Sunday, 17 July 2011

Sosok Wanita dan Kakek Misterius di Pondok Melati Putri

(Ini kisah nyata, yang dialami temen dekat saya, pada Sabtu, 9 Juli 2011 kemarin)

Sepintas pondok ini tak ada bedanya dengan pondok-pondok yang lain. Tapi pondok ini bukan tempat menuntut ilmu agama
, dan penghuninya bukan para santri. Pondok ini tak lain adalah sebuah tempat kost-kost-an. Tak sembarang pondok, untuk menempatinya ada syarat yang wajib dipenuhi oleh si penyewa kamar. Salah satunya adalah harus berjilbab.

Pondok yang berlokasi di pinggir jalan raya, tepatnya di JL. Kompol B Soeprapto ini memiliki empat kamar tidur di lantai bawah, sebuah ruangan dapur, dua kamar mandi, dan sebuah WC, di lantai yang sama. Ruangan yang ada di lantai bawah juga langsung berbatasan dengan lorong, karena kamar-kamar tersebut letaknya berjajar.

Di ujung lorong yang mengarah ke timur, ada tangga yang mengarah ke atas, dimana juga terdapat kamar-kamar yang dua diantaranya sudah berpenghuni. Seorang gadis yang bekerja di lembaga swasta dan seorang ibu dosen muda di sebuah perguruan tinggi di Yogyakarta.

Sepintas dari luar pondok ini tampak biasa saja. Pondok ini sejatinya sudah lama tidak berpenghuni. Baru-baru ini kamar bawah sudah disewa 4 orang mahasiswi. Menurut seorang teman yang pernah bertandang ke sana, saat memasuki pondok ini suasananya singup, apalagi kalau waktu sudah menginjak maghrib. Ada yang bilang memasuki pintu pondok ini seperti memasuki sebuah gang. Selain itu kost-kost-an ini terkesan dan terasa dingin.

Empat mahasiswa yang menyewa kamar di lantai bawah, sudah memutuskan untuk tidur dalam satu kamar, sementara kamar yang satunya yang harusnya dihuni 2 orang, dipergunakan untuk menyimpan barang-barang dan perlengkapan kuliah. Apalagi kamar yang mereka pakai sebagai tempat menyimpan barang, pada salah satu dindingnya tergantung dua lukisan kuno, dengan gambar dua pasang suami istri. Itulah yang membuat dua orang diantara mereka enggan menempati kamar tersebut. Mereka memilih tidur dalam satu ruangan. Keempat mahasiswi tersebut adalah Rima, Lila, Chia, dan Uni.

Awalnya semua berjalan seperti biasa, walaupun dengan suasana agak sedikit mencekam. Menurut mereka mulai pukul 20.30 WIB, menjelang waktu tidur, mereka sering mendengar suara srek-srek-srek, seperti suara orang berjalan. Dan itu berlangsung hampir setiap hari. Selain itu telinga mereka juga sempat menangkap bunyi berdebam lembut yang berasal dari lantai atas, dimana seorang gadis dan ibu dosen berada.

Sampai suatu hari, ketika akhir pekan tiba, tepatnya Sabtu Malam, waktu maghrib, mereka berempat memutuskan untuk mudik. Tiga diantaranya sudah berangkat sedari sore. Rima, Lila dan Chia. Sementara tinggal Uni seorang diri karena menunggu jemputan.

Setelah ketiga temannya berangkat, Uni memutuskan untuk mandi. Saat mandi Uni juga mendengar suara orang yang juga sedang mandi. Dia merasa senang dan berpikir bahwa dia tidak sendirian. Dia mengira mbak-mbak atau si-ibu dosen sudah pulang, padahal saban hari mereka berdua selalu pulang larut malam.

Selesai mandi, Uni duduk di kursi di ruang makan yang berada di lorong. Untuk beberapa saat dia sempat tertidur sejenak. Uni terjaga ketika hari sudah memasuki waktu maghrib. Setelah itu Uni asyik ber-sms-an dengan sang pacar yang tak kunjung tiba untuk menjemputnya. Ketika tengah asyik berkirim pesan dengan hpnya, dia mendengar suara langkah. Dia melongok ke tangga yang menuju lantai atas, menengok ke parkir samping yang terbuka, tapi tak ada siapapun. Uni mengira itu langkah sang pacar, akan tetapi dia baru sadar sang pacar belum tahu tempat kost itu. Suara langkah itu semakin jelas dan terasa dekat. Tiba-tiba seorang kakek yang memakai blangkon melintas di dekat Uni dengan cepat seperti tak menginjak tanah. Uni yang terkejut sempat memandang kakek tersebut berbelok ke tikungan yang menuju ruang tamu. Sontak saja dia langsung mengucap “ Ya Allah ya Allah.” Uni memang tipe orang yang tidak bisa berteriak ketika ketakutan. Dia mulai merasa ada yang tidak beres. Uni memutuskan untuk meninggalkan tempat itu. Dengan hanya menggenggam hp, Uni bermaksud melangkah ke luar dengan terburu-buru dan setengah berlari. Napasnya menjadi cepat berlomba dengan degup jantungnya yang berpacu cepat. Ketika melewati kamar tempat barang-barang yang pintunya terbuka, Uni mendapati seorang wanita berpakaian serba putih sedang menyisir rambutnya menghadap cermin. Sekali lagi dia menyebut “Astagfirullah, Astagfirullah.”

Uni membelok ke arah ruang tamu, membuka pintu, kemudian membuka gerbang, dan secepat kilat langsung berlari menjauh dari pondok tersebut. Dia menyeberang, berlari menuju tikungan lampu merah dan berbelok ke kiri. Melewati markas brimob dan terus berlari ke arah utara. Selanjutnya Uni menyeberang rel kereta api. Saat bertemu seorang bapak di tengah jalan, dia sempat ditanyai, ada apa, kok pucat, sakit atau kenapa? Akan tetapi Uni hanya menjawab tak ada apa-apa. Uni memutuskan memasuki sebuah warnet dan menghubungi si cowok untuk segera menjemputnya.

Beberapa saat kemudian, si pacar sudah menjemput Uni di warnet. Setelah si pacar membayar uang warnet, dia bermaksud mengantar Uni untuk mengambil helm di kost. Namun Uni bersikeras untuk membeli helm dan langsung minta diantar pulang. Uni menceritakan semuanya pada si cowok apa yang baru saja dia alami. Awalnya si cowok tidak percaya dan tetap menuju kost untuk mengambil helm.

Uni dan pacarnya memasuki kost yang sepi. Seluruh pintu kamar, ruang tamu, gerbang masih terbuka. Uni memegang erat lengan pacarnya. Sementara wajahnya dia sembunyikan di belakang punggung si cowok. Mereka berdua memasuki lorong, melewati ruang makan, masuk ke kamar yang biasa dipakai tidur dan mengambil helm. Setelah mereka menutup pintu kamar, pintu ruang tamu, pintu gerbang, dan menguncinya, keduanya langsung meluncur pulang ke Klaten, tempat dimana Uni tinggal. Tiba di Klaten si pacar baru percaya pada cerita Uni. Sang pacar berterus terang, ketika melewati kamar tengah yang tidak dihuni, dia sempat melihat sekilas, kakek yang memakai blangkon sedang duduk di dalam kamar. Dia melihatnya melalui kaca saat melintasi kamar tengah.

Sejak saat itu Uni tidak berani menginjakkan kakinya di pondok itu lagi. Dia minta tolong pada salah satu temannya yang masih tinggal di kost untuk mengemas barang-barangnya, dan meminta sang pacar untuk mengambilnya, sedangkan dia menunggu di rumahnya, di Klaten.

Sementara itu ketiga teman Uni, yang sudah mendengar cerita itu, memutuskan mengemasi barang-banrang yang ada di kamar, dimana Uni pernah melihat seorang wanita menyisir rambutnya di depan cermin. Lalu memindahkannya ke kamar yang biasa dipakai tidur. Kamar itu ditutup dan hingga saat ini tak ada yang berani membukanya.

Sampai sekarang, kadangkala suara langkah dan tawa lirih masih sering terdengar oleh Rima, Lila, dan Chia. Suasana mencekam masih mereka bertiga rasakan, terutama saat menjelang manghrib tiba.***

Wednesday, 30 March 2011

Pelajaran dari Kesalahan

Oleh Yulinda Rohedy Yoshoawini

Rianti terlihat cemas di tempat tidurnya. Dia melirik jam waker di meja belajarnya. Waktu sudah menunjukkan puku 23.15, tapi matanya belum juga dapat dipejamkan. Rianti bangkit dan menuju ke meja belajarnya. Dibukanya laci meja itu dengan perlahan, seakan takut menimbulkan suara. Barang-barang itu masih ada disana, di dalam laci itu. Teringat kembali percakapannya dengan teman sebangkunya, Nani, beberapa hari yang lalu.


“Barangmu bagus-bagus?” Rianti mengamati barang Nani. Padahal setahu Rianti, ayah Nani bekerja sebagai seorang petani, sedangkan ibunya hanya ibu rumah tangga. Barang-barang itu terdiri dari pernak-pernik aksesoris dan alat tulis beraneka bentuk.


“Pasti kamu dibelikan orangtuamu ya?” tanya Rianti. Nani menggeleng. “Aku membelinya sendiri,” jawab Nani singkat. “Dari mana kau dapatkan uang hingga bisa membeli barang-barang sebagus ini?” buru Rianti semakin penasaran.


“Ya gampang, aku tinggal ambil sisa kembalian uang pembayaran sekolah,” jawab Nani enteng. Untuk sesaat Rianti terkesiap. “Ayahmu tak pernah menanyakan uang kembaliannya?” Rianti kembali bertanya. “Untuk apa?” balas Nani. “Aku kan juga butuh barang-barang ini. Kalaupun ayahku bertanya, aku bisa jawab uang itu sudah habis untuk membayar uang sekolah.

***

Rianti terbangun ketika pintu kamarnya diketuk. Dengan terburu-buru sambil mengucek matanya, dia membuka pintu. “Kenapa pakai dikunci segala?” tanya Ibunya. “Selama ini Ibu selalu ketuk pintu walaupun kamarmu tidak terkunci,” lanjut Ibunya. “Oh ya, sekarang sudah jam berapa? Bukankah kamu harus pergi ke sekolah?” Rianti hanya menjawab dengan anggukan kepala sambil berlalu ke kamar mandi.


“Oh ya, ini untuk bayar uang sekolah Rianti bulan ini,” ibunya memberikan dua lembar uang lima puluh ribuan pada putri semata wayangnya yang duduk di kelas 4 SD itu.


“Kartunya ada sama Rianti khan?” Ibunya memastikan. “Ya Bu,” jawab Rianti singkat. “Oh ya, Rianti bilang uang sekolah naik sejak dua bulan yang lalu ya?” ibunya memandangi wajah Rianti. “Iya, memang kenapa bu?” Rianti balik bertanya dengan suara gugup. “Nggak papa, ibu cuma tanya saja, ibu percaya kok sama Rianti”.


Pagi itu Rianti berangkat ke sekolah dengan lesu. Di tangannya tertenteng kartu pembayaran sekolah beserta uangnya. Rianti membayangkan ibunya mengecek ke sekolah. Dua kali sudah dia membohongi ibunya. Rianti menuju ke kantor guru bermaksud membayar uang sekolah.

***

Selama perjalanan pulang Rianti memandangi kartu pembayaran dan uang dalam plastik pembungkusnya. Sebelum pulang ke rumah, dia memutuskan berhenti untuk membeli air mineral, karena haus dan kepanasan.


Di kamarnya Rianti memandangi kembali barang-barang yang ada dalam lacinya. Pensil bermotif gambar barbie itu dia beli ketika lewat toko warna-warni sepulang sekolah dengan uang kembalian pembayaran SPP. Begitupun pena dengan tutup yang berbentuk kepala lumba-lumba. Diraihnya pita rambut warna merah yang masih baru. Pita yang sudah lama diidam-idamkannya.


Dulu ibunya belum mau membelikannya karena pita rambutnya masih banyak dan masih bagus-bagus. “Tidak semua barang bisa kita beli, kita harus memilihnya sesuai kebutuhan, bukan kemauan,” tutur ibunya waktu itu.


Rianti menyiapkan buku-buku pelajarannya untuk esok hari. Semua isi tas ia keluarkan untuk ditata kembali. Rianti tersentak sekaligus panik tidak mendapati kartu pembayaran sekolah miliknya. Padahal ada uang di dalam kartunya. Dia mulai mengingat-ingat dimana terakhir meletakkannya. “Jangan-jangan tertinggal di tempat mamang penjual air mineral tadi,” gumamnya.

***

Wah, mamang tidak menemukan yang dicari neng, kemarin rasanya tidak ada yang ketinggalan disini,“ jelas si mamang saat Rianti menanyakannya. “Tolong Mang dicari lagi, saya tidak sengaja meninggalkannya disini,” kata Rianti. “Atau mungkin ada yang mengambilnya,” kata Rianti lagi. “Benar nak, kalaupun ada yang mengambilnya, mamang juga tak tahu. Yang beli makanan disini kan tidak hanya satu dua orang saja,” mamang berusaha meyakinkan.

***

Tanpa terasa jatuh tempo tanggal pembayaran tinggal 2 hari lagi. Rianti tak tahu apa yang harus dilakukannya. Setelah termenung sejenak Rianti mengambil sebuah keputusan. Rianti menghampiri ibunya yang sedang duduk di ruang keluarga. “Ibu, ada yang ingin Rianti sampaikan”.


“Ya sayang, duduk dekat ibu sini,” ibunya memberi isyarat untuk menyuruh anaknya duduk di sebelahnya. “Tapi janji yah, ibu nggak akan marah,” Rianti berkata lirih. “Ya masalahnya apa dulu!” sahut ibunya. “Ibu harus janji dulu, baru Rianti cerita,” sergah Rianti.


Akhirnya sang ibu mengangguk setuju. Rianti menceritakan semuanya. “Maaf ya bu, Rianti telah mengecewakan ibu, padahal ibu sudah begitu percaya pada Rianti,” ucapnya sambil berkaca-kaca. “Rianti minta maaf karena tidak menjalankan pesan ibu, sehingga uang dan kartu SPP itu hilang, karena Rianti tidak jadi membayarkannya.


Dan Sisa uang pembayaran sekolah yang harusnya Rianti kembalikan ke ibu, malah kugunakan untuk membeli pernak-pernik dan aksesoris, tanpa sepengetahuan ibu,” suaranya bergetar. Untuk sesaat wanita itu memandangi anaknya tak percaya. Akan tetapi setelah itu jawaban dan sikap yang ditunjukkan ibunya, sungguh di luar dugaan. Ibunya tersenyum bijak dan berucap, “Ibu senang dan bangga padamu nak”.


Rianti memandangi ibunya dengan keheranan sambil mengusap airmatanya. “Kok ibu?” Rianti terbata-bata. “Ibu bangga, karena Rianti sudah mau mengakui kesalahan, walaupun ibu agak kecewa, tapi ibu senang anak ibu sudah berjiwa besar,” ucap ibunya.


Rianti sadar hilangnya uang dan kartu pembayarannya adalah pelajaran untuk kesalahannya. Dia berjanji dalam hati tidak mengulangi perbuatannya dan tidak mau mencontoh seperti seperti yang dilakukan temannya, Nani.

Cernak ini dimuat Harian SUARA MERDEKA, edisi Minggu 20 Maret 2011. Ilustrasi: SUARA MERDEKA

Saturday, 8 January 2011

KIDUNG ANAK, KEMANA PERGINYA?

“Kawin...kawin...minggu depan bakal kawin”...

“Kawin...kawin...tidur ada yang nemenin”...


Atau lagu berikut,


“Ku mencintaimu lebih dari apapun, meskipun tiada satu orangpun yang tahu”...

“Ku mencintamu sedalam-dalam hatiku, meskipun engkau hanya kekasih gelapku”...


Sebagian besar dari kita mungkin sudah tidak asing lagi, ketika syair-syair tersebut singgah menyapa gendang telinga kita. Tak hanya kita sebagai orang dewasa saja yang tersihir oleh syair tersebut, anak-anak pun juga mengalami hal serupa. Mereka seolah terbawa arus oleh derasnya kata-kata manis syair lagu tersebut.


Menurut pengakuan seorang dosen di sebuah PTN, di sekitar tempat tinggalnya, beliau kerap mendengar lagu semacam “Batal Kawin” didendangkan oleh anak-anak yang terbilang masih dini. Atau coba kita pikirkan, anak-anak belajar tentang makna dari kata “Kekasih Gelapku”. Saya hanya bisa geleng-geleng kepala, ketika membayangkannya.


Beberapa pihak yang terkait dengan dunia anak dan pemerhati anak, mungkin saja hanya bisa mengurut dada dengan kondisi anak-anak, yang dibombardir dengan lagu-lagu orang dewasa. Seperti yang kita tahu, lagu orang dewasa yang berisi tentang cerita cinta dan bumbu asmara beserta adegan mesra sebagai pelengkapnya disajikan sebagai menu yang setiap harinya hampir disantap oleh sebagian besar anak-anak.


Padahal isi dari lagu-lagu tersebut, hanyalah fantasi, rekaan, dan bersifat sebagai hiburan semata. Ibarat baju, lagu-lagu tersebut sungguh tak pas dipakaikan pada anak-anak. Tentu saja kelonggaran, karena lagu-lagu tersebut memang selain tidak cocok untuk anak, lagu itu juga tidak diperuntukkan untuk usia dini.


Tapi kenyataanya sungguh mencenggangkan. Tengok saja ajang pencarian bakat menyanyi seperti "IDOLA CILIK". Saya juga heran, peserta idola cilik adalah anak-anak usia sekitar 7-11 tahun, dimana pada usia itu anak masih dalam masa perkembangan yang butuh asupan pendidikan moral dan budi pekerti, tapi sudah dicekoki dengan lagu-lagu orang dewasa. Lucunya saat pentas di panggung mereka juga menyanyikan lagu orang dewasa dengan gaya orang dewasa juga, sehingga gaya asli anak-anaknya hilang. Gaya mereka seolah sudah disetel dan diarahkan oleh koreografi, tidak ada kebebasan dan kreativitas untuk menciptakan gaya mereka sendiri yang khas anak-anak. Atau coba tengok acara "Happy Song Holiday", dimana pesertanya yang anak-anak juga fasih menyanyikan lagu-lagu orang dewasa ketimbang lagu anak anak. Mereka bahkan hapal di luar kepala, ketika menebak judul lagu yang diputarkan. Bagaimana tidak, hampir semua stasiun televisi setiap waktu menghidangkan acara pemutaran klip lagu orang dewasa.


Dewasa ini jarang bahkan nyaris tak ada lagi penyanyi lagu anak-anak yang menggantikan penyanyi yang telah pensiun karena telah beranjak remaja. Saat ini pun jarang terdengar lagu anak-anak, demikian juga penyanyinya, bisa dikatakan amat minim. Pencipta lagu anak-anak juga tidak sebanyak dulu. Mungkin pasar industri hanya sedikit tertarik untuk memasarkan lagu anak-anak. Karena disamping sepi pendengar, juga takut tak laku dijual. Sebab anak-anak sekarang lebih tertarik mendengar lagu dewasa ketimbang lagu yang sesuai dengan umurnya. Kalau begini terus lama-kelamaan anak-anak akan menganggap lagu anak-anak itu kampungan dan kuno. Padahal lagu anak-anak dirancang khusus dan diciptakan untuk anak-anak yang sesuai dengan perkembangannya. Selain itu mengandung pesan yang berisi tentang ajaran moral dan budi pekerti.


Bukan salah bunda mengandung. Kira-kita itulah ungkapan yang tepat, bahwa sejatinya memang orangtua tidak bisa disalahkan 100%, ketika mereka sudah berusaha membatasi atau menyeleksi tontonan dan lagu-lagu orang dewasa, apabila lingkungan sekitar tidak berperan serta dalam mendukung. Bisa jadi mereka bergaul dengan anak-anak yang sudah terkontaminasi dengan tontonan dan lagu-lagu orang gede. Lantas kalau sudah begini, mau dikemanakan generasi penerus bangsa kita? Apakah mereka akan melenggang dengan fantasi cinta-cintaan ditengah makin ketatnya persaingan prestasi yang membutuhkan keunggulan tinggi? Yang bukan hanya sekedar cinta-cintaan belaka.

Saturday, 6 November 2010

HUJAN ITU BUKAN AIR

DINI hari tepatnya pukul 00.05 WIB, hari Jum’at, 5 November 2010, suamiku mengguncang-guncangkan kakiku, hingga aku kaget terbangun. Suara gemuruh menyapa gendang telingaku. Aku mengira hujan akan turun. Di luar orang-orang ramai. Setiap gemuruh selesai, kaca jendela selalu bergetar. Ponsel suamiku berdering, tanda panggilan masuk. “Oh ya pak, kami segera kesana!” sahut suamiku lalu menutup pembicaraan.

Waktu menunjukkan pukul 00.30 WIB, suamiku memintaku untuk segera berkemas. “Masukkan dua stel baju dan bawa barang penting yang bisa dibawa,” perintah suamiku.

Mata yang tadinya mengantuk kini terbuka lebar dengan sendirinya. Degup jantung terus berpacu dengan waktu, kubuka lemari. Tanganku gemetar dan dengan gerakan secepat mungkin, kuraih beberapa helai pakaian. Dompet dan ponsel juga tidak ketinggalan. Di dalam tasku sudah menanti barang lainnya yang memang menjadi bawaanku sehari-hari ketika kuliah. Kartu identitas dan sekotak alat tulis, kini berbagi tempat dengan baju yang baru saja kumasukkan. Begitupun dengan suamiku yang juga terlihat sibuk berkemas, berlomba dengan waktu. Segera, suamiku mengeluarkan kendaraan, mengunci pintu rumah, dan bergegas ke arah tempatnya bekerja, yang hanya berjarak 300 meter. Beberapa pasang mata tetangga mengamati kami yang mulai meluncur meninggalkan rumah.

Tiba-tiba, di tengah perjalanan, klothak-klothak bres, turun hujan. Tapi aneh, pakaianku tidak basah. Dan ternyata, astaga... jaket coklatku dihiasi polkadot kelabu yang tak lain adalah pasir, kerikil, dan abu vulkanik. Beruntung masker telah membalut sebagian mukaku dan helm sudah bertengger di atas kepalaku. Sesampainya di kantor suamiku. Hujan pasir dan kerikil masih saja mengguyur walaupun dengan intensitas yang kecil. Beberapa waktu kemudian, giliran hujan abu menggantikan hujan sebelumnya, pasir dan kerikil. Gemuruh semakin terdengar kentara. Orang-orang yang tinggal di dekat kantor suamiku tampak keluar dari markas masing-masing.

Tak berselang lama, pet. Lampu di kantor mati. Menyusul kemudian lampu seluruh desa yang ada di daerahku serentak padam bersamaan. Teman yang tadi menelpon suamiku tak berapa lama datang dengan mengendarai mobil. Ya, kami berencana mengungsi dari amukan dahsyat merapi. Akan tetapi kami mendapat kabar, kalau jalan raya penuh sesak oleh para pengungsi lain. Kami putuskan untuk menunggu sejenak sambil menghubungi rekan yang bersedia untuk disinggahi rumahnya sebagai tempat berteduh sementara.

Namun, hingga pagi, jalanan belum juga lancar. Di ruang tamu kantor, kami masih menunggu. Mobil tetap terparkir di halaman. Hujan abu masih mengguyur. Gemuruh juga masih saja terdengar. Akhirnya, hingga pagi, kami tetap di kantor. Mobil yang terparkir di luar, kini telah berselimutkan abu. Suasana sudah agak tenang. Pukul 06.00 aku dan suami pulang. Setelah sarapan, mandi, dan membereskan barang, kami kembali ke kantor.

Pukul 08.00, kami berdua di kantor, melakukan koordinasi dengan teman-teman yang lain, untuk siap siaga, apabila sewaktu-waktu ada kejadian luar biasa, bisa mengungsi bersama-sama. Siangnya, seorang teman memberitahukan pesan singkat/SMS tentang himbauan untuk meninggalkan daerah yang radiusnya 20 kilometer dari merapi, pukul 3 sore itu juga.

Sebenarnya, daerah tempat tinggalku, bukan termasuk daerah yang direkomendasikan untuk evakuasi, karena jarak daerah tempat tinggalku dengan merapi berkisar antara 23-25 kilometer. Akan tetapi, untuk antisipasi, kami berdua memutuskan mengungsi di rumah teman. Kami kembali pulang ke rumah dan mulai menata barang-barang dan perlengkapan lainnya. Baju dan alat mandi sudah merangsek ke dalam ransel. Jas hujan juga tak lupa kusertakan.

Selama seharian itu juga ponselku sangat rewel. Mulai dari tidak bisa menerima telepon dan SMS, sampai menelpon dan juga mengirim SMS pun sulit. Tepat pukul 3 sore itu, kami berdua meninggalkan lokasi tempat tinggal menuju rumah teman. Sesampainya disana, kami membersihkan diri dan beristirahat. Demikianlah, kronolgi peristiwa yang kami alami, terkait dengan meletusnya gunung merapi. Yulinda, dari Sleman melaporkan.

Sunday, 3 October 2010

Menjelajah Ruangan Internal Tuhan (Pose Doa ala Layar Kaca)

“Ya Allah, aku mohon padamu, tunjukkan dan kembalikanlah anakku padaku Ya Allah, Amin” ucapnya sambil menengadahkan tangan dan disertai dengan linangan air mata. Mukena masih membalut tubuhnya. Penggalan doa tersebut dipanjatkan oleh seorang wanita seusai melaksanakan Sholat.

Awalnya kita akan merasa trenyuh dengan permintaan wanita itu pada Yang Maha Kuasa. Lantunan doanya sungguh menyentuh, dan kita akan dibawa terbang pada pikiran yang menyatakan, betapa malangnya wanita itu yang telah kehilangan anaknya.

Berdoa dengan bersuara, sah-sah saja dilakukan. Apalagi kalau itu dilakukan di rumah atau ruangan tersendiri. Tapi apa jadinya kalau kegiatan itu disorot kamera dengan bumbu yang terkesan diskenario, salah satunya seperti di sinetron.

Seperti yang kita tahu, berdoa adalah suatu aktivitas yang sifatnya rahasia. Bisa dibilang rahasia kita dengan Tuhan. Beberapa orang merasa nyaman ketika berdoa. Seperti meminta sesuatu yang diinginkan pada Tuhan. Berdoa bagi saya pribadi tidak hanya sebatas pada meminta tetapi juga menumpahkan segala keluh kesah pada Sang Maha Pencipta. Dengan kata lain, seperti curhat kepada Tuhan. Dengan curhat kepada Tuhan, saya merasa aman dan nyaman karena rahasia saya tidak akan pernah terbongkar. Walaupun saya tahu, tanpa kita curhat pun Tuhan sudah menyandang predikat sebagai Maha Tahu apa yang dirasakan dan terjadi pada umatnya. Berdoa adalah urusan pribadi kita dengan Tuhan. Ibadah Sholat dengan doa sebagai rangkaiannya, merupakan hubungan pribadi kita yang bersifat internal dengan Tuhan. Seperti halnya urusan privasi kita, isi doa dan keluh kesah tidak perlu disampaikan dalam bentuk orasi. Kita juga tidak ingin khan kalau sisi privasi kita mengundang campur tangan dan tontonan orang lain. Begitu juga dengan doa kita, yang sekali lagi itu masuk dalam ranah internal kita dengan Tuhan. Tentunya kita tidak mau kalau urusan kita bermutasi menjadi santapan dan bancakan publik.

Saya pribadi sebenarnya merasa risih, ketika menyaksikan tayangan sinetron di Televisi. Para aktor atau aktris yang tengah berperan itu berdoa dengan suara yang terkesan dikoar-koarkan. Apa tujuannya saya pun juga tidak tahu. Masih mending kalau yang melakukannya adalah anak-anak, ketika mereka masih bisa dibilang belajar berdoa. Akan tetapi kalau orang dewasa….. Kalau gaya berdoa di sinetron itu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari misalnya di masjid, kita bisa mengundang tolehan dan jadi tontonan orang-orang. Atau bahkan jadi guyonan dengan sejumlah tanda tanya yang menaungi kepala mereka. Berdoa dengan suara yang terdengar, khususnya di masjid, sama halnya dengan mengumumkan pada orang-orang keinginan yang kita minta pada Tuhan. Padahal Tuhan itu Maha Mendengar. Apa yang kita katakan dalam hati Tuhan mengetahuinya. Berbeda halnya ketika doa dibaca dengan suara jelas oleh imam ketika selesai sholat. Hal itu karena doa yang diucapkan bersifat umum untuk semua jamaah dan disampaikan dalam bahasa lain, yakni Arab. Saya jarang menjumpai peristiwa model berdoa ala sinetron dalam kehidupan sehari-hari. Kebanyakan mereka yang khususnya muslim, menyampaikan doa dengan gaya tekanan low voice atau komat-kamit.

Akan lebih bersahaja ketika doa diucapkan dengan volume yang pelan atau mengaktifkan getar seperti komat-kamit. Atau bisa juga dengan mode silent seperti berdoa dalam hati. Tidak harus dengan suara lantang yang menggelegar seperti petir, yang mengejutkan. Ucapan doa juga lain halnya ketika disampaikan dalam bentuk lagu atau puisi. Sebab, menyanyi dan membaca puisi adalah kegiatan yang mengeluarkan suara dengan volume yang lebih jelas.

Sekali lagi, yang saya sampaikan disini hanyalah sekedar pendapat, bukan isi Undang-Undang baru tentang peraturan dan ketentuan berdoa. Semua kembali pada setiap individu. Nah, bagaimana menurut teman-teman?

Saturday, 25 September 2010

Dokter dan Giginya

SEORANG dokter gigi tengah menjelaskan cara perawatan gigi dalam menyikat gigi yang benar. Para wali murid terlihat antusias mengikuti penyuluhan tentang kesehatan gigi tersebut. Sesekali mereka tampak manggut-manggut menanggapi penjelasan dokter, layaknya seorang siswa yang menyimak pelajaran dari Sang Guru.

Tak salah lagi, kegiatan tersebut merupakan program sekolah dalam pelayanan kesehatan gigi bagi murid-murid Taman Kanak-Kanak. Pihak sekolah secara khusus mengundang sejumlah dokter gigi, untuk menjadi pembicara dalam penyuluhan gigi sehat tersebut. Pengadaan penyuluhan dilatarbelakangi oleh kondisi anak-anak yang rentan terjangkiti penyakit gigi.

Sesi diskusi mulai dibuka. Beberapa orangtua murid beraksi, menyambutnya dengan tunjuk jari untuk melontarkan sejumlah pertanyaan, seputar problem gigi dan mulut anaknya. Selanjutnya sesi diskusi diarahkan pada konsultasi per individu (satu-persatu). Ada juga yang sambil memeriksakan kondisi gigi anaknya.

Dio seorang anak berusia 5 tahun, yang masih kelas TK A, duduk di samping ibunya yang sedang berkonsultasi dengan salah seorang dokter. Di atas meja kecil yang menjadi sekat antara bu dokter dan ibunya, tersedia bermacam-macam peralatan gigi. Mulai dari kaca bulat dengan gagang panjang yang mirip spion, alat pembersih karang gigi, alat pencabut gigi, sikat gigi, penampang gigi dan lainnya.

Rupanya alat-alat yang tersaji di atas meja itu menarik perhatian Dio. Lantas dengan kepolosannya dan wajah datarnya dia mengajukan transaksi pada bu dokter. Transaksi yang mampu membuat orang ternganga sekaligus mengundang tawa.

Dio: “Bu dokter saya mau beli gigi.”
Dokter: “Oh…ibu nggak jual gigi.” (sambil menahan tawa)
Dio: “Lha itu?” (sambil menunjuk penampang gigi yang ada)
Dokter: “Oh gigi ini tidak dijual, karena ini gigi palsu, bukan gigi asli. Memangnya kenapa kok pengen beli gigi?”

Dio hanya meringis mempertontonkan gigi atasnya yang sudah pada keropos. “Dio mau beli gigi untuk dipasang disini,” ungkapnya sambil menunjuk gusinya yang mulai tak berpenghuni gigi itu. “Oh…mas Dio, nggak perlu beli gigi, nanti kalau gigi keroposnya tanggal, bisa tumbuh gigi baru, ketika mas Dio sudah masuk SD,” jelas Dokter. Rupanya Dio berpikir bahwa untuk memiliki gigi baru tinggal dipasang saja.

Anak-anak memang unik. Kita tidak akan pernah tahu dan memahami apa yang ada dalam pikiran mereka. Jaman memang sudah berubah. Perubahan yang ditandai dengan munculnya generasi baru yang sangat cerdas dan kritis, salah satunya adalah Dio.

Note: Cerita ini dirangkai bersamaan dengan tiupan angin ribut yang melanda kawasan Sleman, dimana penulis bermarkas. Setegang suasana hati dalam keributan komat kamit doa pada Ilahi. Penulis sempat meninggalkan persemayaman untuk keluar ruangan demi keselamatan untuk menyaksikan kejadian yang menegangkan. Si Bambu sempat terlihat meliukkan badannya seperti penari ular.

Saturday, 4 September 2010

Bu, Maaf ...

SAYA terkejut mendapati keranjang tempat kotak makan berantakan. Sebuah sendok terlihat seperti habis dilempar kedalamnya. Padahal kami para guru, selalu membiasakan anak-anak untuk memasukkan sendok ke dalam kotak makan, supaya terlihat rapi dan tidak memakan tempat dalam keranjang. Belum lagi nasi dan sayur yang tercecer, karena kotak makan tak ditutup dengan rapat, sehingga sisa makanan tumpah.

Melihat itu semua, saya menjadi jengkel dan agak stress. Wajarlah...apalagi hari itu anak-anak aktifnya sungguh minta ampun. Berlarian kesana kemari, kejar-kejaran, dan berteriak. Padahal aturan di kelas sudah menyebutkan, semua itu tidak diperbolehkan di dalam kelas. Bahkan kami para guru juga berusaha berperilaku untuk konsisten ketika memanggil anak dengan suara pelan. Tapi namanya juga dunia anak. Bukan anak dan dunianya kalau mereka tidak berbuat seperti itu. Sungguh butuh kesabaran ekstra menghadapi mereka.

Dengan nada suara agak tinggi, saya bertanya “Sendok ini milik siapa?” sambil mengangkat sendok tersebut tinggi-tinggi. Serentak semua kepala menoleh ke arah saya. Tiba-tiba seorang murid bernama Arfa mendekat dan berkata “Saya bu, maaf.” “Ini milik Arfa?” ulang saya. Dia hanya mengangguk. Dengan ketus saya menyuruh dia mengulangi perbuatannya. “Coba lempar lagi seperti tadi, bu guru ingin tahu seperti apa Arfa melempar sendok,”perintah saya dengan sorot mata tajam kearahnya. “Nggak bu,” tolaknya. “Nggak papa silahkan dilempar lagi,”kata saya masih dengan pandangan mata tajam. Dia hanya menggeleng. Saya letakkan sendok dengan kasar ke dalam keranjang dan beranjak keluar kelas menuju ke kamar mandi.

Di dalam kamar mandi saya mencoba menenangkan diri dengan mengambil napas dalam-dalam. Tiba-tiba saya tersentak dan merasa betapa gegabahnya saya dengan marah-marah, ketus, serta kasar pada Arfa tadi. Saya merenung sejenak dan berpikir, “bukannya sudah bagus dia berani mengakui kesalahannya di usianya yang masih 3 tahun?” batin saya. Saya sungguh melakukan kesalahan dengan berbuat seperti tadi. Ditambah dengan pandangan mata saya yang menyiratkan kemarahan. Kenapa saya tidak melihat dari segi positifnya? Saya baru tersadar. Luluh juga hati saya mengingat kata maafnya.

Segera saya kembali ke kelas. Setibanya di dalam, saya lihat Arfa tampak murung dan diam. Tidak berlarian seperti tadi. Dia hanya melihat teman-temannya berkejaran. Pelan tapi pasti saya panggil dia. Saya dudukkan dia di kursi dengan tenang. Saya duduk dihadapannya. “Bu Guru mau ngomong sebentar sama Arfa, boleh khan?” pinta saya. Dia menganngguk. Saya semakin merasa bersalah dengan anggukan kepala yang menunjukkan penerimaannya terhadap saya untuk ngobrol dengannya. Saya katakan padanya dengan suara yang mulai melunak dalam posisi sejajar dengan pandangan mata segaris. Ini teori dari pakar anak, supaya anak tidak merasa digurui dan merasa guru sebagai temannya.

Saya: “Hari ini bu guru senang sekali dan bangga.”
Dia masih memandangi saya dengan seksama, seakan mencoba mencerna kata-kata saya.
Saya: “Tahu nggak kenapa?”
Dia menggeleng.
Saya: “Karena Arfa hebat dan pintar sudah berani dan mau mengakui kesalahan. Mau bilang kalau itu sendok Arfa. Bu Guru senang Arfa ngomong jujur.”
Saya mengacungkan dua jempol untuknya dan mengajaknya tos. Dia tersenyum lebar dan menyambut tos saya.
Saya: “Tapi lain kali, tolong sendoknya di taruh di tempatnya ya, biar sayur dan nasinya nggak ikut tumpah, diletakkan pelan-pelan.”(sambil memegang tangannya)
Arfa: “Ya bu.”
Saya: “Bu Guru minta maaf ya.”
Dia mengangguk.
Setelah itu saya meminta dia untuk meletakkan sendok ke dalam tempat makannya.

Sejak itu saya belajar untuk berusaha menahan diri. Tidak masalah bagi saya dan tidak ada kata gengsi untuk meminta maaf pada yang lebih muda, seperti apa yang saya lakukan pada Arfa, murid saya yang duduk di tingkat Kelompok Bermain. Saya juga tak lupa melantunkan sepotong kata pujian untuk mengapresiasi tindakannya yang berjiwa besar, mau mengakui kesalahan dan minta maaf. Sebaris penjelasan juga sudah saya sertakan. Sungguh luar biasa, Arfa, seorang bocah polos, di usianya yang masih sangat belia, telah mengajarkan pada saya tentang makna dan pentingnya untuk berani mengakui kesalahan dan minta maaf, sekalipun pada yang lebih muda tanpa embel-embel gengsi. Sekali lagi saya belajar hal bermakna dari seorang murid saya.

Saturday, 31 July 2010

Nasib Pendidikan Indonesia, 12 Tahun Reformasi

DENGAN penuh semangat si bapak mengayuh becaknya. Dia seakan tak peduli betapa panasnya sengatan Mentari siang itu. Ketika tidak ada penumpang, si bapak biasa mangkal bersama dengan para tukang becak lainnya. Jika diamati sepintas, kehidupan yang dijalani bapak yang sudah berkeluarga ini, tidak beda jauh dengan sesama tukang becak yang lainnya.

Setiap pagi, si bapak ini terlihat menenteng setumpuk buku dan beberapa alat tulis. Pakaiannya juga kelihatan berbeda. Tiba disebuah ruangan, beliau menyapa dengan ucapan “Selamat Pagi Anak-Anak?” yang disambut dengan ucapan serupa dari anak-anak. Kita tidak akan menyangka kalau si tukang becak yang tampak di siang hari, adalah salah seorang staff pengajar alias guru di sebuah Sekolah Dasar (SD).

Di tempat lain, seorang wanita tengah tengkurap di atas tikar pandan, di sebuah rumah yang terbilang cukup sederhana. Tubuhnya hanya berbalutkan selembar kain “jarik”. Wanita paruh baya tersebut, sebut saja Sri sedang menggosok punggung wanita itu, dengan berbekal se-"lepek" minyak goreng. Apabila dilihat sepintas, Sri tampak seperti wanita biasa. Akan tetapi kita tak akan pernah mengira bahwa Sri punya profesi yang sungguh mulia. Ya, wanita ini biasa dipanggil Bu Guru, di sebuah SD di daerahnya.

Reformasi yang disuarakan dua belas tahun yang lalu, belum membawa perubahan yang signifikan, situasi pendidikan di Indonesia sepertinya masih berjalan di tempat. Bagi bapak si tukang becak dan Sri tak ada pilihan lain selain mencari penghasilan tambahan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. “Yang penting halal,” itulah prinsip yang tertancap kuat di benaknya dalam melakukan pekerjaan.

Dalam hati, saya merasa tidak rela. Alangkah malangnya nasib para pendidik generasi penerus bangsa ini. Orang-orang yang diserahi tugas berat dalam mencerdasakan, mempersiapkan para pemimpin masa depan. Ini membuktikan bahwa perhatian pemerintah dan upaya perbaikan kesejahteraan guru belum muncukupi dan merata. Kalau sampai seorang guru harus “nyambi”, sudah jelas bahwa gaji yang mereka terima belum bisa mensejahterakan. Disamping itu masih banyak potret kehidupan dunia pendidikan yang mencerminkan belum adanya perubahan meskipun sudah sekian tahun paska reformasi.

Pelecehan seksual oleh guru terhadap anak didiknya. Guru yang bingung menutupi wajahnya ketika digiring pihak berwajib, karena ketahuan melakukan kekerasan pada muridnya. Tingginya angka anak-anak yang putus sekolah, atau bahkan tidak bisa bersekolah sejak dini. Biaya sekolah yang semakin mahal, bangunan sekolah yang hampir roboh, murid dan sekolah yang ditinggal pergi guru-gurunya untuk berdemonstrasi, perkelahian antar pelajar, dan masih banyak lagi.

Lalu apakah kita semua, terutama pemerintah akan tetap menutup mata hati terhadap permasalahan tersebut. Siapa lagi yang akan memberi lecutan reformasi untuk membangkitkan semangat, menciptakan perubahan signifikan pada sendi-sendi pendidikan di Negeri ini?

Artikel ini, bentuk komitmen Pelangi Anak mendukung gagasan TRIMATRA, posting kolaborasi “DIBAWAH BEDERA REFORMASI”

Sunday, 25 July 2010

PERCAKAPAN DI BUS

HANDPHONE saya berkedip-kedip sambil bernyanyi, tanda ada sebuah panggilan baru saja terdaftar masuk. Sejumlah nomor tertera di layar monitor. Setelah berhalo ria, ternyata suara diseberang adalah suara kakak, yang mengumumkan bahwa pada tanggal 16 Juli, saya akan resmi mempunyai kakak ipar, he…

Singkat cerita sehari sebelum hari H, tanggal 15 Juli saya dan suami berangkat dengan bus antar kota. Kami sengaja memilih bus ber-AC dengan alasan kenyamanan. Perjalanan dari rumah ke terminal kami tempuh dengan mengendarai sepeda motor. Bus Patas yang melaju dengan jurusan Yogya-Solo-Madiun-Surabaya ini, tidak bebeda jauh dengan bus-bus pada umumnya. Yakni kerap disambangi para pedagang asongan, setiap bus singgah di terminal pada tiap kota. Ya, maklumlah, namanya juga orang cari rejeki. Bukankah jaman sekarang rejeki itu susah dicari…?

Yang menarik perhatian saya dari perjalanan mudik kali ini, adalah dapat mendengar langsung suara hati orang-orang yang berjualan alias grup pedagang asongan di dalam bus yang kami tumpangi, halah….

Pra percakapan diwarnai dengan kegiatan mereka yang beramai-ramai menyerbu bus dan menawarkan dagangan pada para penumpang. Suara-suara mereka berdengung seperti lebah. “Mase, mbak’e, bapak, ibu, sprite, fanta, lontong. Kacang, mete, tahu goreng, aqua, bakpau-bakpau,” begitulah suara mereka. Sebagian besar dari mereka berusia ibu-ibu paruh baya dan bapak-bapak berumur sekitar 45-55 tahunan. Menatap mereka, dalam hati terbersit juga perasaan iba. Karena hanya beberapa penumpang saja dalam bis itu yang berhasrat untuk membeli dagangan mereka. Di jaman yang serba susah seperti ini, mereka tetap giat mencari uang. Berlomba dengan usia yang hampir melewati setengah abad.

“Enting-enting mbak, buat oleh-oleh, ayolah,” bujuk seorang dari mereka. Setelah selesai menawarkan mereka duduk-duduk di kursi bagian belakang. Mulailah terdengar percakapan mereka. “Walah, sirahku mumet, dek mau tak templek’i koyok. Ket mau durung enek sing payu,” ucap seorang ibu paruh baya. “Mengko nek aku muleh, mak’e lak ngomel terus, tambah cekot-cekot sirahku,” lanjutnya. Dari kata-kata si ibu saya menangkap, mungkin dia akan dimarahi ibunya yang disebut “mak’e” tadi, apabila tidak mendapat hasil penjualan karena tak laku. “Lha iki lho thekku yo sek akeh,” timpal seorang ibu pedagang asongan yang lain. Lalu tawa keduanya terbahak bersamaan. Mereka mengungkapkan dialog-dialog dalam bahasa mereka yang membuat mereka tertawa terpingkal-pingkal, yang kami tak tahu artinya. Kemudian pembicaraan mereka beralih kepada hal lain. Kali ini seorang bapak-bapak terlibat serius dalam pembicaraan tersebut. “Jarene sekolah gratis, tapi sek kon mbayar seragam,” keluh si bapak dengan jengkel. “Lha iki dagangan urung payu, anakku wes njaluk duwit,” lanjutnya. “Mosok toh?” tanya seorang ibu. “Rasah tuku seragam,” sergah yang lain. “Lha nek ra tuku seragam anakku arep sekolah nggae opo? Budal sekolah ra sragaman, arep udo?” si bapak kembali bertanya dengan nada agak tinggi. Sedangkan yang lain hanya menyimak, sambil sesekali tertawa terkekeh. “Saiki ora enek sekolah gratis,” lanjut si bapak dengan berteriak marah. Tapi anehnya yang lain tetap menanggapinya dengan enteng, seakan biasa saja, seperti tidak terjadi apa-apa. “Wes…wes urip digae santai wae,” timpal yang lain. Kemudian mereka tertawa terkikik sambil turun dari bis.

Tidak hanya itu, pemandangan di bus juga dihiasi kehadiran para pengamen dengan gaya yang bervariasi. Sebagian besar didominasi oleh anak-anak usia sekolah, baik laki-laki maupun perempuan. Tubuh mereka hitam, dekil, kurus dan tidak terurus, belum lagi baju mereka yang kelihatan kumal. Yang laki-laki tampil dengan anting yang hanya sebelah, kaus oblong, rambut bercat pirang dan berjambul mirip artis. Lengan dan lehernya penuh dengan tato. Kadang-kadang gaya bicaranya juga disertai dengan umpatan dan kalimat-kalimat kotor. Seusai mengamen mereka akan menyodorkan kantung kemasan permen kepada para penumpang, berharap untuk diisi dengan uang receh. Mereka akan bilang terimakasih, ketika diberi, dan akan mengeluh ketika tidak diberi. ”Ya Alloooh,” keluh seorang anak perempuan ketika mendapat isyarat tangan menolak dari seorang penumpang.

Dari sekelumit cerita tersebut kita bisa melihat betapa susahnya mereka, orang-orang kecil, bergulat dengan ketidak pastian, himpitan kemiskinan, ditengah semakin melonjaknya harga-harga kebutuhan pokok. Hal tersebut mewakili banyak bukti tentang kegagalan negara dalam memenuhi dan menjamin hak-hak dasar warganya, hak akan pendidikan, kesejahteraan, kesehatan, dan seterusnya. Melihat itu semua hati ini terasa teriris. Rasa prihatin, kasihan, tidak tega, dan lainnya, berbaur jadi satu dan menimbulkan rasa haru di ulu hati. Itulah potret kehidupan orang-orang yang serba kekurangan. Saya hanya mampu tertegun ketika mendengar percakapan mereka. Hati ini kemudian berdoa, semoga masih ada kebahagian yang bisa mereka nikmati manakala mereka bercengkrama kembali dengan keluarga dan sanak saudaranya yang sedang menunggu di rumah...

Saturday, 10 July 2010

07 09 14 (Juli)

ADA apa dengan bulan Juli? Juli adalah salah satu bulan yang bersejarah bagi dua orang ini. Bulan yang diperingati dengan perayaan tertentu. Jadi kira-kira beginilah ceritanya:

Alkisah di sebuah desa yang indah nan asri lahirlah seorang bayi cowok dari pasangan ayah yang seorang guru dan ibu yang seorang ibu rumah tangga, dengan nomor akte 3326/1985. Bayi montok berkulit hitam itu lahir pada tanggal 07, bulan Juli, tahun 1977, tepatnya pukul berapa, tidak tercatat dalam kertas sejarah, yang pasti malam hari, dan menempati posisi sebagai anak ke-2. Akan tetapi bayi montok yang sudah tumbuh dewasa ini, jika ditanya selalu berharap dan menjawab pukul 07.00.

Tujuh hari kemudian, pada tanggal 14 Juli, sekitar pukul 10.00 malam, terdengar tangis seorang bayi perempuan, menyusul kelahiran bayi cowok tadi, di sebuah Rumah Sakit di kota. Hanya saja kelahiran bayi perempuan itu terjadi 10 tahun kemudian, yaitu pada tahun 1987. Bayi perempuan itu adalah buah cinta dari pasangan suami yang berwiraswasta dan seorang istri yang sebagai ibu rumah tangga, dan menduduki tempat sebagai anak bungsu dari 2 bersaudara.

Bayi cowok yang sekarang sudah menjadi pria dewasa itu, kini sudah bekerja pada suatu lembaga non-profit di kota Pelajar. Sedangkan bayi perempuan yang kini sudah menjelma menjadi wanita itu, tengah mengabdi pada pada sebuah lembaga pendidikan prasekolah, sambil menuntut ilmu pada Perguruan Tinggi Negeri, di Kota yang populer dengan Gudegnya.

Suatu hari, tampak seorang gadis usia SMA sedang menuju sebuah toko di perempatan jalan. Dia bermaksud membeli sesuatu. Seorang pria melangkah ke depan rumah untuk melayaninya. “Mau beli ini, harganya berapa?” tanya si gadis sambil menunjuk sebungkus larutan minuman ringan. “Oh ya sebentar saya tanyakan ke bapak dulu, tunggu,” jawabnya sambil berlalu memasuki rumah. Secara, karena dia bukan pemilik warung itu. Laki-laki tadi kembali sambil menyebutkan harganya. Tak lupa sepotong pertanyaan juga sudah dilantunkannya kepada si pembeli. “Sekarang kelas berapa?” tanya si pria yang tak lain adalah si penjual. “Sudah lulus SMA,” jawab si gadis singkat. Si gadis melangkah pergi setelah membayar, menjauh meninggalkan toko. Dia sempat menoleh, laki-laki itu masih di sana. Memandanginya pergi, sambil tersenyum simpul penuh arti. Ketika hampir membelok ke tikungan si gadis merasa, tatapan mata itu masih di sana, ada di belakang punggungnya.

Melalui perkenalan yang terbilang cukup singkat, si pria memutuskan untuk melamar si gadis pembeli tersebut. Setelah menjalani serangkaian proses ini dan itu, jadilah mereka berdua bertunangan. Sebagai tambahan cerita ini, si gadis dulunya pernah menjadi murid si ayah mertua, ketika duduk di bangku SD. Dan lelaki itu sudah sempat mengenal si wanita, ketika masih kecil. Mengamati gadis kecil itu ketika sedang bersepeda di jalanan dekat rumahnya.

24 minggu semenjak perkenalan itu, tepatnya pada tanggal 09 Juli 2006 ikatan kasih keduanya diresmikan dengan ucapan ijab kabul, yang dipandu oleh penghulu dari KUA, dan masing-masing berhasil mengantongi buku nikah. Ikatan cinta keduanya yang telah membentuk rumah tangga itu, telah bertahan selama 4 tahun, terhitung sejak tanggal 09 Juli 2006 hingga 09 Juli 2010, yang baru saja diperingati oleh mereka berdua, sebagai hari ultah perkawinan.

Tahukan para pembaca sekalian. Bayi laki-laki yang telah tumbuh menjadi pria dewasa tadi, baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-33. Pria itu bernama Sg. Yulianto. Sedangkan si gadis yang berkembang menjadi wanita dewasa dan berstatus istri ini, akan memperingati hari lahirnya pada tanggal 14 Juli 2010. Usianya akan memasuki angka 23. Wanita itu oleh orangtuanya diberi nama Yulinda RY.

Zodiak yang menaungi pasangan ini juga sama yaitu CANCER. Nama mereka berdua juga sesuai dengan bulan dimana mereka lahir, Yulianto dan Yulinda. Teman-teman dekat mereka juga banyak yang mengatakan bahwa wajah mereka ada kemiripan. Dan pernah ada yang sempat mengira bahwa mereka bersaudara. Jodoh memang misteri. Saat keduanya masih dalam kandungan dan terlahir, Allah mempertautkan tali jodoh keduanya, dengan jarak rumah mereka yang hanya 300 meter saja.

Sunday, 4 July 2010

Mendekat Gunung Merapi

Sabtu, 3 Juli 2010. Holiday atau yang biasa kita sebut hari libur, bukan hanya milik anak-anak dan remaja, tapi juga milik kita orang dewasa, termasuk saya. Ini merupakan liburan pasca ujian semester 4 yang baru saja kelar. Pilihan saya jatuh pada sebuah gundukan menjulang yang tak lain adalah gunung, tepatnya Sanng Merapi di mana Mbah Marijan tinggal. Tapi saya tidak sowan alias bertandang ke kediaman beliau. Secara, Mbah Marijan juga sudah turun gunung untuk memenuhi panggilan jadi bintang iklan ROSSA ROSSA (EXTRA JOSS).

Kedua jarum pada jam dinding menunjuk dua angka. Yang pendek menatap angka 11, sedangkan yang panjang menuding angka 12. Bersama suami, kami memacu motor ke kawasan wisata Kaliurang. Jalanan yang kami lalui berkelok-kelok, seperti jalan ular. Semakin mendekati lokasi, jalanan terus menanjak, udara semakin sejuk, sehingga menggodaku untuk melingkarkan tangan di pinggang suami. Tiba-tiba saja lagu “Naik-naik ke Puncak Gunung” singgah di benak saya.

Seperti yang pernah saya alami sebelumnya jika naik ke tempat tinggi. Pada ketinggian tertentu, mendadak kuping kiri saya tersumbat, seperti budeg, tapi tidak 100%, karena saya masih bisa mendengar. Telinga kanan saya menyusul kembarannya, menjadi buntu juga ketika mencapai ketinggian tertentu untuk kedua kalinya. Tapi ini bukan penyakit kronis. Ini sudah biasa terjadi karena perubahan tekanan udara. Udara yang sudah tidak bisa dibilang dingin ini tetap terasa menyergap tubuh dan menyejukkan hati, halah….

Kami berdua tiba di gerbang masuk lokasi, yang mirip dengan pintu masuk jalan tol. Berlakulah hukum jual beli disini, tanpa transaksi. Beli karcis bayar dan masuk. Tarif yang dikenakan berlaku untuk jenis kendaraan, jumlah pengunjung, dan ukuran orang—maksudnya tarif untuk anak-anak dan orang dewasa. Motor membawa kami melewati jalanan yang kembali berliku. Sepanjang jalan berderet wisma, hotel, motel dan segala bentuk penginapan dengan berbagai nama. Selain itu penjual berbagai jenis makanan tampak berbaris di sisi jalan. Hingga akhirnya motor membelok ke taman tempat santai. Setelah memarkir motor pada tempat yang seadanya, kami naik. Pandangan mataku tertumbuk pada menara pandang 3 lantai yang berfungsi sebagai tempat untuk memantau aktivitas merapi. Lantai pertama biasa saja, naik ke lantai 2 dipajang foto-foto pada dinding atas, pada lantai ketiga yang merupakan puncak menara tersedia beberapa kursi panjang. Di lantai inilah para pengunjung sibuk mengambil gambar, mengamati pemandangan dengan binokuler atau keker. Dari lantai atas menara ini disamping tampak pemandangan indah tampak juga sekelompok anak muda yang berkemah. Tapi sayangnya gunung merapi tak bisa diamati karena tertutup awan. Nah, ini dia fotonya:

Setelah dirasa cukup, saya dan suami turun, berjalan-jalan mengitari tempat itu. Meskipun bukan hari libur, tapi para pengunjung yang notabene wisatawan domestik, memenuhi kawasan wisata ini. Banyak tempat duduk yang dibuat di berbagai tempat dengan jarak tertentu, untuk para pengunjung beristirahat. Tempat duduk tersebut terbuat dari semen. Kalau diperhatikan sekilas seperti bentuk nisan, osram….

Kami memilih tempat dan duduk sejenak, melepas lelah dengan mengamati sekitar sambil membaca majalah yang sengaja kami bawa. Taman santai itu banyak ditumbuhi pohon-pohon kecil tapi rindang, dengan ditemani rumput berwarna hijau terang. Sejumlah penjual dapat ditemui setelah menuruni anak tangga dari taman santai. Hanya saja yang sangat menganggu kenyamanan adalah banyaknya sampah yang bertebaran di sana sini. Padahal di karcis sudah tertera himbauan untuk menjaga kebersihan tempat wisata. Bahkan saya sempat menangkap pemandangan yang berupa tumpukan sampah, yang letaknya tak jauh dari tempat sampah yang telah disediakan. Ironis bukan?

Kawasan wisata kaliurang, juga menyediakan layanan tour keliling dengan kendaraan seperti kereta uap. Beberapa kendaraan tersebut melintas sambil membawa sejumlah penumpang dengan suara yang meraung-raung. Asap hitamnya mengepul, menambah pencemaran lingkungan yang seharusnya dijaga keasrian dan kesegaran udaranya.

Langkah kaki kami terus terayun. Mumpung masih di lokasi, waktu kami manfaatkan untuk menjelajah. Tempat selanjutnya yang kami tuju adalah gardu pandang. Fungsinya hampir sama dengan menara pandang, letaknya juga tak jauh dari menara. Kami memanjat pagar gardu pandang dan bergaya bebas dengan beberapa kali jepretan kamera dengan meminta tolong salah satu pengunjung untuk mendokumentasikan aksi kami.

Turun dari pagar, kami mengelilingi taman disekitarnya yang cukup rimbun. Beberapa tulisan di papan kecil yang diberi tiang bertutur “Sayangilah tanaman”. Kembali kami berpose ria dengan sejumlah pohon dan tanaman hijau lainnya. Hari itu kami serasa jadi foto model, dasar narsis,,,, Eh sebentar, syut…mampir dulu ke ayunan ah, sambil mengingat kembali masa-masa TK yang telah lewat.

Ekspedisi kami berlanjut ke Bunker perlindungan darurat yang dibangun untuk tempat bersembunyi dari segala kemungkinan (gunung merapi bisa njeblug sewaktu-waktu). Semoga saja tidak.

Acara liburan itu kami akhiri dengan melewati jalan memutar sebelum turun gunung. Apalagi suamiku melihat perubahan cuaca yang mulai mendung. Sebelum benar-benar meninggalkan kawasan kaliurang kami disapa dengan udang raksasa yang sedang bertengger di atas batu. Udang tersebut tak lain adalah simbol kawasan itu yang berupa bundaran dengan kolam kecil yang dihuni ikan-ikan yang kecil pula. Patung itu menarik perhatian kami untuk berfoto bergantian.

Motor yang membawa kami, turun perlahan, keluar dari pintu gerbang dan melesat terbang ke bawah. Dalam perjalanan pulang, perut kami memberikan sinyal yang kuat, bahwa di pinggir jalan ada jadah dan tempe bacem Mbak Carik dan kopi anget yang perlu dicicipi kelezatannya. Beberapa menit berlalu. Hidangan yang sudah tandas itupun kami tinggalkan dengan membayar harganya. Motor merayap turun dengan pasti. Pukul 14.24 sampailah kami di rumah dengan selamat, sehat wal afiat, tak kekurangan suatu apapun dan yang penting lambung telah terisi makanan dan otak mengalami penyegaran serasa direfresh oleh pengalaman serta sejuknya udara di kaliurang.

Tik…tik…tik…klothak…klothak…bress…. Suara apa itu? Hujan mulai mengguyur, tepat setelah kami masuk rumah. Suamiku tengkyu, berkat instingmu yang kuat, kita tak perlu berbasah ria.