman saya dengan berbisik juga. Jawaban yang diperoleh juga sama walaupun bisikannya sudah agak terdengar. “Apa lagi?” tanya teman saya. “Iikaan,” jawabnya masih dengan berbisik. “Terus, apa lagi?” tanya teman saya. “Hamsteer,” katanya lagi. “Ada lagi?” tanyaku. “Uudaah,” jawab Liana. Semua jawaban yang diberikan seluruhnya berupa bisikan. Teman saya tidak bermasud membalas anak tetapi hanya berusaha memancing supaya suaranya keluar. Kami bertiga sebagai Penanya hanya bisa tertawa kecil dengan jawaban bisikan itu.

“Tolong, panggilkan Faadhil,” pinta saya pada Liana ketika tiba waktu pemeriksaan kuku. Saya amati dia waktu memanggil temannya. “Faadhil dipanggil Bu Yuli,” katanya dengan volume suara terendah. Saya hanya bisa menahan tawa. Faadhil tidak mengerti. Saya minta Liana untuk mengulangi, “Faadhil tidak dengar karena Liana berbisik,” kata saya. Tapi tetap saja volume suaranya tak bisa lebih dari itu. Hingga akhirnya saya yang memanggil Faadhil.

Atau saat dia minta tolong dipakaikan jilbab atau mau memasukkan uang amal. “Liana mau ngapain?” tanya saya waktu itu. Dia hanya menyodorkan jilbab dan uang dihadapan saya tanpa sepatah kata-pun.

Mungkin inilah kelucuan yang paling ditunggu-tunggu, para pembaca sekalian karena berhubugan dengan judul tulisan ini. Waktu itu tema yang dibahas adalah tentang anggota keluarga. “Siapa yang punya kakak di rumah?” tanya teman saya. Semua murid dengan serentak menjawab “Sayaaa…saya…saya buu!” kata mereka sambil mengacungkan jari telujuk sembari maju kedepan. Sementara itu yang terjadi pada Liana sungguh menggelikan. Dia hanya duduk manis di tepi karpet. Pandangan matanya ke bawah. Lalu matanya berkedip tapi masih dengan pandangan kebawah. Mungkin kalau saya lukiskan seperti ini wajahnya waktu itu, ...‘kethip…kethip’, matanya berkedip dua kali. Kemudian.... ‘thuing!’ Dia mengacungkan telunjuknya. Tidak setinggi teman-temannya, tapi di bawah dadanya. Dan sekali lagi tanpa suara. Sungguh menggelikan.

Setelah ibunya berkonsultasi tentang perkembangan anak, baru diketahui kalau ibunya singgle parent. Dan saat hamil Liana Sang Ibu sudah pisah ranjang dengan Sang Ayah. Ketika Liana lahir kedua orangtuanya sudah resmi bercerai. Mungkin itulah yang mempengaruhi psikis Liana hingga dia bersikap sepeti itu. Apalagi tanpa tahu figur seorang ayah. Terkadang dia menolak kasih sayang yang kami berikan saat di sekolah. Dia akan berusaha melepaskan genggaman tangannya ketika digandeng Bu Guru masuk kelas. Menepis belaian kami. Dan buru-buru menggeser duduknya ketika dipangku oleh saya misalnya.

Namun tingkah laku dan sikapnya saat di rumah sangat bertolak belakang dengan saat berada di sekolah. Berdasar pengakuan ibunya, Liana seringkali bercerita tentang pengalamannya di sekolah hari itu. Hal itu tampak nyata, ketika kami bertiga menerima undangan untuk berkunjung ke rumahnya. Kami melihat dia bersikap seperti biasa ketika bermain dengan kakaknya dan terlihat ceria seperti anak-anak lainnya. Dia juga banyak mendominasi pembiaraan ketika berkomunikasi dengan kakaknya. Tapi ketika salah satu dari kami bertanya dia langsung mengunci mulutnya.

Tapi terlepas dari itu semua, dia bisa mengikuti aktivitas kelas. Suka menggambar. Jenis permainan yang paling digemari adalah Puzzle. Intinya yang melibatkan daya nalar atau daya pikir. Hanya kurang percaya diri ketika berkomunikasi dan berinteraksi baik dengan teman sebayanya maupun dengan gurunya. Prestasi yang membanggakan yang pernah diraihnya adalah juara tiga lomba mewarnai tingkat Kelompok Bermain. Liana mewarnai gambar yang disediakan panitia lomba menggunakan krayon. Hasilnya penuh, rapi dan tidak keluar garis.

“Uudaah!” he...he...he...

Sunday, 30 August 2009

AKU TAHU…YA, TADI ITU AKU LUPA!

Sebagai seorang guru saya tidak hanya mengajar anak-anak di kelas, pada sebuah lembaga yang bernama sekolah, atau lebih tepatnya lembaga prasekolah, karena berada di tingkat Kelompok Bermain atau Play Group/PAUD.

Suatu kali saya pernah diminta memberi les baca-tulis untuk anak usia TK yang sedang bersiap masuk SD, dan saya menyanggupinya. Yang melatar-belakangi permintaan itu adalah, karena sejumlah lembaga SD hanya bersedia menerima lulusan TK yang sudah bisa membaca. Dengan kata lain, SD bersangkutan menguji kemampuan baca-tulis peserta didik yang mendaftarkan diri, sehingga membuat orangtua gundah. Akhirnya, mereka mengajari anaknya belajar-membaca dengan cara yang instan. Harapannya, sang anak bisa diterima masuk SD.

Tentu saja tawaran tersebut saya terima. Yah, selain bisa sedikit membantu ekonomi keluarga, saya juga bisa belajar untuk mengenal karakter dan mengukur kemampuan anak yang duduk di kelas TK. Sehingga saya bisa memperoleh pengetahuan tentang perkembangan anak TK dan cara pembelajarannya.

Awalnya, murid yang mendaftar baru satu anak. Lalu bertambah menjadi dua, kemudian tiga. Yakni, dua anak perempuan yang duduk di bangku TK A, bernama Citra dan Ninda, serta satu anak laki-laki di kelas TK B, panggilannya Apri. Karena baru tahap awal saya tidak langsung mengajarkan membaca. Tapi melalui pengenalan huruf terlebih dahulu dan review. Saya pikir mereka sudah mengenal beberapa huruf dari 26 abjad yang ada. Yang mereka peroleh dari rumah ketika belajar dengan orangtua dan dari sekolah ketika belajar bersama guru formal mereka. Setiap pertemuan saya selalu menyiapkan sebuah dongeng sebagai hadiah setelah pelajaran selesai. Dan juga sebagai motivasi mereka untuk lebih giat belajar membaca.

Dari ketiga anak tersebut, Citra-lah yang paling menonjol. Namun, yang dimaksud menonjol disini bukan prestasi atau kemampuan membacanya yang meningkat. Jangankan meningkat, berkembang saja belum. Padahal, kegiatan les sudah berlangsung selama empat bulan, dengan tiga kali pertemuan setiap minggu. Sedangkan yang terjadi dengan dua temannya, sebaliknya. Apri tampaknya sudah siap masuk SD. Kemampuan membacanya sudah lancar, dia juga sudah bisa menulis nama benda dalam gambar. Ketika saya minta mengacak kartu huruf yang berjumlah 4 dengan abjad A, I, N, dan M, untuk merangkai menjadi beberapa kata, dia juga sudah bisa melakukannya. Begitu pula dengan Ninda. Dia sudah tampak matang dengan kemampuan baca-tulisnya.

Akan tetapi tidak begitu yang terjadi pada Citra. Setiap kali saya tanya nama huruf, dia juga balik bertanya, seperti pada percakapan berikut ini.
“Ini huruf ?” tanya saya sambil menujuk sebuah huruf pada papan, bermaksud menguji daya ingatnya.
“Huruf?” Citra balik bertanya pada saya.
“Ini M,” kata saya setelah melihatnya kesulitan berpikir.
Dan tanggapan yang diberikannya sungguh menjengkelkan tapi juga menggelikan seperti tertuang dalam percakapan berikut ini.
“Aku tahu itu huruf M,” kata Citra percaya diri.
“Kalau tahu kok yang jawab bu guru,” tanya saya mulai gusar tapi tetap dengan suara lembut.
“Ya… tadi itu aku lupa,” jawabnya dengan ketus.
Saya hanya bisa menahan tawa ketika dia berkata demikian.
“Sekarang tulis huruf ini,” pinta saya pada mereka. Saya memang sengaja tidak menyebut huruf yang saya tuliskan pada papan tulis, yaitu huruf “U”.
Kedua temannya sudah mulai menulis, tapi dia tidak. Ketika saya tanya, kenapa tidak menulis dia menjawab dengan dongkol.
“Ya ya, aku tahu itu huruf “U”, tapi tu aku bingung mau nulis yang mana!”
Sontak Ninda dan Apri langsung menoleh pada Citra dengan wajah heran.
“Itu lho Tra yang ditulis,” kata Ninda menunjuk papan tulis, bermaksud memberitahu huruf yang harus disalin.
“Yang ditulis ya huruf U itu,” timpal Apri sambil tertawa kecil, sehingga membuat saya menutup mulut saya yang mulai mencetak senyum.

Atau ketika kejadian yang satu ini. Seusai belajar sambil menunggu dijemput orangtua masing-masing, saya mengajak mereka bermain tebak bisikan. Saya menjelaskan pada ketiga anak tersebut tentang prosedur permainan tersebut. Setelah kami berempat (termasuk saya) duduk membentuk lingkaran kecil, saya akan membisikkan dua buah kata pada anak yang duduk di dekat saya. Setelah itu anak tersebut akan membisikkan kata yang saya sebutkan pada teman di sebelahnya, dan seterusnya. Mirip pesan berantai. Di akhir permainan saya akan menanyai anak terakhir yang menerima bisikan kata-kata dari teman sebelahnya. Kalau kata-katanya salah akan ditelusuri dari siapa dan dari mana kesalahan itu berawal. Dan yang salah nanti bertugas memimpin doa ketika pulang atau mengeja kalimat yang sudah saya sediakan. Berikut cuplikannya.
“Buah apel,” bisik saya pada Ninda.
Lalu Ninda meneruskannya pada Apri dan Apri meneruskannya pada Citra, semuanya dengan berbisik.
“Apa jawabannya Citra?” tanya saya.
Dia hanya tersenyum lebar sambil matanya melirik ke kanan dan ke kiri tanpa mampu memberikan jawaban. Saya meminta Apri mengulang bisikannya sampai beberapa kali. Tapi tetap saja tak ada respon. Ketika saya tanya sekali lagi, ekspresi itulah yang dia tampilkan, dan sekali lagi juga tanpa jawaban.
“Kalau jawaban-mu apa?” tanya saya pada Apri karena dia yang membisikkan kata itu pada Citra.
“Buah apel,” jawab Apri singkat.
Bahkan saya sudah pernah mencoba untuk menukar posisi tempat duduk dalam permainan pesan berantai. Pada Citra saya bisikkan dua buah kata “Baju Baru”. Ketika saya minta membisikkan pada temannya hasilnya tetap nihil. Saya sudah mengulang kata-kata saya beberapa kali, tapi kembali ekspresi itulah yang saya dapatkan. Ekspresi yang seakan melukiskan dia bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Sehingga membuat teman-temannya semakin penasaran dan tidak sabar menunggu kata-kata dari Citra.

Citra memang tipe anak yang tergolong aneh. Hal yang paling disukainya adalah bermain ketika ada jeda waktu istirahat. Dia paling cepat keluar kelas kalau waktu istirahat atau pulang tiba. Akan tetapi paling akhir dan paling sulit kalau diminta masuk kelas tanda pelajaran akan segera dimulai. Sampai-sampai saya harus membujuknya setiap kali akan masuk kelas. Sungguh hal yang melelahkan. Tidak sampai disitu. Terkadang dia terlihat memprovokasi temannya untuk menunda waktu masuk kelas, dan memperpanjang waktu bermain. Padahal waktu yang saya alokasikan untuk bermain berkisar antara 15-20 menit dari waktu 1,5 jam les, karena hari mulai menjelang senja. Dia juga pernah mengatakan pada saya kalau lesnya dongeng saja, tidak usah pakai baca tulis, habis itu istirahat terus pulang. Saya katakan padanya kalau saya akan memberikan hadiah dongeng kalau dia mau belajar baca-tulis. Saya juga tak habis pikir mengapa sulit sekali bagi dia untuk mengeja. Padahal usianya lebih tua dibanding dengan Ninda yang sama duduk di kelas TK A. Dan metode yang saya gunakan juga sambil bermain. Dan dia yang paling ekstra menguras tenaga saya ketika belajar sambil bermain. Waktu menyalin tulisan di papan tulis juga paling lambat. Setelah saya amati dengan seksama, ternyata setiap menyalin satu huruf, dia langsung mengajak ngobrol temannya. Tak peduli temannya sedang sibuk menyalin atau tidak. Serta paling lama, baik saat membaca, menulis maupun mengeja.

Tapi dibalik semua itu, sebenarnya dia unik. Ketika menyalin tulisan dia selalu menulis setiap huruf yang merangkai kata ke arah samping sesuai dengan tata cara membaca, sementara Apri dan Ninda menyusun kebawah pada huruf yang sama.
Selain itu, dia penggerak untuk menyalakan semangat teman-temannya. Hal ini terlihat saat diajak bernyanyi bersama dan bernyanyi bersahutan, dia yang paling pertama dan paling keras suaranya. Sementara kedua anak yang lain terkadang hanya diam terkadang menyahut dengan suara lirih.

Saya merasakan perbedaan suasana yang mencolok antara ada dan tidak-ada-Citra. Kalau dia tidak masuk, sudah dapat dipastikan suasana kelas akan terasa sepi hanya dengan Ninda dan Apri. Tetapi saya merasa beruntung, karena proses belajar berjalan lebih cepat tanpa ketidakhadirannya. Namun kalau dia hadir, saya agak merasa malas mengajar karena nanti pasti akan membutuhkan waktu yang lama dalam membimbing dia mengeja, membaca dan menulis. Namun demikian, saya juga merasa senang, karena keceriaaannya kelas menjadi terasa lebih ramai. Karena dia satu-satunya cheerleader yang menyemarakkan kelas dengan nyanyian yang bersahutan, dibanding kedua temannya. Satu keunikan lagi yang tak dimiliki kedua temannya adalah, dia menunjukkan bakat kepemimpinan. Hal ini tercermin dalam sikapnya yang langsung merespon dengan angkat tangan dan berkata aku, ketika saya menawarkan siapa yang mau memimpin doa atau siapa yang mau maju duluan untuk menulis atau membaca di depan. Sementara untuk yang lainnya selalu menunggu untuk ditujuk dan tidak berani menampilkan diri di depan, ketika saya minta memimpin kelas.

Hal lain yang tak kalah lucu, yakni ketika mereka bertiga belajar mengeja. Apri misalnya;
Saya: "Ini huruf?"
Apri: "b"
Saya: "Ini?"
Apri: "o"
Saya: "Ini?"
Apri: "b o"
Saya: "bo bo dibaca"?
Apri: "kebo"

Atau yang terjadi pada Ninda;
Saya: "t e?"
Ninda: "te"
Saya: "k o?"
Ninda: "ko"
saya: "te ko dibaca?"
Ninda: "naruto" (Mungkin saja dia mengidolakan tokoh Naruto dalam film kartun)

Atau ketika kejadian seperti berikut;
Saya: "p i"
Ninda: "pi"
Saya: "t a"
Ninda: "ta"
Saya: "pi ta dibaca?"
Ninda: "tapi" (He..he..he...bacanya jadi dibalik karena masih terpengaruh suku kata akhir)

On top of that, saya pun menyadari bahwa setiap anak diciptakan berbeda, dengan segala kekurangan dan kelebihan masing-masing.