Tiba-tiba mamanya muncul di ruang makan. Seperti yang pernah terjadi sudah-sudah. “Minum susumu Dik,” perintah mamanya. Sementara gelas susu kakaknya di meja yang sama sudah tandas sedari tadi. Dengan gerakan pelan dan penuh keterpaksaan diraihnya gelas tersebut. Meneguknya sedikit. Rasa mual mulai menyeruak ke hidung dan mengendap di ulu hati. Ditambah lambung yang meronta untuk memuntahkan cairan kental manis tersebut. Seakan mengerti apa yang Linda rasakan mamanya langsung berkomentar. “Langsung teguk sampai habis, tidak sedikit-sedikit seperti itu,” sergah mamanya tak sabar. “Sudah berapa kali aku bilang, aku tak suka susu Ma, bikin mual,” kata Linda memelas. “Tidak usah manja dan merengek, sudah bagus Mama buatkan, kamu tinggal meminumnya,” kata mamanya sambil berlalu. “Sini kalau tidak mau biar kuhabiskan,” kata kakaknya yang tiba-tiba saja sudah duduk di sebelahnya entah sejak kapan. “Bener nih?” tanya Linda dengan lega. Disodorkannya gelas susu yang baru terminum seperempat. Dengan gerakan sigap susu itu segera berpindah tempat ke perut kakaknya. Sejak saat itu setiap waktu minum susu tiba Linda selalu bernegosiasi dengan kakaknya agar terbebas dari susu.
Berikutnya adalah makanan produk-produk hewani, termasuk telur. Entah kenapa, setiap melihat daging rasa jijik langsung menghinggapinya. Terbayang oleh Linda, ayam dan itik yang berkelana kesana kemari, cakar yang dipakai mengais tanah kini telah berada di panci dalam bentuk sup. Sehingga jika diamati masih tampak seperti aslinya, yaitu ketika masih tersambung dengan bagian tubuh lainnya saat ayam itu beberapa jam yang lalu masih sempat berjalan kesana-kemari sebelum disembelih. Cakar kaki yang biasa dipakai melintasi tanah lembek, terkadang menginjak ini itu dan kotorannya sendiri. Belum lagi bagian tubuh yang lain yang tersaji dalam bentuk potongan ayam goreng. Tak ada daya tariknya sama sekali. Mungkin dari segi rasa dan aroma memang memikat, tapi itupun tak cukup membuat Linda mencicipinya. Begitupun dengan daging kambing, sapi, kerbau dan lainnya. Apalagi dalam pelajaran Biologi yang pernah diterima Linda di sekolah, bahwa daging sapi dan kambing rentan mengandung cacing pita dan penyakit lain berbahaya, termasuk kanker. Walaupun bisa diluruhkan dengan suntikan antibiotik dan melalui proses pemasakan yang sempurna, Linda tetap emoh mengkonsumsinya. “Mengapa makannya harus sedikit-sedikit, langsung digigit saja,” tegur mamanya penuh rasa jengkel.
Sedangkan dengan telur. Terutama kuningnya. Linda paling enek untuk menghabiskannya. Selain tidak terasa enak di lidahnya, sifatnya yang lengket di mulut membuat Linda semakin kontra terhadapnya. Satu lagi makanan lain yang membuat Linda urung menyantapnya. Makanan itu tak lain adalah ikan-ikanan seperti lele, bandeng, tongkol dan ikan asin serta berbagai jenis ikan yang lain. Dia membayangkan ikan yang awalnya berenang kesana-kemari menjadi kaku di piring. Apalagi ikan tersebut ditangkap nelayan dengan cacing sebagai umpannya. Ditambah dengan yang diketahui Linda bahwa sumber lain makanan ikan antara lain binatang kecil di air, sisa makanan, sisa-sisa kotoran, dan untuk ikan yang lebih besar sumber makanannya adalah memangsa ikan yang lebih kecil, seperti kanibal yang membuat Linda semakin ngeri. “Itu bergizi dan baik untuk kesehatan. Lagipula daging dan ikan diperlukan tubuh sebagai sumber protein,” ucap mamanya. Semua makanan tersebut diasupkan sang Mama pada Linda dengan paksaan. Hal itu membuat Linda berpikir untuk mencari alternatif lain dari sayuran yang kandungan gizinya tak kalah dari ikan dan daging. “Sudah tidak usah protes, makan saja. Apa kamu mau jadi anak yang menderita kurang gizi,” kata mamanya lagi. Namun Linda tetap pada pendiriannya. Bahkan dia bertekad untuk menjadi seorang vegetarian. Dan bercita-cita bila sudah menikah akan tetap menjadi seorang vegetarian walaupun suaminya bukan seorang vegetarian. Entah apa yang membuat Linda begitu anti terhadap segala sesuatu yang berbau hewani. Padahal tidak ada yang mempengaruhi dan menyuruh Linda menolak semua itu.
Kini, Linda sudah menikah dan dia merasa beruntung karena ternyata sang suami berpredikat sebagai seorang vegetarian selama 5 tahun. Sejalan dengan impian dan cita-citanya. Dari suaminya Linda mendapatkan pengetahuan tentang nikmatnya bervegetarian. Selain menyehatkan, bisa mengurangi resiko sakit penyakit degeneratif, diantaranya penyakit jantung, tekanan darah tinggi, stroke, kanker, penuaan dini dan lainnya yang dipicu oleh makanan yang banyak mengandung kolesterol, asam urat, lemak, juga logam berat dari pencemaran lingkungan dan pestisida yang turut tertimbun dalam tubuh hewan. Disamping itu Linda jadi tahu jenis-jenis makanan yang baik dan bermanfaat bagi tubuh serta makanan yang perlu dihindari.
Meskipun telah terbebas dari paksaan mamanya untuk makan daging, saat ini Linda belajar mengkonsumsi susu dan putih telur, atas anjuran suaminya dengan tujuan meminimalisir resiko terkena osteoporosis kelak, karena defisiensi kalcium dan mineral lain. Linda jadi berpikir dan bersyukur karena Yang Maha Kuasa telah menjadikannya seorang vegetarian dengan didukung bakat-bakat vegetarian sejak kecil, yang tidak suka makan daging. Walaupun dia tahu bahwa daging dan ikan halal, tapi ada satu hal lagi yang membuat Linda semakin mantap bervegetarian. Hal tersebut adalah rasa tak tega melihat ayam dan itik yang kejang-kejang sesaat setelah disembelih. Menyaksikan penyembelihan binatang kurban lengkap dengan pemandangan di mana darah mengucur. Dan Linda yakin kalau binatangpun sebenarnya tak mau mati disembelih. Linda bertanya-tanya mengapa harus menikmati makanan dengan membunuh dan menumpahkan darah secara paksa. Manusia saja tak suka dipaksa apalagi binatang.
“Terimakasih Ya Allah kau takdirkan aku menjadi seorang vegetarian dengan pendamping hidup yang juga seorang vegetarian pula,” ucap Linda dalam doanya.Dan apakah kalian tahu, kisah Linda ini adalah kisah nyata, dimana tokoh tersebut mewakili saya untuk menyampaikan kepada pembaca tentang pengalaman saya pribadi meraih cita-cita untuk menjadi pemakan biji-bijian, sayuran dan buah-buahan. Pengalaman saya ini sesuai dengan profile saya di blog ini, “seorang vegetarian”. Walaupun tidak terlalu tulen karena menganut aliran Lacto Ovo Vegetarian, jadi masih mengkonsumsi susu dan telur. HEHEHEHE…














